"Hahhhh..."
Aku menghela nafas panjang sambil membaringkan tubuhku yang lelah di ranjang, rasanya lelah sekali, biasanya aku tidak pernah serajin ini membereskan seluruh rumah, bukan karena 'sedang rajin' tapi keluargaku pindah ke rumah baru hari ini, jadi mau tidak mau aku harus ikut merapikan seluruh rumah, terutama kamarku sendiri.
KRIEETT!!
Terdengar samar suara decitan di kamarku yang sedang sunyi, aku mengangkat kepalaku dan memperhatikan sekeliling, tak perlu lama kucari, aku sudah menemukan sumbernya, jendela kamarku mulai terbuka perlahan, kayu jati tua itu mungkin perlu dilumuri oli agar tidak mengeluarkan bunyi yang cukup menggangu sunyi indah di kamarku ini.
"Nutup sendiri napa, males tau gak" ujarku sambil berjalan dengan malas menuju ke jendela yang terbuka itu.
"Nanti jendelanya nutup sendiri nangis"
Ucap seseorang dari belakangku yang masuk ke kamar tanpa diundang, tentu saja pulang juga tidak diantar karena dia saudaranya jailangkung, eh tunggu kalo dia saudaranya jailangkung berarti aku juga? Ah tidak dia abangku namanya Saga, abang gantengku satu-satunya itu memang suka tiba-tiba muncul seperti makhluk di film-film horor.
"Oiya ya" jawabku yang tidak jadi menutup jendela tadi.
"Ngapain kesini? Kaya kurang kerjaan aja? kerjaan abang kan numpuk"
"Ga ada, kaya ada sesuatu gitu, kaya gimana ya, gak nyaman aja, mau mastiin aja lu ada dirumah" jawabnya sangat tidak jelas.
"Apaan sih bang gak jelas"
"Gak apa-apa, kangen aja sama ade Kila yang jelek ini" ucapnya sambil memelukku.
"Dih abang lepasin gak, mau mati nih sesek" ucapku sambil memberontak.
Tentu saja, siapa yang gak risih kalo dipeluk-peluk kaya gitu, iya sih dia abangku sendiri, ganteng lagi, tapi ya hih... Males banget sama tu orang, rasanya pengen tuker tambah sama mobil tesla aja.
"Yaudah yuk makan, bunda undah selesai masak" kata makhluk bernama Saga itu sambil menarik rambutku bermaksud agar aku mengikutinya.
"Woi dikira kuda apa ditari-tarik? Se enggaknya perlahhkukanlah aku seperti manusia kalo gak mau memperlakukanku sebagai adek" protes ku dengan sangat puitis.
"Yaudah ayok tai kuda, ikut pangeran tampan ini makan" ucapnya yang semakin membuat ku kesal.
"Arghh sana pergi!"
"Iya iya udah jangan dorong, nanti gue jatoh gimana"
"Ya mati aja sana"
"Jangan gitu lah Kila, abang kan sayang Kila, nanti kalo abang gak ada, Kila gak punya abang dong"
"Udah diem pergi " ucapku kesal, tapi kelihatannya makhluk itu semakin senang melihatku marah, tapi syukurlah dia segera pergi.
"Hahh gini amat punya abang satu aja, untung satu, kalo dua setres dah"
Aku terus mengomel sambil kembali berjalan ke jendela itu, aku meraih dua daun jendela yang terbuat dari kayu itu, aku berniat menutupnya namun tanganku terhenti ketika mataku menangkap seorang gadis yang berjalan di tengah hujan dengan tangan nya yang meniti pagar besi rumahku.
"Gak jelas banget, gak dimarahin mamanya kah dia kaya gitu? eh tapi asik juga kali ya main hujan" gumamku yang kemudian menutup jendela dilanjutkan dengan korden abu-abu yang menjadi batas pandang keluar.
Setelah itu akupun berjalan menuju pintu, setelah abangku keluar tadi, aku menyadari ada sesuatu yang sangat berbeda, kamarku menjadi sangat hening hingga membuatku merasa tidak nyaman.
Aku mempercepat langkahku menuju pintu keluar, namun tiba-tiba 'TING!!' suara besi yang dipukul itu mengagetkanku, jantungku serasa berhenti.
"Ah bocah sialan, ketok-ketok pager rumah orang sembarangan, kaget tau gak!?" ucapku geram yang kemudian kembali melanjutkan perjalananku ke dapur untuk makan
Malamnya sekitar pukul 11:00 aku belum juga tertidur, mungkin aku belum cukup beradaptasi dengan tempat baru ini, di kamar lamaku, biasanya 2 sampai 3 menit setelah rebahan aku sudah terbiasa tertidur lelap.
"Ahhh gimana sih tutorial biar cepet tidur!!"
Aku yang kesal pun berdiri menuju ke dapur untuk mengambil susu hangat, jarang-jarang malam-malam gini keluyuran sampai ke dapur.
Tidak hanya susu hangat, aku turut serta membawa teman-temannya seperti, apel, keripik kentang dan juga beberapa potong sosis goreng sisa makan malam.
Aku menyantap camilan malamku sambil nonton film kartun apa aja yang sedang lewat di beranda yutup di ponselku, ternyata makan di larut malam tidak seburuk yang kubayangkan.
Tap..tap..tap..
Suara langkah kaki di genangan air terdengar samar-samar, aku meneliti suara itu, namun kemudian menghilang.
"Apa sih" ucapku menenangkan diri.
Tap...Tap...Tap...
Suara langkah itu terdengar lagi, suara langkah pelan seseorang yang sepertinya sedang melewati genangan air itu terdengar jauh, namun sangat jelas.
Aku berusaha tidak memperdulikan dan tetap tefokus pada layar ponselku dan keripik kentang yang terus kusuapkan kedalam mulutku.
KRIEETT!!
Jendela kayu itu mengagetkanku, tentu saja, siapa yang gak kaget jika decitan menggangu itu muncul tiba-tiba saat gak ada hujan gak ada angin di malam yang sepi pula.
"Hihhh apa sih apa, males tau gak jalan ke sana!" gerutuku kesal sambil dengan kasar mengambil langkah menuju ke jendela.
"Dingin banget sih kayunya" ucapku heran ketika memegang daun jendela itu yang terasa sangat dingin, mungkin karena malam hari ya jadi jendelanya kedinginan juga.
Aku menutup jendela dengan kaca yang mengembun itu, kemudian kutarik korden untuk menutupinya, namun sebelum sepenuhnya tertutup aku kembali mendengar langkah kaki itu.
Tap..tap...tap...
Aku kembali membuka korden itu, dan melihat keluar setelah mengusap embun di salah satu kacanya, namun tentu saja aku tidak menemukan orang gila yang jalan malam-malam itu.
"Ngapain juga dicari, besok aja diomelin" ucapku.
Namun... sesuatu mengejutkanku, dengan cepat kaca itu kembali mengembun, secepat ini kah? Secara ilmu pun ini terlalu cepat jika suhu nya tidak sedingin itu.
Aku terdiam, memperhatikan kaca itu dengan gemetar, bagaimana tidak, terlihat kaca itu mengukir simbol pentagram yang sepertinya digores dari luar, namun yang membuatku semakin ketakutan adalah aku tidak menemukan seseorang yang membuat tanda itu.
Aku mencoba melangkah mundur namun sepertinya tubuhku sudah membeku, bagaimana ini? Ayah! Bunda! Abang! Tolong! Ada setan beneran di kamar Kila! Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin namun rasanya benar benar membeku.
KRIETT!!! KRIETTT!!
Decitan itu membuatku merinding, kini dia mengukir pentagram itu di kaca dengan benda tajam, kaca itu terlihat mulai retak, tanda itu semakin sempurna terbentuk namun kaca itu sudah tidak kuat menopang bentuknya lagi dan...
PRANG!!
Kaca itu akhirnya pecah, serpihannya berjatuhan di kakiku, aku meremas tanganku sendiri agar tubuhku bisa bergerak, aku mengalihkan pandanganku ke serpihan kaca itu dan menarik nafas panjang.
Deg!
Aku sangat terkejut ketika kembali menatap kedepan, seorang gadis dengan wajah menyeramkan penuh darah itu sudah memanjat jendela dan mendekatkan wajahnya kepadaku, kutangkap simbol pentagram serupa di dahinya, itu bukan dilukis atupun di cap, namun itu benar-benar diukir dalam di dahinya, aroma darahnya pun tercium sangat jelas.
"Sialan!! Ayah tolong Kila!!" teriakku dalam hati berharap ada yang mendengar suara hati gadis yang sekarat karena ketakutan ini.
Setan sialan itu terus mendekatkan wajahnya kepadaku, bau darahnya sangat amis, terlebih lagi rambut kusutnya yang basah membuatku semakin membencinya, kumohon aku ingin pingsan sekarang juga.
"Arghh!!!" Gadis itu mencekikku, kuku-kukunya yang tajam benar-benar menusuk leherku hingga kurasakan bahwa darahku mengalir, ini benar -benar gila, apakah aku akan mati di tangan makhluk jelek ini, sialnya ini mungkin benar, tubuhku mulai lemas dan aku kesulitan bernafas.
BRAKK!!!
"Kila!!!" seseorang berteriak, siapa? Siapa itu? Cepat tolong aku!!
Semuanya semakin buram setelah aku mendengar seseorang memanggilku, aku semakin sulit bernapas, dan entahlah aku hanya ingin ini cepat berlalu.
"Ayah!!!"
"Arghhhhhh!!!!!"
Gadis yang mencekikku berteriak sangat kencang, suaranya keras melengking dan membuat telingaku sangat sakit, dia mencabut kuku-kukunya dari leherku, tubuhku terjatuh namun seseorang menangkapku.
"Abang?" tanyaku pada diriku sendiri.
Kesadaranku tidak sepenuhnya kudapatkan, namun aku masih bisa merasakan dan melihat beberapa kejadian, ayahku menutup paksa jendela itu sambil melantunkan ayat-ayat suci, aku melihat bunda menangis menatapku, dan abang? Dia memelukku dengan erat.
"Rumasakit!" Ucap abangku sangat panik, ibu mengangguk sambil mengusap air mataku.
Dia berdiri membawaku, memelukku degan erat sambil berlari ke luar, kali ini aku sangat senang dipeluk oleh mahluk ini, rasanya sangat hangat di tengah rasa sakit yang sulit dirasakan ini.
Terkadang aku bersyukur punya abang seperti dia, dan juga orangtua seperti ayah dan bunda.
Beberapa hari kemudian aku tersadar dirumasakit, tentu saja aku tidak bisa leluasa menengok ke kanan dan kiri karena perban tebal ini, dan sialnya makhluk bernama Saga itu terus mengejekku sambil menengok-nengokkan kepalanya, kini aku tidak akan marah, aku bersyukur keadaan kembali seperti semula, namun semuanya berubah ketika aku mendengar kata "Pulang" aku tidak ingin kembali lagi ke rumah itu.
"gak papa, kita pindah lagi, yang jauh dari sana" ucap abang yang membuatku tenang.
dia memelukku, bersama ayah dan bunda juga.
---TAMAT---