Bandung.
Minggu, 20-07-1998.
"Bunda!!!" teriak seorang anak laki-laki, sambil berlari menuju ibunya yang tengah duduk di kursi goyang sambil merajut.
"Aku udah ketemu sama jodohku bun!! Dia cantik, kayak bibidari yang sering di ceritain sama bunda." ucapnya antusias setelah sampai di hadapan ibunya.
Sang ibu tersenyum kecil. Ia meletakan hasil rajutannya di meja kecil yang berada di sampingnya. Ia lalu mengangkat anaknya yang baru berusia 7 tahun itu ke pangkuannya.
"Jodoh? Kenapa adek bisa tahu itu jodoh adek?" tanya wanita paruh baya itu sambil terkekeh.
Anak kecil itu menoleh senang, mata coklatnya bebinar. "Adek nggak tahu! Pokoknya pas adek liat ada anak perempuan di taman, adek langsung tahu kalau itu jodoh adek!" ucapnya dengan senyum yang tak pernah lepas di wajah imutnya.
Kekehan singkat meluncur di bibir wanita itu. "Hmmm. Kok bisa tahu gitu aja?" tanyanya sambil mengelus surai lembut putranya.
"Nggak tahu!" gediknya. "Pas lihat dia, wusshhhh!!! Langsung ada di kepala adek. Katanya bocah itu jodoh adek." ucapnya membuat wanita itu tertawa kecil.
"Bocah kok ngatain bocah."
"Aku udah nggak bocah ya!" ujarnya kesal sambil memalingkan wajahnya. "Buktinya udah bisa berangkat sekolah sendiri! Nggak di anter sama bunda."
"Oh, ya?" tanyanya tak percaya. "Tapi kok umur segini masih ngedot!"
"Emmmm.... itu..... karna.... karna susu mengandung kalsium yang baik buat tulang! Jadinya adek masih ngedot." elaknya dengan sangat pintar.
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Iya deh, terserah!"
"Tapi bun, aku bingung sama temen-temen, yang selalu bilang kalau aku anaknya mommy karna masih ngedot. Padahal kan, aku anaknya bunda! Lagian aku nggak kenal siapa itu mommy!" curhatnya yang di sambut tawa meledak oleh ibunya.
"Hahahaha.... kamu ini ada-ada aja!"
"Ih!!! Bunda kok ketawa!!" kesalnya lalu mengerucutkan bibirnya.
Wanita itu mengusap sudut matanya yang berair. "Iya, deh, maaf. Oh, ya! Nama jodoh kamu siapa?"
Bocah laki-laki itu langsung menoleh senang. Wajahnya selalu berbinar-binar jika menyangkut tentang 'jodohnya' itu.
"Namanya. Quinsha Qiana Qalesha."
*****
Jakarta.
Sabtu, 21-12-2008.
"Quin! Itu siapa sih, yang selalu belanja di sini setiap weekend." tanya Adena padaku yang sibuk main hape.
Aku ikut melirik pada seorang laki-laki berpakaian serba hitam, yang sedang memilah-milah barang untuk di masukan ke troli belanjaan.
Aku mengedikan bahu cuek. "Nggak tahu! Ngapain nanya." ucapku lalu kembali berkutat dengan hape.
"Ish! Lo ini! Lo nyadar sesuatu nggak?" tanya Adena mendekat padaku. Aku hanya membalasnya dengan deheman malasku.
"Dia itu selalu belanja di sini setiap weekend tanpa ada yang terlewat satu hari pun." ucapnya dengan mimik wajah serius.
Aku menoleh malas, "terus yang anehnya mana? Bagus dong, dia belanja di sini setiap weekend." kataku yang di balas decakan oleh Adena.
Adena melirik sekilas pada laki-laki itu. Ia lalu mendekatkan diri padaku. "Kalau gue perhatiin nih ya. Setiap dia belanja di sini, kalau mau bayar, selalu sama lo! Nggak pernah sama kasir lain. Walaupun saat lo lagi ngelayanin pembeli lain, dia malah milih nunggu daripada bayar sama kasir yang lain, yang kosong." bisiknya.
Aku mengerutkan dahi. Benar juga! Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu? Mungkin karna aku ini tipe orang yang bodo amat, jadi aku tidak pernah memikirkan itu.
"Jangan-jangan dia stalker lo lagi!" ucap Adena membuatku sedikit takut.
"Ish! Kamu mah nakutin aja ih!" rengekku.
Adena memutar kedua bola matanya. "Gue tanya sama lo! Lo pernah nggak merasa kayak di ikutin gitu?' tanya Adena.
Wajah serius Adena, membuatku rasa takutku yang tadinya 5% menjadi 80% karna memang faktanya, akhir-akhir ini aku sering merasa di ikuti setiap pulang ke kosan. Mau itu pulang kerja, atau pulang sekolah.
Aku mengangguk ragu pada Adena.
Adena segera bangkit dari duduknya lalu menghentikan jari. "Bener kan dugaan gue! Udah pasti dia stalker lo!" ucapnya berbisik saat di bagian stalker.
"Akhir-akhir ini juga selalu ada yang ngirim Bougenville ke kosan ku. Kemarin malah dapat sama suratnya." ujarku dengan wajah takut.
Yap. Aku ini adalah anak kosan. Aku sengaja ngekos, agar aku tidak capek bolak balik ke sekolah dari rumah. Karna rumahku itu, jaraknya sangat-sangat jauh dari tempat sekolahku.
Aku bisa saja sekolah di sekolah yang dekat dengan rumah, tapi kedua orang tuaku kekeh ingin menyekolahkanku di sini, karna sekolahnya adalah sekolah terbaik di Jakarta. Jadinya aku bekerja paruh waktu, Aku bekerja hanya pada hari Sabtu dan Minggu saja, karna masih sekolah. Gajinya untuk uang jajanku dan beli skincare.
Sedangkan uang untuk makan dan sekolah dari orang tuaku.
Adena membelalak. "Serius lo? Suratnya udah di baca belum?"
Aku menggeleng.
"Gue temenin lo pulang nanti. Gue takut lo kenapa-napa. Suratnya lo harus baca."
***
Aku berjalan di koridor sekolah dengan perasaan was-was. Ini masih pukul 06.00, dan aku sudah ada di sekolah. Tentunya sekolah masih sepi, karna di sekolah ini banyak murid teladan. Maksudnya "Telat Datang."
Aku berangkat sekolah sepagi ini, karna jam pelajaran pertama hari ini adalah ulangan Matematika. Aku bisa saja belajar di kosan ku. Tapi yang pasti aku tidak bisa fokus menghafal rumus di sana, karna menghapal di ranjang itu bawaannya rebahan mulu. Dikit-dikit rebahan, dikit-dikit rebahan.
Jadinya waktu menghafalku selalu terpotong-potong.
Mau menghafal di lantai, kan dingin!
Bruk!!
Bahuku tiba-tiba di tabrak dari arah belakang dengan keras, sekeras batu. Sampai-sampai aku terjatuh ke lantai.
Aku mendongak sebal. "Ishh!!! JALAN TUH, LIAT-Liaatttt..." suaraku mengecil ketika laki-laki yang menabrakku menoleh. Membuatku salfok sama wajah ganteng, ala oppa-oppa di drama korea yang sering aku tonton.
Laki-laki yang menabrakku hanya menatapku sekilas, lalu kembali berjalan, membuat khayalanku yang di tolong olehnya buyar seketika. Padahal kan, aku udah nyiapin kata-kata puitis buat mikat dia. Hehe.
Aku segera berdiri dan mengejar laki-laki itu. "Ekhemmm." dekhemku ketika sudah berada di sampingnya.
Tidak ada respon. Bahkan melirik sekilas, pun tidak!
Perawakan cogan itu, tinggi dan tegap di dukung dengan bahu lebarnya. Hidungnya mancung, bulu matanya lentik, alis yang tebal, dan rahangnya yang kokoh.
Seragam yang di pakainya berantakan, tidak di masukan ke celana. Dua kancing atasnya terbuka. Rambut jabriknya, justru semakin menambah kegantengannya.
"Ekhemm." Sekali lagu aku berdekhem. Kali ini lebih keras.
Bukannya meresponku, dia malah mempercepat langkahnya. Aku pun ikut menyamakan langkahku dengannya.
Dia melirikku sinis, kemudian mempercepat lagi, laju langkah lebarnya. Aku tidak mau ketinggalan, jadinya ya, aku kejar juga.
Hingga pada akhirnya dia berlari. Aku pun ikut berlari. Tapi lariku sedikit lambat darinya, hingga menciptakan jarak.
Aku mempercepat lariku supaya dapat mengejarnya. Entah kenapa aku melakukan ini. Yang pasti, laki-laki tadi benar-benar menarik perhatianku.
"Awww." Aku mengaduh kesakitan saat jidatku yang lebar ini, membentur punggung laki-laki di depanku, yang tiba-tiba menghentikan larinya.
Ia berbalik dan menatapku tajam. "Ngapain lo ngikutin gue?" tanyanya.
Aku mendongak sambil mengusap-ngusap jidatku. "Siapa yang ngikutin kamu!" elakku. "Aku cuma mau ke perpus aja kok." aku menunjuk perpustakaan yang letaknya sudah tidak jauh lagi.
Laki-laki itu ikut menoleh ke perpustakaan. Ia kembali menatapku. "Terus kenapa waktu gue lari, lo ikut lari?"
Bola mataku bergerak tak beraturan. "Emmmm. Eh, udah jam segini. Aku harus buru-buru ke perpus." ujarku sambil melirik arlogi yang melingkar di pergelangan tanganku, lalu berlari menuju perpustakaan.
Belum sampai di pintu perpus, tanganku di tarik oleh laki-laki tadi. Ia lalu mendorongku ke tembok, dan mengurungku di sana dengan kedua lengan kokohnya.
Aku refleks memejamkan mata saat wajahnya mendekat.
Dia berbisik pelan. "Jangan jatuh cinta sama gue, Quinsha Qiana Qalesha!"
Aku langsung saja membuka mataku. Sekilas aku melihat ia tersenyum miring, setelahnya ia berbalik dan berjalan menuju kelas yang berada di depan perpus.
Aku mengerutkan dahi. "Apaan sih! Gaje banget tu orang!" ujarku. "Eh, tapi dia tahu nama ku dari mana? Ah, iya. Pasti dari name tag yang aku pakek." Ucapku lalu menunduk untuk melihat name tag ku. Dan ternyata.....
"Aku nggak pakek name tag! Tapi kenapa dia bisa tahu namaku ya?" aku melirik kelas yang di masuki laki-laki tadi. Dan ternyata dia adalah kakak kelasku!
***
"Kak X!" panggilku pada laki-laki yang minggu lalu menabrakku.
Laki-laki itu menoleh. "X?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Habisnya, waktu aku tanya nama kakak sama temen kelas kakak, nggak ada yang tahu. Nanya sama guru juga malah di jawab nggak tahu. Hampir semua orang di sekolah udah aku tanya, tapi nggak ada yang tahu. Jadinya aku manggil kakak X. Soalnya, kalau di pelajaran matematika, bilangan yang belum di ketahuin itu biasanya di ibaratkan dengan X. Jadinya aku manggil kakak dengan sebutan X. Karna namanya belum aku ketahui." Jelasku panjang kali lebar.
Dia menaikan sebelah alisnya, lalu berbalik dan berjalan.
Aku melongo di tempat. Lalu mengejarnya.
"Lo ini hobby ngejar orang ya?"
"Itu pertanyaan atau bukan sih! Datar amat ngomongnya." Ucapku mengomentari nada bicaranya yang kelewat datar.
Dia hanya menoleh sekilas padaku.
Saat ini kita sedang dalam perjalanan pulang. Tepatnya kita sedang berada di trotoar.
"Kak X." Panggilku.
"Hmm."
Eh, dia ngejawab? Berarti di nerima dong di panggil X!
Aku berjalan mendahuluinya. Sekarang aku tengah berjalan mundur, di depannya. "Anterin aku pulang ya." Pintaku sambil menunjukan pupy eyes andalanku.
Sebenarnya aku minta di antar itu, adalah karna masalah stalker itu. Aku jadi selalu was-was setiap pulang sendiri ke kosan.
"Tidak ada orang yang nggak tersentuh sama puppy eyes ku, sejauh ini. Karna aku ini memang cute. Aku yakin kak X juga nggak bisa mengelak dari serangan puppy eyes ku." aku membatin sambil tersenyum lebar.
"Gak."
Satu kata yang langsung membuat rahangku jatuh seketika, sampai-sampai rasanya mau copot aja.
Aku mendengus. "Ya elah! Cuman minta anterin sampai ke kosan aja nggak mau." Suara ku berubah menjadi ketus. "Lagian kosannya juga nggak jauh kok!"
Kak X menarikku ketika ada sepeda yang melaju dengan cepat di belakangku. Tarikannya yang kuat, membuatku menabrak dada bidangnya.
Seketika harum Lavender menyeruak di indra penciumanku. Aku mendongak menatapnya yang sedang menoleh sinis pada orang yang mengendarai sepeda tadi.
Sinar matahari sore, menerpa wajah tampannya. Angin sepoi-sepoi berhembus. Bisingnya kendaraan yang berlalu lalang aku abaikan.
Aku merasa waktu berjalan begitu lambat. Tanpa ku sadari wajahku memanas, melihat eloknya ciptaan tuhan yang berada di depanku. Tampan tanpa cela.
Jantungku bergemuruh hebat saat dia bertanya.
"Lo nggak papa?" tanyanya.
Aku menggeleng pelan, lalu mundur satu langkah karna dekatnya jarak kami saat ini. Aku menunduk, tidak berani menatap wajahnya. Karna jika aku menatapnya lagi, jantungku akan berdetak kencang tak karuan.
Angin berhembus lumayan kencang, membuat rambut panjangku ikut terbang ke arah kak X.
Aku hendak menyelipkan helaian rambutku ke telinga, dan tanpa di duga sebelum aku melakukan itu, kak X yang duluan melakukannya.
Seketika aku mendongak lalu menatapnya, wajahku memerah dan telingaku terasa panas. Karna takut ke pergok blushing, aku segera berbalik dan berjalan.
"Wajah lo merah. Lo demam?" tanyanya yang sudah berada di sampingku.
Aku berdekhem canggung. "Eng-enggak." jawabku berusaha terdengar tidak gugup.
Mata kak X menyipit. "Suara lo aneh! Kayaknya lo emang lagi sakit deh! Oh jadi karna itu lo minta gue anter. Yaudah deh, gue anter sampe kosan lo."
Aku menoleh kaget. "Kau bisa bicara sepanjang itu? Ini... benar-benar sangat tidak terduga. Pokoknya harus masuk keajaiban dunia!" ucapku heboh.
Setelah kejadian itu, hampir setiap hari aku di antar pulang olehnya. Setiap di perjalanan pulang, aku selalu mengoceh ini itu, dan kak X hanya merespon dengan dekheman dan anggukannya.
Di sekolah juga terkadang kita ke kantin bareng. Membuat waktu istirahat ku jadi tidak membosankan seperti biasanya, karna aku selalu sendirian di sekolah.
Adena, adalah temanku satu-satunya. Tapi sekolahnya berbeda denganku. Jadinya kami bisa berhubungan lewat handphone dan saat bekerja saja.
Ini sudah hari ke-30, kak X mengantarku pulang. Itu artinya sudah sebulan aku pulang di antar oleh kak X.
"Kak X." Panggilku membuat kak X yang sedang menjilati es krim batangnya menoleh, lalu menaikan sebelah alisnya.
"Kak X pernah ngalamin yang namanya cinta pertama, nggak?" tanyaku sambil memandangnya. Lalu aku menjilat es krim rasa mangga yang di belikan kak X untukku, di pedagang kaki lima.
Kita sekarang dalam perjalanan pulang, sembari makan es krim.
"Gak." Ucapnya singkat.
Aku ber-oh-ria. "Kalau aku sih punya." Ucapku membuat kak X menghentikan langkahnya dan menoleh padaku.
"Lo punya? Siapa?"
"Emmmm. Dia orangnya tampan, baik, lucu, friendly, dan asik." Ucapku sambil menerawang jauh ke langit sore yang membentang di atas.
Sekilas wajah anak kecil terlintas di kepalaku.
"Lebih tampanan gue atau dia?" tanya kak X yang membuatku terkejut.
Aku menatapnya heran. "Emmm. Karna dia cinta pertamaku, tentu saja lebih tampan dia."
Kulihat kak X menjatuhkan es krimnya. Dia berdecih pelan. "Lalu sekarang ada di mana cinta pertama lo itu?" tanya kak X sinis.
Aku tiba-tiba heran dengan perubahan sikapnya. Dia terlihat marah saat aku bilang kalau cinta pertamaku lebih tampan darinya. Padahal biasanya, dia tidak menanggapi dengan serius perkataanku.
"Nggak tahu! Itu udah lama banget. Aku aja nggak tahu namanya." Jawabku.
Kak X tersenyum miring. "Lebih baik lo lupain cinta pertama lo, yang nggak pasti itu!"
Aku mengerutkan dahi. "Nggak bisa gitu dong! Mana mungkin aku ngelupain dia. Pertama kali aku ketemu sama dia itu di taman. Waktu aku masih di Bandung. Dia datang ke aku, terus bilang kalau aku ini jodohnya. Gara-gara dia, aku jadi suka sama Bougenville."
Kak X terdiam. Ia tiba-tiba tersenyum manis. Entah setan jenis apa yang merasukinya, hingga membuatnya tersenyum semanis itu.
"Bagus! Lo emang nggak boleh lupain dia!"
Loh? Bukannya tadi dia suruh aku lupain ya? Kenapa sekarang beda! Dan wajahnya sekarang malah kelihatan seneng. Aneh banget sih!!! Pas pertama kali ketemu juga, kak X aneh banget.
Memanfaatkanku yang sedang melongo kaget, kak X mengambil es krim di tanganku lalu memakannya.
"Eh, itu es krim ku."
"Gue yang beli! Jadi ini es krim gue." Ujar kak X tersenyum tengil lalu berjalan mendahuluiku.
Hubunganku semakin dekat dengan Kak X selepas kejadian itu. Dan tanpa aku sadari aku telah jatuh cinta padanya.
Aku pun memberanikan diri mengatakan perasaanku. Tapi dia menolakku. Tentu saja, aku tidak menyerah semudah itu. Aku terus menyatakan perasaanku padanya setiap kita bertemu.
Dan karna pernyataan cintaku, kak X tidak lagi mengantarku pulang. Tapi tidak apa-apa. Aku tetap senang hanya dengan melihat wajahnya.
Hingga akhirnya kak X mengatakan hal yang menyakitkan padaku.
"Stop ngejar gue! Selamanya kita nggak mungkin bisa bersama." Tegas kak X.
"It's not imposibble. Kak X yang buat ini nggak mungkin." Aku mencoba meyakinkannya.
Kak X terkekeh sinis. "Itu bukan tidak mungkin? Haha. Lucu banget bangs*t! Lo tahu nggak? Lo tuh udah kayak benalu di hidup gue. Jadi bisa nggak, jangan ganggu hidup gue lagi." Ucap kak X sinis.
"Benalu? Segitu bencinya ya, sama aku sampai bicara kayak gitu? Terus sikap baik kak X selama ini artinya apa? Kak X sendiri yang buat aku jatuh cinta gara-gara itu. Kak X juga kayak nunjukin perasaan yang sama ke aku. Kalau mau aku nggak jatuh cinta sama kak X, harusnya kak X jauhin aku. Harusnya kak X nolak waktu aku minta anterin pulang. Harusnya kak X nggak bersikap baik sama aku!" teriakku dengan derai tangis.
"Bersikap baik? Lonya aja yang terlalu baper. Lo tahu? Lo itu cuma gue anggap sebagai tempat pelampiasan gue, dari cinta pertama yang belum bisa gue lupain hingga sekarang."
Dianggap sebagai tempat pelampiasan lebih menyakitkan, dari pada di anggap benalu.
Setelah kejadian itu, kak X tidak lagi kelihatan di sekolah. Dan itu berlangsung selama sebulan, dan selama itu juga aku terus menangis setiap malam.
Sudah di perlakukan seperti itu pun, aku tetap mencintai kak X. Tak pernah sekali pun, aku ada pikiran untuk membencinya.
Tok tok.
Suara pintu di ketuk membuat tangisku berhenti. Aku menatap pintu, lalu bangkit dan duduk.
Tok tok.
"Bentar." Teriakku.
Aku beranjak dari ranjang, mengambil tisu di nakas dan menghapus air mataku, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Apa benar ini sama kak Quinsha Qiana Qalesha?" tanya seorang laki-laki tampan. Entah kenapa wajahnya sedikit mirip dengan kak X.
"Iya. Aku Quin. Ada apa ya?" tanyaku.
Laki-laki itu terlihat ragu-ragu. "Emmm. Kakakku, maksudku orang yang sering kau panggil kak X, saat ini tengah di rumah sakit dan dalam keadaan koma."
Seketika aku merasa petir sedang menyambarku. Hatiku bagai di tusuk ribuan belati mendengar itu.
"Kenapa dia koma?" tanyaku panik.
"Kakakku sudah mengidap penyakit kanker hati dari kecil. Dia koma gara-gara ia bersedih sudah mengatakan kata-kata jahat padamu. Dia terpaksa mengatakan itu, agar kau membencinya hingga kau bisa melupakan kakak dengan mudah saat dia sudah meninggal."
Aku terkejut dengan perkataan adik kak X ini. Aku benar-benar tidak menyangka.
"Setelah mengatakan kata-kata jahat kepadamu, kakak mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Obatnya juga tidak di minum, hingga membuat kondisinya drop dan akhirnya koma. Sudah 3 minggu kakak koma dan sampai saat ini belum sadar. Kata dokter, tekad untuk tetap hidup juga sangat berpengaruh untuk membuat kakak siuman."
"Alasannya tidak terbangun juga mungkin gara-gara dia sudah tidak ada tekad untuk hidup. Dan selama ini kakak masih hidup karna alat medis yang menempel di tubuhnya.
Kakak mungkin bisa siuman, jika kau menemaninya. Walau hanya sebentar."
Jadi ini alasannya kak X menghilang selama sebulan? Aku benar-benar merasa bodoh, karna tidak tahu kondisi orang yang aku cintai. Rasanya sangat sakit mendengar itu. Sakitnya melebihi apapun.
***
Aku terus menggenggam tangan kak X selama beberapa hari ini. Aku terus membisikan kata maaf padanya, karna aku tidak pernah tahu kondisinya selama ini. Jika aku tahu, mungkin aku tidak akan memintanya untuk mengantarku pulang, yang berpotensi membuatnya capek, dan membuat penyakitnya semakin parah.
Aku tersentak kecil saat merasakan gerakan kecil tangan kak X yang berada di genggamanku.
Aku lantas langsung mendekat, dengan linang air mataku. KAK X MEMBUKA MATANYA!!!! Aku benar-benar bahagia saat itu, sampai-sampai aku tidak bisa menjabarkannya.
Saking senangnya aku langsung keluar dan memanggil Dokter, padahal aku bisa mencet tombol di sana.
Akhirnya Dokter datang, dan memeriksa keadaan kak X. Sedangkan aku dan keluarga kak X menunggu di luar.
"Jadi ini yang namanya Quin." Aku menoleh ketika mendengar suara lembut seorang wanita.
Dia sepertinya ibu kak X. "Iya. Aku Quin."
Ibu itu tersenyum lalu mengusap surai ku. "Dia selalu cerita tentang kamu ke bunda. Katanya dia cantik kayak bidadari." Aku tertawa kecil mendengarnya. "Dia selalu ketawa kalau bahas tentang kamu. Tapi kalau bahas yang lain, wajahnya malah datar kayak triplek."
Aku tertawa. Ternyata kak X selalu bercerita tentang ku kepada ibunya. Itu berarti kak X juga mencintaiku, kan?
Suara pintu di buka membuatku menoleh. Dokter dan perawat sudah keluar. Adik kak X, ibunya, dan aku langsung mendekat.
"Gimana keadaan anakku dok? Apakah kondisinya membaik?" tanya ibunya kak X.
Dokter laki-laki itu menghela nafas, ia menggeleng pelan. "Walaupun anak ibu sudah siuman, kondisinya tidak membaik malahan bisa di bilang kondisinya benar-benar buruk. Dia hanya bisa sadar selama 1 jam saja. Dan setelah itu.... anak ibu...."
Tanpa di teruskan pun aku tahu kelanjutan perkataan Dokter itu. Kak X hidupnya tidak lama lagi. Dia hanya mempunyai waktu satu jam.
"Kami turut prihatin dengan kondisi putra ibu. Kalau begitu kami permisi dulu." Setelah mengatakan itu, Dokter pun pergi.
Mataku sudah berlinang air mata, aku menoleh pada ibunya kak X. Walaupun wajahnya kelihatan sedih, tapi ia tersenyum. Adiknya kak X juga tengah menangis.
"Nak Quin, silahkan masuk. Temenin anak bunda di akhir hayatnya."
Aku menggeleng. "Tapi tante kan, ibunya kak X. Harusnya tante yang nemenin."
"Bunda udah nemenin dia selama 17 tahun. Bunda ingin anak bunda, nggak menyesal saat dia meninggal. Dia pasti ingin mengucapkan maaf secara langsung ke kamu. Dia juga yang akan kasih tahu kamu nama aslinya. Kamu temenin dia yah. Supaya dia senang di saat-saat akhir hidupnya."
Aku mengangguk dengan derai air mataku. Aku pun membuka pintu kamar kak X dengan gemetar lalu masuk ke sana.
Kulihat kak X tengah berbaring. Aku mendekat ke arahnya.
"Kak X....." Lirihku, yang mungkin dapat di dengar olehnya karna kak X langsung membuka matanya.
Aku duduk di kursi lalu menggenggam tangannya yang dingin. Dia menatapku dengan sendu.
"Ana kenapa bisa ada di sini?" tanyanya dengan suara parau dan lemas.
"Ana?" tanyaku bingung.
Dia mengangguk, "dari nama panjang kamu. Qiana."
Kak X tidak lagi menggunakan Lo-Gue lagi seperti biasa. Aku tersenyum manis. Ini pertama kalinya kak X memanggil nama ku.
"Ana, aku mau tiduran di pangkuanmu." Pinta kak X. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya. Aku mengangkat kepalanya lalu aku naik dan duduk kemudian kepala kak X aku letakan di pahaku.
Aku mengusap-ngusap kepalanya.
"Ana.... maafin perkataanku waktu itu ya.. aku.."
"Sssttt." Aku meletakan telunjukku di bibirnya. Menghentikan kata-kata yang akan meluncur dari sana. "Iya. Aku maafin. Aku juga tahu alasannya kok." Ucapku.
"Ana. Kamu masih inget nggak, wajah anak kecil yang kamu temuin di taman. Yang katanya kamu bilang itu cinta pertamamu?"
Aku mengangguk. "Inget! Aku masih inget."
Kak X menatap wajahku, dia tersenyum. "Itu aku."
Aku melebarkan mata. "Serius?" tanyaku tak percaya. "Kak X cinta pertamaku itu."
Dia mengangguk. "Iya. Aku ini bisa lihat masa depan Ana. Jadi, saat aku lihat kamu di taman, aku langsung tahu kalau kamu itu jodohku. Tapi jodoh yang nggak permanen. Soalnya aku bakalan meninggal." Ucapnya dengan sendu.
Aku langsung terkejut mendengar itu. Benar-benar terkejut setengah mati. Ternyata kak X adalah cinta pertamaku, yang selama ini aku tunggu-tunggu.
"Stalker yang kamu ceritain itu, aku. Aku selalu ngikutin kamu pulang, untuk bisa memastikan kamu pulang dengan selamat. Bougenville yang selalu ada di pintu kosan kamu pun, aku yang meletakannya. Dan surat itu juga. Orang yang belanja setiap weekend itu juga aku."
"Aku pikir dengan hanya memandangimu saja, itu sudah cukup. Nyatanya aku nggak puas. Aku ingin berbincang denganmu, ingin selalu berada di dekatmu, ingin melihat wajahmu lebih dekat. Dan kau tahu kenapa aku selalu tidak menanggapimu ketika kau sedang bicara?"
Aku menggeleng.
Sudah beberapa kali ini aku di kejutkan dengan beberapa fakta yang di sembunyikan oleh kak X. Ternyata dia penuh kejutan. Walaupun aku terkejut, rasa sedih masih menguasai diriku. Rasa takut akan kehilangan orang yang aku cintai sangat-sangatlah besar!
"Aku hanya ingin terus memandangi wajahmu saja sampai aku puas. Karna aku tahu, aku tidak akan berlama-lama lagi hidup di dunia ini." kulihat kak X tersenyum lembut padaku. Ia menarik tanganku yang masih mengelus kepalanya, lalu membawanya ke bibirnya dan menciumnya untuk waktu yang sangat lama sambil memejamkan matanya.
Wajahku memerah seketika. Aku tersenyum. Mataku seketika berair ketika mengingat, bahwa hidup kak X tidak lama lagi.
Kak X membuka matanya. "Jangan nangis, Ana." Ucapnya sambil tersenyum, padaku yang sedang menahan tangisku. Mendengar ucapannya bukan membuatku semakin lebih baik. Justru itu membuat hatiku lebih sakit. Sangat-sangat sakit.
"Terimakasih sudah mencintaiku. Terimakasih untuk semua yang kau lakukan selama ini untukku. Dan maaf, aku tidak bisa menemani mu lagi."
Aku buru-buru menghapus air mataku yang sudah jatuh. Aku menatap lembut pada kak X, dan mengangguk.
"Kau pasti penasaran dengan nama asliku ya. Nama asliku adalah, Danial Arsalan Putra Syahreza. Kau bisa panggil aku Arsa." Pandanganku buram, karna air mataku yang membendung di pelupuk mataku. Sebisa mungkin aku menahan air mataku agar tidak jatuh.
"Ana...." Panggilnya lirih. "Aku lelah. Aku mau tidur. Bisakah kau memanggil namaku?" aku mengangguk pelan.
Aku tentu tahu arti sebenarnya dari kata tidur. Aku berusaha tersenyum meski air mataku sudah berlinang di pipiku.
Aku kembali mengusap lembut kepalanya. "Selamat tidur. Moga mimpi indah. Kak Arsa." ucapku.
Kak Arsa tersenyum lalu menutup matanya. Bertepatan dengan menutupnya mata kak Arsa, air mataku langsung jatuh ke kelopak matanya, lalu mengalir ke bawah seolah itu adalah air mata kak Arsa.
Aku mendekat ke telinganya lalu bebisik pelan dengan suara yanh serak. "Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu."
Aku menangis sejadi-jadinya. Orang mana yang tidak akan menangis melihat orang yang di cintainya meninggal tepat di depannya?
Tubuhku serasa di tusuk dengan hujan jarum yang langsung menembus ke tulang. Jantung dan hatiku bagai di tikam berib— bukan bermilyar-milyar belati panjang.
Rasa sakit yang sama sekali tidak bisa kujabarkan. Aku menggenggam erat tangan kak X yang sudah dingin. Menyalurkan rasa sakitku, berharap dia mungkin akan bangun dan menghapus air mataku.
Aku sama sekali tidak menyangka. Bahwa aku akan memanggil nama orang aku aku cintai, untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya.
***
Setelah pulang dari menghadiri pemakaman kak X— bukan kak Arsa. Aku langsung pergi ke kosan untuk mencari surat darinya.
Aku membuka satu persatu laci nakas, lalu aku menemukan surat itu di laci terbawah, bersama Bougenville yang sudah kering dan hancur di atasnya.
Aku mengambil surat itu dengan gemetar. Saat hendak menyentuh bunga yang sudah kering itu, ia malah langsung terbang tertiup angin. Aku berusaha menggapainya, tapi aku sadar, aku tidak bisa menggapainya. Seperti kak Arsa yang sudah meninggal. Aku tidak bisa lagi menggapainya.
Aku membuka surat itu dengan wajahku yang sudah berlinang air mata.
For you, gadisku yang aku cintai.
Halo. Hehe. Aku sudah tahu dari masa depan yang kulihat, bahwa kau akan membaca surat ini setelah aku meninggal.
Aku tidak tahu harus bicara apa.
Yang pastinya aku ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya padamu. Hadirmu itu mengubah kelam dalam hidupku.
Di sini mungkin aku akan merindukanmu. Sebenarnya aku juga merasakan sakit, ketika membayangkan kau akan bersama orang lain jika aku sudah meninggal. Tapi aku tidak boleh egois.
Aku berharap kau bahagia dengan orang lain di sana. Jaga kesehatanmu. Jangan terlalu banyak makan yang manis-manis. Nanti gigimu sakit.
Sebelum tidur juga jangan lupa berdo'a, agar kau tidak mimpi buruk. Makan yang banyak. Karna awal bulan ini adalah musim hujan. Aku takut kau akan terkena flu. Jika kau sakit, kau tidak akan minum obat. Karna kau tidak suka bau obat, di tambah kau tidak bisa minum obat jika obat itu belum di lembutkan.
Hehehe. Kau ini seperti anak kecil.
Oh ya. Kau jangan terus-terusan menangisiku. Jika tidak, aku akan marah. Marah pada diriku yang sudah membuatmu menangis.
Selamat tinggal Ana. Kau pasti tahu kata-kata, "setiap pertemuan pasti ada perpisahan."
Setidaknya aku bisa tenang di sini, karna perpisahan ku denganmu tidak menyakitkan sama sekali. Aku bisa melihat senyummu sebelum mataku tertutup.
Jaga dirimu baik-baik di sana.
Aku mencintaimu, Ana.
For you.
Dari Kak X-mu.
Aku meremas surat itu. Padahal kak Arsa bilang aku tidak boleh menangisinya. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menahan rasa sakit yang mencengkram hatiku ini.
Apalagi setelah membaca surat darinya.
***
Bandung.
Kamis, 31-09-2020.
"Kau menangis lagi?" tanya seorang laki-laki yang merupakan suamiku.
Aku mendongak ke arahnya. Sudah sepuluh tahun, sejak kepergian kak Arsa. Dan aku masih mengingatnya, karna aku tidak akan pernah melupakannya. Tidak akan pernah.
Aku berdiri lalu mengusap air mataku kemudian tersenyum. "Aku menangis karna teringat masa lalu."
Saat ini aku tengah mengunjungi makam kak Arsa. Kalian tahu dia memilih di makamkan di mana?
Kak Arsa memilih di makamkan di taman, di tempat di mana aku dengannya pertama kali bertemu. Dengan Bougenville yang tumbuh di sekitar makamnya, yang pastinya akan memberikan ketenangan untuk kak Arsa.
"Kau masih tidak bisa melupakannya?" tanya suamiku yang mulai cemburu.
Aku terkekeh. "Aku tidak akan melupakannya. Kau tahu itu."
"Apa cintamu untuknya tidak hilang dan berkurang?" tanyanya dengan wajah kesal.
"Kau ini cemburu pada orang yang sudah mati. Kau tahu, cintaku pada kak Arsa tidak akan berkurang. Tapi cintaku padamu akan terus bertambah, di masa yang akan mendatang."
"Modus!!" walaupun begitu, bisa kulihat suamiku tersenyum senang.
"Ayo. Arsa daritadi nyariin kamu."
Yap. Aku menamai anakku dengan nama kak Arsa, untuk mengenangnya.
Aku berjalan menjauh dari makam kak Arsa sambil bergandengan dengan suamiku.
Aku memandang langit biru di atas.
Aku berharap kau bisa mendengar ku, mengatakan ini. Aku sudah bahagia bersama orang yang aku cintai. Jadi kak Arsa jangan khawatir lagi padaku dan beristirahatlah dengan tenang.
Kau tahu, dulu aku susah sekali move on darimu. Setiap aku pulang sekolah aku selalu melirik ke samping, dan membayangkan kak Arsa ada di sampingku untuk mengantarku pulang.
Aku juga terkadang menangis setiap malam dan bermimpi tentangmu.
Masa sulit itu akhirnya bisa aku lalui, setelah aku bertemu dengan lelaki receh yang selalu sabar menghiburku. Dan membuatku bisa mengikhlaskanmu dengan luka kerinduanku.
Dulu, aku merengek padamu.
Dulu, aku mengaduh padamu.
Tapi sekarang aku merengek pada orang yang aku anggap sebagai rumahku.
Terimakasih kau pernah singgah di hidupku, walau hanya sebentar. Kau adalah tamu teristimewah dan tidak dapat di lupakan.
Terimakasih sudah mewarnai masa putih abu-abuku. Terimakasih sudah pernah menuai senyum di bibirku. Terimakasih sudah memberiku pelajaran akan artinya cinta dan perjuangan.
Sekarang aku sudah bahagia. Semoga kau bahagia juga di sana.
Aku mencintaimu, kak Arsa. Separuh nafasku.