Panas matahari tak menyurutkan massa yang merangseknya para petugas jaga yang bertugas mengamankan situasi agar lebih kondusif. Tak peduli teriakan, makian, yel-yel, dengan segala bentuknya orasi masa bodoh. Dengan manusia yang membanjiri lapangan yang biasa digunakan untuk parkiran kendaraan. Ada roda dua, roda empat bahkan truk container juga dapat masuk, belum bus-bus karyawan itu juga dapat masuk suksesnya jika musim hujan.
Jika kemarau ya bus-bus itu setia nungguin di luar gerbang bangunan. Para manager berdiri di kantor ber-AC, mengintip para pekerja yang berdemonstrasi di halaman depan gedung perusahaan. Dengan segala tuntutan yang ditulis dalam bentuk spanduk, banner, atau kertas karton putih.
"Ibu Dian, bagaimana cara mengatasi mereka yang sekian hari bukan surut malah kian rancu dan menambah gerah dan geram saja!", Pak Bambang manager pemasaran tak berkedip menatap tajam lewat jendela kantor melihat karyawan berdemonstrasi semakin bersemangat. Dari pagi hingga siang belum selesai, masih bertahan disana.
Wanita itu hanya menatap kosong kedepan lewat jendela yang berwarna gelap dari luar mereka tidak akan nampak namun orang-orang yang di dalamnya melihat jelas orang-orang yang berada di luar sana. Tak lama wakil CEO keluar dari ruangan dan mengajak semua personil manager ke depan untuk menemui para demonstran. Ada instruksi dari CEO ini fax nya. Kau yang maju karena kamu manager personalia. Wakil CEO itu mendorong Dian Kartika Putri, wanita lulusan perguruan tinggi terkenal dua tahun lalu gemetaran menerimanya. Ia membacanya sekilas, dan itu tidak sesuai wacananya dan yang jelas akan menambah api emosi para demonstran itu. Semuanya terdiam tak ada pergerakannya, semua fokus pada ibu Dian Kartika Putri dan dibelakang wanita itu adalah semua staf manager dan wakil CEO. Dian Kartika Putri menghela nafasnya menunduk dengan memegang Mike ditangannya kanan seta kertas itu di tangan kirinya. " Selamat siang semuanya, rekan-rekan kerja perusahaan PT Wijaya Karya dengan ini saya menyampaikan hasil keputusan maksimal dari rapat, bahwasanya perusahaan mengeluarkan kebijakan yakni berupa..." , gadis itu menyampaikan semua perintah dari CEO dan mengatasnamakan keputusan bersama.
"Demikian keputusan yang kita ambil bersama dengan sebijaknya...", belum selesai wanita cantik itu berbicara ada seruan seseorang telah berhasil merangsek ke arah depan dan membawa barang oknum demonstran nakal itu berhasil melempar batu dan mengenai gadis itu. Dia pun tumbang bersamaan oknum itu dibekuk dan diseret ke luar area demonstrasi. Sedangkan kan gadis itu di angkat oleh seseorang dan melarikan nya ke ambulance. Mereka menuju ke rumah sakit umum, dan petugas medis bekerja sesuai standar yang telah ditetapkan.
"Nona...nona ...", suaranya sayup-sayup terdengar. Wanita cantik itu mengerjab-ngerjabkan matanya. Di tatapnya orang di depannya dengan wajah kebingungannya, " Ini dimana? Apa yang terjadi kenapa aku disini?", tanya nya.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian kuno yang sederhana dan sopan menatap nya penuh tanda tanya. "Nona tadi terjatuh disaat pesta perayaan pernikahan Tuan dan Nyonya besar. Nona terpeleset bersamaan jatuhnya hadiah yang hendak Nona berikan pada Beliau. Maafkan kami tidak dapat menyelamatkan hadiah Nona", jelasnya.
"Kau boleh pergi, jangan katakan apapun pada orang-orang di rumah ini." titahnya.
"Nona... apakah Anda lupa? Di paviliun mewah ini tidak ada yang memperhatikan Nona? Bahkan Nona jatuh hanya kami para pelayan yang menolong, Nona baik hati sama seperti almarhum istri Tuan yang pertama. Nyonya kedua dan putrinya sangat berbeda. Hanya di awal saat memasuki paviliun ini mereka baik seiring waktu berjalan mereka mengganggu Nona dan Nona selalu memaafkan. Bahkan Tuan Besar juga turut tutup mata mengenai itu." wanita pelayan itu tersedu-sedu duduk di sampingnya ranjangnya Dian.
"Pergilah tinggalkan aku sendiri. Aku baik-baik saja". Wanita itu keluar dari kamarnya. Dian menatap ruangannya sebuah ranjang besar dari kayu dengan kasurnya, disebelah ada sekatan seperti buat berganti pakaian, ditengah ruangan ada meja bundar besar beserta kursi yang mengitarinya dan di dekat jendela ada kursi dan meja kaca untuk merias diri. Disudut ada almari berisi pakaian kuno tradisional, dan beberapa kain polos dan kotak berisi peralatan sulaman. Dian menatap wajahnya di cermin, dandanan rambutnya nya seperti jaman tempo dulu. Diputuskan ia keluar dari kamarnya dia melihat taman hamparan pohon dan tanaman bunga. Dihirupnya udaranya terasa segar dan sejuk. Dia ingin berjalan-jalan sejenak baru beberapa langkah," Nona saya dari dapur utama membawa makanan untuk mu." seru seorang gadis muda berseri-seri wajahnya. Baju pelayan yang dia kenakan sama seperti wanita paruh baya tadi. Dian mengikuti langkahnya dan disinilah mereka bertiga duduk bersama. Hening sesaat," Apakah ini makanannya An an ?", tanya Wanita itu. " Iya bibi Lee, katanya hanya kue bulan ini makan malam dan buat sarapan besuk pagi", jawab An an menunduk takut. Dian menatap wajahnya dan seluruh tubuh gadis sebayanya itu. Ada bulir-bulir memar di tangannya seperti...
"An an ada apa dengan tangan mu?", tanya Dian. Gadis itu menunduk. Di ingatan Dian melintas ada gambar An an seringkali di pukuli jika ke paviliun di seberang dan bibi Lee juga sering dipukuli jika meminta kain ataupun peralatan menjahit. Dan gambar wajahnya juga selalu di intimidasi oleh seorang gadi dan ibunya selalu memfitnahnya di depan seorang lelaki yang ia yakini ayahnya.
" Mulai sekarang kita jangan lagi kesana. Ayo kita makan dulu. Setelah itu kita bekerja mencari uang sendiri untuk makanan kita. Ada banyak buah dan bunga-bunga kita bisa menjualnya. Dan kita tanami lagi agar menjadi sumber mata pencaharian kita." kata Dian. Keduanya terkejut dan mengangguk. Mereka pun berkebun dan mengambil bunga-bunga seperti crissan dapat untuk teh, dan bunga-bunga lainnya untuk parfum. Saat sekolah Dian selalu kerja part time jadi pengalaman banyak. Dan di kehidupan ini dia mempraktekkan nya. "Kita istirahat besuk pagi kita keluar dan berjualan. Bagaimana menurut mu? ", kita belikan bahan makanan yang penting saja seperti sayuran yang tidak mudah layu, terus gandum atau semacamnya." kata Dian antusias.
Esoknya mereka bertiga membawa bunga kering dan juga dua buah botol berisi parfum. Mereka ke toko yang menjual hal yang sama. Dian mengajukan penawaran nya. Sang pemilik toko ragu tapi Dian tak patah arang dia mempraktekkan membuat teh pada pemiliknya. " Bagaimana rasanya tuan? ", tanya Dian. "Rasanya berbeda nona dan unik. Untuk sementara aku memberi mu barang sebagai bayaran, maaf ini baru pertama dan tidak tahu akan laku apa tidak jadi.." si pemilik kedai teh masih ragu-ragu bertransaksi dengan Dian. Dian merasa ini awalnya maka dia tidak mematok harga tinggi, ia pun menurut Dian mendapatkan makanan yang dijual di kedai teh itu. Kuenya terkenal enak dan jumlah nya lebih banyak dari jatah makanan mereka di rumah. Dian sangat bahagia matanya berbinar-binar ia keluar dari kedainya. Tak jauh kedua pelayan nya menungguinya dengan cemas. " Nona.." mereka berpelukan. "Lihatlah di keranjang penuh makanan. Kita berhasil untuk awal yang baik", serunya bahagia. Mereka berjalan beriringan dengan berurai air matanya terharu. Mereka tak menyadari di lantai dua kedai teh itu ada seorang pemuda tampan menatap mereka hingga menghilang dari pandangan mata. Pemuda itu adalah pangeran ke sembilan dari kerajaan Matahari Terbit. Dia berpangkat Jenderal perang yang terkenal bengis bagi musuhnya dan kejujuran serta kepemimpinan yang adil bagi bawahan nya. Sejak saat itu produk mereka dikenal masyarakat, Dian menamai barang-barang itu agar mudah dikenali. Dia juga menjual sulaman sapu tangan. Pendapatan bertambah. Mereka sudah mandiri bahkan dapat menabung. Dian berencana keluar dari sana dan membeli rumah kecil dengan halaman luas. "Nona ada tamu " , teriak An an dari luar. Dian keluar menatap lelaki paruh baya itu. Ia memberikan salam sesuai memori di kepalanya. "Hormat ayah", katanya. "Eheemm..sudah beberapa bulan pelayan mutidak datang ke paviliun utama kenapa?", tanyanya.
"Kami bukan pengemis yang selalu dipukul jika mengambil jatah makanan, kami putuskan untuk mencari makan sendiri saja. Maaf selama ini kamu menjadi beban Anda." jawab Dian sopan. Lelaki itu terbelalak terkejut. "Kau.." tunjuk nya. "Apakah ada yang lainnya?", Dian mengalihkan pembicaraan. "Aku baru menerima lamaran dari ibu Bupati Kerajaan Matahari Terbit, mereka inginkan kau jadi menantunya. Jenderal itu keturunan raja yang ke sembilan. Jadi dua hari lagi kau menikah." Dian terkejut. Bagaimana mungkin? batinnya. Kau akan pergi menjadi pengantin dua pelayan mu akan ikut dengan mu. ", lelaki itu langsung pergi begitu saja.Dian terduduk lemas di lantai depan bangunan. Orang yang berstatus ayah hanya memerintahkan tampa memperdulikan hatinya. Pestanya dimulai iringan pengantin berjalan lancar mereka tiba di kediamannya sang jenderal. Dian tak mengetahui wajah yang sudah menjadi suaminya karena dia memakai topeng. Rumornya dia berwajah cacat dan tua, ia juga tidak melakukan malam pertama.Di bagian belakang kediaman nya ada tanah kosong yang luas. Dian tak menyia-nyiakan waktu dia dan pelayan nya bekerjasama berkebun. Untuk menghasilkan uang. Dia tak memperdulikan suaminya yang mana, dia hanya meminta ijin pada kepala pelayan untuk memakai tanah itu dan diijinkan. Mereka sukses dengan bisnis nya, sang jenderal juga tak pernah menampakkan barang hidung nya. Bahkan dia mendapatkan bantuan tenaga pelayan pria. "An an tolong ikat rambut ku ", teriak Dian saat mendengar suara pintu terbuka. Dian sedang menyulam duduk membelakangi pintu masuknya kamarnya. Seseorang menggelung rambutnya. "Terimakasih An an ", katanya. "Sama-sama istriku." jawabnya. Dian terhenti dan kaku, badan meremang dengan suara dan nafasnya saat lelaki itu berbicara.
Lelaki itu duduk menatap tak berkedip. Kenapa lelaki ini datang kemari? batin nya. "Aku kemari meminta hak ku istriku. Dian terkejut dan membalikkan badannya. " Kau .." suara tercekat dari mulut mungilnya. Sang jenderal adalah lelaki yang tampan dan ramah dia masih memberikan kebebasan berbisnis pada Dian dan mereka hidup bahagia. Bertolak belakang dengan saudara perempuannya yang menikah dengan kaum bangsawan namun dia hanya menjadi istri ke sekian dan parahnya makannya hanya dijatah sama seperti Dian. Jenderal melakukan itu demi status, ia menyamar untuk mendapatkan istri setia. Dan juga tidak materialistis. Dan memberikan dukungan kuat baginya untuk keperluan politik dan karirnya. Mereka diberikan momongan saat proses persalinan Dian kehabisan tenaga dan pingsan.
Tut...Tut... suara nyaring itu mengganggu telinga pikirnya. Mata mengerjap-ngerjap menyesuaikan sinar lampu. Dimanakah aku? Ada apa ini ? Orang-orangnya berpakaian modern juga peralatannya dia kenal ia sudah kembali oh God terimakasih.
Para tim medis melakukan pemeriksaan dan melaporkan pasien telah berhasil kembali. "Selamat datang nona" ujar seorang petugas medis. Dian terluka kepalanya bocor menyebabkan penanganan serius karenanya. Setelah dokter memastikan bahwa Dian sehat ia pun diijinkan pulang. Saat dirumah ia sudah bosan ingin bekerja, namun sang ayah menahannya.
Ibunya bercerita jika dia sudah mendapatkan pertolongan dari seorang petugas kepolisian dan dokter jaga waktu itu dengan ambulance yang disiagakan di perusahaan nya tempat dia bekerja. Sang ibunda melarang Dian kembali kerja di sana. "Carilah kerja yang lainnya. " Itu perintah dan tak dapat diganggu gugat. Dan disinilah dia mencari pekerjaan lagi kesana-kemari lewat media sosial atau media elektronik. Hingga ia memantapkan bergabung dengan perusahaan ini. Dia sudah diterima, hanya besuk kerjanya. Dan pada saat dia berjalan di gedung itu ia hendak membuka pintu tapi naaas, dalam waktu yang sama dan berlawanan Dian kepentok pintu. Dan saat mengangkat wajahnya lelaki itu hanya tersenyum dan meminta maaf karena salah. Sedikit menggerutu Dian kesal karena ulahnya. Dian sudah memberitahu ibunya jasa nya segera akan dipakai. Dan juga belajar lagi biar.
Ibu Dian memasak makanan hari ini. Seperti akan ada tamu. Dan benar saja Dian diminta menyajikan minuman saat mereka bertemu Dian termenung sejenak. Wajahnya sangat mirip sang Jenderal yang ditemuinya di alam mimpi. Ibunya menjelaskan bahwasanya lelaki itu yang menolong dirinya dan menunggui beberapa saat sebelum kami tiba di rumah sakit.
Dan mulai saat itulah mereka menjadi dekat. Oh jad dia kekasihku, batin Dian. Karena tak lama Dian dilamar oleh pria yang menolong nya.