Ketika pagi, kami bertemu dan bertutur sapa selayaknya guru dan murid pada umumnya. Ketika makan siang, ketika tak sengaja kami berpapasan di koridor, lengkungan senyum dia berikan sebagaimana tatakrama murid pada gurunya. Lalu, ketika bel pulang sekolah, saat aku bersantai dalam ruangan yang kugunakan untuk menasehati siswa siswi bermasalah (ruang BK), dia tiba dengan wajah memerah padamnya.
Yeah... Hubungan kami memang (hanya) sebatas guru dan murid hingga bel sekolah berdering saja. Selebihnya, dia akan malu-malu bermanja dalam pelukku seperti seorang kekasih, yang kemudian akan menatapku, menanti aku melakukan kontak fisik dengannya.
Tapi aku tahu batas.
Dan jangan hanya salahkan aku saja yang sudah berpacaran dengan anak didik ku sendiri, sebab, jika kalian melihat seperti apa ekspresi yang dia tunjukan disana.
Dapat ku artikan dia berkata. "Lagi... Lagi... Lagi...."
Demikianpun, aku tak bisa menyalahkannya karena ini masa mudanya. Aku juga pernah begitu bersemangat, sebelum usiaku mencapai kepala tiga dan sejujurnya, aku menjalani hubungan ini tanpa dasar cinta.
Katakanlah aku orang dewasa yang buruk. Tapi sejak awal aku sudah memberitahunya. "Saya tidak memiliki perasaan yang sama denganmu, Aeyza. Kamu masih muda, jangan membuang waktumu pada orang tua seperti saya,"
Dan tahukah apa jawaban gadis itu?
"Saya terima konsekuensinya. Jadi untuk saat ini, berikan saya kesempatan pak Aidan!"
Begitu.
Dengan seluruh keberaniannya sampai memohon padaku hingga beginilah jadinya.
"Pak, anda baik-baik saja?"
"Ukh..." Terbangun dari tidurku yang entah sejak kapan ku lakukan. Aku menoleh ke sebelah, Aeyza dengan rambut terurainya menatapku dengan sorot mata teduh seperti biasa. Dia namun tak tersenyum dan kusadari, tubuhnya dia balut dengan selimut hingga ke leher.
Mataku masih sepat mengingat apa yang sudah terjadi. "Kau sudah bangun?" tanyaku sekadar berbasa-basi. Sial, kepalaku benar-benar sakit sekarang.
"Uhm... Sudah sejak tadi," jawab Aeyza.
Tidak ada lagi perbincangan yang kami lakukan hingga rasa sakit di kepalaku berkurang, Aeyza yang sepertinya memahami pun hanya terdiam menatap langit kamar.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam 10,"
"Ahh, apa sudah sangat terlambat ke sekolah?"
Aeyza tertawa. "Ini hari Minggu, pak~" kekehnya.
"Oh." Itu mengingatkanku bahwa kemarin sore, Aeyza datang ke ruang BK untuk memintaku mengajarinya beberapa rumus matematika. Yeah, aku memang hanya guru BK sekarang, tapi, sebelumnya aku pernah mengajar Matematika di sebuah sekolah ternama. Aeyza mengetahui hal itu dan berhubung kami berada dalam status (pacar) permintaannya tak tega ku tolak.
Akupun mengajarinya secara privat di ruang BK. Namun, telepon masuk dari kurie sebuah paket yang ku pesan mengganggu waktu kami. Aku harus pulang, sedangkan Aeyza belum selesai ku ajari. Sebagai bercandaan aku mengajaknya datang ke rumahku, lalu dengan lugunya-- tidak! dengan teramat polosnya dia menyetujui tanpa berpikir lagi.
Kemudian, marena bosan mengajar Aeyza yang mudah mengerti semua rumus, aku membuka botol bir. Aku hanya meminumnya beberapa teguk, tapi sepertinya, aku yang sudah tua ini tidak bisa menahan efek bir yang kuat. Aku terlelap.
"Kenapa kamu belum pulang?" tanyaku.
Aeyza terdiam. "Karena aku lelah," sahutnya mengernyit alisku
"Kau ikut meminum bir?"
Aeyza menggeleng. "Aku hanya ingin lebih lama bersama bapak,"
Jujur sekali... "Lalu, apa yang kamu lakukan dengan membalut tubuhmu seperti itu? Kau dingin?"
Aeyza kembali menggeleng. "Tidak,"
"Lalu?"
Pada awalnya dia terlihat ragu menjawab ku. Tapi setelah beberapa saat mencoba menatap mataku, Aeyza berbicara lirih. "Kalau bapak tidak ingat, tidak apa-apa,"
"... Huh?"
Aeyza memutar haluan tubuh terlentangnya menghadapku. "Jika bapak tidak ingin mengingatnya, biarakan berlalu saja," lanjutnya.
"Tu-tunggu, tunggu! Apa aku melakukan sesuatu padamu semalam?!" Aku memanik. Ku dudukan tubuh di atas kasur, di ikuti Aeyza terduduk disebelahku. Aezya tidak menatapku. Dia hanya mengangguk kecil dan itu semua, sukses membuatku termanggu.
"Se-sejauh mana aku melakukannya??" Suaraku gemetar sekarang. Aeyza melirik singkat.
"Tidak banyak kok,"
"Hah?" entah mengapa ada yang aneh dari kalimatnya.
Aku yang mengenal jelas pribadi lugu dan jujur Aeyza, sontak menjeda pertanyaan untuk sekadar menatap seberapa berantakannya kasur yang kami tiduri bersama. Yeah, memang sangat berantakan sampai baju dan bantal tampak berserakan di lantai. Tapi bukan itu yang membuatku menahan napas.
"Bukan salah bapak, kok."
Hah?? Membaca kedalam pikiranku, gadis itu menoleh dengan tatapan teduh. Dia tersenyum mengetahui aku menyadari adanya bercak merah menodai kasur.
Ohhh Aidan... Kau menodainya?!
Brengsek sekali dirimu ini?!
"Sungguh, jangan di pikirkan pak"
STOP AEYZA!
Kebaikanmu hanya akan membuatku merasa menjadi laki-laki paling brengsek dimuka bumi ini!
Aku memijat pelipis karena sumpah demi langit, aku tak mengingat apapun tentang semalam! Ku tataplah Aeyza yang memampang senyum manisnya.
"A-apa aku memaksa mu?" tanyaku pilu.
"Eh?" Aeyza namun nampak bingung. Dia menggeleng dengan senyuman kecil. "Terbalik. Bapak yang menuruti semua keinginan saya. Saya yang meminta kepada bapak untuk melakukannya, bapak mungkin mabuk makanya menuruti semuanya..."
Bumi~ Tolong telan aku sekarang.
Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu dengan sangat tenang Aeyza?! Batinkh tak kuasa lagi menatap gadis itu.
"Kenapa kamu tidak menolakku?"
Aeyza mengerjap mata, "Karena memang ini yang ku inginkan. Ini pertama kalinya bagiku, makanya sakit dan berdarah adalah hal bisa. Bapak tidak perlu terlihat se tertekan ini. Sudah ku bilang bukan salah bapak,"
Nafasku terhela panjang. "Itulah yang ingin ku tanyakan, kenapa kamu menginginkannya?!"
"Karena yang melakukannya adalah bapak. Aku cinta sama bapak," sahutnya dengan mata berkilau.
Oh.
Tuhan... Maafkan Aidan
Dosa apa yang kulakukan di masa lalu sampai mendapatkan cinta dari hadis selugu ini?! Aku tak bisa menganggap nya sebagai keberuntungan atau kesialan sekarang. Aku hanya bisa menganggap diriku sangat brengsek hingga membiarkan gadis seperti ini jatuh cinta pada pria urakan sepertiku.
"Pak? Masih pusing yah?" Aeyza dengan polosnya bertanya lagi padaku.
Aku mengangguk kecil.
Hahh... Sudah seharusnya aku bertindak sebagai orang dewasa jika berbuat sejauh ini. Aeyza hanya terlalu lugu dan aku terlalu mempermainkannya sejak awal. Aku tak pernah berniat mencintai gadis seperti dia tapi sepertinya, aku harus mulai mencintainya sekarang.
Tawaku keluar tanpa kusadari, mengingat bukan hanya Aeyza, tapi aku juga sama bodohy katena telah menerima permintaan berpacarannya di awal kisah. Aeyza sekali lagi, hanya terlalu baik baik untukku. Kepolosan dan keluguannya, entah sejak kapan sering ku anggap imut.
Seolah semakin lugu tingkahnya, semakin diriku ingin mengerjainya.
"Pak?"
Aku menghela. Baiklah, sudah ku putuskan. "Setelah kelulusan sebulan lagi, bersiaplah ku persunting, yah?"
"Eh?"
Ku belai pipi Aeyza yang memerah padam.
"Me-menikah??"
Aku mengangguk.
Haha. Kurasa tak apa jika teman hidupku adalah dia.
Imutnya....
(END)