Sebuah keluarga di pinggiran desa sedang melakukan perayaan atas lahirnya seorang putra yang sangat mereka dambakan.
Pagi ini satu persatu keluarga mereka datang untuk mengucapkan selamat dan ikut meramaikan perayaan.
Emilia, Ron, dan Edmund yang merupakan keluarga jauh dari pihak yang mengadakan perayaan juga mewakili orangtuanya yang tak bisa datang karena sedang bekerja di luar negeri untuk mengunjungi kerabat jauhnya itu.
Kegembiraan dan hiruk-pikuk keriuhan pesta bertahan hingga sore hari. Banyak hidangan yang di suguhkan oleh tuan rumah kepada para tamunya.
Namun sebuah keanehan terjadi, saat matahari mulai meninggalkan singgasananya. Suara keributan hewan diikuti auman serigala saling bersahutan dari ujung desa. Suara itu lama-kelamaan terdengar semakin mendekat.
Pesta yang tadinya berjalan dengan suasana menyenangkan kini berubah mencekam. Semua terdiam dengan menyimpan sejuta tanya dalam benak mereka.
"Tolong... Tolong... Kumohon lepaskan mereka. Ini sangat sakit" Seorang penduduk lokal yang keluar dari hutan berteriak sambil belari dari kejauhan dan menghampiri kerumunan tamu untuk mendapat pertolongan.
Saat jaraknya semakin mendekat, terlihat pria itu terluka dengan seluruh bagian tubuh yang di gigit oleh segerombolan monyet bermata merah yang masih menempel erat padanya. Monyet itu terus menggerogoti daging pemuda itu. Darah segar terlihat mengalir di sekujur luka gigitan.
Seekor monyet dengan ukuran kecil terlihat berusaha masuk dari mulut pria itu, bagian perut pria itu seketika membesar, sesaat kemudian monyet tersebut muncul usai menggerogoti dari dalam bagian tubuh pria itu.
Semuanya hanya terpaku, tak ada yang beranjak dari posisi mereka. Kejadian mengerikan yang saat ini mereka saksikan seakan membekukan otak mereka. Saat kesadaran mereka kembali mereka dihadapkan oleh 2 pilihan. Menyelamatkan diri sendiri atau menyelamatkan pemuda tersebut.
"Ayo lari kak. Mereka seperti sedang terserang virus. Mereka tidak akan bisa di hentikan. Ini seperti penyakit di kebun binatang yang sedang di teliti ibu dan ayah sewaktu di Australia" Ucap Edmund mengambil inisiatif.
"Mereka akan terus mengganas. Sepertinya akan datang kelompok yang lain. Jadi kita harus bersembunyi" Tambahnya.
Edmund adalah anak yang cerdas dan cepat tanggap. Ia juga sering membaca jurnal tentang berbagai penelitian dan pengamatan hewan kedua orangtuanya. Ia berlari menarik tangan kedua kakaknya itu.
Emilia dan Ron kembali tersadar dari keterkejutan dan ikut berlari.
Kesaksian Edmund dan pemandangan itu membuat semua yang menyaksikan berteriak histeris.
Mereka berlomba-lomba menyelamatkan diri dan memasuki gudang terdekat dari sana. Karena tempat itu dirasa cukup aman.
Beberapa mereka juga ada yang memasuki rumah-rumah sekitar.
Emilia, Ron, dan Edmund telah sampai di gudang yang menyimpan pasokan belanja untuk keperluan perayaan kerabatnya itu. Ron sibuk mencari sisa-sisa rempah yang telah digunakan untuk memasak.
Itu dilakukukan untuk menyamarkan bau mereka. Ron sendiri pernah mengamati spesies yang sedang terkena virus itu bersama kedua orang tuanya.
Menurut apa yang diketahui usai pengamatan tersebut, hewan yang terjangkit akan berperilaku sangat brutal. Memakan spesies lain meskipun sejatinya mereka adalah herbivora. Mereka akan sangat haus dengan daging dan darah.
Meskipun demikian, indra penciuman dan penglihatan mereka seperti mengalami penurunan fungsi.
"Kita di sini. Dengan rempah-rempah ini bau kita sudah tersamarkan. Duduk yang tenang." Mendudukkan kedua adiknya menempel pada dinding.
"Ingat, jangan bereaksi berlebihan. Itu akan memancing mereka. Jika tidak sanggup melihat, tutup mata" Tambahnya.
Segerombolan orang terlihat berlari memasuki gudang yang sama. Teriakan meminta pertolongan terdengar dari segala penjuru sekitar aula.
Seorang pria dewasa dengan tubuh tegap datang menghampiri Ron yang berusaha menutup pintu sebuah ruang yang merupakan tempat yang aman untuk menyembunyikan diri.
Dengan sangat kasar seorang pria dewasa mengusir Ron dan adik-adiknya. Bahkan ia tak mau berbagi, padahal Ron yang menemukan tempat itu terlebih dulu.
Emilia akhirnya menenangkan Ron. Muka Ron sudah terlihat babak belur karena berkelahi dengan pria tersebut.
Emilia mengajak Ron dan Edmund menuju ruangan kecil tempat penyimpanan rempah yang tanpa pintu.
Mereka duduk dengan membungkus diri mereka dengan terpal yang hanya menampakkan mata mereka saja.
Dari konsen tanpa pintu itu mereka melihat aksi dorong-dorongan yang dilakukan untuk mencegah monyet dalam jumlah besar yang memaksa untuk masuk ke gudang.
Meski sangat ketakutan Ron berusaha menenangkan adik-adiknya. Beberapa ruangan juga telah berhasil di masuki monyet menghancurkan genteng. Bau anyir darah juga sudah tercium sangat pekat.
"Prang" Kaca di sebelah Emilia pecah karena dihantam oleh seekor monyet yang sengaja membenturkan kepalanya.
Monyet itu masuk dan mendekati Emilia. Meski berusaha tenang, Emilia gemetar ketakutan.
Tiba-tiba monyet itu menggigit bahu Emilia yang sedang terbungkus terpal, saat Emilia akan berteriak, Ron menutup mulutnya.
Beruntung gigitan itu hanya sedikit menggores Emilia. Hal ini di karenakan bau rempah-rempah yang telah di oles pada tubuhnya sangat tidak disukai oleh monyet yang sedang terjangkit virus.
Kepanikan ada di mana-mana. Meskipun demikian banyak yang bisa menyelamatkannya diri.
Seberkas cahaya mentari mulai terlihat di ufuk timur. Sebuah suara mendominasi dalam keheningan menjelang fajar. seakan memberi perintah untuk kembali.
Perlahan namun pasti monyet-monyet itu seperti menarik diri dan mulai memasuki kedalaman hutan.
Tiga orang bersaudara yang melihat hal itu mulai menghembuskan nafas lega.
Saat dirasa matahari sudah benar-benar kembali bertakhta di singgasananya mereka bertiga keluar.
Bercak darah, jasad yang sudah tak sempurna, menghadirkan pemandangan yang mengerikan. Beruntung pihak Kepolisian setempat telah sampai.
Setelah keluar dari aula, pemandangan yang mereka lihat tak jauh berbeda dengan di dalam aula.
Mereka beruntung. Pagar pembatas tinggi, yang membatasi hutan dan perkampungan penduduk tak mampu di tembus oleh hewan-hewan lain yang tak memiliki kemampuan memanjat.
Meskipun begitu, korban jiwa yang berjatuhan tidak terhitung sedikit.
Usai menjalani pemeriksaan dan di mintai keterangan oleh pihak polisi, ketiga saudara tersebut akhirnya diizinkan meninggalkan desa tersebut.