Menatapnya, Mengingatmu
Pria berperawakan tinggi dan kulit bersih berjalan membawa bucket bunga di TPU menuju satu gundukan tanah bernisan nama yang terukir disana.
Tidak.
Bukan hanya terukir di nisan, tetapi juga di hatinya. Anggap saja seperti pahatan kayu yang sukar hilang, kecuali lebur dengan kayu yang lapuk. Begitulah cinta Gibran. Dia tidak bisa berhenti mencintai Hawa walaupun raganya tidak ada.
Gibran selalu merasa, Hawa selalu ada disampingnya, untuk menjalankan hari-hari seperti biasa penuh canda tawa.
Ia menghapus kenangan buruk satu tahun lalu tentang Hawa. Namun, rasanya berat saat mengingat dan air mata jatuh begitu saja dengan izin hatinya.
Hawa kecelakaan. Gibran merasa itu karena kelalaiannya. “Maaf.” Hanya itu yang bisa Gibran ucapkan saat berhenti di samping nisan Hawa.
“Nanti kita satu prodi, terus satu kelas, setuju?” Hawa antusias bertanya.
“Gak,” cuek Gibran. “Aku maunya duduk di sebelah kamu.” Namun akhirnya mereka tertawa.
Jangankan duduk bersebelahan. Jalan ke kampus saja mereka sudah beda alam.
Yang lebih mengenaskan adalah Hawa menghembuskan nafas terakhir dipelukan Gibran.
“Kamu harus tetap bahagia.” Kalimat itu terus menguatkan hatinya jika sewaktu-waktu berguncang. Kalau jujur, Gibran sulit tersenyum sekarang.
“GIBRANNN! GENERASI MACAM APA KAMU JAM SEGINI MASIH MAIN BASKET?!”
Yeni -Ibunda Gibran berteriak sambil menyiapkan makan malam di meja.
Gibran berlari dari lapangan begitu mendengar omelan Yeni, lantas bertanya, “Ada apa, Bun?”
“Ada apa, ada apa… kamu gak lihat ini udah jam berapa? Udah malem masih aja main basket.” Yeni melirik sedikit iba.
“Bun. Aku udah kuliah, jadi aku mau bahagia dengan cara sendiri. Atau kalau boleh, pakai caranya Hawa.”
Yeni menghampirinya sampai tidak sadar dimana centong, “Hawa kan udah meninggal, kamu halu ya?” Jelas Yeni menoyor kepala anaknya yang ngelantur.
“Halu juga buat aku bahagia,” ujar Gibran lalu pergi ke kamarnya untuk istirahat tak lupa menyalakan lampu bertema bintang bertaburan. Dulunya itu punya Hawa, namun ia pinjam dan lupa dikembalikan. Disaat-saat seperti inilah ia bisa menguatkan dirinya sendiri.
Lagi-lagi ia teringat momen bersama Hawa di SMA. Saat itu, Hawa dihukum oleh guru olahraga untuk lari keliling lapangan sebanyak lima kali dan Gibran mengiringinya sambil mengajak bercanda. Sorak dari seluruh siswa pun terdengar namun tidak dihiraukan mereka.
“Gibran. Ini udah dua putaran, kamu gak capek?”
“Nggak tuh. Sana duduk, nanti aku yang lari wakilin kamu.”
“Sekalipun boleh, aku gak mau. Ini kan hukuman aku.”
“Besok aku ajarin cara masukin bola basket ke keranjang. Payah, gitu aja gak ada yang masuk.”
Hawa berhenti dan tertawa begitu saja, membuat Gibran ikut tertawa.
“Pastiin nanti kamu gak dihukum juga,” ujar Hawa.
“Aku? Aku ini Ketua Basket, masukin 100 kali buat nilai kamu juga aku mau.”
“Huh, sombong.”
Hawa meneruskan hukumannya yang tersisa 2 putaran lagi. Gibran tetap mengiringinya walaupun jadi tontonan banyak orang.
Selesai itu, mereka duduk di pinggir lapangan sambil menselonjorkan kaki. Gibran merangkul sekaligus menaruh kepala Hawa di bahunya.
“Kamu kuat juga ya larinya.”
“Udah aku bilang, aku gapapa. Walaupun aku buruk di basket, aku jagonya lari. Segitu doang mah gak ada apa-apanya, aku pernah maraton.”
“Kenapa baru bilang?” Gibran baru tahu kalau Hawa pernah lomba maraton.
“Aku gak bisa lari sendirian. Makanya baru bilang sekarang,” jawab Hawa jujur.
Gibran menunduk lalu tersenyum sendiri.
“Sejak kapan kamu mudah senyum ya? Perasaan dulu pas ketemu, kamu sombong banget.”
“Nanti juga tau.”
Ukiran nama Hawa di hatinya tidak sepenuhnya pudar seiring waktu. Ia tetap mengingatnya, atau bahkan tidak akan lupa karena takdir seolah sedang mempermainkan hidupnya.
Tadi siang, Gibran naik bus menuju kampusnya dan bertemu perempuan yang mirip dengan Hawa. Entah itu halusinasi atau sungguhan, tapi Gibran jelas melihat dengan mata kepalanya. Ia sampai kesandung saking tidak percaya. Rencananya, Gibran akan mencari dia disekitar kampusnya.
Esoknya, Gibran sengaja datang awal ke Kampus untuk menunggu dia. 15 menit kemudian Gibran menyetop perempuan hingga mahasiswi berbisik-bisik aneh.
“Apaan nih?”
Gibran mendengus. Mereka hanya wajah yang mirip, tidak dengan tutur katanya. SANGAT BERBEDA. Dari nadanya, Gibran tahu kalau dia terlihat risih tiba-tiba diberhentikan.
“Nama kamu siapa?” tanya Gibran.
“Siapa kamu, mau tau nama aku.”
“Tinggal jawab aja.”
“Cowok jaman sekarang serem ya, belum deket aja berani modus.”
“Terpaksa.”
“Aneh. Kalo terpaksa ya gak usah nanya!”
“Pelanin suara kamu di depan aku,” ujar Gibran.
“Kaira!” Suara cempreng yang membuat semua orang menoleh berasal dari belakang Gibran yang kemungkinan memanggil dia.
“Tuh! Ketahuan kan namanya. Puas?” sulut Kaira memajukan wajahnya.
Gibran mendorong pelan jidat Kaira dengan telunjuknya, “Gak usah ngegas.” Lantas ia pun pergi. Percuma, petasan dipertemukan dengan petasan. Gendang telinga Gibran bisa pecah.
Namun, pria itu termenung di kelasnya membandingkan Kaira dan Hawa. Tadi ia bilang mereka berbeda. Kali ini Gibran menemukan persamaan mereka yaitu suka membentak.
Kelas selesai sekitar pukul 15.00 karena biasanya mahasiswa belajar mandiri di Perpustakaan atau tempat yang mereka suka. Kepergian Hawa membuat Gibran makin penyendiri dan tidak ingin tahu urusan orang lain. Dia semakin angkuh dan dingin ketika ditanya keluarganya walaupun pertanyaan kecil. Hebatnya, mereka memaklumi respon Gibran.
*
Kaira tidak memprediksi cuaca dahulu sebelum pulang petang. Hujan turun dengan deras sampai jalanan becek menyulitkan orang lalu lalang. Dia sendirian di depan Lobi kampus karena yang lain sudah dijemput dengan sopir atau naik taksi. Harapannya satu, menunggu hujan reda.
Tepat dua meter di belakang Kaira, ada Gibran yang sedang menenteng satu payung. Ia bingung mau membantu Kaira atau tidak, pasalnya, perempuan itu anti di dekatnya. Melihat situasi sepi, akhirnya ia memutuskan untuk membantu. “Tanpa penolakan atau sampai malam disini,” ujar Gibran sambil membuka payung disamping Kaira lalu memegangi bahunya agar berdekatan daripada salah satu basah kuyup.
“Eh, eh? Kamu masih disini? Seenggaknya telepon supir atau taksi. HP aku lowbat,” oceh Kaira antara kaget dan bingung.
Gibran semakin merapatkan bahunya dengan Kaira yang membuat dia tak berkutik sampai halte untuk meneduh. Kaira mengusap rambut dan mengecek isi tasnya, “Huhh, untung gak ada yang basah.”
Melihat Kaira mengecek tas, Gibran melotot sempurna mengingat ada makalah yang baru ia selesaikan tadi. “Ketinggalan!” pekiknya sambil menepuk jidat. Ia memberikan tasnya ke Kaira disusul melepas jaket dan meletakkan di punggung perempuan itu. “Tunggu sebentar, nanti aku kesini lagi. Makalahnya ketinggalan.” Gibran kembali ke Perpustakaan yang jaraknya cukup jauh dari Lobi utama. Setelah mengambil makalahnya, Gibran baru sadar ada yang salah dengan otaknya. “Sadar, Bran! Dia bukan Hawa, cuma mirip aja wajahnya!”
Dugaan kalau Kaira pulang duluan ternyata salah. Jelas-jelas Gibran berdiri di sebelahnya sambil merebut tas, “Makasih.”
Kaira hendak melepas jaketnya, namun Gibran melarang. “Dipakai aja, lagi hujan, nanti demam.”
Gadis itu jelas nurut. “Pesan taksi sana.”
“Hujan begini jarang ada yang mau,” ujar Gibran mengotak-atik ponselnya.“Mau jalan kaki ke depan yang banyak ojek?” tawarnya.
“Kamu?”
“Aku pulang sendiri lah,” ujar Gibran acuh.
Kaira menatap Gibran cukup lama berharap menemukan kebaikan dari pria itu. Merasa dilihat, Gibran bertanya, “Ngapain liat-liat?”
Sebuah mobil berhenti di depan mereka dan pemiliknya keluar sambil membawa payung, “Lo nunggu lam— astaga!”
Gibran memutar bola matanya malas, “Biasa aja kali, Sen, mukanya.”
“Lo bawa hantu? Atau jangan-jangan lo belum rela? Gue tau lo cinta mati sama dia… tapi janganlah lo pakai ilmu hitam buat bangkitin jasadnya…”
Bicara apa dia…? Pikir Gibran.
“Dia ngomong apa sih?” tanya Kaira.
“Kaira cuma mirip wajahnya,” ujar Gibran menyudahi kehaluan Arsen. “Nggak sama sifatnya.”
“Kok bisa?” beo Arsen. “Dia datang dari mana? Mirip banget… hih, merinding gue.”
Gibran membuka payungnya lantas masuk mobil, “Nanti dijelasin di rumah.”
Arsen nyengir kaku, “Lo masuk dulu, ntar gue anterin ke rumah.”
“Bisa dipercaya gak nih?”
“Iya lah. Gue bukan kanibal,” cetus Arsen. Mau tak mau Kaira masuk mobil daripada menunggu sampai malam.
“Mirip banget sih? Apa dia kembarannya?” tanya Arsen dalam hati.
“Lo punya kembaran gak?” tanya Arsen santai.
Gibran mendecih, “Siapa yang mau jadi kembaran dia.”
“Nggak,” jawab Kaira.
“Lo itu mirip Hawa, calon istrinya Gibran! Pantesan akhir-akhir ini dia suka galau.”
Gibran ingin sekali memukul mulut Arsen. “Nyetir aja…”
“Calon istri? Coba liat fotonya!”
Aihhh, memang dasar tidak sopan. Setelah melihat foto Hawa di ponsel Arsen, Kaira tidak percaya. “Woah, kok bisa mirip?” Gibran merebut ponsel Arsen.
*
Sesampainya di rumah Gibran, Kaira disuruh ganti baju oleh pemiliknya.
“Bajunya mana?” tanya Kaira.
Gibran dan Arsen saling lihat. Awalnya Arsen dengar tidak ada yang boleh menyentuh barang milik Hawa tanpa izinnya. Tapi karena darurat, kali ini dibolehkan.
Menunggu Kaira selesai mandi, Gibran didekati Arsen. Rupanya dia masih penasaran bagaimana asal usul Kaira yang mirip dengan Hawa.
“Lo ketemu dia dimana?”
“Kampus.”
“Udah tanya belum dia tinggal dimana?”
“Males.”
Arsen memukul kepalanya, “Terus lo mau dia nginep disini?”
“Ya biarin aja. Lagian kan masih hujan.”
“Lo santai banget, astagfirullah.”
“Lagian—” Gibran terpaku dengan Kaira yang keluar dari kamarnya. Tidak. Dia mirip sekali saat memakai baju milik Hawa.
Arsen menoleh dan bertanya, “Lo percaya reinkarnasi?”
“Gak tau,” jawab Gibran.
“Ngapain liatnya begitu?” ketus Kaira duduk di seberang mereka.
Arsen menelisik wajah Kaira, “Lo operasi plastik kah?”
“Ini alami,” jawab Kaira.
“Kamu tidur disana, kita tidur disini.” Gibran menunjuk kamarnya yang tadi.
“Apa aku bilang mau nginap disini?” tanya Kaira terdengar curiga. “Kalian bukan komplotan penculik kan? Oh, atau jangan-jangan mau jual aku ke cowok hidung belang?”
Pusing dengan kecurigaan Kaira, Gibran bergerak menarik tangan Kaira untuk masuk ke kamarnya. “Tidur yang tenang. Besok pagi aku antar kamu pulang,” ujarnya sebelum menutup pintu.
“Bisa liat kan dia seberisik apa?” Gibran mendengus.
“Biar ramai,” ujar Arsen terkikik sendiri.
Di dalam kamar Gibran, Kaira melihat-lihat jejeran foto di atas laci panjang. Konyol, ini seperti melihat diri sendiri karena Hawa mirip dengannya. Ia melihat ada yang aneh dibelakang salah satu bingkai foto. Ia pun memberanikan diri mengambil sesuatu, “Kertas apaan nih?” Ia pun membuka yang ternyata sebuah surat pendek.
[Isi Surat]
Gibran,
Maaf baru kasih tau kamu sekarang. Sebenarnya aku punya keluarga, tapi aku gak tau mereka dimana. Mereka menitipkan aku di Panti Asuhan. Setelah aku cari tahu, ternyata aku punya saudara kembar. Lucu ya. Aku berencana daftarin Kaira di Kampus tempat kamu. Maaf, aku yang pergi ninggalin kamu. Aku harap, kalau kalian bertemu, itu bisa menghapus rasa sakit kamu, Gibran.
Kaira langsung keluar dengan air mata bercucuran menghampiri Gibran dan Arsen yang sedang serius nonton TV. “Gibran. Ternyata Hawa, Kakak aku.”
Sontak mereka berdiri saking terkejut.
“Bukannya tadi lo bilang gak punya kembaran?” tanya Arsen.
Kaira memperlihatkan surat yang tadi ia baca, “Ini dari Hawa.”
Gibran merebutnya, “Dapat dari mana?”
“Di belakang bingkai foto kamu,” jawab Kaira. “Aku gak tau selama ini punya saudara kembar. Ibu gak pernah cerita. Tapi setelah Ayah meninggal, Ibu bilang, aku harus bisa masuk Kampus itu. Dia kakak aku. Tapi… dia udah— hiks.. hikss.” Hawa terduduk dan menangis tersedu-sedu.
“Dia udah meninggal karena penyakit langka,” jawab Arsen mewakili.
Gibran merasakan kembali suasana duka setelah satu tahun lamanya ia berusaha tegar dan bangkit. Ia memeluk Kaira, “Gapapa. Dia… gak bisa liat kamu begini.”
Arsen mengusap sudut matanya yang berair. Mereka kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup.
Gibran mengusap kepala Kaira, “Besok kita ketemu Hawa.”
Setelah tahu bagaimana cerita aslinya, Kaira tidak bisa tidur walaupun Gibran menunggunya di tepi kasur.
“Kamu cuma nunggu ya. Jangan macam-macam,” tegas Kaira.
Gibran menghela nafas, “Tidur… aku juga ngantuk.”
“Yaudah sana tidur!” usir Kaira.
Gibran justru tiduran di sebelah Kaira, ya jelas gadis itu hampir membunuhnya dengan cekikan. “Dasar mes*m!”
Gibran melepas tangan Kaira dari lehernya dan melihat posisi Kaira ada di atasnya.
Kaira sadar lalu duduk agak menjauh, “Maaf, maaf.”
“Kaira. Kali ini aku bicara serius. Hawa pernah bilang, kalau dia pergi, aku harus buka lembaran baru. Gimana kalau… kita—”
“Pacaran!?” potong Kaira terkejut.
“Berteman dulu.”
“Oh, berteman…”
“Kalau mau, lebih baik langsung nikah.”
Kaira menutupi dadanya, “Penggila wanita kamu ya.”
“Jangan nuduh.”
Kaira mendekati Gibran, “Kita berteman.”
*
Pagi-pagi sekali Kaira bangun dengan posisi dipeluk Gibran. Dia melotot dan langsung duduk melihat kondisinya. Perasaan lega menyeruak ketika ia masih memakai baju sama seperti semalam.
Dia keluar dan bertemu seorang perempuan seusianya yang terkejut, “Astaga!”
Kaira menatapnya selidik. Selain ada dirinya dan perempuan ini, pasti Gibran menampung banyak tapi disembunyikan.
“Hawa???”
“Kaira,” ucapnya membetulkan nama.
“Ya ampun, kok mirip?” Dia menghampiri Kaira.
“Dia kakak aku, kita kembar.”
Dia tersenyum hambar, “Siapa sangka Hawa punya saudara kembar disini.”
“Maksudnya?”
“Aku pacarnya Gibran. Kamu disini ngapain?”
Berengs*k. Bajing*n. Hidung belang. Kurangajar. Setan alas. Semua umpatan keluar begitu saja dalam hatinya. Gibran semalam membuatnya melayang karena menawarkan jadi tunangan, lalu pagi ini ada yang mengaku pacarnya. Terus dia mau punya istri dua gitu? Dasar, k*parat!
“GIBRANNN!” Arsen memanggilnya karena melihat ada Kaira dan Hana.
Gibran setengah sadar keluar dari kamar setelah mendengar teriakan Arsen dan sadar sepenuhnya ketika melihat Hana dihadapan Kaira.
Arsen mengkode Gibran supaya menjelaskan ke Kaira yang tampak salah paham.
Kaira membalikkan badan dan melewati Gibran, “Berengs*k!” Dia masuk kamar lagi untuk mengambil tas.
Gibran ikut masuk, “Sebentar, jangan pergi dulu.”
“Gak heran Kakak ninggalin kamu. Kamunya ternyata begini!” Kaira menggendong tas lalu melangkah keluar dengan cepat.
Hana menghadangnya, “Mau kemana?”
“Bukan urusan kamu!”
Gibran menahan lengannya, “Kita ketemu Hawa dulu, sebentar.”
Kali ini Kaira yang duduk disamping Arsen menuju TPU sedangkan Gibran duduk di belakang sendiri. Raut wajahnya masih kesal.
“Jangan marah terus. Ini aku mau jelasin.”
Kaira menaikkan volume radio hampir full pertanda tak mau dengar apapun. Arsen tertawa dalam hati melihat tingkah mereka. Kalau begini, Kaira 100% saudara kembar Hawa dilihat dari marahnya.
Sejak turun dari mobil, Kaira mengaitkan tangannya di lengan Arsen membuat Gibran kesal sampai usus.
“Berhenti buat orang marah..” tegur Gibran. Arsen nyengir lalu melepaskan tangannya.
Begitu berhenti di depan makam Hawa, Kaira meletakkan bunganya disebelah bunga milik Gibran yang mulai layu. “Kamu yang ngasih ini?” tanya Kaira.
Gibran mengangguk singkat.
“Kakak liat kan, Gibran itu masih sayang sama Kakak. Tapi emang kelakuannya aja suka ganti-ganti cewek. Ihh, aku ogah kalo ditawarin lagi jadi tu—”
“Ucapan adalah doa. Kalau nanti terkabul terus menyesal, kamu gak bisa memutar waktu.”
Kaira memejamkan matanya, “Kamu tau?” Oke, Kaira… demi Kakak. Kamu harus berkorban. “Kak Hawa, aku disini bawa Gibran. Dia mau bilang sesuatu ke Kakak.” Ia menoleh, “Monggo sanjang kaleh Hawa…”
Arsen tidak paham, “Lo ngomong apa, Sukijem. Gue gak paham.”
Gibran jongkok disamping makam Hawa dan bicara dalam hati. Impian kamu terwujud sekarang, Hawa. Adik kamu aman disamping Aku. Cinta aku tetap untuk kamu. Untuk sekarang aku berusaha mencintai Adik kamu seperti yang kamu mau. Terima kasih… untuk cinta yang kamu kasih ke aku.
Selesai bicara, Gibran bangkit dan melihat Kaira kesal, “Ayo pulang.”
“Curang. Aku gak tau kamu ngomong apa, tapi kamu tau apa yang aku ucapin.”
Arsen mengikuti Gibran yang terus berjalan sampai depan mobil.
“Gibran, liat ke kaca.” Kaira menyuruh seorang Gibran mengaca di mobil.
“Ganteng,” ujar Gibran dengan pede.
“Liat kamu sekarang. Sekarang senyum gak susah kan?”
Arsen menahan semburan tawa.
Gibran tersenyum lalu mendekati Kaira, “Kita bakal punya banyak anak.”
“Ternak ayam aja, jangan ternak anak.”
“Ayo pulang…”
Itulah cinta Gibran, ia diberi cinta oleh Hawa dan melihat cinta di mata Kaira walaupun mereka orang yang berbeda. Baginya, mau Hawa atau Kaira, mereka sama-sama menciptakan bahagia dan menerangkan cahaya hatinya. Gibran harap, ia terus bersama-sama dengan Kaira, sampai maut memisahkan.
TAMAT