Namaku Tania, umurku masih 18 tahun. Aku anak perempuan satu-satunya, tapi aku bukan cewek manja yang hobinya ke salon dan mall. Jika kebanyakan cewek suka pakaian feminim dan seksi, bagiku itu terlalu lebay, justru aku suka pakai kaos dan hoodie serta celana panjang. Hobiku adalah naik motor, biasanya kalau malam minggu suka ada balapan liar di ujung jalan, jangan ditanya nama Tania Putri selalu jadi juara di setiap balapan.
Seperti malam ini, ada balapan bergengsi yang diadakan setiap satu bulan sekali. Semua pembalap yang ingin unjuk kebolehan pasti ikut karena taruhan yang dimainkan sangat besar, dan hanya lima orang yang bisa bermain.
"Tan, Lo main gak! kayaknya lawan lo bukan lawan sembangaran kali ini?" tanya Hendra, sohib gue sekaligus mekanik motor.
"Eh, buset dah ... Lo kira gue takut! Gak ada kata takut di kamus hidup gue!" jawabku sombong, meski sebenarnya ada sedikit keraguan dalam hati, entah kenapa perasaanku malam ini tidak enak tapi semua kutepis, karena kali ini yang menang bakalan membawa uang seratus juta.
Balapan segera dimulai, aku dan ke empat pembalap lain sudah bersiap di garis start dan saat Hendra melambaikan bendera, aku langsung tancap gas, menyusuri jalanan yang sudah sepi dengan kecepatan tinggi.
"Wush ... wush ...." Aku melaju seperti angin.
Aku berada paling depan meninggalkan lawanku yang kukira suhu ternyata cupu, hanya gayanya yang sok hebat. Bayangan uang seratus juta sudah ada di depan mata, aku tersenyum bagaimana cara menghabiskan uang sebanyak itu, tapi tiba-tiba saat di belokan km 15 ada seekor kucing yang datangnya entah darimana tiba-tiba menyebrang, sontak saja membuatku kaget dan mengerem mendadak.
"Eh, kenapa tidak bisa berhenti. Apa yang tejadi? Sial !!! Remnya tidak berfungsi." Aku ketakutan karena tidak pernah kuda besi yang setia menemaniku seperti ini, pasti ada yang salah.
Kecepatan tinggi yang tidak bisa terkendali, membuatku tidak bisa berfikir. Motorku oleng ke kanan menabrak jembatan dan ....
"Byyuurrr ...."
Dingin, kaku, dan gelap yang kurasakan. Apakah aku akan mati.
***
"Hei, bangun! Dasar pemalas."
Aku merasa dingin dan kaku, badanku terasa lemas tak bertenaga, pandangan gelap, apakah aku berada di surga?
"Mom, apa dia sudah mati?"
"Dia tidak boleh mati, sebelum kekuasan istana benar-benar menjadi milik kita. Cepat, panggil Pangeran!"
Mengapa di surga masih ada suara bising? Katanya surga itu tempat yang paling indah dan nyaman. Apa jangan-jangan, aku di neraka?
Kubuka mata perlahan, mengerjap berkali-kali memastikan kehidupan neraka seperti apa. Oh, ternyata di neraka ada penjaga wanita yang sudah tua. Kepalaku masih pusing, mungkin benturan kepalaku yang menabrak besi jembatan tadi malam. Eh, bukannya kata orang kalo sudah mati tidak merasakan apa-apa ya! Mengapa badanku bisa sakit semua.
"Jangan pura-pura tidur kau ya! Rasakan ini."
"bughh ... bugh ...." seseorang menendang badanku berkali-kali. Apa iya siksa neraka seperti ini.
"Aw ...." aku hanya bisa meringis kesakitan.
"Hei! Apa yang kau lakukan pada Princess Sofia. Kau tidak boleh menyakitinya. Rencana kita bisa berantakan kalo tubuhnya penuh luka seperti ini."
Aku mendengar suara pria yang sepertinya dia agak baik, aku benar-benar membuka mata sempurna. Aku melihat satu wanita paruh baya, wajahnya angkuh dan ambisius. Di sampingnya ada seorang anak gadis, mungkin seumuran denganku, tapi gaya bajunya agak kuno, gaya apa seperti itu? apa ada pesta kostum di sini?
"Hendra ...," ucapku lemah pada seseorang yang berdiri tepat di hadapanku. Apa aku belum mati? Kenapa hendra menatapku seperti itu.
"Maafkan kelakuan Mereka princess Sofia, Kau tidak seharusnya diperlakukan seperti ini. Ayo! Bangunlah."
Dia membantuku berdiri, tubuhku sangat lemah dan basah kuyup, entahlah aku tak tahu apa yang terjadi yang kuingat aku masuk ke dalam air sungai tadi malam, tapi melihat kenyataan ini, semua terasa membingungkan.
"Pelayan, bawa nona Sofia ke kamarnya dan urus dia jangan sampai dia menyakiti dirinya lagi." perintahnya dan di jawab anggukan oleh pelayan yang nampak terlihat ketakutan.
Dua pelayan membawaku ke kamar yang sangat indah, benar-benar berbeda dengan kamarku. Semuanya sangat mewah, klasik, dan antik. Desain ruangan ini seperti gaya zaman kerajaan di abad 16. Sebenarnya tempat apa ini?
"Pelayan, sebenarnya apa yang terjadi?"
eh, tunggu. Kenapa suaraku berbeda? Ini bukan suaraku. Aku berdiri dan mencari cermin, kagetnya aku, siapa dia? Wajah itu bukan wajahku. Aku berjalan mendekati kedua pelayan itu, tapi nampaknya mereka sangat ketakutan.
"Ampuni kami tuan Putri. Kami tidak berguna, tidak bisa menjaga anda, Kami pantas mendapat hukuman," ucapnya sembari berlutut memohon ampunan.
"Apa yang terjadi, bisa jelaskan padaku?" pertanyaanku membuat mereka melirik satu sama lain, dan nampaknya mereka kebingungan.
"Ampuni kami Princess Sofia, kami tidak mengerti. Kami hanya pelayan yang ditugaskan untuk menjaga anda. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, hamba mohon, princess Sofia jangan pernah meninggalkan kami dan mencoba bunuh diri."
"Apa! Bunuh diri? gila, ngapain gue bunuh diri," jawabanku membuatku mereka melongo, nampaknya aku berada di tubuh seorang putri yang lemah dan tertindas. Untuk apa sampai mencoba bunduh diri beberapa kali? Sepertinya kelahiranku kali ini untuk membantunya. Baiklah, kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, tubuhku yang baru, Sofia.
"Baiklah, Aku akan mengampuni kalian. Asal kalian mau bekerja sama denganku."
***
Aku mulai mencari tahu, siapa dan bagaimana kehidupan Sofia dulu. Sangat tragis, saat aku dengar cerita tentangnya. Sofia adalah pewaris kerajaan Artacia. Sang raja dan ratu meninggal dalam sebuah kecelakaan saat Sofia berusia lima tahun. Semua kekuasaan untuk sementara dialihkan oleh adik perempuan Raja Philipe II, Elizabeth.
Ratu Elizabeth mempunyai satu orang anak, Putri Anne. Mereka dulu sangat baik pada Sofia, namun keserakahan akan harta dan kekuasaan membuat mereka menindas Sofia dan berusaha menyingkirkan Sofia dengan cara menekannya agar Sofia merasa depresi dan ingin mengakhiri hidupnya.
Sofia tidak pernah di izinkan keluar dari istana, bahkan rakyat negri Artacia tidak pernah tahu bagaimana rupa sang Putri kerajaan. Hal ini ingin di manfaatkan Elizabeth, dengan menukar putrinya dengan Sofia.
"Tuan Putri, hari ini ada jamuan makan besar di istana. Ratu Elizabeth hari ini berulang tahun. Apakah princess Sofia ingin saya hantar ke paviliun?" tanya seorang pelayan padaku.
"Kenapa aku harus ke paviliun? Bukankah ada pesta besar di istana. Untuk apa aku harus menyendiri, bukankah sangat menyenangkan bisa bersama banyak orang dalam sebuah pesta." aku sangat antusias dengan acara nanti, pasti sangat menyenangkan melihat wajah mereka.
"Ta-tapi ...."
"Ayo ... kita mulai pestanya." Aku menarik tangan pelayanku yang masih terpaku kebingungan.
****
Aku berjalan dengan anggun, selangkah demi langkah menapaki lantai istana yang memang seharusnya menjadi milik princess Sofia, tapi dia tak pernah merasakannya karena orang-orang jahat yang gila kekuasaan selalu mengurungnya dalam kamar.
Kuperhatikan dari atas, suasana pesta begitu meriah. Ada banyak tamu yang datang, tampaknya mereka orang-orang besar dari negeri seberang. Ratu Elizabeth tertawa lepas tampak bahagia di wajahnya, tapi sayang mungkin itu adalah tawa terakhirmu, Ratu.
Pandanganku menangkap sosok yang seperti tidak asing, sosoknya begitu kukenal, dia berbincang dengan putri Anne dan tampak begitu dekat, ada hubungan apa mereka?
"Pelayan, Kau tahu siapa yang berbincang dengan Putri Anne. Tampaknya mereka begitu dekat?" Pelayan itu mendekat padaku dan melihat arah yang kutunjuk.
"Oh, itu adalah Pangeran Theodore. Tunangan dari putri Sofia," jawabnya.
"Apa? Tunanganku. Sejak kapan aku bertunangan?"
"Ma-maaf princess Sofia, hari itu putri Anne menggantikan anda bertunangan karena princes Sofia masih sakit," jawab pelayan dengan menundukan kepalanya.
"Wow, sepertinya ini sangat menarik. Baiklah, ayo kita turun karena permainan akan dimulai."
Aku menuruni anak tangga, bunyi suara sepatuku membuat perhatian semua orang tertuju padaku, tak terkecuali sang Ratu pengganti, Elizabeth. Aku melihat banyak pasang mata yang heran dan terkejut melihat kehadiranku. Mungkin diantara orang-orang ini ada yang mengenalku, atau berpura-pura tidak tahu, aku tak perduli.
Aku berjalan dengan santai, tersenyum pada semua orang. Langkahku berhenti saat Putri Anne tiba-tiba menghadang jalanku.
"Kau! Kenapa kau bisa di sini?" tanyanya dengan wajah yang agak sedikit marah.
"Halo ... princes Anne, bukankah ini pesta ulang tahun ratu Elizabeth. Tentu saja aku ingin memberinya ucapan selamat." Aku tersenyum padanya dan ingin melewatinya, tapi Anne dengan sengaja menggeser kakinya hingga membuatku terjatuh.
"Sofia ... kenapa bisa terjatuh. Kau sangat lemah, apakah ada yang sakit? Biar aku bantu." Anne berpura-pura membantuku berdiri, tapi dia membisikan sesuatu, "Cepat pergi dari sini atau aku akan mengurungmu di paviliun belakang tanpa makanan."
Ternyata selama ini Anne yang menindas dan bersikap kasar pantas saja Sofia selalu ingin bunuh diri, baiklah sekarang saatnya membalaskan dendammu.
"Perhatian semuanya! Terima kasih sebelumnya kalian sudah hadir dalam acara ulang tahun Ratu Elizabeth," aku melihat wajah Ratu Elizabeth yang nampak agak berbeda dari beberapa saat yang lalu.
"Aku ingin mengucapkan semoga panjang umur dan diberkahi oleh Tuhan. Baiklah, mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya siapa aku? Aku adalah PRINCESS SOFIA."
orang-orang di dalam gedung istana mulai berbisik-bisik dan bertanya pada yang lainnya.
"Bukankah Princess Sofia sedang sakit parah."
"Apa yang terjadi, Ratu Elizabeth pernah mengumumkan harapan hidup princess Sofia tidak ada, makanya posisi penerus kerajaan akan digantikan oleh princess Anne."
"Sepertinya ada konspirasi kerajaan."
Begitulah bisik-bisik orang-orang yang menyaksikan acara ini, netraku melihat Anne dan Elizabeth berjalan ingin meninggalkan ruangan, tapi tidak semudah itu.
"Tunggu! Ibu Ratu, mau kemana kalian? Bukankah acaranya belum selesai," pertanyaanku membuat wajah mereka panik dan merah seperti kepiting rebus.
"Hei, jaga bicaramu pada mommy Ratu kerajaan Artacia," ucap Anne dengan nada tinggi dan aku hanya tersenyum mendengarnya.
"Ann, Ratu kerajaan Artacia yang sebenarnya adalah aku, dan kalian selama ini telah berbuat jahat kepadaku. Kalian mengurung seorang ratu kerajaan dan selalu menyiksanya."
"Plak ...." Elizabeth tiba-tiba menampar pipiku dan berkata, "Keberanian dari mana ini, siapa kau? Kau bukan princess Sofia." sorot matanya tajam dan seolah ingin mengintervensi.
"Kau berani menampar seorang ratu? Pengawal! Cepat bawa dua orang ini ke penjara, mereka akan diadili sesuai kejahatannya."
Beberapa penjaga datang dan menyeret Elizabeth dan Anne, semua tamu tampak terkejut dengan kejadian ini. Mereka baru tahu bahwa Elizabeth ternyata selama ini mengelabui kenyataan yang ada. Akhirnya pesta dibubarkan, semua tamu sudah pulang kecuali seseorang yang dari tadi berdiri menyaksikan pertunjukan tadi, dengan segelas wine di tangannya, dia berjalan mendekatiku.
'Hendra' kata itu yang ada di pikiranku saat ini, karena wajahnya sama persis dengannya. Pangeran Theodore, dia adalah pangeran dari negeri seberang yang saat ini di mata dunia, aku adalah tunangannya. Pikiranku masih berkelana, ada hubungan apa Theodore dengan Elizabeth juga Anne, mengapa di saat pertama kali aku membuka mata dia ada bersama mereka, aku harus mencari tahu.
"Sofia, benarkah ini kamu. Aku sangat merindukanmu." Theo memeluk tubuhku erat, akupun membalasnya karena aku rindu dengan Hendra.
"Aku senang kau bisa kembali sehat, aku sangat menghawatirkanmu. Kalau begitu kita bisa dengan cepat melaksanakan pernikahan," ucapnya.
Apa! mengapa tiba-tiba mau menikah. Sepertinya ada yang disembunyikan, aku harus cari tahu. Untuk sementara sebaiknya aku harus berpura-pura menyetujuinya.
"Baiklah, Pangeran Theo. Aku terserah padamu, sebaiknya kau atur semuanya." Aku akan lihat apa yang sedang kau mainkan.
****
Aku sangat lelah, ternyata menjadi seorang Princess di sebuah kerajaan bukanlah hal yang mudah, banyak aturan dan aku juga harus memikirkan masalah-masalah yang terjadi selama ini, akibat dari keserakahan Elizabeth. Aku merindukan motor besarku dan juga jalanan ibukota. Tanpa aturan, bebas, dan juga tentu saja pakaian yang aneh ini.
Aku berdiri di atas balkon, memandang langit malam kota Arcatia. Langit yang berbeda tapi aku ingin sekali kembali ke duniaku yang sebenarnya dan tak ingin terjebak selamanya di sini karena besok adalah hari pernikahanku bersama pangeran Theo.
Dari atas, aku dapat memandangi indahnya kota Artacia yang terkenal dengan tambang emasnya, pantas saja orang-orang serakah itu bersusah payah untuk menyingkirkan Sofia. Tunggu, siapa itu yang mengendap-endap, nampaknya sangat mencurigakan, kalau aku teriak pasti dia akan lari, sebaiknya aku akan mengikutinya.
Aku berganti baju dengan cepat dan memakai kerudung, karena tak ingin penyamaranku ada yang tahu. Aku melompat dari balkon, karena aku Tania Putri tentu saja itu hal yang mudah.
Aku mengikuti gerak-gerik orang aneh itu, aku tak bisa mengenalinya karena dia memakai jubah hitam yang besar, tapi mengapa dia menuju penjara. Apa dia mata-mata yang ingin melepaskan tahanan, kenapa dia bisa masuk ke istana ini. Aku ingin tahu siapa yang menghianatiku.
"Ssssstttt ... Anne, ini aku. Dengar, besok pernikahan Princess Sofia akan dilaksanakan. Besok, aku pasti akan menghabisinya, aku janji." Pria itu berbicara pada Anne dan tampak Anne tersenyum, "Ini ... aku bawa obat agar kau tidak sakit, minumlah. Aku tak bisa lama-lama karena aku harus segera kembali," lanjutnya.
Pria itu berlalu pergi dengan cepat, meninggalkan Anne. Aku ingin mengejarnya, tapi aku penasaran obat apa yang diberikan lelaki itu tadi. Aku mendekati Anne yang berbaring tak lama setelah lelaki itu pergi.
"Ann ... Anne, bangunlah! Aku tahu kamu tidak tidur." Anne tidak menyahut dan membuat aku kesal.
"Penjaga!!! Buka dan bangunkan putri Anne!"
Para penjaga sigap membuka dan menggoyang-goyangkan tubuh Anne tapi dia tidak bangun, dan badannya tiba-tiba kejang, ada buih keluar dari mulutnya.
"Tuan Putri, sebaiknya anda mundur. Sepertinya ada yang meracuni putri Anne," ucap penjaga.
"Tidak! Anne, bangunlah ... katakan siapa pria tadi yang menemuimu, Anne ... bangunlah!!!" teriakku, tapi sepertinya Anne sudah tidak bisa mendengarkanku.
Sial, sepertinya ada yang ingin melenyapkan semua anggota kerajaan. Aku harus cari tahu siapa yang berkhianat.
****
Esoknya berita meninggalnya Putri Anne dengan cepat menyebar ke pelosok negeri, pernikahanku juga akhirnya dibatalkan untuk sementara. Setelah pemakaman Anne, aku lebih memilih sendiri karena tak ada yang bisa kupercaya di istana.
Pangeran Theo juga belakangan ini lebih sering ke istana untuk menemaniku. Terkadang dia juga mengurusi urusan negara.
"Sofia ... sebaiknya kau jangan terlalu lelah. Meski pernikahan kita dibatalkan tapi kau jangan pernah menganggap dirimu sendiri, ada aku di sini," ucap Theo menghiburku.
Aku memandang wajah Theo, sangat manis dan tegas mirip sekali dengan Hendra. Kadang aku merasa tenang bersamanya, tapi kadang aku merasa aneh.
Seorang pelayan membawakan minuman hangat untukku.
"Minumlah dulu, agar kau sedikit lebih tenang," ucap Theo dengan menyodorkan segelas minuman padaku.
"Terima kasih."
Kenapa teh ini baunya seperti ini, baunya seperti aku pernah menciumnya.
"Pelayan, siapa yang membuat teh ini?"
"ha-hamba, yang mulia," jawabnya.
"Minum!" Aku menyodorkan minumanku padanya, terlihat tubuh dan mulutnya bergetar tampaknya dia sangat ketakutan.
"Cepat!" teriakku.
Tiba-tiba pelayan ini membuang minumannya dan bersiap lari, tapi dengan cepat Pangeran Theodore mengambil pedangnya dan menusuk pelayan hingga tewas.
Aku memandang Theo sangat mencurigakan, kenapa dia langsung membunuh pelayan itu tanpa tahu untuk siapa dia bekerja.
"Ayo ... sebaiknya kita masuk ke kamarmu," ajaknya, tapi aku mengerti sekarang.
"Tunggu ... Pangeran Theodore. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Katakanlah princess Sofia," jawabnya.
"Mengapa Kau lakukan ini?"
Pangeran Theodore tampak mengerutkan keningnya, namun kemudian dia lanjut berkata, "ha ... ha ... nampaknya princess Sofia sekarang bukanlah orang yang lemah dan bodoh. Bagaimana kau tahu?"
"Aku tahu itu Kau yang diam-diam ke penjara dan meracuni Anne, dan juga racun yang sama yang ingin kau berikan padaku melalui pelayan tadi, karena baunya itu sama. Agar aku tidak menginterogasinya dengan cepat kau menghabisinya agar aku tidak tahu kejahatanmu, bukan!"
"Plok ... plok ..." Pangeran Theo bertepuk tangan, "Kau memang pintar, tapi sayang ... ternyata hari ini memang hari terakhirmu." Theo mengarahkan ujung pedangnya di leherku dan aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Tamatlah sudah riwayatku untuk kedua kalinya aku harus mati. Sesosok bayangan tiba-tiba berlari dan melompat ke arah kami.
"meow ... meow ...." seekor kucing putih datang dan mencakar wajah pangeran Theodore, membuatnya kesakitan dan pedang di tangannya terlepas.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung ku ambil pedang itu lalu ku hunuskan tepat di dadanya, darah merah pekat mengucur saat ku tarik pedang itu. Tubuhnya limbung jatuh ke lantai, jantungku berdetak sangat kencang, untuk pertama kalinya aku membunuh seseorang.
"Miaw ... miaw ...." kucing itu bergelayut di kakiku, aku menggendongnya, benar ini kucing yang membuat aku jatuh pada saat balapan.
"Terima kasih kau sudah menyelamatkanku, ternyata kau membuatku ke sini untuk menyelamatkan Princess Sofia. Tugasku sudah selesai bisakah aku kembali?"
Tiba-tiba ada sesuatu yang memukulku dari belakang, dan membuat pandanganku gelap.
"A-aku ... di-di mana?"
Aku mengerjap mata, kulihat di sekelilingku ada mama dan papa. Aku melihat sekeliling ruangan, sepertinya aku berada di rumah sakit.
'Syukurlah, aku sudah kembali.'
"Meow ... meow...." kulihat kucing putih duduk di jendela putih di rumah sakit.
😍😍😍
selesai..... semoga suka, like dan koment
😍😍😍