Hari itu begitu indah untuk Clara. Akhirnya ia bisa pulang ke Prancis setelah tiga tahun tinggal di Indonesia. Walaupun ia lebih betah tinggal di Indonesia, tapi bagaimana pun juga Prancis adalah kampung halamannya.
Clara membuka pintu rumahnya yang sederhana. Ya, di kota Paris Clara memilih tinggal mandiri di rumahnya. Ayahnya yang bernama Steven tinggal di sebuah apartemen mewah, sedangkan ibunya sudah lama meninggal dunia akibat kecelakaan.
"Hmm, Frans sedang apa sekarang? Apakah dia tidak bekerja? Pasti dia tidak tahu jika aku sudah pulang ke Paris." Dengan semangat, Clara langsung menghubungi Frans.
"Hallo Frans? Kau di mana sekarang?" sapa Clara dengan ceria.
"Hai Clara, aku sangat senang kau menghubungiku. Kau tahu? Sejak tadi aku menelponmu, tapi sama sekali tidak tersambung. Aku khawatir," kata Frans dari seberang telepon.
Tentu saja tidak terhubung, tadi Clara masih dalam perjalanan.
"Tadi hpku kehabisan baterai," jawab Clara bohong. Ia ingin memberikan sebuah kejutan untuk Frans.
"Kau di mana sekarang?" tanya Clara.
"Aku sedang ada di kafe yang dulu sering kita kunjungi," jawab Frans.
"Owh, dengan siapa?" tanya Clara lagi.
"Sendirian. Aku ingin santai di jam istirahat seperti ini," jawab Frans santai.
"Baiklah, sengat kerjanya ya. Aku akan pergi ke mall, aku akan menghubungimu lagi."
Tak lama kemudian sambungan telepon ditutup. Clara menarik nafas panjang. Akhirnya ia akan bertemu dengan kekasih tercinta. Hubungan mereka sudah lima tahun. Selama Clara di Indonesia, Frans sudah mengunjunginya sebanyak sepuluh kali. Namun, satu tahun terakhir, kekasihnya itu tidak ada berkunjung ke Indonesia, bahkan ia jarang memberi kabar. Clara memaklumi karena Frans memang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku akan berganti pakaian terlebih dahulu." Clara berjalan menuju kamarnya.
* * * *
"Frans, akhirnya aku bertemu denganmu di sini." Seorang wanita bertubuh tinggi dan putih menghampiri Frans di meja kafe.
Frans memutar bola matanya, ia malas sekali bertemu dengan anak bosnya. Wanita itu duduk di kursi yang berdekatan dengan Frans.
"Ayahku mencarimu, kemana kau selama ini? Kau tidak memberikan kabar."
"Aku sedang banyak urusan kantor," jawab Frans malas.
"Jangan lupakan tugasmu. Jika tidak, kau tahukan apa akibatnya?" kata wanita itu dengan tajam.
"Aku tahu, kau tidak perlu mengingatkanku, Cindy."
"Kau juga harus menghabisi anaknya," kata wanita itu yang ternyata bernama Cindy.
Frans mengerutkan keningnya. "Aku tidak tahu siapa anaknya, dan aku juga tidak tahu di mana rumahnya."
"Aku yang akan mengirimkan alamat anaknya. Yang pertama harus kau lakukan adalah bunuh Wilson itu."
"Baiklah," jawab Frans.
Setelah berbincang-bincang ringan beberapa saat, Cindy pun pergi meninggalkan kafe. Frans menarik nafas. Ia sangat pusing mengurus yang namanya Wilson. Sudah satu tahun ia mengincar pria tua itu, tapi selalu gagal.
Mata Frans membulat ketika sosok yang sangat ia rindukan berjalan memasuki kafe. Ia sampai mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa matanya tidak salah lihat. Senyum kebahagiaan mengembang di pipinya. Ia sadar bahwa sosok yang ia lihat bukanlah bentuk halusinasi belaka.
"Frans!" gadis itu memanggil nama Frans dari kejauhan.
"Clara!" Frans berteriak karena begitu bahagia.
Frans berdiri dan berlari ke arah Clara. Begitu mereka sudah berhadapan, Frans langsung memeluk erat tubuh Clara. Kerinduan selama satu tahun yang telah ia pendam, kini tercurah sudah. Ini adalah kejutan yang paling mengejutkan di dunia.
"Kau ingin membuat jantungku copot?" Frans mencium bibir Clara sekilas.
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memberikan sebuah kejutan yang membahagiakan. Apakah kau bahagia?" tanya Clara.
"Tentu saja." Frans kembali memeluk Clara.
Setelah berpelukan cukup lama, Frans pun mengajak Clara duduk. Mereka mengobrol romantis untuk menyampaikan rasa rindu yang begitu dalam.
"Maafkan aku Frans, sampai sekarang aku belum memperkenalkanmu pada ayahku. Kau tahu kan, ayahku tidak mengizinkan aku memiliki pacar?"
"Tidak masalah, aku paham." Frans tetap tersenyum. Baginya, bertemu dengan Clara lagi saja sudah lebih dari cukup.
Mereka menghabiskan waktu sampai sore hanya untuk mengobrol dan melepas rindu. Itu adalah hari yang paling membahagiakan untuk Clara dan Frans.
* * * *
"Ayah sedang dalam perjalanan. Kau tunggu saja di rumah. Jangan lupa masak makanan kesukaan ayah." Steven menyetir mobil di tengah jalan yang cukup sepi.
Hari ini ia akan mengunjungi Clara di rumah sederhana milik putrinya. Kemarin ia tidak sempat menjemput dan mengunjungi putrinya karena banyak pekerjaan di kantor.
Steven menghentikan mobilnya. Ia melihat mobil berjejer menghadang mobilnya. Siapa lagi jika bukan anak buah musuh bebuyutannya. Ini sudah kesekian kalinya ia dicegat di tengah jalan, dan sudah kesekian kalinya ia selalu berhasil lolos. Namun, kali ini ia tidak dapat menjamin bisa lolos, di depan sana jumlah mereka semakin banyak.
Perlahan tapi pasti, Steven berjalan mundur. Tiba-tiba suara ledakan pistol memekakkan telinga. Pada saat yang bersamaan, ban mobil milik Steven pecah. Kini, Steven tidak dapat melarikan diri lagi. Steven meraih pistol yang ada di balik dasbor mobinya. Dengan penuh keberanian, ia keluar dari mobil.
Satu ledakan pistol kembali berbunyi, kali ini peluru melesat dari pistol milik Steven. Ia bersembunyi di balik mobilnya. Tak lama kemudian, pecahlah kegentingan di jalan sepi itu. Bunyi pistol terus memekakkan telinga. Tak disadari oleh Steven, seorang pria bertopeng telah berdiri di belakangnya. Dengan satu pukulan di belakang kepalanya, Steven tersungkur dan tak sadarkan diri.
* * * *
Clara sudah mondar-mandir di ruang makan. Sudah dua jam menunggu, tapi ayahnya belum juga datang. Nomor ponsel ayahnya pun tidak dapat dihubungi. Karena hari sudah malam, akhirnya Clara memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan tidur.
Baru akan memejamkan mata, ia mendengar suara pintu utama diketuk kuat. Clara berpikir itu ayahnya. Dengan sangat semangat, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang tamu. Begitu sudah di ruang tamu, ia langsung membuka pintu.
Bukannya melihat ayahnya di depan pintu, Clara malah melihat beberapa pria berbadan tegap berdiri di depan pintu. Clara terkejut dan ketakutan.
"Tenang Nona Clara, kami adalah ajudan Tuan Steven. Mulai sekarang, kami akan menjaga Nona," kata salah satu pria yang mungkin adalah ketua dari mereka.
"Apa? Ajudan? Lalu, di mana ayahku. Bukankah seharusnya ia datang kemari?" tanya Clara.
Tidak ada satupun yang menjawab. Mereka semua malah tertunduk.
"Jawab? Mengapa diam saja?" tanya Clara semakin mendesak.
"Tuan Steven telah tiada."
Seperti sebuah petir, jawaban dari ketua ajudan itu membuat Clara terhenyak kaget.
"Apa! Kau bohong! Jangan mengada-ada!" Clara berteriak histeris. Sedikitpun tidak pernah terlihat dibenaknya bahwa ayahnya akan pergi secepat itu.
"Kau bohong!" Clara terus berteriak. Apalagi yang bisa ia katakan, berita itu sulit untuk dipercaya.
"Kami akan mengantarkan Nona ke rumah sakit," kata ketua ajudan itu.
Untuk membuktikan apakah ajudan itu berbohong atau tidak, Clara pun setuju untuk berangkat ke rumah sakit.
* * * *
Clara dan para ajudan telah sampai dirumah sakit. Mereka langsung menuju kamar mayat yang khusus. Karena kematian Steven berkaitan dengan pembunuhan, maka jenazahnya dipisahkan dari jenazah yang meninggal normal.
Ketua ajudan membuka pintu kamar mayat perlahan. Clara masuk ke dalam. Tiba-tiba kakinya lemas. Hampir saja ia jatuh kelantai jika tidak ditahan oleh ketua ajudan. Air mata langsung terjun menjatuhi pipinya.
"Ayah!" Clara berjalan dengan langkah gemetar. Seluruh tubuhnya lemas, dan hatinya hancur.
"Ayah, jangan tinggalkan aku sendiri ayah. Bangun ayah." Clara menyentuh lembut wajah pucat ayahnya.
"Ayah, ayah sudah berjanji akan makan malam bersamaku. Aku sudah memasakan makanan kesukaan ayah." Lanjut Clara lagi. Ia berbicara seolah-olah ayahnya bisa mendengar ucapannya. Tapi, pada kenyataannya, ayahnya sudah tidak bisa mendengar ucapannya lagi.
"Ayah, ini tidak adil. Kenapa ayah duluan yang menyusul ibu? Ayah, bangun, ayah masih punya hutang janji padaku. Ayah akan membawaku ke menara Eiffel kan?" Clara terus berbicara. Air matanya berjatuhan tanpa harus ia berkedip.
"Ayah! Kau mendengarku tidak! Bangun! Aku mohon!" Clara berteriak histeris ketika kembali sadar bahwa ayahnya tidak akan bisa mendengarnya.
"Ayah bangun, ayah harus peluk aku! Aku baru kembali dari Indonesia. Ayah belum memelukku, kan?"
"Nona, sudahlah. Tuan Steven tidak akan bisa mendengar apapun. Dia sudah beristirahat. Dia tidak akan membuka matanya lagi, untuk selamanya."
Clara menangis sesenggukan. Yang dikatakan oleh ajudan ayahnya benar. Ayahnya tidak akan membuka matanya lagi, tidak akan bisa memeluknya, dan tidak akan tersenyum hangat padanya. Clara sangat menyesal, seharusnya ia tidak meninggalkan Paris. Kini ia tidak akan merasakan pelukan hangat dari ayahnya untuk selamanya.
Clara mendekatkan wajahnya pada telinga Steven. "Aku mencintaimu Ayah. Tunggu aku di sana." Itulah ucapan terakhir Clara.
* * * *
Clara menggerutu sendiri di dalam kamarnya. Ketika dirinya sangat membutuhkan Frans di sampingnya, pria itu sama sekali tidak dapat dihubungi. Ia sudah mendengar cerita tentang kronologi kematian ayahnya. Maka dari itu ia ingin meminta bantuan Frans menyelidiki kasus itu.
"Sepertinya dia sedang sibuk. Baiklah, aku akan menghubungi nya besok."
Clara menyimpan ponselnya kembali. Ia merenung, seandainya ayahnya belum meningal, pasti ia akan memperkenalkan Frans pada ayahnya. Ia ingin meminta restu ayahnya untuk menikah dengan Frans. Tapi apalah daya, takdir berkata lain, Frans dan ayahnya tidak bisa bertemu lagi.
Clara duduk di atas tempat tidur, matanya memandang kolam yang ada di depan kamarnya. Sekarang ia hidup sebatang kara. Hanya satu harapan terakhirnya, Frans bisa menjadi tempat ia bergantung dan bersandar. Tiba-tiba Clara merasa haus. Ia berdiri dan berjalan keluar kamar.
Sebuah pemandangan yang tidak pernah terbayang di kepalanya. Darah berceceran di mana-mana. Tubuh para ajudan bergelimpangan tidak karuan. Clara menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia tahu bahwa pembunuh yang telah membunuh ayahnya sudah ada di rumah itu.
Dengan secepat kilat Clara kembali ke kamarnya. Ia meraih ponsel dan menghubungi nomor darurat. Tidak lupa, sebelum ia menghubungi nomor darurat, ia menyalakan lokasi agar polisi dapat melacak lokasinya. Tangannya gemetaran, matanya mulai memerah dan ia sangat ketakutan.
"Hallo, saya Clara. Ada pembunuhan di rumah saya. Rumah saya di ...." Belum sempat ia meneruskan ucapannya, tiba-tiba kaca jendela pecah. Sebuah tangan mendekap mulutnya.
Tiga orang pria membawanya keluar kamar melalui jendela dan menjatuhkan dirinya ke dalam kolam. Tiga orang pria yang memakai penutup wajah itu langsung ikut masuk ke dalam kolam. Mereka melelapkan kepala dan tubuh Clara ke dalam air. Tujuan mereka tentunya ingin melenyapkan Clara dengan cara menenggelamkan Clara ke dalam air.
Clara berusaha memberontak, tapi apalah daya, tenaganya bukan tandingan pria pembunuh itu. Hampir satu menit ia tidak bisa bernafas. Jantung dan paru-parunya sudah terasa sangat panas. Pandangannya mulai buram. Ditengah-tengah keputusasaan dirinya, Clara melihat sebilah pisau yang ada di saku salah satu pria itu.
Tak lama kemudian, air di kolam menjadi merah. Salah seorang dari mereka melepas Clara dan memegangi perutnya. Ketika dua pria lagi masih terkejut, Clara langsung melepaskan diri dari mereka. Ia berenang ke tepi dan naik ke darat.
"Hei!!" teriak salah satu dari mereka.
Clara masih lemas, tapi ia berusaha berdiri. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia mendapat pukulan di pundaknya. Clara tersungkur ke lantai pinggiran kolam. Saat pria itu menarik dirinya, Clara menendang kemalu*an pria itu hingga pria itu terjatuh ke tanah.
"Jangan bergerak, aku akan menembakmu dengan pistol ini."
Pria di belakangnya yang masih berdiri tegak menodongkan pistol tepat di kepalanya. Saat itu Clara merasa pasrah. Namun, lagi-lagi ia mendapat sebuah kesempatan hidup. Pria yang masih berguling-guling di tanah itu ternyata mengantungi pistol.
Dengan gerakan cepat Clara mengambil pistol itu. Ia berbalik badan dan balik menodongkan pistol pada pria di belakangnya.
Pria itu baru bisa melihat wajah Clara dengan jelas. Sejak tadi wajah Clara tidak bisa terekspos dengan jelas karena terhalang rambut.
"Clara?" Pria itu langsung menjatuhkan pistol ke tanah.
Clara menurunkan pistolnya. Cara pria itu menyebut namanya, ia langsung mengenali siapa pria dibalik penutup wajah itu.
Pria itu membuka penutup wajahnya.
"Frans?" Clara lebih terkejut lagi.
Mereka terdiam dalam tatapan sama-sama terkejut. Mereka hampir saja saling membunuh.
"Frans, apa kau yang membunuh ayahku?"
Frans tidak menjawab. Seluruh tubuhnya lemas. Ia masih shock karena hampir melenyapkan nyawa orang yang paling ia cintai. Ia jatuh, ia berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya. Matanya langsung tertunduk menatap tanah.
"Apa yang sudah kulakukan? Aku membunuh ayahnya Clara, ayah dari orang yang aku cintai." Suara Frans pelan, namun Clara masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa? Jadi benar, ka-kau yang telah ...."
Clara tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Air matanya kembali jatuh. Pria yang ia cintai adalah seorang pembunuh. Pembunuh ayahnya, Frans pembunuh ayahnya.
"Mengapa kau melakukan itu? Aku sangat mencintaimu, tapi mengapa kau melakukan itu? Katakan Frans!"
"Aku, aku terpaksa melakukan itu."
Flashback:
Di saat pulang kantor, Frans berjalan di lobby, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat ia merogoh saku jasnya dan menjawab panggilan telepon.
"Hallo, ini dengan siapa?"
"Jika kau ingin adikmu selamat. Cepat datang ke gedung tua bekas rumah sakit."
Mendengar itu, tanpa pikir panjang lagi, Frans langsung pergi menuju gedung yang dimaksud.
Sesampainya di gedung itu, Frans sangat terkejut. Dilihatnya adik perempuan nya sedang diikat disebuah bangku.
"Kak, tolong aku!" teriak adik Frans.
"Chika!" Frans hendak menyelamatkan adiknya, namun seseorang menodongkan senjata ke kepala Chika.
"Jika kau ingin adikmu hidup, jadilah anak buahku."
Flashback end.
"Aku tidak punya pilihan lain. Aku sangat menyayangi adikku." Frans masih tertunduk.
"Dan aku juga menyayangi ayahku!" teriak Clara karena tidak sanggup menahan semua rasa perih di hatinya.
"Aku hanya memiliki ayah di dunia ini, tapi kau merenggut nyawanya." Clara terduduk di tanah, kakinya sudah tidak bisa menopang tubuhnya.
Frans menatap Clara. Gadis itu sedang merasakan sakit hati yang lual biasa. Bagaimana tidak, orang yang membunuh ayahnya adalah orang yang ia cintai.
"Maafkan aku, Clara. Aku sangat menyesal. Jika aku tahu Wilson adalah ayahmu, tidak mungkin aku membunuhnya."
"Tidak, bagaimana pun juga kau tetap seorang pembunuh," sela Clara.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Frans.
"Membunuhmu."
Jawaban Clara merenyuh hati Frans. Tapi ia tahu itulah yang paling pantas untuknya sekarang.
"Aku memilih peluru ini daripada cintaku padamu," lanjut Clara. "Aku tidak dibutakan oleh cinta, nyawa, dibayar dengan nyawa. Kau pria jahat, aku tidak ingin hidup dengan pria sepertimu."
Saat mengatakan itu, sebenarnya hari Clara juga sangat sakit. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia sangat mencintai Frans.
"Baiklah, tapi aku meminta satu syarat," kata Frans memberi jeda. "Izinkan aku untuk memelukmu dan menciummu untuk yang terakhir kalinya."
Clara terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana. Ketika mendengar 'Yang terakhir kalinya', hatinya tidak sanggup menahan perih. Ia tidak ingin pelukan Frans berakhir.
"Kau tahu Clara, tanpa kau membunuhku, para polisi itu yang akan membunuhku."
Clara masih terdiam, ia tidak ingin menjawab Frans. Karena tidak mendapat jawaban, Frans menganggap itu sebagai persetujuan.
Frans berdiri, ia melangkah mendekati Clara, kemudian bersimpuh agar posisi mereka sejajar. Ia memandangi wajah cantik Clara yang masih basah akibat tadi masuk ke dalam kolam.
Frans tersenyum, ia tahu ini adalah saat terakhir ia memandang wajah cantik yang ingin ia tatap setiap hari. Dengan lembut ia memegang pipi Clara, ia mengusapnya dengan lembut.
"Maafkan aku, aku tidak bisa membahagiakanmu."
Dengan mata penuh air mata, Clara membalas tatapan itu. Sorot mata Frans masih sama, tatapan penuh cinta, tatapan hangat, namun kali ini ia mendapati gambaran luka hati Frans di sana.
Frans menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya. Ia memejamkan mata, meresapi segala rasa dari pulukan itu. Ia mengingat dalam hatinya, ini adalah pulukan yang terakhir kalinya. Ia memeluk Clara lama sekali. Rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Namun, saat ia mengingat polisi yang ditelepon Clara tadi, ia segera melepaskan pelukannya.
Kini giliran tahap terakhir, yaitu mencium gadis yang ia cintai untuk terakhir kalinya. Frans menunduk untuk mendekatkan bibirnya dengan bibir Clara. Kemudian, ia mencium bibir Clara dengan hangat. Disaat itulah air mata Frans mengalir. Selama ini Frans tidak pernah menangis. Tapi untuk kali ini, ia membiarkan air mata perpisahan itu menetes. Tak kama kemudian, ia melepaskan ciumannya.
"Setelah ini, maafkan aku. Maafkan segala kesalahanku. Setelah ini juga, carilah pria yang baik. Jangan cari pria pembunuh sepertiku." Frans mengelap air matanya sendiri.
Frans meraih tangan Clara, lalu menggenggam tangan itu dengan erat. "Kau harus tahu, cintaku tidak akan pernah padam. Aku akan mencintaimu, baik saat aku hidup, maupun saat aku sudah mati. Ketika aku mati nanti, cintaku tidak akan pernah mati. Jika kau merindukanku, lihatlah bintang malam, aku akan tersenyum padamu dari atas sana." Frans berdiri, ia membiarkan Clara masih terduduk di tanah.
"Aku mencintaimu Clara, sangat mencintaimu. Selamat tinggal."
Dan ... 'Doorrr!'
Darah merembes dari dada Frans.
Ternyata Frans sudah tahu, dari kejauhan ada polisi yang sudah siap menembak nya. Sebab itulah ia membiarkan Clara duduk di tanah agar tidak ada penghalang polisi itu menembaknya.
"Frans!!" Clara berteriak.
Tubuh Frans perlahan jatuh ke tanah. Clara langsung menyambut tubuh Frans dan meletakkan kepala pria itu di pangkuannya.
"Frans, aku mencintaimu. Aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku tadi. Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu. Frans, buka matamu, biarkan aku membalas ucapanmu bahawa aku juga sangat mencintaimu. Frans, Frans, Frans!!"
Clara menyesali karena ia tidak sempat membalas ucapan cinta dari Frans. Ingin rasanya ia membukakan mata Frans. Namun, ini bukan sebuah film di mana selesai syuting, orang yang mati tadi membuka matanya kembali.
Semua sudah terlambat, mata Frans sudah tertutup untuk selamanya. Clara bisa melihat ada air mata yang masih tersisa di bulu mata pria itu. Air mata Frans yang terakhir. Dengan lembut, Clara mencium bulu mata Frans.
"Aku mencintaimu, selamat jalan, Frans."
* * * *
"Setahun sudah berlalu tanpa kehadiranmu. Kau tahu? aku selalu menantikan kematianku setiap hari. Aku ingin menemuimu di sana. Menggenggam tanganmu. Aku membutuhkanmu, Frans. Aku mencintaimu."
Clara berdiri di balkon rumah barunya. Ia sedang memandangi langit malam yang penuh bintang. Pada saat itu, entah sebuah khayalannya atau kenyataan, ia mendengar sebuah suara.
"Aku juga mencintaimu, dan membutuhkan mu."
Clara menoleh ke kebelakang. "Frans?".