"ahhhh bosan sekaliiiii"gerutuku karena kurangnya kegiatan yang kulakukan saat liburan ini.
Aku memikirkan apa ya yang bisa kulakukan untuk mengatasi kebosanan ini? Rasanya menyebalkan. Sebuah ide terlintas di benakku.
"Camping dipantai sepertinya asik" pikirku.
Langsung ku ambil hp dimejaku, mengajak pacar serta teman-teman ku untuk camping. Mereka semua langsung setuju dengan usulanku, sepertinya mereka juga bernasib sama sepertiku hahaha.
Pada hari yang dijanjikan, persipan pun sudah selesai dilakukan. Kami pun berangkat, kesebuah pantai didekat sebuah desa terpencil yang sepi pengunjung, saat ku lihat foto pantai diweb itu sepertinya bagus.
Kami pun sampai ditempat tujuan, ternyata bener pemandangan disini sangat indah bahkan foto yang kulihat seperti memperjelek kesannya saking indahnya pantai itu. Kami pun mulai mendirikan tenda. Akan tetapi entah kenapa aku merasakan perasaan mengganjal, karena tadi saatku lihat desa yang kami lewati semua warga disana menatap kami dengan wajah tanpa ekspresi dan saat kami sudah lewat, dari sudut mataku aku melihat mereka semua menyeringai dengan wajah yang sangat menyeramkan. Hal itu terus berlanjut hingga kita sampai ditempat tujuan, aku tidak tau apakah orang selain aku tidak mempedulikannya ataukah memang tidak melihatnya, karena mereka begitu santai saat mendirikan tenda.
Kami membagi tugas dengan cowok yang mendirikan tenda, sedangkan cewek menyiapkan makanan. Saat semuanya sudah selesai hari sudah mulai petang, kami pun langsung menyantap makanan yang telah selesai dibuat. Setelah makan kami menyalakan api unggun, menyanyi dan bersenang bersama. Sampai tak terasa hari sudah larut. Kami pun bersiap-siap untuk tidur.
Saat aku ingin kembali ke tenda ada seseorang yang tiba-tiba menarik tanganku. Aku terkejut langsung menarik tanganku seraya berbalik yang membuat orang yang menarik tanganku menabrak ku. Kami berdua jatuh kepasir dan kulihat ternyata orang itu adalah pacarku. Dia tersenyum sambil meminta maaf padaku.
"Maafkan aku tapi aku tidak bisa tidur, bisa nggak kamu menemaniku?" ucupnya sambil berdiri dari tubuhku.
"Tentu, ayo kita ke tebing itu saja yuk!" balasku, tak mungkin aku bisa menolak permintaan darinya.
Kami pun menuju tebing yang dimaksud. Duduk berdekatan ditepi tepi tebing, sambil menikmati pemandangan malam berbintang yang sangat indah tidak kalah dengan pemandangan saat siang hari. Dia pun memelukku dan menaruh kepalanya dipundakku. Aku pun mengusap lembut rambutnya, agar dia merasa nyaman.
Suasana romantis ini tidak berlangsung lama saat aku tiba-tiba mendengar suara bisik-bisik seseorang. Kukira teman-teman ku yang melakukannya saat melihatku bersama pacarku. Tapi saat aku melihat kearah suara tersebut, terkejut saat beberapa orang berjalan ke arah bibir pantai. Aku siapa mereka tapi aku melihat salah satu orang yang aku liat di desa dekat pantai ini Saat mereka sampai mereka langsung meletakkan barang-barang semacam sesajen sambil melantunkan semacam mantra aneh. Saat mereka selesai menyiapkan sesajen itu mereka melanjutkan dengan menari tarian yang sungguh aneh sambil melanjutkan melantukan mantra itu.
Pemandangan ini sungguh membuatku terdiam, aku mengingat kalau saat ini tidak ada hari yang penting. Tak lama ritual itu pun selesai, mereka langsung kembali ke desa.
Merasa aneh pacarku pun ikut melihat orang-orang itu. Dia ketakukan saat melihat ritual itu. Diapun langsung mengajakku kembali. Ku temani dia sampai kedepan tendanya. Saat aku ingin kembali dia langsung memanggilku.
"Yang temenin aku dulu dong, sampai aku tidur" ucapnya sambil memelas.
"Iya-iya, yaudah cepetan tidur sana" balasku sambil duduk didepan tendanya.
Tak lama dia pun tertidur, aku langsung kembali ketendaku bersiap untuk tidur. Sebelum tidur aku memikirkan kembali ritual yang dilakukan orang-orang desa itu. Ritual itu dan apa yang kulihat didesa itu membuatku merasa tidak nyaman. Sambil memikirkan hal itu aku pun tertidur.
Keesokan harinya aku bangun kesiangan. Aku bangun paling terakhir dan mereka pun tidak membangunkanku. Sedangkan mereka sedang keasikan bermain dipantai. Aku pun langsung menyusul mereka.
"Hoi anak-anak biadab, kejam kali kalian ninggalin aku" teriakku ke mereka.
"salah siapa yang semalem mesra-mesraan, jadi bangun kesiangan kan kau" saut salah satu dari mereka.
Sialan ternyata mereka melihat kami. Aku pun langsung ikut mereka walau masih merasa malu karena ketahuan. Kami pun bersenang-senang dipantai sambil menunggu sarapan siap. Setelah sarapan kami melakukan urusan kami masing-masing. Salah satu temanku berniat untuk memancing, dengan sombong dia melempar kailnya jauh kelaut. Baru beberapa detik kail menyentuh air seekor ikan langsung menyambarnya. Garan pancingnya pun melengkung tajam merespon tarikan ikan. Dia dengan sigap mulai beraksi menarik ikan mendekat.
Tak lama ikan itu pun sudah kedekat pantai, akan tetapi saat dia bersiap-siap mengambil ikan, tiba-tiba ikan itu malah disambar oleh seekor hiu. Terkejut temanku sampai terjungkal kebelakang, untunglah bukan dia yang disambar hiu itu. Tidak kapok dia pun melempar kail lagi. Kali ini agak lama baru ada ikan yang menyambar. Dia pun langsung menarik cepat panciangnya, takut akan disambar hiu lagi.
Tapi ternyata hal yang dikhawatirkan terjadi, ikan itu kembali disambar hiu. Kami bingung bagaimana bisa banyak hiu disini. Bukankah disini masih daerah berpenduduk, jadi orang-orang desa pasti akan ke pantai ini. Ternyata keterkejutan kami tidak sampai disitu saja. Tiba-tiba dari laut muncul bayangan putih, dengan cepat menuju hiu tersebut. Ukurannya sangat besar, bahkan hampir sebesar rumah. Meloncat tinggi menyambar hiu tersebut. Kami semua pun panik, terkejut dengan kemunculan hiu raksasa tersebut. Yang lebih mengerikannya lagi adalah saat hiu itu berbalik, terdapat sebuah luka besar menganga ditubuhnya. Saking besarnya sampai tulang-tulangnya menonjol dari luka tersebut. Bagaimana bisa ada hewan yang masih hidup dengan luka seperti itu?
Hiu pun kembali ke laut meninggalkan suasana mencekam pada kami. Sunyi menyelimuti kami dengan keringat dingin membayangkan adegan yang baru saja terjadi. Tapi kensunyian itu pecah saat bayangan putih itu terlihat kembali, berenang cepat menuju kami.
"semuanya cepat menjauh dari pantai!" teriakku pada mereka supaya menjauh.
Mereka pun langsung melarikan diri dari pantai. Benar saja dugaanku hiu itu langsung menerjang menuju salah satu temanku. Dia pun langsung menerjang temanku itu, mengarahkan rahangnya menggigit tangannya sampai putus. temanku berteriak kesakitan jatuh terduduk, memegangi yang tadinya adalah tangannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini hiu itu pun menggigit temanku, menggoyangkannya lalu memakannya utuh.
Pemandangan itu sungguh mengerikan bagi kami, teman kami dimakan oleh hiu didepan mata kami. Tapi bukannya kembali dia malah berpaling ke kami, langsung menerjang menggeliat seperti ular mengejar kami. Aku bingung bagaimana bisa hewan itu berberak didarat, logika kami benar-benar dihancurkan olehnya. Kami langsung berlari, menjauh dari kejaran hiu itu. Aku langsung menggendong pacarku sambil berlari agar dia tidak terkejar.
Hiu itu benar-benar pintar, meskipun tidak terlalu cepat tapi saat kami lumayan jauh darinya dia akan meloncat menyebabkan guncangan yang membuat keseimbangan kami goyah membuat kami tidak bisa menjauh darinya. Beberapa kali aku hampir jatuh, tanpa menyerah aku lanjut berlari. Pacarku menangis melihatku seperti ini, dia memintaku meninggalkannya saja. Tentu saja aku menolaknya, tak mungkin aku meninggalkan orang yang aku cintai dimakan oleh monster itu.
Aku pun memeras otakku bagaimana caranya agar bisa menjauh dari monster mengerikan ini. Tiba-tiba terbesit sebuat ide yang mengerikan, yang akan membuatku menyesalinya seumur hidupku. Sampai didesa terdekat aku langsung berbelok bersembunyi dibalik rumah penduduk meninggalkan teman-temanku. Dalam hati aku berkali-kali meminta maaf karena meninggalkan mereka, memilih menyelamatkan diriku sendiri dan pacarku tanpa memikirkan nasib mereka. Aku langsung menurunkan dia dan langsung menutup mulutnya, khawatir dia akan berteriak. Aku tau dia pasti sangat marah padaku yang meninggalkan mereka.
"Maaf, aku benar-benar terpaksa melakukan ini. Aku gamau kamu kenapa-kenapa." bisikku ditelinganya. Dia hanya bisa menangis dipelukanku.
Benar ternyata hiu itu masih mengejar teman-temanku, ntah tidak mempedulikanku ataupun memang tidak tau aku ada disitu. Aku pun langsung memasuki rumah itu menuju kedapur, mencari minum serta senjata untuk berjaga-jaga. Aku menyuruh pacarku duduk dikursi didekatku sambil memberinya minum. Rumah ini kosong tapi aku tau dari kompor bahwa tidak lama rumah ini kosong, sepertinya pemilik rumah ini baru saja pergi. Tanpa kuketahui seorang wanita masuk ke rumah, mengendap-endap menuju ke arahku sambil membawa golok ditangannya. Saat sudah dekat wanita itu langsung menerjang kearahku, pacarku yang melihatnya langsung berteriak loncat kearahku. Aku pun langsung berbalik dan terkejut saat sebilah golok mencuat dari dadanya. Darah mengalir deras dari lubang itu.
"Maaf aku akan meninggalkanmu, tapi kumohon tetaplah hidup" ucap pacarku lirih dengah darah mengalir dimulutnya.
Ditariknya golok itu oleh pemiliknya, aku terdiam syok saat melihatnya. Apa?bagaimana?kenapa? berbagai pertanyaan langsung muncul dipikiranku. Wanita itu berteriak-teriak dan berkata bahwa teman-temanku akan ditangkap, mereka akan dijadikan persembahan untuk dewa hiu si monster itu. Jasad pacarku serta diriku pun akan mengalami hal yang sama. Dengan marah aku langsung menerjang wanita itu, mencekiknya lalu merebut senjatanya. Kudorong dia ketanah sambil kutusuk golok itu ketubuhnya sambil berteriak.
"kenapa?kenapa kau melakukan itu padanya?kenapaaaa!"air mata mengalir deras dari mataku.
Kupeluk tubuh dingin pacarku"maaf aku tak bisa melindungimu" bisikku padanya. Dengan marah aku keluar dari rumah itu. Sebuah anak panah ditembakkan kearahku, dengan sigap aku menghindarinya. Dari arah datangnya panah itu kulihat seorang pria membawa crossbow. Aku langsung berlari menebas pria itu, desa ini sungguh gila mengorbankan manusia ke monster itu.
Dalam hati aku ingin membunuh monster itu. Kucari bensin didesa ini, kubuat bom molotov darinya.
Ku berlari ke arah teman-temanku melarikan diri, mencoba mencari monster itu. Dari jauh kulihat pemandangan yang sangat mengerikan. Disebuah tanah lapang monster itu mengejar temanku yang sekarang terikat. Penduduk desa berkumpul dipinggir bersorak sambil bersujud menyembah monster itu. Kami yang awalnya belasan orang kini tinggal bertujuh. Tak kusia-siakan kesempatan ini langsung melempar bom molotov itu kearah penduduk desa serta monster itu. Dengan ledakan itu mereka pun menciptakan api yang besar. Para penduduk desa itu berteriak panik sambil berlari-lari tak tentu arah, sedangkan monster itu meraung marah dilalap oleh api.
Aku pun langsung berteriak ke arah teman-temanku menyuruh mereka kemari. Mereka pun dengan panik berlari kearahku. Dengan disigap aku memotong tali yang mengikat mereka.
"Pergilah ke mobil, pergilah dari sini" ucapku pada mereka.
Aku tau dari pandangan mereka bahwa mereka masih marah padaku karena meninggalkan mereka sendiri. Tapi tanpa mempedulikan itu aku langsung berlari menuju monster itu.
"Hei apa yang kau lakukan?" teriak salah satu temanku.
"Balas dendam, siapapun yang merebut orang yang kucintai harus mati" jawabku tanpa menoleh sedikitpun. Tujuanku sudah jelas, membunuh penduduk desa serta monster itu yang menyebabkan pacarku meninggal.
Saat monster itu melihatku dia meraung marah sambil meloncat menerjangku. Dengan sigap aku langsung menghindar kesamping menyayat mulutnya. Monster itu meraung kesakitan semakin marah padaku, bau busuk menyebar dari luka itu membuatku mual.
Pertarungan kami berlangsung intens. Aku menghindari setiap serangannya sambil menyayat tubuhnya sedikit demi sedikit. Setelah lama berlalu monster itu terluka parah, tubuhnya penuh sayatan. Tidak sia-sia aku ikut berbagai beladiri. Darah mengalir dari luka itu yang mengeluarkan baru busuk menjijikan yang seharusnya tidak dikeluarkan oleh makhluk normal. Tapi tubuhku pun tak jauh berbeda, dengan lebam-lebam karena ditabrak tubuhnya yang amat besar.
Dengan marah dia meraung sambil menerjang ke arahku. Aku mengambil bom molotov yang tersisa dan melemperkannya kedalam mulutnya. Bom itu meledak membakar bagian dalam tubuhnya membuatnya terjatuh kesakitan. Aku langsung menusuk matanya sebagai pegangan untukku naik keatas tubuhnya. Sambil duduk diatasnya aku menikamkan golok itu ke kepalanya berkali-kali sampai monster itu tak lagi memiliki tanda-tanda kehidupan.
Dengan lemah aku terjatuh dari atas tubuh monster itu. Dengan napas tersengal-sengal aku terbaring ditanah. Rasa lega bercampur sedih membanjiri diriku.
"Maaf aku tak bisa melindungimu, maaf aku yang membuatmu mengalami hal ini, seandainya saja aku tidak membawamu pasti aku tidak akan kehilanganmu. Akhirnya aku membalaskan kematianmu, tunggulah aku disana sayang"