" Boni...huhuhu" aku memanggil mu begitu melihat mu sambil terisak. Kau hanya bengong melihat ku seperti itu. Ku buka pintu kamar ku dan kau pun mengikuti. Ku duduk di pinggir tempat tidur ku masih dengan isak ku. Dan ku lambaikan tangan padamu tanda untuk duduk di samping ku. Kau pun duduk di samping ku.
" Bon.. Iban jahat... dia marahin aku. Dia bilang aku ngga punya pendirian lah, plintat plintut.
Di hardik aku Bon huhuhu". Isak ku semakin tinggi nada nya. Dan kau hanya terdiam memandang lurus ke depan.
" Terus Bon... Iban bilang, kalau mau serius nikah sama dia tentukan sikap bagaimana, pilih papa atau dia. Booonn.... papa ku memang belum setuju sama hubungan aku
Bon, aku sudah berusaha untuk mengambil hati papa supaya menyetujui hubungan ku dengan Iban. Tapi papa belum kasih tanda setuju juga.
"Bon... huhuhu, aku harus gimana?" Semakin keras isak ku terasa dan ku mulai memeluk badan mu. Dan kamu masih diam membisu seperti membiarkan aku untuk meluapkan segala kisah dan isak ku.
Entah mengapa ada rasa nyaman dalam memeluk mu. Mendengar detak jantung mu, suara nafas mu yang sedikit bergetar. Ku makin erat memeluk mu. Walau kau hanya terdiam ku rasakan kau ikut mengerti apa yang ku rasa.
" Huhuhu... Bon... Aku harus gimana ya, mereka berdua aku cinta, papa tentu lah aku cintai sebagai orang tua ku dan Iban, aku jatuh cinta kepadanya karena sabar menghadapi amarah-amarah ngga jelasnya aku. Dia bingung kali ya Bon, karena papa belum setuju, makanya nanya gitu. "
Isak ku mulai mereda seiring dengan mampet hidung ku.
"Bon... makasih ya sudah dengar in aku" Aku makin erat memeluk mu. Dan tetiba kamu bersuara.
"Meeewww.... Meeewww...."
Dan kamu mulai mendekat kan kepala mu ke tanganku
"Ok Bon... kamu lapar nya. Yuk keluar, aku kasih makanan kamu"
Dan aku mulai melangkah ke pintu kamar untuk keluar menuju tempat makanan mu dan kau pun mengikuti aku dengan sedikit berlari.