In The Night.
4 Days Till Deadline.
Stage 1. Moan.
"Nii~ Chan... Tame~"
Aku tidak pernah membayangkan akan memanfaatkan gadis sekecil dan seperiang ini hingga seperti ini.
"Ahhh, N-Niichan~"
Aku mungkin orang dewasa yang buruk.
"Nii~ sudah cuk-- Ah!" deru nafas yang memburu, yang memberat tiap kali ku gerakan tangan ini menjelajah lekuk nya. Aku hanya menyeringai menikmati tiap suara indahnya.
"Bagaimana rasanya, Nacchan?" ku rendahkan bariton bersama mendekatnya bibir ini ke leher Akina. Dia sudah dekat, jadi tak membutuhkan waktu lama hingga tubuhnya bergetar hebat.
"Niicha!!" satu teriakannya darinya sontak melengkung tubuh indahnya kedepan, gerakan itu membuatku sadar kalau permainannya telah usai... Akupun mengelap tanganku yang basah dengan tisu, membenarkan tenggeran kacamata di hidungku dan enggan menunda waktu, ku hampiri meja belajar untuk menggambar imajinasi liar yang baru saja ku terbayangkan.
"Nicchan, hah... Hah!"
Sedangkan disana, Akina nampak terbaring dikasur tanpa mempermasalahkan ku yang langsung berkecimpung dengan pekerjaan. Namun demikian, dapat kulihat senyumnya terukir seraya menatapku teduh, "Kau sudah mendapat pencerahan, Nicchan?" tanya Akina. Aku mengangguk.
"Berkat mu!"
Akina pun tertawa. "Yokatta!" lanjutnya, sebelum beranjak dari kasurku dan bergegas menuju pintu. "Kalau begitu, Kina mau tidur dulu, yah? Besok Kina ada ujian,"
Aku kembali mengangguk, "Oh, Nacchan..." namun kali ini sedikit meliriknya, kulihat Kina tertegun entah karena apa. Rambutnya yang berantakan dia selipkan kebelakang telinga. "Nani?"
Hah... Sekali lagi, Aku orang dewasa yang buruk.
"Gomen-ne, aku sudah merepotkanmu malam-malam begini hanya untuk manuscript komik ku," ujarku.
Akina terkekeh, "Daijobu~ Kina tak keberatan, lagipula, Kina selalu menunggu karya besarnya Dan-sensei! Makanya akan Kina lakukan apa yang Kina bisa... Ganbatte-ne! Daniel Oniichan!"
"OSU! Oyasumi~"
"Oyasumi!"
Krekk.
Setelahnya, pintu kamar ditutup oleh gadis berusia 18 tahun itu, yang suara langkahnya terdengar jelas menuju kamar disebelahku. Benar, kamar kami bersampingan dan karena otak ku mengalami writerblock, aku kehilangan ide-ide untuk melanjutkan manuscript manga yang ku buat.
... Apa?
Apa salahnya meminta bantuan kerabat untuk membangunkan ide-ide cemerlang? Sebagai seorang ero mangaka terbaik alias Dan-sensei, karya manga ku yang berikutnya tidak boleh biasa saja! Sebab itulah panik ketika mengalami writer block, aku bergegas meminta bantuan Akina secepat yang kubisa.
Deadline tinggal 5 hari lagi, jadi tak banyak waktu yang ku miliki.
Lagipula, semua yang ku lakukan pada Akina hanya mengelus permukaan tangannya yang mudah berkeringat. Aku melakukannya karena membutuhkan unsur sensual dan aura sexiest dalam manga. Sedangkan disisi lain, ada seorang gadis yang sangat mudah terangsang hanya dengan di elus telapak tangannya. Cara ini sangat efektif dan menguntungkan ketimbang aku membaca atau melihat siaran Xxx.
Jadi, tolong di garis bawahi! Aku tak meraba kesana-sini. Dan-Sensei hanya membutuhkan Atmosfer dan sedikit dorongan agar imajinasinya keluar, bukan melakukan hal tidak senonoh kepada childhood friend nya sendiri.
Terlebih... "Aku tidak pernah melihat Akina dalam pandangan dewasa seperti itu. Tertarik dengan teman masa kecil sendiri adalah tema pasaran bagiku!"
***
11.30 Daylight.
3 Days Till Deadline.
Im Dead.
"Oniichan! Bangun!!"
Mengguncang kuat tubuhku yang masih terbalut selimut, Akina hampir menyerah karena sejak tadi tidak melihat respon bagus dariku.
Tentu saja.
Disini, diatas tempat tidur yang hangat dan empuk milikku sendiri, aku masih terkulai tanpa ingin menyahuti panggilan melengking Akina. Tahta ku adalah tempat tidurku. Aku bahkan ingin berada disini dan terus bermimpi seumur hidupku, aku ingin terbebas dari kenyataan yang hanya membuatku terluka dan merasa sesak! Aku kehilangan gairah bangun pagi.
"Ne~ Niichan, apa semalam setelah aku kembali ke kamar, kamu menjadi kelelawar?" tanya Akina beralih duduk di tepian kasur. Dengan netra sepat, akupun mengintipnya tengah memperhatikan meja kerjaku. Maniknya memberitahu kalau dia penasaran.
"Apa harus ku jawab?"
Akina tertawa, "Tidak. Kina hanya penasaran karena tidak sedikitpun suara Kina dengar dari kamar. Kina pikir Niichan sudah tertidur atau ketiduran," jelasnya dengan semangat, kembali berdiri dan berpelak pinggang.
"Sudahlah Niichan! Usaha Niichan, Kina yakin akan membuahkan hasil yang luar biasa! Ayo bangun dan makan!" ajaknya. Akupun menghela. Akubtak bergairah. Meski pahanya yang mulus menjadi pemandangan bangun tidurku. Aku hanya bergegas memutar arah tubuh membelakangi Akina.
"Kenapa kau sudah pulang jam segini?" tanyaku.
"Ohh, itu... Kina hanya kembali sebentar untuk mengambil buku yang tertinggal,"
Tawaku keluar, "Apa sebuah buku sebegitu pentingnya hingga kamu kembali kesini? Kampusmu cukup jauh, bukan? Kamu hanya membuang waktu, Nacchan..." tegurku. Akina terdiam beberapa saat sebeluy ikutan tertawa.
"Nicchan benar, Kina memang hanya mencari-cari alasan, haha! Kalau begitu, Kina kembali ke kampus dulu, yah? Niichan jngan lupa dimakan makanannya, Kina sudah membuatnya!"
Krekk.
"Nacchan?" Memang sedikit terlambat, tapi kepalaku tertoleh melihat pintu yang sudah ditutup oleh Akina. Gadis itu membuatku tak bisa tidur sekarang.
Aku tak tahu bagaimana ekspresi Akina ketika mengatakan semua itu karena terbaring membelakanginya, tapi, dari intonasi suara yang kudengar sebelum dia beranjak keluar kamar, aku merasa sesak.
"Atau... hanya perasaanku?"
Entahlah.
Tapi yang jelas, kini kantukku hilang. Akupun memilih melanjutkan manuscript yang ku tunda dini hari tadi. Akan ku selesaikan sebelum hari ini berakhir!
Itu niatku.
Tapi pada kenyataannya....
Kini jam 3 sore dan aku berada di sebuah Cafe untuk menemui seorang temanku yang tak lain, adalah editorku sendiri... Ayumu namanya. Dia ingin membicarakan beberapa hal mengenai manuscript sekaligus mentraktirku sebagai penyemangat.
"Padahal kau bisa datang ke apartemen ku dan membawakan makanan, ayumu-kun. Aku jadi tak perlu menunda kerjaanku!" dengusku sembari menikmati seruputan ice cofe yang Ayumu pesankan. Pria itu namun menepuk bahuku.
"Uhuk!!"
"Sudahlah! Kau tahu aku merasa tidak enak berkunjung semenjak ada gadis itu. Lagipula, sesekali keluar tidak masalah, bukan? Duniamu tidak hanya berdiam didalam kamar, Dan-Sensei!"
"Ssstt!!!"
Menyumpal mulut ember Ayumu dengan yakisoba pan, aku memberi tatapan nyalang padanya karena telah menyebut nama Dan-Sensei dengan keras. Dia juga sudah membuatku tersedak oleh tepukan-- tidak! Oleh pukulan tangannya di bahuku beberapa saat lalu! Pria ini memang barus diberi pelajaran!
"Kau! Sudah kubilang identitas Dan-Sensei adalah rahasia!" tanganku yang mengepal pun ku tunjukkan. Ayumu seketika membelalakkan mata, memundurkan tubuh dan mengibar bendera putih dengan selembar tisu.
Tapi aku tahu dia tidak takut. Dia hanya berpura-pura menyerah karena senyum miringnya terlihat jelas disana. Tinggkahnya semakin membuatku kesal.
"Kya! Daniel-sama menjadi nackal--"
"Urusai!"
Ddrrt Drrrt.
Mengganggu kemarahanku, getaran smartphone di meja makan mengalihkan perhatian Ayumu. Dia lantas tanpa mempedulikanku meraih gawainya dan mengecek pesan masuk dari Seseorang... Aku juga tak mau kalah hingga memilih meredam emosi dengan memainkan smartphone sama sepertinya. Ayumu lalu menyentuh bahuku tiba-tiba.
"Gomen... Aku harus pergi karena Ayumi meminta pertolonganku," ujarnya. Senyumku terukir tipis.
"Dasar Siscon!" sindir ku. Itu adalah sebutan untuk seorang kakak laki yang begitu terobsesi dengan adik perempuannya. Ayumu hanya tertawa.
"Jangan salah paham, Ayumi adalah gadis yang baik dan tulus dalam membantu, dia hanya kurang berani makanya memilih mengawas dalam bayangan,"
Alisku bertaut, "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, sepertinya kau terlalu banyak menonton anime!"
Ayumu meraih Coat nya, "Aku tak ingin melibatkanmu dalam urusan ini, jadi Yeah... Semangat saja melanjutkan manuscript nya!"
"Hei! Ini sudah dibayar belum?!"
Meninggalkanku tanpa memberi penjelasan akurat. Ayumu meninggalkan Cafe.
"Ck! Dia bicara omong kosong lagi! Sebenarnya, apa pekerjaannya selain menjadi editor?" batinku.
"Hah... Bukan urusanku juga sih,"
***
Apartement 8.30 p.m.
3 Days Till Deadline.
Some Wrong.
Seharusnya malam ini menjadi malam yang cerah karena aku baru saja menyelesaikan manuscript ero mangaku yang terbaru! Keantusiasan para penggemar pun meningkat setelah mendapat kabar bahwa ero manga karya Dan-sensei akan terbit bulan depan. Sungguh, ini adalah hari kemerdekaan ku karena berhasil menyelesaikan manuscript sebelum tenggat waktu. Semua ini berkat ketekunan dan bala bantuan dari orang-orang disekitarku, terutama Akina.
JGERR!
Petir kembali menyambar menyapu pandanganku yang menatap keluar jendela. Kini aku cemas... Meski perutku lapar, aku kehilangan nafsu menyantap makan malam yang telah kubuat. Niatku akan memakannya bersama Akina sebegau perayaan manuscript yang selesai, namun, hingga sekarang, Akina belum juga pulang. Terakhir dia mengabariku adalah jam 3 sore, mengatakan dirinya ada kelas malam dan akan terlambat pulang.
Nafasku terhela. "Tidak seharusnya aku mengkhawatirkan Nacchan berlebihan seperti ini, dia bukan lagi anak kecil!" tuturku beranjak meninggalkan jendela.
Itu benar kalau Akina bukan lagi seorang gadis kecil yang selalu mengikuti seperti dulu. Akina sudah dewasa baik dalam sisi mental maupun fisik, buktinya dia nekad mengambil kuliah jauh dari rumahnya dan nekad memaksa tinggal bersamaku, di apartemenku, dengan alasan tempat ini paling dekat dengan kampusnya.
Akina sudah matang dan bisa menjaga dirinya.
Akupun mencoba acuh duduk disofa ruang tamu, lalu membaca novel karya penulis favoritku dengan tenang. Ceritanya berkisah tentang, detektif yang memecah banyak masalah kriminal, detektif itu selalu membantu orang lain hingga melupakan bahwa dirinya juga membutuhkan bantuan. Dia enggan meminta pertolongan kepada karena tak ingin orang-orang yang di sayanginya terlibat kedalam masalahnya, diapun mencoba menyelesaikannya sendirian namun, pada akhirnya dia berakhir dalam keterpurukan. Disaat itulah seorang Villain yang tak lain adalah bawahannya sendiri, mengulurkan tangan tanpa diminta. Pertolongan dan dukungan villain itu sangat berarti bagi si detektif yang hampir putus asa.
Cerita yang menarik, bukan?
Haha. Aku saja sampai teringat dengan seseorang yang ku khawatirlan mengalamj hak yang sama dengan detektif itu, hingga nekad berlari menerobos hujan untuk sampai di kampus.
"Nacchan!"
Gemuruh hujan semakin terdengar.
"Ck!" akibat derasnya aku menjadi kesulitan melihat jalan. Ini membuatku kesal merasakan tiupan angin seolah akan menerbangkan ragaku jika aku lengah.
Akupun menantang angin yang ingin menghentikan langkahku menemui Nacchan. Jika ini Battle, aku takkan takut bahkan saat tubuhku benar-benar diterbangkan oleh tiupannya... Yang ku pikirkan hanya Nacchan dan keselamatannya sekarang. Dan sudah kuduga aku tidak bisa mengabaikan gadis itu! Meski dia sudah dewasa, dia tetap Nachhan ku yang imut, yang selalu membuntutiku dan menunggu kepulanganku dari sekolah dahulu.
Tiin! Tin!
Langkahku terhenti mendengar klakson mobil diarahkan padaku. Suaranya berasal dari belakang, dimana seorang pria mabuk hampir pingsan dan nampak marah-marah seolah aku menghalangi jalannya. Keparat itu, dia mengemudi saat keaadannya tidak stabil?! Bagaimana jika orang lain terluka karena dia mengendara?!
Aku sontak meraih smartphone untuk menelepon polisi. Ku katakan bahwa seorang pengemudi mabuk ugal-ugalan di jalan Xx. Untunglah Smartphoneku anti air, jadi, bisa ku awasi pria pemabuk itu hingga setidaknya polisi datang mengurusnya. Aku berdiam di tempatku.
"Heiii!! Awasss bodohhh!"
Ku abaikan teriakan si pengemudi dengan menatap kelain arah.
"Heiii !"
Aku tak peduli.
Aku tak ingin peduli namun anehnya, sebuah penampakan seorang gadis di ujung jalan sana, menarik atensi mataku hingga memperhatikan lebih jelas sosoknya. Gadis itu terduduk di sebuah bangku taman ditengah derasnya hujan, sendirian, mengabaikan bajunya yang sedikit robek dan basah memperlihatkan lekuk tubuhnya. Apa korban pemerkosaan?? Karena dia duduk membelakangiku, akupun gak bisa melihat wajahnya. Aku menjadi semakin penasaran hingga akhirnya dia bangkit dan beranjak dari sana.
Jantungku pun berhenti berdetak.
"A-akina?" aku tidak percaya.
Apa gadis itu benar-benar Akina?!
Wajahnya yang sendu dan raut sedih membuatku membeku hingga tak mampu berkata-kata. Akina menjadi korban pelecehan atau apa?! Kenapa dia berakhir seperti itu?! Siapa yang melakukannya?!
Begitu banyak pertanyaan yang membelenggu otakku tapi sialnya, tak satupun yang keluar sampai sebuah uluran tangan hinggap di bahuku.
"Hasegawa Daniel, penelpon?"
Oh, itu adalah posisi yang ku panggil. Akupun mengangguk dan menjawab beberapa pertanyaan darinya. Aku berlaju sabar hingga percakapan kami selsai, dan netraku kembali mencari sosok Akina di sekitar taman tapi, aku terlambat.
Hujan mulai mereda.
Aku kehilangan sosok Akina.
Aku terus memikirkannya di sepanjang perjalanan ke rumah. Firasatku mengatakan Akina sudah berada disana dan benar saja, saat aku membuka pintu apartemen, Akina menyambutku....
"Niichan! Lama sekali! Nicchan dari mana?"
Seperti... Biasa?
"Kina baru pulang dan terkejut Niichan tidak ada dirumah. Padahal makanan masih hangat di meja, Niichan habis dari supermarket, yah?!"
"Oh... Uhm," anggukku.
Ini aneh karena bukan raut sedih atau keterpurukan yang kulihat, melainkan sifat Aki a yang biasa.
Gadis itu bersikap seolah dia baik-baik saja. dia tak menunjukkan raut hampa, seperti saat dia terduduk di bangku taman ditengah hujan
Dia tak menunjukkan sikap yang mencurigakan. Atau mungkin tepatnya.
Dia berusaha.
***
Day free be Detective.
1 Days till Something.
Observe.
"Baiklah, Niichan! Kina berangkat dulu, yah! Semangat kejar deadline-nya! Sini!"
Mengulur tangannya yang terkepal, aku terkekeh menerima tranferan semangat dari Akina. Yeah, sejak dulu ini memang cara uniknya untukku menyemangati ku. Makanya tak menunda waktu, aku turut mengepal tangan dan mengadu pelan kepalan tanganku, dengan kepalan kecil Akina sebelum dia berlalu.
"Aku pergi,"
"Hati-hati yah,"
Cklek.
Akina pun menghilang di balik pintu.
Bagus!
Tanganku kini bergegas meraih jaket, topi dan kacamata hitam yang telah ku sembunyikan keberadaannya dekat rak sepatu.
Apa yang ku lakukan?
Memang menurutmu, apa tujuanku membohongi Akina kalau manuscript ku belum selesai? Apa tujuanku berpura-pura tidak melihatnya di bangku taman kemarin malam selain untuk, membuntuti kesehariannya hari ini!?
Benar! Sudah ku putuskan akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tanpa perlu Akina ketahui!
Aku takkan tenang setelah menyaksikan sesuatu yang begitu kacau. Jadi untuk seharian ini, Dan-senswi akan banting stir menjadi mata-mata yang akan mengawas segala aktivitas Akina! Langkahku pun berjalan beberapa meter dibelakangnya saat di trotoar... Keramaian orang-orang yang sibuk menuju tempat kerja atau sekolah mereka memenuhi jalanan dimana mana.
"Ck! Jika aku tidak fokus! Aku akan kehilangan dia!" batinku kala Akina berlalu semakin jauh, sementara aku terjebak dengan segerombolan orang yang hendak menyebrang.
Saat lampu hijau berubah menjadi merah, akupun bergerak mendahului orang-orang disana untuk mengejar Akina yang menaiki bus berwarna biru... Fyuhhh, untungnya aku sempat menaiki bus yang sama dengannya. Aku memilih berdiri membelakangi Akina yang terduduk mendengarkan musik lewat earphone. Aku berusaha tak terlihat mencurigakan meski beberapa bocah SMP memperhatikan penampilanku dengan mata waspada.
Ahhaha, mungkin menurut mereka style-ku ini terlihat seperti orang jahat, yah? Mungkin sih, soalnya seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya saja sampai menjaga jarak denganku. Melihat kewaspadaan orang-orang disekitar membuatku terkekeh canggung dibalik maskerku.
Netraku lalu kembali mengedar pandang. Sekali lagi, untuk melihat Akina yang ternyata sedang menatap gama keluar jendela. Tenggorokanku tercekat. Kenapa dengan Akina? Dia tak ceria, ekspresinya sama seperti dibawah langit hujan kemarin malam. Ekspresi yang membuat hatiku ikutan sakit saat melihatnya demikian.
"Nacchan..."
Disaat bersamaan bus berhenti. Akina turun dari bus dan aku beranjak mengikuti... Gadis itu melanjutkan perjalanan menuju kampusnya dengan berjalan kaki.
Sepanjang jalan, ku tepati Akina beberapa kali berhenti hanya untuk memandangi langit. Kebisuannya membiarkan hembusan angin menerbangkan helaian rambut indahnya, membuatnya nampak bagaikan main character anime drama. Kali inipun, dia berhenti cukup lama sebelum kembali melangkah menuju gedung kampusnya... Dan entah apa yang gadis itu pikirkan, tapi disini, hanya dengan melihat ekspresinya, aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku, sesuatu yang Akina tahan sendirian, persis seperti tokoh detektif didalam novel yang ku baca.
Akupun kembali mengawasi gerak-gerik Akina, mulai dari dia mengikuti kelas, menghadiri sebuah rapat club literasi, mencari buku di perpustakaan dan lainnya, hingga pada akhirnya jam makan siang membawa kami ke kantin... Tidak ada yang aneh dari semua aktivitasnya itu. Kecuali, Akina terlihat lebih menyendiri ketimbang berkumpul bersama teman-teman kampusnya. Namun, kurang lebihnya aku dapat memahami sebab Akina, baru saja memasuki kampus ini tiga bulan lalu.
Suasana baru, tempat baru, aktivitas baru, orang-orang baru. Bersamaan kepindahannya ke apartemen ku, kehidupan Akina yang baru memang baru saja dimulai... Terlebih, setiap orang memiliki masa adaptasi dan penyesuaian berbeda-beda.
"Wajar... Akina yang periang juga bisa gugup dan membutuhkan waktu untuk terbiasa," lirihku seraya menyeruput segelas expresso yang ku pesan untuk menemani duduk mengawas Akina.
Sementara Akina disana, duduk seorang diri dekat salah satu jendela yang langsung memperlihatkannya pemandangan kota dari lantai 5. Akina memakan sandwich yang dipesannya tanpa gairah.
Haish...
"Jadi sebenarnya, apa masalahmu, Nacchan?" batinku mulai kebingungan dengan konflik apa yang sebenarnya Akina alami.
Apa masalah pribadinya?
"Kareshi?" gumamku.
Tapi, jika akar permasalahannya tentang seorang pacar, aku belum melihat satupun pria mendekati Akina sejak tadi. Akina seperti yang kubilang, hanya terdiam menyendiri.
"Hahh!" Kembali ku hembuskan nafasku di atas meja. Arlojiku sudah menunjukkan pukul satu siang, hanya tertinggal dua jam hingga Akina menyelesaikan semua aktivitas kuliahnya dan kembali ke apartemen. Namun payahnya, sekarang saja aku belum menemukan satupun petunjuk kenapa Akina berakhir seperti itu kemarin malam.
"Apa pengamatan ini sia-sia?" batinku. Ketika tak sengaja seorang gadis memundurkan kursinya dan menabrak belakang kursi ku.
"Oh! Ma-maafkan saya Oji-San!" dia membungkuk saat ku tolehkan kepala.
Ta-tapi apa katanya? Paman??
"Aoi Chan, makanya hati-hati!"
"Maaf yah, paman~"
"Ukh!"
Meski sedikit tak suka dipanggil paman, aku yang sudah mengenakan masker lagi hanya mengangguk menjawab permintaan maaf gadis itu dan beberapa temannya yang duduk di belakangku.
Yeah... Mungkin karena aku sudah berkepala tiga dan style ku seperti ini, orang-orang jadi melihatku seolah aku sudah sangat tua. Agak geram sih, tadi sudahlah. Aku kembali membuka masker untuk menyeruput kopi, dan kembali memperhatikan Akina yang masih menyantap sandwichnya tanpa niat berarti. Hingga...
"Pfft! Begitulah nasib ayam kampus, gosip yang tersebar mengakhirinya menjadi menyedihkan... Tak ada satupun orang yang mau melihat ke arahnya, bukan?"
Gadis-gadis yang duduk dibelakang ku memulai obrolan mereka. Awalnya, aku tak merasa aneh dengan topik yang mereka bicarakan. Tidak sampai nama seseorang disebut dengan pangggilan yang sangat tak pantas.
"Akina si murahan,"
"Ayam kampus sepertinya pantas di jauhi, dia berani menggoda dosen kita yang sudah beristri. Dia jalang tak tahu diri!"
***
At The same Day.
1 Days, Till On My Eyes.
Weakness
BRAKK!
Sebelumnya, hentakan kaki segerombolan orang terdengar memasuki kantin.
Namun aku yang masih terkejut mendengar gosip tentang Akina dari gadis-gadis yang duduk dibelakangku, tidak menduga bahwa segerombolan orang itu akan menghampiri meja Akina dan menggebrak meja disana. Habislah makanan dan minuman yang bahkan belum Akina setuh berhamburan di lantai.
"Ikut Gue!"
PLAK!
Kegaduhan pun terjadi saat Akina mencoba melawan dengan menepis tangan gadis berambut merah yang hendak menarik tangannya. Gadis berambut merah itu sempat terdiam menyeringai, lalu dibantu teman-temannya yang berjumlah 15 orang untuk menyeret Akina keluar kantin.
Aku sontak panik tapi saat ingin mebghanpuy, langkahku kembali tersendat oleh pengunjung kantin yang juga ikutan memenuhi ruangan kantin. Aku berdesak-desakan mencoba keluar demi tak kehilangan jejak Akina yang sudah mereka bawa.
"Shit!" Tapi saat aku berhasil, Akina dan segerombolan orang-orang itu tak lagi nampak di koridor. Sungguh, aku merasa bersalah karena tidak mencegah mereka saat membawa Akina. Aku menyesal tidak mengetahui kemana tujuan mereka, tapi yang jelas, kakiku tidak berhenti berlari menyusuri gedung.
"Hahh! Hah!" hingga akhirnya aku kehabisan nafas dan memegangi lututku, seorang pria yang mendadak lewat disampingku, ku tahan meski dia nampak terburu-buru.
"Chotto!" ujarku setengah berteriak karena nafas yang tak beraturan. Pria itupun terdiam dan menoleh padaku saat aku juga menoleh padanya.
"Kau?!" dia mempertemukan manik kami yang rupanya saling mengenal satu sama lain.
"Dan-sensei?!"
"Ayumu-kun?!"
Argh! Apalagi sekarang?!
Kenapa Ayumu ada disini?!
"Apa yang kau lakukan disini, Daniel-san?" tanya Ayumu membantuku berdiri. Ayumu tahu fisikku memang tidak kuat. Aku pun menepis tangannya.
"Itu seharusnya pertanyaanku! Apa yang seorang ediomtor manga lakukan disini?!" bentakku, tak peduli jika orang-orang disekitar mulai memperhatikanku dan Ayumu.
Ayumu namun tak menjawab. Dia terlihat ragu mengatakan sepatah kata lewat Bibirnya hingga mengalih pandang, seolah sedang berdilema dengan otak nya.
"Ayumu-kun!" bentak ku.
Pikiranku sedang kacau Sekarang. Dan kehadiran Ayumu yang hanya terdam hanya membuatku semakin kesal!
"Ck!" Ayumu Akhirnya merespon ku dengan helaan kasar, yang dia keluarkan seraya menarik tanganku.
"Eh?! Ayu--"
Ayumu menatapku nyalang. "Sudah waktunya! Kau ingin mengetahui apa yang sedang ku lakukan, bukan?! Kau pasti juga sedang mencari Akina!" tuturnya saat berlari.
Dia benar.
Tapi kenapa bisa?!
"Apa kau terlibat dengan segerombolan orang yang membawa Akina keluar dari kantin?!"
Ayumu menggeleng. "Tidak! Lebih tepatnya, aku datang untuk menjadi super Hero panggilan Ayumi!" sahutnya. Semakin mendengarnya, akupun semakin pusing.
Aku memilih diam dan mengikuti langkah Ayumu menuju sebuah taman terbengkalai yang terletak tak jauh dari area gedung. Taman itu adalah taman yang kumuh, yang hanya dipenuhi barang rongsok juga udara tak bersih.
Brak!
"Jalang!"
Dan segerombolan orang yang baru saja mendorong seorang gadis ke sebuah tong sampah.
Manikku membulat.
Untuk beberapa saat, langkahku turut memelan saat pemandangan akan perundungan itu menyapu netraku didepan sebuah gudang taman tak terpakai.
"A-akina??"
"Dan-Sensei!" Ayumu mendesis, meraih tanganku untuk bersembunyi dibalik semak bersama seorang gadis yang entah sejak kapan sudah berada disana.
"Eh? Daniel Sensei ada disini?" Ayumi, alias adiknya Ayumu menatap terkejut kehadiranku yang datang bersama kakaknya. Aku namun tak membatas tatapan itu, seluruh Atensiku sudah di ambil melihat kejadian didepan sana. Ayumu yang berlutut disebelahku turut mendengus lelah melihat kelakuan mereka.
"Anak muda zaman sekarang, mencari kesenangan dan pembuktian dengan cara menindas...!" Lirihnya kesal. Ayumi mengangguk setuju.
"Itulah kenapa Yumi nggak bisa tinggalkan Kina sendirian. Meski Kina dan Yumi belum pernah berteman. Yumi tahu, kalau Kina tidak seperti yang mereka bicarakan. Kina hanya sedikit spesial. Makanya pembullyan ini adalah kesalahan besar, benar kan, Nii-san?" tutur Ayumi terbalas Angguk Ayumu.
But, Whatcha Hell?! Apa mereka tak memikirkan kebingunganku disini?!
"Aku akan menyelamatkan Nacchan!!" Sergahku hendak melangkah, jika saja tangan Ayumu tidak menahankh dengab cepat. Ku tatap nyalang dirinya meminta penjelasan.
"Calm down, Daniel. Kau sendirian takkan mampu menghadapi mereka! Ingat darah rendahmu!"
Aku berdecak, "Kalau begitu kita maju bertiga! Apa kalian hanya akan mengamati Akina di bullying disana?!" Protesku
"Daniel-san" dan tidak ragu menjawab kekesalanku, Ayumi yang nampaknya pemalu buka suara. "Tenanglah... Itulah gunanya kita menunggu. Ayumu Nii-san akan kesana dan menghentikan mereka semua seperti biasa," ungkap Ayumi memekak mataku. Hal itu bersamaan Ayumu yang menepuk bahuku seolah membenarkan kalimat Ayumi.
"Ayumu--"
"Ayumi akan menjelaskan lengkapnya, kau bisa menyerahkan Akina Padaku, Dan-sensei..." tambahnya, sebelum tanpa permisi berjalan keluar semak, mendekati segerombolan orang yang menindas Akina di depan gudang tersebut.
Ayumu melakukan percakapan singkat kepada mereka semua setelah datang dan menunjukkan sesuatu dari dalam sakunya. Apa yang mereka bicarakan aku tak bisa mendengarnya karena jarak, disat itulah Ayumu menarik ujung jaketku untuk bicara.
"Daniel-san, maaf yah, kau pasti bingung dengan semua yang terjadi. Makanya akan Yumi uraikan mendetail," tuturnya tanpa berani melihat mataku. Akupun mendengarkan tanpa melepas pandang dari Ayumu yang kini justru di pojokan oleh segerombolan orang disana.
"Perundungan ini terjadi sejak sebulan lalu, Daniel-san... Sebelumnya, kehidupan kuliah Akina-chan berjalan tanpa masalah, dia di sukai banyak orang karena sikap cerianya, dia cantik, pandai, humoris, baik hati dan tak pernah ragu untuk menolong. Sosok Akina Chan adalah kandidat mahasiswi terbaik atau (Quen Of The Year) yang akan dipilih akhir tahun nanti... Universitas kami selalu mengadakan kompetisi seperti itu, dimana penduduk kampus akan memilih beberapa orang yang patut dijadikan contoh untuk membangun kedisiplinan. Reward yang di dapatkan oleh Queen of the year juga tak pernah nanggung, pemenangnya akan diberi kelas ekslusif untuk satu mata kuliah yang dia suka dalam jurusannya, uang dan piala juga akan didapatkan selama setahun penuh... Makanya, ada begitu banyak yang mengincar posisi tersebut."
Brak!
Disana, Ayumu kembali di dorong hingga punggungnya membentur sebuah tong. Manikku pun melirik Ayumi yang nampak masih tenang meski kakaknya nampak merintih kesakitan. Ayumu hanya menatap kebawah seolah menyesali sesuatu.
"Lalu?" tanyaku terbalas tolehannya.
"Lalu suatu hari, segerombolan orang-orang yang disebut King Maker mendatangi Yumi. Mereka adalah sebuah perkumpulan yang hanya mendukung satu kandidat dan menjatuhkan kandidat yang lain... Yumi termasuk kedalam kandidat Queen tanpa Yumi ketahui, lalu King maker..."
Kalimat Yumi menggantung menatap segerombolan orang yang masih memberi pelajaran kepada Ayumu.
"Mereka menindasmu?" sambungku terbalas angguk pasrah Ayumi.
"Mereka menindas para kandidat hingga para kandidat menyetujui bertingkah buruk dan menghilangkan kepercayaan orang-orang kampus untuk memilihnya. Begitulah cara kerja King Maker di universitas ini... Tapi dalam kasus Ayumi, entah suatu keberuntungan atau justru kesialan, Akina Chan datang saat King Maker menindas Yumi. Akina Chan berusaha menyelamatkan Yumi dan dia hampir berhasil melawan separuh dari mereka dengan karate miliknya. Namun kemudian, salah seorang dari King Maker menyadari kelemahan Akina Chan,"
Jantungku berdebar cepat menatap Ayumi yang juga menatapku untuk memastikan sesuatu. "Di telapak tangannya, bukan? Daniel-san... Akina Chan mudah lemas dan mudah terangsang saat telapak tangannya di sentuh,"
Deg!
Jadi karena itu?
"ARGHH!"
Baru saja ku alihkan pandangan sebentar, teriakan Seseorang yang seolah menahan sakit mengejutkan kami hingga reflek menoleh memastikan apa yang terjadi.
"Siapa... Dia?" kalimat itulah yang pertama ku ucapkan kala melihat Ayumu telah membalikkan keadaan. Entah sejak kapan pria itulah yang memimpin perkelahian disana. Dia sudah menjatuh lima orang yang tadi menindasnya, dengan tangan kosongnya. Manikku membulat merasakan atmosfer berbeda kala Ayumu mengelap hidung mimisannya dengan seringai.
"Ayumu Nii-san adalah salah satu anggota kepolisian khusus distrik, Danieal-san. Pekerjaannya sebagai editor hanya pekerjaan sementara karena bahunya sedang cedera setelah melakukan misi negara,"
Mulutku mengaga. "Ha?!" Mana bis aku percaya! Tapi kini Ayumi menatap serius kearahku.
"Niisan mengatakan pada Yumi Untuk menyembunyikannya dari siapapun. Makanya untuk mengisi waktu luangnya sebelum kembali ditugaskan, selain menjadi editor, Niisan menyelidiki kasus-kasus penindasan di beberapa sekolah dan universitas... Suatu kebetulan, karena kasus pembullyan terbesar terjadi di universitas adiknya sendiri. Pembullyan yang sudah melebihi perundungan biasa ini telah mencoreng nama baik Akina Chan dengan kabar-kabar tak benar," ungkap Ayumi. Kini matanya menatapku dengan tatap bersalah.
"Karena Yumi, kelemahan Akina Chan tersebar dan memunculkan gosip bahwa Akina Chan adalah ayam kampus yang menggoda salah satu dosen. Akina Chan di tindas habis-habisan oleh King Maker. Akina Chan, tak melawan mereka karena sesuatu yang tidak Yumi ketahui... Makanya meski tak seberapa, Yumi mencoba membantu Akina Chan dengan meminta bantuan Ayumu Niisan," air mata Ayumi tumpah di depanku.
"Gomen... Maafkan Ayumi yang telah menghancurkan Kehidupan kampus Akina Chan, hiks... Seharusnya Yumi lah yang di tindas, bukan Akina..." sesenggukan mengatakan semuanya, aku yang mulai memahami keseluruhan kisah yang Ayumu ceritakan hanya bisa mengelus puncak kepala Ayumi, dengan haraoan gadis jfu berhenti menangis.
Entah sejak kapan perhatianku teralihkan dari Ayumu yang membalikan keadakan disana... Akupun sejak tadi tak menjelaskan apa yang Akina lakukan sejak Ayumu datang menolongnya karena, Akina hanya terdiam di tempatnya dan menatap gama bentangan langit diatasnya. Dia terus melakukan hal itu hingga Ayumu membantunya berdiri setelah sisa anggota King Maker melarikan diri.
Akina dibawa oleh Ayumu. Dan Ayumu memberi isyarat pada kami untuk kembali.
***
Daynight
2 Days Till I Heard the Truth.
Hear
"Maaf baru kukatakan kebenarannya sekarang, Dan-sensei. Meski sejak awal aku tak berniat memberitahumu tapi, sepertinya takdir tak mengizinkanku untuk itu, jadi..." meraih tanganku tuk menyerahkan sebuah perekam suara kecil, Ayumu beranjak pergi.
"Ini sebagai permintaan maafku. Sesuatu yang mungkin harus kamu ketahui, tentang kenapa Akina hanya berdiam tak melawan perundungan king maker."
Itulah semua yang Ayumu katakan, sebelum dia beranjak meninggalkanku di halte bus seorang diri, untuk mengantarkan Akina pulang ke apartemenku dengan mobilnya... Ayumu mungkin, ingin aku mengambil waktu memahami keseluruhan cerita sebelum betatap muka dengan Akina. Dia ingin aku mengambil keputusan tentang apa yang harus kulakukan setelah melihat semuanya.
Akupun kini beralih menghubungkan earphone di perekam suara yang Ayumu berikan. Netraku memandang bentangan langit malam diluar jendela bus. Mendengarkan dengan seksama saat perekam suara, memutar kilas balik kejadian.
~
Author POV.
"Hei... Hentikan. Sudah kubilang sebelumnya, kau takkan bisa memaksanya menyerah~" datang dengan tangan kosong menghampiri King Maker, Ayumu melengkung senyum lirih, senyum yang meremehkan kemampuan bertarung 15 orang di hadapannya.
Ayumu siap akan konsekuensinya.
"Gadis itu bangga dengan apa yang dia miliki, tidak seperti kalian yang gila mencari hal sempurna di dunia ini. Dia adalah kandidat Queen terbaik."
"Keparat kau!" salah seorang dari mereka sontak meraih kerah kemeja Ayumu. "Jumlah kami lebih banyak dari waktu itu dan kau masih datang ingin menjadi pahlawan?! Kau gila Old Man!"
Brak!
Ayumu di hempas. "Pfftt! Hahaha!" namun maniaknya bukan rintihan, melainkan sebuah tawa yang pertama dia udarakan. Ayumu menantang dengan terbahak menatap segerombol King Maker yang berdiri mengelilinginya.
"Bravo. Kalian pikir bisa mengalahkan ku?" Ayumu mendesis.
"Cih, seharusnya itu kalimat kami, Old man! Kau takkan tahu sebelum kami membuatmu babak belur!"
"Aku terima~"
Bugh!
Satu pukulan mendarat ke perut Ayumu. Tubuhnya yang kurus sampai melengkung, merasakan rasa sakit seolah asam lambungnya naik ke mulut. Ayumu pun terbatuk. Rasa sakit yang membuatnya membutuhkan beberapa waktu untuk melihat, di gunakan anggota King Maker menahan tubuh Ayumu.
"Menyerahlah old man, kau takkan mampu melawan kami... Kau sama busuknya dengan jalang yang mudah terangsang seperti dia!" ucap wanita berambut merah menunjuk langsung pada Akina.
Ayumu menghela, "Kalian yang menyebar gosip tak benar tentangnya. Kalian melupakan setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, kalian hanya takut dengan kelebihan Akina yang akan menjatuhkan kandidat yang kalian pilih, bukan?" sungut Ayumu, dia tersenyum. "Begini saja, bagaimana jika King Maker mendukung Akina Chan?"
"Old man sialan! Hajar dia!" enggan melanjutkan perbincangan yang hanya membuat mereka kesal, pemimpin dari mereka mentitah segera menghabisi Ayumu secara bersamaan, namun atmosfer seketika berat, ketika aura yang ditampilkan Ayumu berubah saat menghempas dua orang yang menahan tubuhnya.
Bagai helaian daun. Dua orang itu terlempar cukup jauh.
"Ini baru dimulai, adik-adik,"
"Urk!? HAJAR!!"
Drap drap.
King Maker yang sempat tersentak pun mulai bergiliran menghajar Ayumu yang sudah mengambil siap siap. Mereka bekerja sama seperti yang sudah di rencanakan sebelum menyergap Akina di kantin, tapi sayang seribu sayang, kekuatan 15 orang dari mereka belum cukup melawan Ayumu yang sudah mendapat pelatihan khusus negara sebagai kesatuan polisi khusus.
Ayumu membalikkan keadaan seperti mengedipkan mata.
"Fyuhhh," Ayumu tak bermaksud sombong, tapi penghajaran King Maker terhadapnya dirasa lebih mudah dari latihan militer yang pernah dia jalani. Ayumu hanya mendapat sedikit luka gores di kepalanya karena gesekan sebuah seng. Tapi tak apa, Ayumu maiah bis mengangkat tubuh Akina yang melemah.
Kenapa Akina hanya diam saja?
"Hei... Kau bisa mendengarku?" Ayumu beranjak mendekati Akina. Gadis itu namun terdiam. Ayumu yang mengetahui apa saja perbuatan King Maker, bergegas meraih saku kemejanya untuk memberikan pil penawar kepada Akina.
Saat dibawa kemari, Akina pasti diberi obat penenang Arxicated Prx. Obat ilegal yang digunakan untuk menghilangkan 50 persen kesadaran seseorang. Kenapa hanya 50 persen? Karena obat ini diciptakan untuk menyiksa. Seseorang yang meminumnya takkan bisa melawan meski di perkosa atau di buat babak belur sepenuhnya. Produksi Prx pun telah dilarang oleh negara karena penggunaan yang salah oleh beberapa organisasi, belum lagi, efek samping yang terlalu berbahaya karena bisa menyebabkan seseorang amnesia... Entah dari mana para keparat berlabel King Maker itu mendapatkan Prx.
"Akina-San," Ayumu kini hendak mengangkat tubuh Akina setelah memberikan obatnya.
Akina pun akhirnya bisa memandang objek lain selain langit, untuk beberapa saat tubuhnya lemas dan mati rasa tapi sekarang, Akina bis menolehkan kepalanya.
"A-anda lagi?" Maniknya menatap sekeliling taman. "Anda... Menyelamatkan Kina lagi Ayumu-san" tutur Akina menurunkan pandangnya.
"Terima kasih," lanjutnya tatkala Ayumu justru menghela.
"Kenapa kau tidak juga melawan mereka? Setidaknya dua atau tiga orang, kau memiliki kemampuan karate, bukan?"
Akina terdiam. "Percuma. Jika Kina melawan, mereka akan memberikan Kina pil itu. Jika Kina menggunakan karate, mereka akan menyiksa Kina dengan mengelus telapak tanganku menggunakan jari kotor mereka... Kina lebih memilih memakan pil itu dan di hajar," ungkapnya.
Lagi lagi, jawaban serupa yang membuat Ayumu enggan kembali bertanya. Tapi Ayumu takkan menahan semuanya terungkap kali ini.
"Kenapa kau tidak memberitahu Daniel?"
Akina menggeleng. "Bukankah sudah Kina bilang, ini tak ada hubungannya dengan Niichan. Niichan sudah berbaik hati membiarkan Kina tinggal di apartemen nya, Niichan tidak pernah sembarangan menyentuh Kina, niichan selalu menjaga, menghargai dan melindungi Kina..." sahutnya, beralih memantmdang telapak tangannya. Akina tersenyum. "Ini salah Kina memiliki tubuh yang aneh... Kina selalu menyesali memiliki tubuh yang aneh seperti ini. Tapi kemudian, semua penyesalan itu berubah ketika dengan tubuh ini, Kina bisa membantu Niichan melanjutkan manga nya,"
"Kau bodoh,"
Akina tertawa, "Anda benar. Tapi yang Ki a coba lakukan sekarang hanyalah, mensyukuri yang ada pada tubuh ini dan tak lagi menolak kelebihan serta kekurangan Kina lagi. Kina ingin berterima kasih kepada Niichan dengan menunjukkan kalau Kina bahagia, Kina tak ingin merepotkannya lebih dari ini sebab, jika bukan karenanya, selamanya, Kina mungkin akan terbelenggu dalam rasa malu memiliki tubuh yang aneh seperti ini... Kina mencintai Daniel Onii Chan, lebih dari yang Kina duga,"
Itulah yang Akina katakan, kalimat yang mencakup kenaifan dan keegoisannya, tanpanya sadari akan menetes air mata Daniel.
Author POV end
~
***
Epilog
4 hours Till Daisuki Dayo.
Tadaima
Turun dari bus menatap arloji yang telah menunjukkan pukul 8 malam, langkah ku berjalan menyusuri gedung-gedung di sekitar pusat kota. Apartemenku terletak di belakang sebuah Giant Supermarket yang sering ku kunjungi bersama Akina di akhir pekan.
Tak membutuhkan waktu lama sampai aku sampai di gedung apartemen. Aku pun memasuki lobinya dan berjalan menuju lift.
Ahhh...
Perasaanku campur aduk sekarang.
Disatu sisi aku merasa bersalah karena baru mengetahui kebenaran tentang kehidupan perkuliahan Akina. Di sisi lain, jantungku berdegup kencang seolah ini adalah kali pertama, setelah sekian lama, aku akan kembali bertemu Akina.
Aku merasa bersalah karena tak bisa menghentikan king maker yang menyerap Akina di kantin. Aku merasa tak berguna.
Aku gugup.
Ingin menangis.
Dan...
Cklek
"Nii-Chan?"
Waktuku seolah berhenti kala Akina berada tepat di depan pintu ketika aku membukanya. Wajahnya nampak khawatir.
"Niichan pergi ke mana?!" Akina bergegas menghampiri ku. dengan sungutan kecil, wajahnya yang marah nampak semakin imut.
"Nichan tidak mengabari Kina kalau sedang keluar! Kenapa?! Kina panik Niichan baru pulang, tahu!"
Ah... haha. Bodohnya baru kusadari Akina memang sangat imut sejak dulu.
Gadis kecil yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, yang memaksa tinggal di apartemenku meski aku seorang laki-laki, yang berpura-pura bahagia demi tak ingin membuatku khawatir, dan yang diam-diam begitu mencintaiku hingga aku merasa bersalah tidak pernah melihat dirinya sebagai wanita seutuhnya.
Akina pada faktanya memendam begitu banyak hal dan mencoba menyelesaikan semua itu seorang diri, persis seperti detektif di dalam novel yang kubaca. Sementara aku, aku bukanlah sosok villain yang berhasil menyelamatkannya dari perundungan king maker. Aku hanya diam memperhatikan.
Aku...
"Ne~ Nacchan," kepalaku tertunduk karena segan menatap mata Akina yang selalu berkilau setiap memandangku.
Akina menaut alisnya. "Nani?" nampak gurat penasaran dia tampilkan hingga menipiskan jarak, mengintip ekspresi apa yang ku buat
"Eh? Nii- Niichan?" Akina tertegun.
Aku ketahuan, yah?
GRAB!
Akupun melepas semua perasaan yang sejak tadi ku tahan. Melalui sebuah pelukan di mana tanganku mendekapmu Akina begitu erat. Aku tak ingin gadis ini, sosok ini, menyimpan semua masalahnya seorang diri lagi. aku merasa kecewa pada kurangnya kepekaanku, tapi untuk kali ini, aku ingin Akina membagi semua perasaannya bersamaku.
Tapi...
Bisakah?
Dapatkah?
"Ni Chan... Apa sesuatu terjadi? Apa semua baik-baik saj--"
"Jangan lagi..."
"Eh?"
Melepas perlahan pelukan kami, kutatap wajah Akina yang kebingungan. Tanganku mengelus pipinya. "Jika menurutmu dengan menyembunyikan semuanya, dirimu akan baik-baik saja, aku takkan menentang pilihanmu... Tapi, jika kamu masih memilih pilihanmu itu, aku mungkin akan semakin jauh darimu. Pilihan itu membuatmj membangun benteng diantara kita, tidakkah kau sadar?"
Akina terbelalak. Nampaknya dia tahu apa yang ku bicarakan. "Ba-bagaimana mungkin? Tentang King...King Maker, dan gosip itu, Niichan sudah...?"
Aku mengangguk. Di saat yang sama Kina melangkah mundur. "I-ini bukan hasil yang Kina inginkan. Niichan, percayalah, Kina hanya..." Maniknya mulai berkaca-kaca. "Kina hanya tak ingin Niichan terluka! Nicchan sudah melakukan banyak hal untuk Kina."
Aku tahu.
Aku sudah mendengar semuanya.
Bukti bahwa kamu sangat mencintaiku dan memikirkanku.
"Akina..." Hingga mengulurkan tangan menyeka buliran air matanya. Kuharap Akina lebih bersandar padaku sekarang.
"Hiks! Gomen... Niichan~"
Aku meraih tubuhnya. "Baka, itu kalimatku!" mendengus seraya memeluknya, ku benamkan hidung ini dipuncak kepala Akina. Aroma dari Shampo yang dia pakai pun menyeruak, mendebarkan jantungku kala kami bertatap mata.
"Niichan?"
"Be my Tadaima, Akina."
(End)
***
Author note: Pendakra disini, mau minta maaf kalau banyak typo yah... Dakra udh lama banget gak update cerpen, hiks... Tapi bismillah! Kedepannya bakal sering🤍 makasih yahh udah baca sampai akhir.