Dimalam gelap gulita, rintik - rintik kecil hujan menambah kengerian malam. Disebuah rumah yang pada saat itu kira - kira jam 12 lewat, semua lampu mati. Tidak ada satupun makhluk yang beraktivitas karena sedang tertidur lelap untuk beristirahat.
Kecuali pada sebuah kamar dilantai 2, kamar seorang gadis yang ditumpangi oleh teman-temannya untuk menginap. Mereka tidak tidur pada malam ini karena sedang melakukan 'ritual' yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang menginap. Yaitu 'berceritakan seram'.
"Cerita ini selesai." Ucap seorang gadis untuk mengakhiri 'kata-kata' yang ia sampaikan.
"Cerita apaan itu? Gak jelas banget!" Komentar muncul menilai ketidakjelasan gadis tersebut. Temannya yang berambut coklat panjang tergerai ikal terlihat menautkan kedua alis tipisnya saat menanggapi cerita tersebut.
"Belom cerita udah bilang 'cerita ini selesai'. Yang bener dong Febian! Kayak gak ada ide aja." Dan komentar keras tambahan dari teman lainnya yang rambutnya diikat kecil disebelah kiri kepalanya. Baju piyama bergambar karakter kartun Kucing yang dikenakannya membuat dia seperti anak kecil, padahal sudah berumur 13 tahun.
"Hey!! Dapet ide dari urutan pertama bercerita itu sulit tau!" Balas Febian menghadapi ketidakadilan komentar 2 sahabatnya ini. Kedua orang sahabatnya ini bernama Nadira dan Cika.
Sosok Nadira adalah gadis tomboy dengan rambut panjang coklat membuat dirinya mendapat kesan dewasa dan tegas. Apalagi dengan wajah serius yang sering dia tunjukan. Sedangkan Cika kebalikannya. Wajah imut dan berparas kekanak-kanakan adalah gayanya. Apalagi dengan sifatnya yang petakilan, cerewet, dan heboh sendiri. Contoh sempurna remaja rasa anak kecil. Lalu Febian, gadis sederhana dengan penampilan sederhana. Rambut hitam lurus bermodel bob seleher. Kulit kuning langsat dan postur tubuh sedang. Jika dipikirkan lagi, dia hanya gadis biasa yang tidak mencolok karena masalah terbesarnya 'Malas' dan 'Seadanya'. Tapi jika dia mau merawat dirinya sebentar, Febian tidak kalah cantik dengan teman-temannya.
Setelah mengelah nafas panjang, Nadira angkat bicara, "Kalo gitu gantian gw aja. Pas banget gw udah dapet cerita paling serem yang baru gw denger dari anak kelas sebelah".
"Cerita apaan? Jangan - jangan yang itu lagi?" Tanya Cika memastikan dengan gaya sok tau.
"Cerita kematian si Dayu dari kelas sebelah itu 'kan? Bukannya dia mati ketabrak bus pas mau pulang les?" Jawab Febian blak - blakan.
"Iyap, bener." Jawab Nadira sambil menjentikan jarinya. "Tapi katanya ada cerita lain yang tersembunyi dari kematian Dayu." Lanjut Nadira.
"Kematian Dayu adalah kutukan dari Pria Pembenci."
CTAR.
Suara amukan petir menyambar entah kemana. Ditambah air hujan yang turun kian deras bagai memperingatkan mereka untuk berhenti bercerita. "Kyaa!!! suara petirnya bikin kaget!" bentak Cika dengan suara cempreng yang terendam dalam bantal besar yang dia peluk.
"Pria pembenci? Ada lagi nih yang makin gak jelas." Komentar Febian. Padahal ceritanya saja belum dimulai. Kesal dengan komentar temannya, Nadira mulai cemberut. "Hih! Makanya dengarin dulu asal mulanya!" ucap Nadira sambil menggerutu.
"Jadi, kita singkat saja namanya jadi PP. Dulunya adalah seorang budak di perusahaan pertambangan yang masih berumur 17 tahun bernama Egigara."
"Setiap hari Egigara menggali tanah tidak henti-hentinya. Bahkan makanan pun tidak dikasih sampai dia harus mencuri makanan milik penjaga. Bukan hanya itu, dia juga diperlakukan seperti hewan."
"Sampai pada suatu hari, dia sudah tidak tahan dengan perlakuan tersebut lalu berniat gantung diri. Konon katanya, sebelum dia gantung diri, dia mengucapkan sumpah serapah kepada orang yang membuatnya menderita dengan dendam yang mengerikan. Sehari setelah kematiannya, orang yang ternyata bos Egigara menjadi susah tidur karena digentayangin. Makan dan minum juga susah dan akhirnya mati setelah 17 hari penyiksaan sama seperti waktu dia 'membeli' Egigara."
Nadira pun selesai bercerita. "Gimana? Serem gak? Lalu katanya Egigara bakal ikutin orang yang punya dendam sama. Target yang mendapat dendamnya bisa rasain apa yang si pendendam rasain. Semacam karma gitu." tambah Nadira.
"Jadi maksudmu Dayu meninggal gara gara ada yang dendam? Ooh, mungkin sama kak Rangga! Karena waktu kak Rangga nembak Dayu 'kan ditolak!! Iya! Pantesan aja ada hawa-hawa gak enak pas papasan sama Dayu!"
Baru selesai bercerita, Nadira sudah mendapatkan komentar dari Cika. "Eh, masa gitu sih? Yang bener aja! Masa hantu bisa bunuh orang? Saat manusia meninggal dia akan kembali ke Tuhan. Pikir yang logis dulu deh." Ucap Febian mencela pendapat Cika dengan pendapatnya yang religius.
"Deeeh, tumben bijak? Kesambet apa lo? Jangan jangan ada jin-nya nih". Balas Nadira. "Wahai jin yang mendiami temanku, keluarlah!" Dengan gaya-gaya bak dukun di TV yang pernah Cika lihat, dia mengusah kepala Fedian sampai rambut Febian acak acakan. Gak ketinggalan Nadira merapalkan doa-doa. 'Auzzubillahimina ssaitonnirojim'.
Merasa risih, Febian kabur dari dekapan teman-temannya dan membalas, "Ih! Apaan sih kalian? Aku itu memang bijak, cuma ketutupan sama.."
"kegilaannya itu!!" Setengah teriakan kompak dari Nadira dan Cika bagai menampar wajah Febian. "Tau aja kalian." Balas Febian sambil nyengir.
Kemudian 3 sahabat itu ketawa keras semalaman, sampai... "Febian!! Cepat tidur. Om Halin sama Nikolas akan datang besok." Suara ibu Febian mengusir tawa mereka. Kemudian 3 sekawan itu pura pura tidur saat ibu Febian datang kemari. Awalnya memang pura pura, tapi Nadira menyarankan mereka agar 'benar-benar tidur'. Febian dan Cika mengikuti saran Nadira karena mereka juga telah lelah. Akhirnya malam jadi benar - benar sunyi.
Saking sunyinya, sebuah suara serak 'seharusnya' dapat terdengar jelas. Tapi samar karena sebuah alasan. "Oh, mereka menceritakan kisahku ternyata. Tapi itu kebanyakan salah! Akan aku ceritakan kisah yang sebenarnya."
🍃🌷🍃
Besoknya,
"Dadah, Febian." Ucap Nadira sambil melambaikan satu tangannya kearah Febian.
"Makasih telah ijinin kita nginep disini tante." Ucap Cika sambil menyalimi tangan ibu Febian.
"Iya, gapapa kok. Lain kali sering - sering dateng ya! Biar rumah rame." Balas ibu Febian yang bernama Amandah hangat dan energik seperti biasa.
"Dadah kalian. Kapan - kapan ke rumah Nadira ya!" Tak ketinggalan Febian ikut mengucap salam perpisahan. Walau akan bertemu kembali disekolah besok.
Persahabatan mereka memang sangat erat. Buktinya mereka sudah bersama dari usia 5 tahun. Makanya saat berpisah rasanya sedih.
"Iya haha! Nanti gw hidangin pizza sampe lo semua muntah! Siap - siap ya!" Teriak Nadira dari kejauhan.
Dan mereka pun berpisah. Febian merasa baru semalam mereka berkumpul bersama, rasanya dia ingin cepat - cepat ke rumah Nadira. Mungkin.
Setelah kepergian mereka, Febian menghela nafas berat "Hah... ". Ibunya yang melihat Febian yang merasa lemas berkata "Hey, jangan lemas dulu. Jam 10 nanti om Halin dan Nikolas datang. Mandi dulu kamu! Nanti ibu bikinin sarapan".
Febian hanya angguk-anggukan kepala lalu berjalan lemas ke kamarnya dilantai 2 untuk ambil baju yang bagus untuk pertemuannya dengan Halin dan Nikolas. Setelah itu ke kamar mandi dengan perasaan segar. Dalam hati dia bergumam, "Gimana kabar Nikolas sekarang? Makin kuntet gak dia? Hehe."
Selasai urusanya dengan mandi, Febian mengenakan baju pilihannya. Baju T-shirt warna abu abu pucat dengan campuran pink dan celana Jins biru selutut. Setelah memakai deodorant dan parfum berbau mangga, Febian turun tangga.
Belum dia sarapan, ternyata Halin dan Nikolas sudah datang. "Halo halo Amanah, Febian. Kita ketemu lagi!" Sapa Halin berseri-seri. Halin dan Nikolas sering berkunjung ke rumah Febian. Walau jaraknya jauh antara rumah Amandah di Jakarta dengan rumah Halin Bekasi.
Dikarena kepribadian Halin yang hangat dan tidak mau meninggalkan saudarinya sendirian saat suaminya pergi keluar kota. Sedangkan anaknya, Nikolas, adalah tipikal pendiam. Tapi untuk orang yang dia kenal, Nikolas akan terbuka. Seperti contohnya Halin ayahnya, Suri ibunya, Amandah tantenya, dan tentu saja Febian. Tapi lucunya tidak bagi ayah Febian. Mungkin karena jarang ketemu?
"Halo Halin, Nikolas." Sapa Amandah hangat sambil membawakan nampan yang diatasnya ada gelas Aqua dengan susah payah, tapi masih mempertahankan masih senyuman.
Kemudian Nikolas menyalimi tangan Amandah. "Hai om halin, Nikolas." Febian pun ikut menyusul mengucapkan hai, halo kemudian menyalimi tangan om Halin. "Hai tante Amanda. Hi juga Febian, kau masih cantik seperti biasa." Puji Nikolas saat melihat Febian.
"Nik, aku memang cantik dari dulu. Kecantikanku bahkan mengalahkan Nana Im Jin-ah." balas Febian sudah ke-ge'er-an.
"Tapi bo'ong." Seketika, balasan Nikoals yang menjebak pikiran Febian membuat harga diri Febian jatuh karena sudah ge'er duluan. Nikolas diam - diam memang menghanyutkan.
Merasa malu, Febian balas lagi sambil tertawa paksa, "Ha ha ha, orang syirik gitu deh." Dan meraka masih meneruskan perdebatan sampai ke meja makan. Dari soal kecantikan entah kenapa bisa berujung buaya. Aneh.
Dimeja makan, mereka kembali memperdebatkan yang sebelumnya dipintu masuk. Ibu Febian yang melihat acara debat mereka menyudahinya dengan berkata, "Udah, udah. Kalian makan dulu. Halin dan Nikolas pasti belum makan dijalan 'kan? Mari makan bareng. Febian, Nikolas kalian makan dulu baru main!".
Sontak mereka terdiam dan makan. Perubahan suasana itu bisa terjadi karena mereka tau jika Amandah marah, hal buruk akan terjadi. Mereka pun sarapan sepotong roti dengan tenang dimeja, sedangkan orang tua mereka berbincang diruang tamu.
Tapi karena Febian tipe orang yang tidak bisa diam, dia basa basi dengan Nikolas "Nik, mau ngopi? Diem diem amat". Nikolas yang mendengarnya membalas
"Gak, makasih. Kopi itu tidak baik untuk pertumbuhan, lebih baik susu".
"Yeh, payah. Masih minum susu" ledek Febian.
"Dari pada yang masih jomblo nunggu mantan balikan." balas Nikolas yang menyayat hati.
Karena balasan perih itu, Febian melepas rasa sopan-santun dengan saudara lalu membentak, "Heh!! Enak aja! Gw masih jomblo terhormat! Masih bersih suci dari pada lo yang udah jadian sama Risa".
"Emang aku jadian sama Risa? Tau dari mana? Aku bilangnya abis ditembak Risa tapi aku tolak. Sekarang siapa yang masih suci belum berbekas." Gejolak hati Febian sungguh kacau, dan sekarang rasanya dia ingin mencekik Nikolas. "Gw cekik lo!! %*$#@" Benar-benar kacau seperti biasanya.
"Eh Febian maaf dong, jangan marah marah lagi. Nanti cantiknya hilang loh. Febian kan cantik kalau senyum." Balasan yang tepat dikeluarkan Nikolas yang membuat Febian kehilangan amarahnya dan berganti perasaan malu. "Grrr!!" Dan rasa kesal. Perasaan yang gampang berubah ini karena Febian tipe orang yang moody.
Setelah beberapa lama kemudian, sebuah pikiran terlintas di otak Febian. Dia merasa gelisah kalau tidak mengatakannya ke Nikolas. Lalu dia berkata, "Lo tolak Risa? Kenapa? Bukannya dia cantik kata lo? Kaya lagi?! Hih, orang ganteng mah bebas, ya?".
"Hmm" Baru saja Nikolas memakan sarapannya, yaitu roti selai, dia harus menanggapi ocehan kepo Febian. "Ya, habis dia begitu anaknya. Manja, otaku, dan mengerikan. Aku gak ingin ada 'benalu' sebelum aku menikah". Pemilihan kata kiasannya sungguh bermakna dalam seperti biasa.
"Benalu? Kok kamu gitu banget sih ngomongnya? Dia bahkan berani nyatain perasaannya!" Febian yang mendengarkan merasa tersinggung dengan kata - kata dingin Nikolas.
Nikolas hanya menghembuskan nafas berat. "Sebenernya aku cuma malas pacaran. Dan pada akhirnya dia akan bosen dan kita putus. Itu bukan cinta tapi nafsu, itu yang akan terjadi nantinya. Lagian menolak tawaran dari Risa memang gak ada konsekuensinya? Dilabrak sama mantan, fans, dan temannya itu loh!! 7 orang aja! Untung orang cemen semua."
"Eh, gitu ya? Maaf. Sakit gak ngelawan mereka?" Febian kemudian merasa simpati.
"Gak apa - apa, sih" jawabnya enteng.
"Haha, iyalah. Anak Taekwondo masa cemen?".
"Kalo ada yang menyakiti kamu, aku akan lawan dia juga!"
"Pfft, untung saudara. Kalo gak udah gw nikahin lo."
"Dih, siapa yang mau nikah sama lo?"
"Oh gitu ya sekarang?!".
Dan mereka akrab lagi. Persaudaraan antara mereka memang aneh dan gak jelas, tapi akhirnya mereka selalu akur. Tapi, sepertinya ada yang tidak menyukai persaudaraan abstur mereka. "Nikolas suki, kenapa kamu pergi ke lain hati? Ini sebabnya kau menolakku? Aku benci kau!!".
Sesosok gadis bersembunyi disemak-semak hijau menatap tajam sepasang saudara yang membuatnya cemburu. Padahal dia hanya ingin mengikuti kemana Nikolas tapi dia mendapat sesuatu yang tidak terduga. Dalam api cemburu, dia tidak menyadari sesosok bayangan buram diatas pohon dibelakangnya.
"Hmm, Sempurna!"
- Bersambung - 🌸