Ruangan ini gelap dan lembab. Terletak di puncak bangunan. Tidak ada cahaya matahari yang masuk selain dari lubang ventilasi kmar mandi yang sangat kecil. Kampu berwarna kuning redup terletak di tengah ruangan. Tampaknya ruangan ini sudah lama tidak digunakan dan jarang dibersihkan. Rungannya sangat berdebu dan dindingnya tanpak berjamur. Hanya ada satu pintu untuk keluar dari ruangan ini dan pintu tersebut terkunci sangat rapat.
Seorang gadis berusia 23 tahun, Ia terbaring di atas kasur di atas ranjang di pojok ruangan. Seprainya tampak sangat lusuh. Warnanya putih sudah hampir kekuningan. Gadis itu menatap kosong ke arah langit-langit. Pikirannya kacau, begitu pula wajah dan tubuhnya. Tubuh dan wajahnya sudah di penuhi memar berwarna ungu hampir kehitaman. Rambutnya sudah sangat kusut, helaiannya terjuntai dan mencuat ke mana-mana, tidak terikat dan menggumpal di beberapa bagian akibat terkena bekas darah yang sudah mengering. ia tidak dapat meminta batuan siapapun karena satu-satunya barang yang ia miliki sekarang hanya baju yang menempel di tubuhnya.
Ia harus memikirkan bagaimana caranya keluar dari ruangan ini. Ia harus segera keluar dari neraka ini. Gadis tersebut sudah berusaha kabur berkali-kali tetapi gagal. Akhirnya ia harus mendapatkan pukulan di tubuh dan wajahnya. Si tuan rumah tidak akan suka ia keluar dari ruangan tersebut. Hanya ia yang memiliki kunci untuk keluar dari ruangan terkutuk ini. Ia akan masuk ke ruangan di puncak rumahnya pada pukul 07.00, pukul 13.00 dan pukul 18.00 untuk memberi makan tawanannya.
Si tuan rumah adalah seorang laki-laki berusia 25 tahun. Badannya tinggi, tidak benar-benar berotot tetapi cukup bertenaga untuk sekedar membuat seorang gadis tak bedaya setelah ia pukul. Ia terobsesi dengan gadis itu hingga membuatnya gila. Ia berpikir bahwa gadis yang di kurungnya hanya mencintai dia dan gadis itu hanya miliknya seorang. Dulunya mereka memang memiliki hubungan. Akan tetapi , itu sudah menjadi sebuah masa lalu. Gadis itu sudah memiliki pacar baru. Karena tidak terima ia akhirnya mencullik dan menyekap gadis itu di rumahnya. ia merasa perlu menyadarkan gadis itu bahwa ia hanyalah milik si tuan rumah seorang.
****
Hari pertama gadis itu di kurung, ia memuntahkan makanan ke wajah tuan rumah karena tidak sudi makan makanan dari si laki laki keji itu. Si tuan rumah mengelap wajahnya dan hanya terkekeh lalu pergi membuka pintu untuk pergi. Gadis itu berhasil mencapai pintu dan mendorong si tuan rumah hingga terjatuh, ketika kunci pintu terbuka. Akan tetapi, si tuan rumah lebih cepat. Belum sampai ia melewati pintu si taun rumah menarik kakinya hingga tersungkur. Lalu laki-laki itu memukulinya hingga hidungnya berdarah. Hari itu ia memang tidak makan makanan pemberian si tuan rumah dan hanya memakan darah yangg keluardari hidungnya. Rasanya mengerikan seperti logam.
Setelah gadis itu kehabisan tenaga, si tuan rumah bangkit dan membopongnya ke atas kasur lalu mengusap wajah gadis itu.
“Maaf, sayang” kataya lalu benar-benar pergi meninggalkan ruangan tersebut.
****
Hari kedua, ia harus makan makanan yang diberikan si tuan rumah karena ia butuh tenaga untuk kabur. Pagi hari, si tuan rumah masuk membawa makanan berupa roti yang di masukkan kesebuah kantong kertas. Membawa makanan yang memerlukan piring sangat merepotkan.
“Anak baik” kata tuan rumah sambil mengelus kepala gadis di hadapannya.
Hari ini si gadis lebih cepat, ia berhasil mendorong si tuan rumah hingga terjatuh saat pintu terbuka lalu menendang selangkangannya hingga membuatnya meringis kesakitan. Ia berlari secepat mungkin sepanjang orong menuju tangga turun ke lantai bawah. Akan tetapi, ia lupa satu hal tangga menuju lantai bawah terhalang oleh sebuah pintu kayu di lantai dan sekarang terkunci.
Ia menggedor pintu tersebut dan berteriak minta tolong berharap ada seseorang yang berada di lantai bawah mendengarnya. Setau gadis tersebut si tuan rumah memiliki pembantu yang sudah lama bekerja di rumahnya. pintu di hadapannya tak bergeming. Ia masih berteriak dan menggedor pintu tersebut saat si tuan rumah keluar dari ruangan tempat ia di kurung dan berjalan lambar-lambat mendekatinya. Ia terkekeh sambil mengeluarkan kunci dari saku celananya.
“Percobaan bagus, sayang. Tapi, kamu melupakan ini” katanya sambil melambaikan kunci di tangannya.
Lalu hari itu selesai seperti hari kemarin, ia di pukuli lagi dan di kembalikan ke dalam ruangan yang mencekiknya setiap harinya.
****
Hari ketiga, pagi ini, ia masih makan makanan yang di berikan si tuan rumah. Si tuan rumah seperti biasanya duduk di hadapannya memperhatikannya makan. Biasanya gadis itu makan tampa bersuara tetapi kari ini ia akan mencoba memohon. Pada laki-laki di hadapannya.
“Ram, lepasin aku. Kumohon” katanya setelah menghabiskan roti di hadapannya sebelum si tuan rumaah bergegas pergi dari ruangan.
“Enggak akan sebelum kamu sadar kalau cuma aku yang kamu cintai” katanya sambil membuka pintu dan akan pergi.
Sebelum pintu benar-benar tertutup gadis itu berteriak
“Rama, Please. Kita sudah selesai lama, ram. Kamu harus terima itu, aku sudah bahagia” lalu pintu kembali terkunci.
Gadis itu tidak mencoba lari pagi ini. Tenaganya habis dan usahanya sia-sia karena ia tidak memiliki kunci pintu tangga, usahanya kabur akan sia-sia. Ia sudah kehabisan tenaga untuk melawan. Badannya perlu dipulihkan. Mamar di sekujur tubuhnya masih terasa sakit. Ia tidak mungkin melawan laki-laki sehat yang mengurungnya dengan tubuh seperti ini.
****
Sepertinya sudah siang hari karena suhu ruangan juga semakin menghangat. Gadis yang tenaganya sudah habis dan hampir gila karena sudah 3 hari di kurung, hanya bisa menatap langit-langit kamarnya sambil menjenihkan pikirannya yang kacau.
Terdengar suara kunci pintu di buka. Baru beberapa jam semenjak rama meninggalkan ruangannya. Ini tidak seperti biasanya, “mau apa ia kemari” pikirnya. Biasanya rama hanya datang pada jam makan dan itu sangat teratur. Pintu terbuka, dan tampaklah seorang aki-laki paruh baya di ambang pintu.
“Pak anto” gumam gadis itu agak terkejut. Ia kenal beberapa pembantu di rumah rama karena hubungannya dahulu dengan rama.
“Saya dengar gedoran pintu, kemarin dan penasaran apa yang di sembunyiin nak rama beberapa hari ini. Saya gak nyanka ternyata nak bella di kurung di sini. Saya juga gak nyangka ternyata nak rama bisa ngelakuin ini ke nak bella” kata pak anto sambil masuk ke ruangan.
Hari itu bella berhasil kabur dengan bantuan pak anto karena rama sedang tidak berada di rumah. Pak anto memberinya uang untuk ongkos taksi. Ia langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan apa yang dialaminya. Sore itu, rama udah di tangkap.
Akan tetapi, nasib buruk untuk pak anto yang sekarang sedang di rawat di rumah sakit dan tidak sadarkan diri. 30 menit setalah membantu bella kabur. Pak anto yang ditau membantu bella kabur dipukuli hingga tak sadarkan diri.
****
Bella baru pulang larut malam setelah menjenguk pak anto. Ia membuka pintu rumah kontrakkannya. Ia tinggal sediri karena hidup merantau jadi seperti biasa rumah terasa sepi. Dari ruang tamu yang gelap ia melihat cahaya lampu dari dapur. Seingatnya ia sudah memtikan seluruh lampu tadi pagi sebelum pergi. “mungkin dia hanya lupa” pikirnya lalu menyalakan lampu ruang tamu dan berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian. Akan tetapi, ada sesuatu yang aneh. Tercium bau maknan dari arah dapur sebelum ia memasuki kamar tadi. Iapun bergegas menganti pakaiannya dan pergi menuju ke arah dapur.
Sesampainya di dapur, ia mendapati seorang laki-laki yang ia pikir sudah masuk penjara sedang duduk di meja makannya dengan berbagai hidangan di hadapannya.
“Hai” Katanya sambil tersenyum sebelum bella menjerit dan jatuh terduduk.