“Yakin mau tidur disini?” luna menatap Calista dengan khawatir
“ya” Calista mengangguk lemah
Dua hari ini mereka tidak tidur sama sekali tentunya karena tugas dosen killer yang tiada hentinya memberikan tugas, bahkan Calista sudah tidak sanggup untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, ia memutuskan untuk tidur di perpustakaan dan mengumpulkan seluruh energinya
Luna berdecak, ia sungguh menghawatirkan sahabatnya yang tertidur di sembarang tempat sedangkan ia harus segera bertemu dosen pembimbingnya untuk konsultasi tugas akhirnya
Calista menatap luna yang berdiri didepannya dengan raut yang cemas, “udah sana temuin pak Jacob,”
“ntar diomelin lagi”
Calista memperbaiki duduknya agar lebih nyaman
“tetep aja sih” gumam luna
Calista mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru perpustakaan, beberapa mahasiswa yang masih fokus dengan kegiatan mereka, bahkan ada yang tertidur dibelakang sana
“banyak temen temen kita disini kan”
Luna mengikuti arah pandang Calista dan mengangguk, “yah baiklah kalau gitu”
Calista menganggukkan kepalanya dan mengibaskan tangannya berusaha menyuruhnya untuk segera pergi darisana
“ck, gak ngusir juga sih”
Calista menatap buku yang ia ambil secara random didepannya, menyernyit
sepertinya ia tak pernah melihat buku itu
“kalau ada apa apa hubungi aku aja”
Luna menepuk lengan Calista yang membuatnya terkejut
“ya baiklah, have fun”
“have fun? Duh”
Calista melambaikan tangannya, menatap kepergian luna yang terburu buru bahkan beberapa kali menabrak orang yang jalan berlawanan dengannya
Calista menggelengkan kepalanya, “ck kan sudah kubilang langsung aja ke pak Jacob”
“yess kali ini bisa tidur nyenyak”
Calista mulai merapikan buku – buku yang ia ambil secara acak, menjadikan mereka bantalan
Berharap lehernya tidak menjadi sakit ketika ia tertidur nanti
Matanya mulai tertutup menghiraukan suara suara disekitarnya termasuk suara berat laki laki yang tiba tiba hadir disampingnya, Calista ingin membuka matanya tapi terasa sangat berat
Suara lelaki itu menjadi samar samar, seperti berganti menjadi suara perempuan
“Calista”
Suara yang sering sekali ia dengar
“siapa?” gumam Calista, beberapa kali ia ingin membuka kedua matanya yang berat
Sangat berat untuk dibuka bahkan badannyapun susah untuk digerakkan, Calista panik
Rasanya ia ingin menangis juga belum lagi ia merasakan nafasnya yang menjadi berat dan perutnya yang perih
‘padahal gak makan apa apa, kok sakit’
Calista tetap berusaha untuk menggerakkan badannya yang masih terasa berat dan perlahan ia bisa menggerakkan jari jemarinya
Perlahan lahan ia membuka kedua matanya yang terasa lebih berat dari sebelumnya rasanya seperti kantuk yang luar biasa dengan bonus perut yang sakit
‘apa jangan jangan maghku kambuh?’
“aww”
“Calista sadar!”
Suara yang tak asing lagi, seperti suara luna yang berteriak khawatir
‘loh bukannya luna udah pergi ke tempat pak jacob?’
Calista menggeram kesakitan, begitu badannya bisa ia gerakkan, ia menekan perutnya yang terasa sangat sakit dan semakin sakit begitu ia tekan
“tolong!”
Calista membuka kedua matanya, pandangannya yang buram oleh air mata perlahan lahan ia bisa melihat luna didepannya yang menangis
Calista tersenyum, “tumben banget nangis lun?”
Luna yang melihat Calista membuka kedua matanya mulai terkejut sekaligus senang
Calista memandang luna dengan aneh, pakaian yang dipakai luna sangat berbeda dari beberapa menit lalu mereka berpisah
‘oh apa ini mimpi ya?’
“oh ya tuhan Calista!”
Badan Calista seperti dipeluk erat oleh luna, ia merasakan segerombolan lelaki berpakaian aneh dan bersenjata menerobos masuk kearah
Calista yang kesakitan dan bingung pun mengerutkan dahinya, berusaha mencerna situasi didepannya, beberapa lelaki itu tiba tiba datang kearahnya
‘fix mimpi yang aneh, mana kerasa banget lagi sakitnya’
Calista menggeram kesakitan
“nona!”
“saya akan membawa anda secepatnya”
Terlihat keringat yang menetes di wajah tampan lelaki didepannya ini, Calista tersenyum kecil seraya memegang wajah tampan didepannya “tampan sekali”
Calista merasakan badannya tiba tiba terangkat, sakit diperutnya menjadi semakin terasa
‘duh aneh banget mimpinya, sakitnya parah’
Calista merasakan mereka berlari dengan kencang, ia bisa mendengar suara tangisan luna yang tiada henti menyebutkan namanya kejadian yang sangat amat langka
Andaikan saja mimpi bisa di video, dia akan memvideokan sikap luna dan memamerkannya kalau ia sudah tidak Lelah lagi
Well sepertinya untuk tugas berikutnya dia memang harus tidur walaupun Cuma 5 menit, ia tak ingin merasakan mimpi seperti ini lagi
Sungguh melelahkan, di dunia nyata juga sakit di dunia mimpi pun sakit
Indahnya hidupmu calista
--
Calista membuka kedua matanya, ia tidur dengan sangat amat nyenyak walaupun menghadapi mimpi yang aneh
Mulai dari orang orang berpakaian aneh dan bersenjata, luna yang menangis tak karuan apalagi ia menggunakan pakaian yang sangat aneh dan lelaki tampan yang mempesona
Calista tertawa kecil, memegang kedua pipinya yang memanas
Kalau dilihat lihat lagi lelaki tampan di dalam mimpinya sangat dekat dengan tipe idealnya
“duh andaikan aku bisa mimpi lagi, aku pasti bakal minta kenalan!” gumam calista dengan sedih
“minta kenalan sama siapa?” suara berat lelaki yang terdengar membuatnya terkejut
“AAAAA!”
calista berteriak, memundurkan tubuhnya begitu melihat lelaki asing yang duduk disampingnya
“kamu siapa??” pekik calista
Lelaki didepannya duduk dengan anggun yang menggenggam buku kecil menatapnya dengan tatapan tajamnya, alisnya mengerut membuatnya menjadi sangat tampan bahkan lebih tampan dari lelaki di mimpinya
Calista menutup mulutnya, menatap lelaki didepannya bingung sekaligus terkejut
“sepertinya anda sudah sembuh ya” lelaki didepannya meletakkan bukunya
Mereka saling bertatapan
“umm.. kamu siapa?”
Lelaki didepannya menaikkan alisnya bingung
calista menyadari pakaian yang dikenakan pria didepannya sangat berbeda dengan pakaian yang biasanya ia lihat, tatanan ruangan yang berubah ‘bukannya aku di perpustakaan?’
“semalam anda tertusuk oleh pembunuh bayaran, apakah anda punya musuh?”
calista terus memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan bingung mengabaikan perkataan lelaki didepannya yang terus berbicara hal yang tidak dipahaminya
calista beranjak dari kasurnya
“AWW!”
Calista memegang perutnya yang terasa ngilu dan perlahan lahan duduk meredakan sakit diperutnya, lelaki didepannya membantunya duduk dengan perlahan
“sudah saya bilang, anda sebaiknya istirahat saja”
Calista menatap lelaki didepannya, “ini bukan perpustakaan?”
Lelaki didepannya menatapnya bingung
“perpustakaan? Bukan”
Calista melebarkan matanya panik, “terus dimana?”
“mengapa anda menggunakan bahasa informal pada saya? Memang kita bertunangan, tapi saya harap seterusnya kita menggunakan Bahasa formal” ucap lelaki didepannya dengan tegas
“tunggu tunggu, ini”
Calista menghembuskan nafasnya berusaha untuk lebih tenang, berusaha untuk tetap fokus dan mencerna seluruh perkataan lawan bicaranya walaupun pusingnya masih melanda
BRAAAKKK
Pintu besar itu terbuka dengan lebar, luna yang berdiri disana menatapnya dengan tatapan khawatir
“CALISTAA!!” air mata mulai jatuh kepelipis luna, berlari kearah calista yang menatapnya semakin bingung
“kenapa bangunnya lama banget?” luna memeluk calista seraya menangis tersedu sedu
Calista berusaha menahan perutnya yang sakit dari pelukan luna yang begitu erat, ia bisa merasakan badan luna yang gemetar seperti habis mengalami hal yang aneh
“kamu udah gak kenapa napa kan?” luna melepaskan pelukannya dan mengecek tubuh calista yang terlihat lemah
Luna kembali menangis melihat calista yang pucat, lalu tersadar begitu melihat calista yang hanya memakai pakaian tidurnya
Luna menoleh kearah lelaki didepannya tadi dengan tatapan marah, “tuan duke yang terhormat, apakah sopan anda didalam sini dengan keadaan sahabat saya yang telanjang?”
“telanjang?” tanya calista
Mata mereka saling bertemu, lelaki itu tiba tiba memalingkan wajahnya telinganya tampak memerah sepertinya lelaki itu baru saja sadar
“baiklah, luna kalau sudah selesai ajak lady calista keluar dengan pakaian yang semestinya”
Lelaki itu terburu buru keluar dari kamar dan menutup pintunya, meninggalkan keduanya didalam
Luna mendengus sebal, “maafin kak luke ya calista, dia memang orangnya gak pekaan”
Calista mengedarkan pandangannya memastikan sekali lagi pandangannya tidak salah
‘jadi lelaki tampan tadi namanya luke dan dia duke? Duke itu apa? Jadi ini masih didalam mimpi? Padahal harusnya kalau sudah tidur kan langsung bangun, kenapa aku masih disini sih?’
“kamu pasti terkejut banget ya” luna mengambil kursi yang tadi diduduki oleh luke dan membenarkan pakaian calista yang berantakan akibat luna memeluknya tadi
“orang tua kamu akan datang besok setelah mengurus insiden semalam bersama kedua orang tuaku”
Calista menganggukkan kepalanya padahal ia tidak mengerti tapi ia tetap menganggukkan kepalanya
“Ini dimana?”
“Dirumahku, di kediaman duke elwood” luna mengambil makanan diatas meja dan memberikannya pada calista
Calista menerimanya, melihat makanan didepannya sejujurnya ia tak berselera untuk makan mengingat dia masih berada di dunia mimpi
Jelas jelas sebelumnya ia berada di perpustakaan dan tidur selagi menunggu luna yang sedang bimbingan tugas akhir
kemudian dia bertemu lelaki tampan yang aneh dan ketika bangun dia sudah berada disini
Ah dan mimpi digendong lelaki tampan itu
Calista menatap luna, “duke? Ini mimpi ya?”
Luna terdiam
“Sebenarnya tadi aku tidur diperpustakaan, nungguin kamu ketemuan sama pak jacob buat bahas tugas akhir, terus tau tau aku disini”
Sepertinya berbicara dengan luna saat ini tidak akan membantunya sama sekali
Beberapa menit setelah calista menceritakan hal sebenarnya, luna langsung memanggil dokter untuk memeriksanya
Kini ia terbaring diatas kasur dengan beberapa dokter yang berdiri mengelilinginya berusaha untuk menganalisa apa yang terjadi padanya
Calista memang kelihatannya santai, tapi jauh didalam lubuk hati yang paling dalam, dia sangat panik
Panik sampai sampai ia ingin kabur dari sini
“Sepertinya tidak ada masalah yang aneh di lady manchister”
Ucap salah satu dokter yang memecahkan diskusi mereka, luna yang menatapnya khawatir diujung kasur terlihat sedikit lega
“Tapi sepertinya calista tidak ingat semuanya”
Beberapa dokter saling bertatapan dan berjalan kearah luna, berusaha untuk menenangkannya
“Sepertinya lady manchister sedang mengalami trauma, karena itu sebagian ingatannya hilang”
“Lady elwood tidak perlu khawatir, karena beberapa hari kedepan lady manchister akan baik baik saja”
Calista melihat lihat ruangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dengan takjub sekaligus mengelus beberapa benda yang ia rasa unik
‘Kalau ini bukan dunia mimpi, terus ini aku dimana?’ Calista menangis dalam dirinya seraya mengelus benda unik didepannya
“Kata dokter kamu gak kenapa napa” calista menoleh kearah luna yang kini tampak lebih tenang
Melihat beberapa dokter yang sudah pergi, calista pun berjalan dengan riang kearah luna melupakan kenyataan bahwa ia berada di dunia yang ia tidak ketahui dan melupakan sakit diperutnya
‘Selagi ada luna, aku baik baik saja’ pikirnya
“Karena kamu banyak yang ga inget, kamu bisa bertanya apapun itu ”
“Apapun?”
Luna mengangguk
“Jadi, kamu bilang ini di kediaman duke elwood, terus kenapa aku disini? Kenapa aku gak dirumah?”
Calista duduk disofa tamu yang tersedia di kamar yang ia tempati dan mencicipi kue yang tersedia didepannya, entah sejak kapan kue itu datang
“Jadi dua hari lalu itu adalah hari pertunanganmu dengan kak luke, kakakku sekaligus duke muda elwood”
Calista tersedak, buru buru meminum air putih didepannya
“Tunangan?!” Calista membelalak kaget, rasa kue yang tadi terasa lebih pahit di lidahnya
Luna mengangguk
“Well, karena kak luke punya banyak pengagum dan salah satunya itu psyco,”
Luna melirik kearah calista yang masih terkejut
“Makanya ia menyewa pembunuh bayaran dan mencoba membunuhmu”
Calista menutup mulutnya tak percaya, “gila”
Luna melotot kearahnya dan membungkam mulutnya
“Jangan sembarangan”
Calista menatapnya dengan tanya
“Yang mau membunuhmu itu tuan putri”
Calista terdiam
“Tuan putri? Putri raja?”
Luna mengangguk
Calista merenungkan nasibnya, masuk ke dunia antah berantah, tiba tiba punya tunangan dan mau dibunuh pacar tunangannya
‘Sungguh penuh tantangan hidupmu calista’
“Kedua orang tua kita sudah mengajukan protes ke istana kemarin, karena itu mereka belum kembali dari istana”
“Aku jadi khawatir”
Calista menghembuskan nafasnya lelah, menggaruk kepalanya yang gatal
“Apa seberbahaya itu?”
Luna menoleh kearahnya,
“ya berbahaya,” ucap luna ragu
“Tapi karna kedua orang tua kita kuat, jadi jangan khawatir” luna menganggukkan kepalanya berusaha berfikir positif
Calista ikut mengangguk
“Ah, sudah mau makan malam, pelayan akan membantumu bersiap siap”
Luna berdiri, “aku tunggu di ruang makan”
Calista mengangguk menatap kepergian luna yang kini sudah menghilang dibalik pintu mewah kamar itu
Kini tinggal ia seorang diri didalam sana,
Calista memekik dalam diam dan menjambak rambutnya frustasi
Seluru rasa penasaran, kebingungan, kepanikan bercampur menjadi satu
Sekarang ia harus mencari cara bagaimana ia bisa kembali ke dunianya sendiri dan bertemu dengan luna yang asli, oke luna yang ini terluhag asli tapi meragukan
Lalu bagaimana caranya ia bisa pergi dari sana? Sungguh itu benar benar membuatnya frustasi, tidak ada hint atau apapun itu yang membantunya
“Permisi, lady manchister mari saya bantu bersiap” seorang pelayan tiba tiba masuk kedalam kamarnya mengabaikan calista yang menggigit kukunya dengan frustasi
“Ah ya”
Setelah setengah jam bersiap, calista berjalan menuju tempat makan
Sepanjang jalan calista menatap kagum tatanan rumah luna, menyapa beberapa pelayan yang bertugas dan bertemu dengan lelaki tadi, duke muda luke
“Hai” calista menyapa dengan riang
Perbedaan yang menonjol lainnya adalah ini, kakaknya luna
seingat calista, luna tidak memiliki kakak laki laki dan seorang anak tunggal
Calista mendengus, “tatapannya biasa aja dong nanti gantengnya hilang”
Luke menatap calista, menghela nafasnya seperti ia sudah bekerja beberapa hari tanpa istirahat
“Karena saya sudah mendengar semuanya dari luna, saya memaklumi ini”
Luke meninggalkan calista yang menatap punggungnya dengan sebal
“Yeh dasar pemarah”
Calista mengikuti luke dari belakang, menatap punggung luke yang lebar dan gagah membuat calista ingin memegang dan memeluknya dari belakang
“Punggungnya pelukable banget” gumam calista mengagumi punggung luke
Luke berhenti dengan tiba tiba, calista yang masih mengagumi punggung luke ikut berhenti dan menabrak punggungnya
“Duh, kalau berhenti liat liat dong” calista mengusap hidungnya yang memerah
Calista melihat luke yang diam tak bergeming, “hey tuan pemarah?”
Calista berjalan kedepan ingin melihat wajah luke, “kok diem aja?”
Calista mengikuti arah pandang luke yang terdiam membatu, terlihat gadis cantik didepannya yang menatap mereka dengan tatapan sedih
Calista menatap keduanya bingung, “umm, kayaknya aku salah jalan”
Calista membalikkan badannya dan bersiap jalan, pergerakan tangan luke yang cepat memeluk tubunnya agar ia tidak pergi membuatnya kaget
Calista menatap luke dengan kaget dan marah, lelaki itu tampak diam bergeming dan wajahnya tampak mengeras
Calista terdiam
“Ada apa lady muela datang tanpa pemberitahuan resmi?” Suara luke terdengar lebih dingin dari sebelumnya walaupun calista masih merasakan kehangatan dalam nadanya
Calista menatap gadis didepannya yang bergetar, gadis itu menatap calista dengan tatapan benci sekaligus sedih
Calista dapat melihat air mata menetes di wajahnya yang mungil, gadis cantik itu menangis sedih
“Aku kira kamu butuh support lebih karena lady calista katanya belum tersadar”
Calista menatapnya bingung
“Saya baik baik saja, dan seperti yang anda lihat tunangan saya juga baik baik saja” luke menatap calista yang kini menatapnya bingung
“Ya, kami baik baik saja” ucap calista canggung, tak sengaja ikut memeluk tubuh luke
‘Tuhan memang baik, sangat pelukable!!!’
Calista menatap luke yang masih diam mengabaikan jeritan hati calista yang mengagumi pelukan mereka
“Saya harap kedepannya, lady datang dengan pemberitahuan resmi”
Calista mengerutkan dahinya
“Dasar lelaki kejam” gumam calista
Luke menoleh kearahnya seolah mengatakan kalau dia harus diam, calista menutup mulutnya dan mengangguk paham
Gadis didepan mereka mulai berlari meninggalkan mereka berdua yang masih berpelukan
Perbedaan tinggi yang jauh antara luke dan calista tidak membuat calista canggung sedikitpun
“Sampai kapan anda mau memeluk saya?”
Calista mendongakkan kepalanya menatap luke yang kini menatapnya dengan tajam, calista melepaskan pelukannya
“Saya rasa lady suka dengan pelukan yang tadi?”
Calista mendengus, “jangan salah paham”
Luke tersenyum tipis, mendekat kearahnya
Calista memundurkan langkahnya begitu luke memajukan dirinya dan membisikkan kata kata mematikan
“Benarkah? Tapi tadi kayaknya lady sangat menikmatinya”
Calista memutar kedua bola matanya, mendorong luke dengan kuat
Luke menaikkan satu alisnya, kekuatan calista yang lemah membuatnya berfikir kalau wanita didepannya ini lemah
Luke memundurkan badannya begitu melihat calista yang berusaha mendorongnya, terlihat peluh di pelipisnya
“Selemah itu ya?” Luke tersenyum tipis
“Kurang ajar”
Luke tertawa mendengarnya, mengelus kepala calista
“Calista?! Ditungguin”
Luna yang baru keluar dari ruang makan tampak terkejut melihat luke dan calista yang mesra
“Oh maaf mengganggu”
Calista terkejut, melihat luna kembali lagi kedalam ruang makan
“Luna tunggu”
Calista berlari kearah luna, mengabaikan luke yang menatapnya dengan senyuman tipis
Calista melihat luna yang sudah duduk dimeja makan dan menghampirinya
Calista menatap takjub makanan diatas meja, begitu lengkap dan tampak enak
Calista duduk disamping luna yang diam bergeming, “kenapa gak makan?”
“Nungguin kalian, tapi kayaknya kalian lupa sekitar”
Luke datang dengan wajahnya yang datar, duduk didepan dan mempersilahkan mereka untuk makan
Calista makan dengan sangat lahap, makanan yang disajikan ternyata sangat enak dan sesuai dengan seleranya, ia lupa kapan ia pernah memakan makanan asli sejak naik semester baru
Mengingat semester baru, calista terdiam memikirkan nasib kelanjutan kuliahnya
Padahal ia mau melihat nilai yang akan diposting malam itu, dia sudah mengerjakannya sepenuh hati tentunya dia mengharapkan hasil yang baik juga dan sangat menantikannya
Tapi disinilah dia
Calista menghela nafasnya
Luke yang melihat calista tampak tak bertenaga menaikkan alisnya bingung, sebelumnya calista tampak bersemangat makan dan menghabiskan separuh makanan dimeja makan, sekarang dia tampak lemas seperti nyawanya hilang separuh
Luna mengikuti arah pandang luke yang menatap calista khawatir, luna tersenyum tipis
“Calista, kenapa?”
Calista menggeleng, “gapapa”
“Kak luke khawatir tuh” bisik luna melirik luke yang masih menatap calista
Calista menolehkan wajahnya menatap luke yang menatapnya tajam,
Jika dari sudut pandang luna, luke menatap calista penuh khawatir berbeda dengan calista yang merasakan kalau luke menatapnya dengan amarah
Calista menundukkan kepalanga takut dan melanjutkan makanannya hingga habis
“Kalau sudah selesai mau jalan jalan ditaman belakang?”
Calista menoleh dengan gembira, “taman??”
Luna mengangguk
“Aku menanam tanaman yang cantik banget, awalnya aku kira akan gagal tapi begitu lihat tadi, cantik banget! Kamu pasti suka”
Luke menatap kepergian keduanya dengan tatapan bingung, menggelengkan kepalanya
“Lucu juga”
Luna menatap calista yang mengagumi taman didepannya
Tanaman dengan warna senada berada di satu jalur tampak begitu indah dan serasi belum lagi wanginya yang harum. Walaupun sudah malam, taman itu tampak bersinar oleh lampu lampu taman
“Suka sama bunganya?”
Calista mengangguk, “sebelum kejadian kemarin juga kamu sebenarnya suka menanam bunga”
Calista menoleh melihat tatapan luna yang tampak berbeda, sepertinya ia sedih melihat keadaannya
Padahal ia baik baik saja, yahh dia sih gatau kalau calista pemilik tubuh ini
Calista memegang tangan luna berusaha memberikan kekuatan padanya, memberitahunya kalau ia baik baik saja
“Luna, apapun yang terjadi, siapapun kamu dimanapun kamu berada, kamu tetap sahabatku”
Luna mengangguk senang
“Nah sekarang ceritakan kenapa aku bisa tunangan sama kakakmu”
“Itu karena kamu yang suka kak luke dan terus memohon ayahmu untuk bertunangan dengan kak luke”
Calista menganga, menatap luna tak percaya
“Hah? Aku? Yang benar saja”
“Makanya kak luke agak benci sama kamu, soalnya dia sebenarnya punya pacar rahasia” bisik luna
Calista menutup mulutnya tak percaya
“Yang benar?”
“Iya, kalau kamu kembali ke pergaulan sosial kamu pasti melihatnya”
“Dia wanita yang punya daya tarik yang tinggi, cantik dan bertalenta sayangnya dia itu janda tanpa seorang anak”
Calista menatapnya tak percaya
“Bukannya malah bagus dia belum punya anak?”
Luna menggelengkan kepalanya
“Ayah menolak habis habisan hubungan mereka makanya begitu mendengar kamu ingin bertunangan dengan kak luke, ayah langsung mengiyakan”
Entah kenapa hati calista menjadi teriris, sepertinya ia bisa merasakan sang pemilik tubuh yang sedih mendengar cerita langsung dari luna
“Maaf aku gak pernah bilang, kalau tau kejadian itu lebih baik aku menghalangimu untuk tunangan dengan kak luke”
Calista menghela nafasnya dan menepuk pundaknya, “ini bukan salahmu luna, jangan pernah merasa bersalah, terimakasih sudah ada untukku”
Calista memeluk luna, tanpa terasa air matanya menetes padahal ia tidak tau apa yang ia tangisi
Calista mengelap air mata diwajahnya, melihat luna yang terus tertunduk membuat calista menjadi merasa bersalah
“Hey, aku gapapa buktinya aku baik baik saja, ini bukan salah siapa siapa tapi memang takdirlah yang berbicara”
“Jadi jangan pernah merasa bersalah lagi lun, aku terbebani”
Luna mengelap air matanya dan mengangguk paham
“Sekarang masuklah dulu dan tidurlah”
Luna mengangguk, dia tidak bisa berlama lama diluar ruangan karena tubuh luna yang lemah
Luna pun masuk kedalam meninggalkan calista yang berdiri diam,
Memikirkan calista disini ternyata lebih rumit dari yang ia kira, percobaan pembunuhan, tunangan yang tidak menerimanya
Tapi syukurlah dia memiliki sahabat yang baik dan selalu mensupportnya
Mantel yang tiba tiba menyelimutinya membuatnya kaget, menoleh kebelakang dan melihat luke yang memberikan jasnya
Lelaki itu tiba tiba duduk disebelahnya tanpa kecanggungan, padahal sebelumnya lelaki itu tampak ingin jauh jauh darinya tapi sekarang lelaki itu tampak biasa saja cih
“Ada apa tuan duke muda malam malam begini?”
Luke menaikkan alisnya tak suka, melipat kedua tangan didadanya
“Sepertinya tadi kamu bicara tidak formal padaku”
Calista ikut melipat kedua tangan didadanya, “kayaknya sih tadi ada yang gasuka”
Luke tertawa mendengar calista yang tidak konsisten
“Apa? Kenapa tertawa?”
Luke menggeleng, “setelah lupa ingatan sepertinya kamu lebih berani ya?”
Calista mendengus
“Ah tidak juga, dari dulu kamu sudah begitu”
“Ya ya”
Mereka berdua terdiam dalam kesunyian, entah apa yang ada dipikiran mereka masing masing
“Pertunangan kita besok” ucap luke
“Kita batalkan saja pertunangan kita” ucap calista bersamaan
Luke menggeram marah, “apa?”
calista terkejut, “loh?”
“Apa maksudmu pertunangan kita batal?”
Calista tergagap bingung membalas seperti apa karena luke yang didepannya ini menatapnya dengan penuh amarah
“Bukannya kamu tunangan sama aku terpaksa?”
Luke menaikkan alisnya bingung
“Kalau suatu hubungan dilakukan terpaksa oleh salah satunya, gak bakal berhasil mending gausah”
“Kata siapa?”
“Ya?”
“Kata siapa aku terpaksa bertunangan denganmu?”
Calista menggarukkan wajahnya yang tidak gatal, “umm menurut cerita luna”
Luke berdecak kesal
“Dengar, apapun yang luna ceritakan itu belum tentu benar apalagi soal aku”
Calista terdiam, “terus?”
Luke memijat pelipisnya, pusing dikepalanya menjadi jadi
“Dengar baik baik aku gak akan mengulangi lagi” luke merapatkan jas yang ia pakaikan ke calista, jantung calista berdegub dengan kencang saking kencangnya ia takut luke akan mendengarnya
“Aku menyukaimu dari dulu, dari kita yang masih remaja”
Luke memegang wajah mungil calista yang terlihat dingin, “soal kekasihku yang menjanda, ya itu benar kekasihku tapi dia cuma kekasih kontrakku saja, untuk menyangkal kalau aku tidak menyukaimu”
“Percayalah calista, melihatmu semakin hari semakin cantik dan semakin banyak yang mendekatimu membuatku gusar”
Luke memandang calista dengan serius, menyangkutkan anak rambut calista ketelinganya memperlihatkan wajah calista yang bersinar
“Karena itu, sebelum kamu datang melamarku, aku sebenarnya sudah melamarmu duluan ke ayahmu dan menjalankan beberapa misi rahasia dari ayahmu untuk mendapatkanmu”
Tatapan luke yang menjadi lemah lembut membuat jantung calista berdetak kencang, “Tapi wanita tadi”
“Dia lady yang aku bantu saat di pesta pertunangan kita kemarin, aku hanya membantunya dengan memberikan sapu tanganku tidak menyangka kalau dia akan seperti itu”
Entah kenapa hati calista menjadi luluh melihat wajah luke yang kini melemas seperti memohon padanya
“Lalu untuk pertunangan kita kemarin, aku minta maaf sudah melibatkanmu”
Luke menggenggam tangannya, “padahal aku sudah yakin kalau aku sudah menuntaskan semua permasalahan dengan baik, tidak menyangka akan lolos satu, maaf sayang”
Calista menundukkan wajahnya, sepertinya jantungnya akan meledak mendengar kata kata manis dari luke, yang ia tahu laki laki ini selalu berbicara ketus dan menatapnya tajam
“Jadi persoalan aku menolak kamu itu bohong”
Luke memegang dagu calista, membuatnya menatap luke yang kini menatapnya dengan lembut
Calista memegang wajahnya, mengelusnya ia dapat melihat kantung mata diwajah tampannya
“Kamu gak tidur?”
Luke hanya terdiam dan terus menatapnya
“Tunggu”
Calista mengelus wajah lelaki didepannya seraya memejamkan matanya dan membuka matanya pelan pelan
“Kamu laki laki yang gendong aku? Pas aku udah setengah sadar?”
Luke mengangguk, tersenyum “kamu inget aku?”
Calista mengangguk
“Iya awalnya aku berfikir pakaianmu aneh, tapi setelah kulihat lihat lumayan juga”
Luke tertawa, mencubit pipi calista dengan gemas
“Jadi?”
Calista menaikkan alisnya bingung
“Apa?”
“Ayo lanjutkan pertunangan kita”
“Ayo”
Luke memeluknya dengan erat, calista memejamkan matanya berusaha menikmati pelukan lelaki didepannya
Begitu membuka kedua matanya, ia terkejut melihat luke dengan pakaian berbeda, calista bangkit dari tidurnya dan melihat keadaan sekitarnya, semua kembali normal
“Loh kok aku disini?”
Luke menompang dagunya, menatap calista yang panik memeriksa dirinya bahkan ia memegang perutnya
Calista menatap luke dengan aneh, “luke? Kok kamu disini?”
“Aku disini dari tadi, nungguin kamu bangun”
Calista mengangguk
“Tunggu, bukannya kamu tadi ada di dunia mimpiku?”
Luke tertawa, “iya aku ngeliat kamu tidur sambil manggil manggil nama aku”
Calista tertawa, jadi selama ini hanya mimpi
“Heii pasangan serasi” luna datang bersama pria asing dimatanya
Calista menatap keduanya bingung, “loh lun, udah selesai bimbingan tugas akhirnya?”
Luna menatap calista dengan aneh, “ih apaan sih calista, itu udah seminggu yang lalu kali”
Calista menganga melihatnya, “apa? Seminggu?”
Luke tertawa, mengelus kepala calista dengan gemas, “iya sayang itu udah seminggu yang lalu”
Calista merinding mendengarnya, “sayang? Jangan salah aku jomblo”
Mereka tertawa melihat calista yang tampak bingung, “jangan gitu lun, dia kan pacar yang susah payah kamu raih”
“Siapa? Luke?”
Luna mengangguk, “tau gak orang pertama yang dateng nolongin kamu pas kamu teriak teriak gak jelas di perpustakaan?”
Calista menatapnya bingung, “aku?”
“Luke lah, ya gak luke”
Calista menoleh kearah luke yang tersenyum kecil seperti luke yang sebelumnya ia temui ditaman
“Dimanapun kamu berada apapun kamu, aku akan ada buat kamu”
Luke mendekatkan dirinya kearah calista, “ya kan? Lady manchister?”
Calista lemas
“Well”