Seorang gadis cantik dan periang sebut saja Kirani. Kirani adalah seorang siswi SMA kelas 11 di sebuah sekolah swasta di daerahnya. Kirani adalah anak tunggal dari dua pasangan suami istri.
Suatu pagi Kirani terbagun dari tidurnya dengan mata merah dan rambut berantakan, dia mematikan jam weker yang terus berbunyi di atas kepalanya. Dia duduk dan menatap ke jendela ia sempat tertegun diam tanpa suara namun tak berselang lama ketika suara ibunya berteriak dari lantai bawah
"Kirani.. Kirani.. Bangun nak sarapan sudah siap cepat bangun!" teriak ibu Kirani yang diulangnya berkali-kali
"iya bu!!!" ucap Kirani
Kirani pun bersiap-siap selama beberapa menit, kemudian ia turun ke lantai bawah dan menghabiskan sarapan yang dibuat oleh ibunya.
"Ayah bu aku pergi dulu ya" Kata Kirani sambil menyium tangan ayah dan ibunya dipintu depan yang dibarengi dengan senyum manis miliknya
"iya hati-hati di jalan ya nak" jawab ayah dan ibu Kirani dengan tatapan bangga
Kirani pun berlari menuju sekolahnya, di sepanjang perjalanan dia tersenyum riang namun seketika berubah ketika dia sudah berada di depan kelasnya. Dia memasuki kelas dengan kepala tertunduk takut menatap mata teman kelasnya. Tak ada yang mengira bahwa Kirani yang periang dan suka menampakkan senyum tulusnya adalah orang yang sangat berbeda di lingkungan sekolahnya. Kirani pun duduk di bangku paling belakang tanpa teman seorang teman sebangku, semua teman kelasnya tidak memperhatikannya karena Kirani sangat pendiam jangankan tersenyum berbincangpun sangat jarang dengan teman kelasnya yang lain.
Pembelajaran di kelas pun dilakukan hingga jam 12, semua pembelajaran dilalui Kirani dengan serius hingga tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi, semua siswa berteriak girang karena jam sekolah sudah berakhir namun tidak bagi Kirani, baginya pulang sekolah adalah hal yang paling mengerikan di setiap harinya. Guru dan siswa lain meninggalkan kelas, Kirani merunduk Ia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dia melihat beberapa langkah kaki beberapa orang yang semakin mendekat ke arahnya, dia menoleh dan tak salah lagi dia adalah Trifani dan gengnya, Trifani merupakan ketua dari geng terkenal di sekolahnya geng mereka terkenal sangatlah anarkis, mereka selalu membuat masalah di sekolah mulai dari menggunakan rok diatas lutut, tidak mengikat rambut, bolos, memaki guru, dan masih banyak lagi walaupun begitu tidak ada yang berani memprovokasi mereka karena ketua gengnya Trifani adalah anak dari donatur terbesar bagi sekolah dan tanpa bantuan orang tua Trifani maka sekolah tersebut tidak akan bisa berdiri sampai sekarang. Namun sayangnya Kirani dulu pernah melaporkan Trifani ke kepala sekolah karena sudah membawa perias wajah ke kelas, Trifani yang mengetahuinya membully habis-habisan Kirani tiap pulang sekolah. Trifani menjambak rambut Kirani dan berkata
"kamu tahu kan rutinitas mu itu apa?" bisik Trifani di telinga Kirani
"i..iiya aku ingat" jawab Kirani terbatah batah
"cepat bersihkan sepatuku wanita jalang" teriak Trifani
Kirani melakukan apa yang Kirani perintahkan, bukan karena dia lemah namun karena Trifani pernah mengancam Kirani jika tidak mengikuti apa yang dia perintahkan maka ayah Kirani yang kebetulan adalah pegawai di perusahaan ayah Trifani akan dicabut dari jabatannya. Kirani merunduk dan perlahan-lahan membersihkan sepatu Trifani dengan tangan yang gemetar ketika tiba-tiba salah satu anggota geng Trifani menumpahkan tepung ke atas kepala Kirani
"ups maaf tidak sengaja" kata salah satu anggota geng Trifani yang dibarengi senyum sinis miliknya.
Kirani diam tertunduk menahan emosi yang bergejolak dalam hatinya dia mengepal tangannya dan menggertakkan giginya menahan rasa hina yang dia rasakan. Trifani dan gengnya tertawa lepas kemudian satu persatu dari mereka pergi hingga tidak ada yang tersisa. Kirani berdiri dan perlahan menuju kamar mandi, dia membersihkan kepala dan pakaiannya dari tepung ketika tiba-tiba seseorang sengaja menumpahkan air dari sebelah kamar mandi ke tempat Kirani
"maaafff sengaja" teriak seseorang sambil tertawa
Orang itu menyiram Kirani lalu lari terbirit-birit, Kirani tahu itu pasti suara Trifani. Kirani berjalan menuju rumah dengan pakaian yang basah kuyup saat di depan rumah, Kirani menghapus air matanya dan mengukir senyum di pipinya.
"Aku masuk" ucap Kirani
"Eh Kirani bajunya kok basah?" kata Ibu curiga
"Iya kok bajunya basah?" kata ayah mengulang kalimat yang hampir sama
"Ah ini, tadi ada tugas sekolah sama teman-teman ngambil ikan mas di belakang sekolah tapi aku kepeleset hehehe" jawab Kirani dibarengi tawa yang lepas
"oh kirain apa cepat sini makan sama-sama" kata ayah
"aku udah makan tadi disekolah jadi udah kenyang yah. Aku mau ke kamar dulu" jawab Kirani
"oke deh" kata Ibu
Ayah dan ibu saling bertatapan seakan memberi kode akan ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Kirani lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, dia mengganti baju dan langsung menjatuhkan dirinya di ranjangnya. Dia mengambil kain lalu memasukkannya di mulutnya lalu menangis, dia melakukan itu agar tidak ada yang mendengar suara jeritannya ketika menangis, dia menangis hingga ketiduran.
"knok knok knok" bunyi suara ketokan pintu
Kirani terbangun dan menyadari sudah pukul 7 malam
"iya iya aku ketiduran tadi" jawab Kirani
"ini ibu taro makan malamnya di depan pintu kamarmu ya Kirani" kata ibu
"iya bu" jawab Kirani
Langkah kaki ibu terdengar makin menjauh. Ketika sudah tak ada suara Kirani membuka pintu dan mengambil makanan di depan kamarnya. Dia kaget ternyata ada ibu dan ayahnya berdiri menatap Kirani dengan wajah sedih. Ayah dan Ibu berjalan masuk ke dalam kamar Kirani mereka duduk dan menyuruh Kirani menceritakan apa yang dia alami.
"Kirani, coba ceritakan sebenarnya apa yang terjadi selama di sekolahmu nak?" kata ibu
"nggak ada apa kok bu" ucap Kirani tertunduk
"tidak apa-apa nak, ceritakan saja kami siap mendengarkan kok" kata ayah
"ba..baik ibu ayah, sebenarnya...... " Kirani
menceritakan semua yang dialaminya di sekolah dia menangis tersedu-sedu ketika menceritakannya.
Ayah dan ibu Kirani terdiam dan memasang rawut wajah kaget mendengar apa yang Kirani katakan, mereka sangat sedih tidak mengetahui dari awal apa yang anaknya telah alami di sekolahnya. Diakhir kata Kirani menangis di pelukan Ibunya. Kirani kini merasa jauh lebih baik dia merasa sangat puas bisa mencurahkan isi hatinya.
"nak kalau kamu mau, lebih baik kamu pindah sekolah aja" kata ibu
"iya nak jangan memaksakan dirimu ditempat seperti itu" kata ayah
"iya ayah ibu aku ingin pindah" jawab Kirani
"baiklah jika kamu ingin seperti itu" kata ibu sambil mengusap kepala Kirani
Kirani tertidur dipangkuan ibunya, ibu menidurkannya di tempat tidur. Ayah dan ibu pergi berjalan perlahan keluar kamar sambil menutup pintu kamar Kirani.
Keesokan harinya Kirani tidak bersekolah karena orang tua Kirani akan mengurus surat pindah bagi Kirani. Siang hari Kirani pergi menuju sebuah warung untuk memesan nasi goreng ketika diperjalanan terdengar teriakan minta tolong seseorang.
"Tolong tolong !!!"
Kirani berlari menuju arah datangnya suara. Kirani kaget ternyata itu Trifani sendirian yang sedang mempertahankan tasnya oleh 2 orang begal dan terlihat bebererapa teman geng Trifani yang malah lari tanpa membantu Trifani. Tanpa pikir panjang Kirani sontak memasang kuda-kudanya dan melakukan gerakan bela diri melawan para begal. Trifani terkesima melihat Kirani yang selalu dia bully adalah seseorang yang malah berdiri di hadapannya membantunya seperti seorang pahlawan di film action. Kirani sebenarnya pernah belajar bela diri namun ia selalu menutupi ilmu bela dirinya karena mengingat perkataan gurunya untuk menggunakan ilmunya hanya untuk saat-saat genting seperti saat ini. Kirani berhasil melawan begal dan mengembalikan tas milik Trifani. Trifani menangis malu dihadapan Kirani. Dia memegang tangan Kirani dan tersungkur malu dihadapan Kirani. Kirani tersenyum dan memengang pundak Trifani yang dibalas pelukan tangisan Trifani. Trifani berjanji tidak akan mengulang apa yang dia lakukan dan dia ingin Kirani menjadi sahabat bagi dirinya. Kirani menangis mengangguk memaafkan Trifani, namun dia menjelaskan akan pindah sebentar lagi. Kirani mengantar Trifani hingga didepan rumah Trifani. Kirani berjalan menjauh namun Trifani masih memperhatikan dari jauh dengan rasa kehilangan dan malu.
Beberapa hari kemudian Kirani sudah tidak bersekolah di sekolah tersebut, Kirani pindah ke SMA swasta yang jauh dari sekolahnya yang dahulu, di sekolah barunya dia mendapat banyak teman baru dan lingkungan yang jauh lebih baik dari sekolahnya yang dahulu sedangkan Trifani masih menyimpan rasa penyesalan didalam dirinya.