Arya Wiguna seorang pria yang sudah tidak mempunyai ayah dan ibu, ia tinggal bersama teman-temannya.ia kini menjadi seorang pengamen,dulu ia pernah kuliah namun karena tak cukup biaya ia akhirnya menjadi pengamen. Arya seorang pria yang tampan,gagah namun, karena ia tinggal di lingkungan yang salah, ia terlihat begitu jelek.
Di bawah terik matahari Arya tengah duduk bersama dengan teman-temannya. Seperti biasa Arya mencari uang dengan mengamen. Ia mengamen bersama dua orang temannya, Gilang dan Rizky. Mereka tengah mencari tempat yang ramai untuk mengamen
" Kita mau ngamen di mana lagi?" Tanya Gilang pada Arya.
Arya masih kebingungan, tempat mana lagi yang akan dijadikannya ngamen. Ia ingin mencari tempat yang sangat ramai.
Arya dan teman-temannya telah mengamen di beberapa tempat. Tempat yang telah di jajakinya kini sudah tak asyik lagi baginya.
"Gimana kalo kita ke tempat sebelah aja." Usul Rizky.
Gilang dan Arya saling menatap, memberi persetujuan.
"Oke juga tuh, ntar kita ngamen di kampung sebelah. Di sini udah agak sepi." Ucap Arya yang setuju dengan usulan Rizky. Gilang pun menyetujuinya.
" Laper nih gue. Cari makan dulu lah." Ucap Gilang yang cacing-cacing di perutnya sudah mulai berdemo meminta jatah makan.
Mereka memang belum makan dari pagi, tak heran jika cacing-cacing di perut mereka berdemo.
"Kalian tunggu disini aja, biar gue yang cari makanan." Seru Arya.
Arya bergegas mencari tempat yang rame untuk ia mengamen, ia meninggalkan Gilang dan Rizky.
Kini Arya tengah berjalan mencari keramaian. Ia berjalan di bawah terik matahari. Ia tak mengeluh sedikitpun tentang kehidupannya. Walaupun hidupnya tak karuan,menjadi seorang pengamen. Ia bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang. Walaupun tak memiliki sanak saudara, Arya bersyukur ia masih memiliki teman-teman yang selalu menemaninya.
Arya tengah berjalan di jalan yang sepi . Ia melihat ada seorang yang nampaknya tengah membutuhkan bantuan.
Seorang perempuan yang tengah berhenti di pinggir jalan. Terlihat perempuan itu tengah kesal. Arya yang melihatnya lalu menghampiri perempuan itu
"Kenapa mbak motornya?" Tanya Arya
Perempuan tersebut langsung menoleh ke arahnya.
"Eeeee...ini motornya nggak bisa jalan, mogok kayak nya." Jelas perempuan itu.
" Ouh mogok ya, disini bengkelnya agak jauh, mau saya anterin." Ajak Arya pada perempuan tersebut.
" Eeeee..." Perempuan itu masih kebingungan, apakah ia harus menolaknya atau tidak. Ia melihat sekeliling, jalanan sepi, tidak ada orang lewat. Ia merasa takut dengan Arya.
" Kenapa? Takut dengan saya ya?"
Arya melihat perempuan itu tengah takut melihat penampilannya, tidak heran jika perempuan itu takut.
" Udah gak usah takut." Sambung Arya.
perempuan itu tidak ada pilihan, lalu ia menerima ajakan Arya.
" Baiklah." Ucapnya dengan menganggukkan kepalanya.
Lalu mereka berjalan bersama, Arya menuntun motor dan perempuan itu berjalan di sebelah Arya. Mereka berjalan layaknya pasangan kekasih. Kecanggungan menyelimuti mereka. Hingga akhirnya Arya memecahkan kecanggungan yang ada.
"Ouh ya nama saya Arya Wiguna,panggil aja Arya,nama kamu siapa?"
" Ee...nama aku Wulandari, panggil aja Wulan."
" Ouh, kenapa kamu? Masih takut dengan saya ya? Jangan takut dong nanti akunya jadi sedih."
Wulan,nama perempuan yang ditolong oleh Arya. Wulan seorang perempuan yang sebaya dengan Seumuran Arya. Wulan gadis yang begitu lembut.
"Sedih?" Ucap Wulan dengan menyerngit.
" Iya, kalo kamu takut ngelihat saya,saya sedih, tapi kalo kamu takut......." Ucapnya terpotong.
Arya terlihat bercanda dengan Wulan.
"Takut apa?!" Ucap Wulang dengan kaget.
"Takut kehilangan saya." Ucapnya dengan terkekeh kecil.
Wulan yang mendengarnya,hanya tersenyum. Ia merasa tak seharusnya ia takut pada Arya. Arya tak seburuk penampilannya.
" Kenapa kamu berpenampilan seperti ini? Apa Ayah dan ibumu tak memarahi mu?" Tanya Wulan dengan sedikit rasa takut. Ia takut kalau Arya merasa marah dengan Ucapannya. Namun Malah sebaliknya Arya tak marah dengan Ucapan Wulan.
"Ayah Ibu saya sudah meninggal, saya sudah tak punya keluarga, saya tinggal bersama teman-teman saya."
" Ouh, maaf saya tidak tahu. Maaf kalo pertanyaan saya membuat kamu sedih."
"Tidak apa-apa. Saya tidak merasa sedih. Memang itu faktanya. Jadi buat apa saya sedih."
"Ternyata kamu tidak seburuk penampilan kamu. Saya jadi merasa bersalah, tadi saya sempat berfikir jelek tentang mu.maafkan saya ya Arya."
Arya yang mendengar permintaan maaf dari wulan, ia hanya diam. Ia merasakan perasaan aneh. Hati kecil Arya merasa nyaman mengobrol dengan Wulan. Arya tak pernah bertemu dengan sosok perempuan yang lembut, seperti Wulan.
"Tidak apa-apa, saya tidak heran jika kamu berpikir seperti itu,Wulan. Memang penampilan saya buruk jadi, wajar saja jika orang yang melihat saya berpikir seperti kamu."
" Kenapa kamu tidak mengubah penampilan kamu Arya? Memangnya apa pekerjaan kamu?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu pada saya?"
"Aku hanya ingin mengenal mu lebih, itu saja."
"Kenapa kau ingin mengenal lebih pada saya Wulan?"
" Ya, karena aku ingin berteman dengan mu Arya, apa kau tak ingin berteman dengan ku?"
" Tentu saja saya mau berteman dengan perempuan se lembut dan sebaik kamu, Wulan."
Di lain tempat, Gilang dan Rizky sudah sangat kelaparan. Mereka menunggu Arya yang tak kunjung datang. Mereka merasa khawatir pada temannya,Arya. Mereka khawatir kalau Arya tertangkap. sudah lama sekali Arya pergi, ia tak kunjung datang.
"Ki..Si Arya kog gak dateng-dateng ya, jangan-jangan...."
Gilang yang telah berfikir jauh entah kemana,membuat Rizky gelisah. Tak seperti biasanya, Arya tak pernah selama ini membegal.
"Lang..jangan mikir aneh-aneh dong. Nggak mungkin kalau si Arya ketangkep."
" Nggak seperti biasanya Ki, si Arya ngamen selama ini."
" Iya juga, tapi nggak mungkin lah kalo Sampek si Arya ketangkep."
" Semoga aja sih, si Arya nggak ketangkep."
"Semoga aja Lang."
Arya yang Asyik mengobrol dengan Wulan, kini telah sampai di bengkel motor. Arya merasa menyukai Wulan, dan ia enggan mengatakan nya.
Arya tak bergegas meninggalkan Wulan sendiri, ia menemani Wulan di bengkel.
' Wulan. Kamu begitu lembut dan juga baik. Apa mungkin kamu memiliki rasa suka pada saya? Saya menyukai kamu Wulan, sifat yang kamu miliki membuat ku menyukaimu. Apa saya bisa memiliki mu?.' batin Arya.
Arya terus menatap Wulan. Ia mengamati wajah Wulan dengan tersenyum.
"Hey!!"
Ucap Wulan mengagetkan Arya.
"Eh..udah selesai ya?"
" Belom. Kamu kenapa?"
"Eeeee...tidak. saya hanya sedang...." Ucap Arya terpotong.
Perut Arya berkeroncongan. Arya merasakan lapar. Tanpa basa basi Wulan mengajak Arya Makan bersama, sebagai tanda Ucapan terimakasih pada Arya.
"Arya, kamu sedang lapar ha?? Gara-gara menuntun motor aku kamu jadi laper ya?" Ucap Wulan dengan Bercanda.
Arya hanya tersenyum. Ia malu mengakui nya.
"Ehmmm...sebagai tanda terima kasih ku atas pertolongan kamu, aku traktir kamu makan. Gimana?"
Arya merasa tidak enak pada Wulan. Ia pun merasa sangat bersalah ingin membegal Wulan, wanita yang sangat baik hatinya.
"Udah,ayo aku traktir kamu makan." Ucap Wulan dengan menarik tangan Arya.
Jantung Arya berdetak lebih kencang saat Wulan menarik tangannya.
" Jadi kamu mau makan apa?" Tawar Wulan ketika sudah sampai di warung makan yang tak jauh dari bengkel motornya.
" Saya ikut kamu aja."
Tiba-tiba Arya teringat pada Gilang dan Rizky. Mana mungkin aku makan tapi Gilang dan Rizky kelaparan?. Arya tak ingin ketika perutnya kenyang namun, perut Gilang dan Rizky menahan lapar.
"Hey..kenapa kog bengong? Apa ada masalah dengan Mu arya?"
Wulan yang melihat Arya diam,ia merasa bingung ada apa dengan Arya. Apa Arya sedang ada masalah. Atau apa.
"Ee... sepertinya saya tidak bisa makan Wulan."
"Kenapa? Apa kamu tidak suka?"
"Eee...saya tidak bisa makan sendiri,saya tidak bisa merasakan perut saya kenyang sendiri, sedangkan teman saya merasakan kelaparan."
" Saya Sangat tidak menyangka, kamu begitu baik sekali Arya. Kalau begitu saya akan mentraktir teman-teman kamu. Kamu boleh membungkus kan mereka makanan."
"Apa kamu serius Wulan?! Apa saya tidak merepotkan kamu.?"
"Tentu saja tidak."
"Terimakasih wulan.kamu begitu baik pada saya."
" Iya, sama-sama Arya."
Dengan rasa bahagia Arya membungkus kan makanan untuk Gilang dan Rizky. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan Wulan.
Wulan yang melihat kebahagiaan di raut wajah Arya, ia merasa sangat bahagia. Wulan tak menyangka walau penampilan Arya begitu menakutkan namun hatinya begitu baik. Wulan sangat bahagia bisa mengenal Arya. Ia ingin sekali membuat Arya lebih baik.
' Arya Wiguna. Nama yang bagus. Kau begitu berbeda dengan penampilan mu. Kau begitu baik. Apakah aku menyukai Arya? Apa kau juga menyukai ku? Apa kau merasakan perasaan aneh Arya seperti ku? Kalau memang iya, mungkin aku akan bahagia bisa bersama mu. Ah dasar Wulan. Mikirin apaan sih.' batin Wulan.
Kini mereka telah selesai makan. Arya merasa senang begitu juga Wulan.
Wulan dan Arya kembali ke bengkel motor untuk mengecek motor Wulan. Ternyata motor Wulan telah selesai.
"Ehmmm..Arya. setelah ini kamu mau kemana?"
"Saya ingin pulang, ingin memberikan makanan pada teman saya."
"Bolehkah saya ikut? Saya juga ingin mengenal teman kamu."
" Apa kamu tidak di cari orang tua kamu nanti."
" Tidak perlu berfikir sejauh itu, nanti saya bisa jelasin ke mereka kenapa saya pulang telat.jadi boleh kan saya ikut dengan mu?"
"Ya sudah."
"Yeay!!"
Arya dan Wulan kini mereka terlihat sangat bahagia. Mereka berboncengan berdua. Tanpa rasa malu Wulan melingkarkan tangannya di tubuh Arya. Arya yang mendapat pelukan dari Wulan ia sangat bahagia. Ia tak menyangka, ia bertemu dengan sosok wanita yang tak memandang dirinya.
Arya dan Wulan kini telah sampai di rumah. Gilang dan Rizky yang melihat kedatangan Arya dengan seorang perempuan merasa bingung. Siapa wanita yang bersama dengan Arya? Apa Arya lama kembali karena wanita ini?.
" Lang,Ki...nih gue bawain makanan buat kalian.sory gue telat."
Ucap Arya dengan menyodorkan makanan yang telah di bungkusnya tadi waktu makan bersama Wulan. Gilang dan Rizky langsung menerimanya.
" Eh...kenalin ini Wulan." Sambung Arya.
Arya yang melihat Gilang dan Rizky bingung dengan perempuan yang bersamanya dengan cepat ia memperkenalkan Wulan dengan Gilang dan Rizky.
" Hay..saya Wulan."
"Saya Rizki."
"Saya Gilang."
Setelah berkenalan dengan Rizky dan Gilang, Wulan duduk bersama dengan mereka. Gilang dan Rizky memakan makanan yang di bawa Arya.
Sedangkan Arya, ia duduk dan bernyanyi diiringi dengan gitar.
Tanpa disangka oleh Wulan, ternyata Arya memiliki suara yang merdu.
Arya mulai memetik senar gitar dengan jari-jemarinya.
Ia bernyanyi dengan penuh penghayatan.
Ku mencari dan menanti
Akan datang sentuhan kasih....
Yang akan membasahi keringnya hati...
Dilanda kesedihan tak bertepi...
Sementara dengan mudahnya...
Mereka dapati bahagia...
Diantara canda tawa tanpa nestapa
Mengapa ku tak seperti mereka...
Jalan panjang ini harus ku lalui..
Meski onak duri melukai kaki...
Ku percaya akan tiba di satu masa
Saat ku temui hari bahagia..
Tuhan tolong aku...
bimbinglah tanganku...
Biar air mata membasuh lukaku...
Tak akan ku biarkan derita menderaku...
Ku akan jadi pemenang Hidupku...
Biar malam berganti pagi
Biar bulan dan matahari
Menjadi saksi keikhlasan ku..
Ku tegarkan langkah ku ini
Ku hadapi dengan berani..
Tuk dapati sebentuk cinta kasih..
Jalan panjang ini harus ku lalui..
Meski onak duri melukai kaki...
Ku percaya akan tiba di satu masa
Saat ku temui hari bahagia..
Tuhan tolong aku...
bimbinglah tanganku...
Biar air mata membasuh lukaku...
Tak akan ku biarkan derita menderaku...
Ku akan jadi pemenang Hidupku..
Meski ku dapati sebentuk cinta kasih...
Arya Begitu menyukai lagu tersebut. Setiap ia menyanyikan lagu tersebut ia selalu meneteskan air mata.
Gilang dan Rizky tak begitu terkejut dengan suara merdu milik Arya. Namun tidak sebaliknya dengan Wulan, ia terkejut dengan bakat yang dimiliki oleh Arya. Ia memiliki suara yang merdu. Arya juga di dukung oleh wajah tampan yang dimiliki.
Wulan berniat menjadikan Arya seorang penyanyi. Ayah Wulan bisa membantu nya.
Namun yang harus di lakukan wulan, mengubah penampilan Arya.
Tanpa di sadari oleh Wulan, hari akan menjelang malam. Ia pamit untuk pulang.
"Arya, Rizky, Gilang...aku pamit dulu ya. Takutnya nanti di cariin ayah."
"Ibunya nggak nyariin Wulan ?" Tanya Gilang
"Eee... ibunya Wulan udah nggak ada."
"Ee..maaf Wulan."
"Enggak apa-apa...ya udah Wulan pamit dulu. assalamualaikum."
(Skip)
Wulan kini telah sampai di depan rumahnya. Ia sangat bahagia dengan hari ini..ia ingin sekali menceritakan hari ini pada sang ayah. Ia juga ingin sekali sang ayah membantu Arya.
"Assalamualaikum."
"Waaalaikum salam, Wulan kog baru pulang?"
"Eeeee...iya yah, tadi motor Wulan mogok."
"Kog pake motor? Kenapa nggak pake mobil?"
"Enggak papa yah, Wulan lagi pengen aja naik motor."
"Ya sudah ayo masuk, terus mandi ganti baju dan makan."
"Siap ayah."
Wulan dan ayahnya sangat harmonis, Wulan bersyukur memiliki ayah yang begitu menyayangi nya.
Kini Wulan dan ayahnya tengah berada di meja makan. Mereka bersiap untuk makan malam.
Wulan tidak tinggal dengan ayahnya saja, di rumahnya ada pembantu,dan supir juga.
Wulan terus saja teringat kejadian siang hari dengan Arya, ia tersenyum bahagia ketika mengingat nya hingga membuat sang ayah heran.
" Wulan, kog senyum-senyum sendiri, lagi mikirin Cowok ya?"
"Eee..."
"Iya kan? Cowok Wulan ya?"
"Belum yah."
" Ouh...kog belum di kenalin ke ayah? Siapa cowoknya, ha?? Sampek bikin anak kesayangan ayah senyum-senyum terus."
"Eee.. sebenarnya dia itu nggak sederajat sama keadaan kita yah."
" Ya gapapa, kalo kamu bahagia sama dia, terus dia nggak bakal nyakitin kamu, ayah nggak masalah kog."
"Ayah serius?"
"Ia sayang, ayah serius."
"Makasih ayah. Ehmmm...boleh nggak Wulan minta tolong sama ayah?"
"Minta tolong apa? Pasti ayah bantuin."
"Ayah terbitin Orang yang Wulan suka ya?"
"Terbitin jadi penyanyi, dia suaranya merdu banget yah. Pasti nanti dia bisa jadi penyanyi sukses. Bisa ya yah?"
" Iya sayang, demi kamu bahagia ayah bakal ngelakuin apa aja buat kebahagiaan kamu."
"Makasih ayah, Wulan sayang banget sama ayah."
Wulan memiliki sifat yang begitu mirip dengan ayah dan mendiang ibunya.
Seperti ayahnya, ayah Wulan begitu baik hati, ia tak pernah melarang Wulan untuk berteman dengan orang yang tak sederajat dengan keluarganya. Selagi Wulan bahagia ia membiarkan Wulan berteman dengan siapa saja. Tak heran jika Wulan sangat menyayangi ayahnya.
(Skip)
Wulan hari ini ingin menemui Arya. Ia ingin membuat Arya menjadi seorang yang sukses. Arya memiliki bakat, dan Wulan tak ingin bakat yang Arya miliki tidak di asah.
Sebelum Wulan ke rumah arya,ia rupanya ingin mampir ke mall. Ia ingin membelikan sesuatu untuk Arya dan teman-temannya.
Setelah beberapa lama di dalam mall, Wulan melanjutkan perjalanan menuju ke rumah arya.
Tak butuh waktu lama, Wulan telah sampai di rumah arya.
"Assalamualaikum,permisi."
"Waaalaikum salam, Wulan. Apa yang membuat mu kemari?"
Tanya Arya yang kaget dengan kehadiran Wulan. Bagaimana tidak. Kemarin baru saja bertemu dengannya dan hari ini bertemu kembali dengan Wulan.
"Aku kesini ingin mengajak mu, aku ingin memberikan kejutan padamu."
"Kejutan apa?"
"Ya kejutan.kalau aku kasih tau nanti nggak kejutan dong namanya."
"Hahahaha....bisa aja kamu Wulan."
"Ouh ya...ini aku ada beberapa hadiah buat kamu, Gilang dan juga Rizky."
" Terimakasih...ya sudah saya siap-siap dulu."
Arya masuk kedalam untuk bersiap-siap,Wulan duduk di luar. Iya tak sabar untuk memberikan kejutan pada Arya.
(Skip)
Mereka kini telah sampai di depan rumah Wulan. Arya yang melihat rumah yang begitu mewah merasa bingung. Ia tak mengetahui jika ia tengah berada di depan rumah Wulan.
"Rumah siapa ini Wulan? Kenapa kamu mengajak ku kemari?"
"Arya, ini rumah ku. Aku akan memperkenalkan mu pada ayah ku. Dan aku ingin kau menjadi penyanyi sukses. Kau memiliki suara yang merdu.jadi kamu tidak boleh menolaknya."
"Saya takut, nanti ayah kamu akan memarahi mu Karena telah mengajak orang sepertiku."
"Sudahlah, jangan di fikirkan. Ayo masuk."
Akhirnya Arya mengikuti keinginan Wulan.
Ayah Wulan telah menunggu Wulan dan Arya. Ia sangat heran dengan seseorang yang telah membuat Wulan begitu bahagia.
"Assalamualaikum ayah."
Ucap Wulan yang melihat ayahnya telah menunggu kehadirannya dan Arya.
Arya nampak begitu ragu, ia takut pada Ayah Wulan.
"Waaalaikum salam."
"Ayah kenalin ini Arya, orang yang Wulan ceritain ke ayah."
"Hay om. Saya Arya."
"Hay Arya, Saya Prasetya ayahnya wulan.ayo silahkan duduk jangan malu-malu."
"I-iya om."
Arya merasa lega, ternyata yang ia fikirkan tentang ayah Wulan itu tidak benar. Ayah Wulan begitu baik sekali padanya ia tak merasa jijik dengan kehadirannya.
"Arya...apa pekerjaan kamu.?"
"Eee...saya hanya pengamen jalanan om."
"Baiklah. Apa kamu pernah kuliah.?"
"Ia om, saya pernah kuliah jurusan hukum. Tapi karena tidak ada biaya saya jadi berhenti kuliah."
"Ouh... Begitu. Saya sudah mendengar banyak tentang kamu. Bolehkah saya tanya sesuatu pada mu Arya?"
"Ee..tentu saja om. Mau tanya apa?"
"Apa kamu benar-benar menyukai Wulan, anak saya?"
"Benar om. Saya menyukai Wulan. Ia begitu baik."
"Ya sudah. Saya ingin membantu kamu menjadi seorang penyanyi sukses.apa kamu mau?"
"Om seriusan?!"
"Iya saya serius Arya. Wulan Begitu yakin kamu akan menjadi penyanyi sukses. Maka dari itu saya akan membantu kamu."
"Terimakasih om. Saya sangat senang dengan bantuan om."
"Baiklah besok kamu bisa rekaman. Nanti di anterin sama Wulan ya."
"Iya om. Sekali lagi saya sangat berterimakasih atas kebaikan om."
Lalu ayah Wulan meninggalkan Arya dan Wulan.
Ia tak ingin mengganggu dua sejoli yang tengah jatuh cinta.
" Jadi ini kah kejutannya?"
Tanya Arya pada Wulan. Ia tak menyangka Wulan akan memperkenalkan dirinya pada ayahnya. Ia juga tak menyangka jika Wulan ingin membuat dirinya sukses. Wulan tengah menikmati kebersamaannya dengan Arya. Wulan menyenderkan kepalanya di dada milik Arya.
"Heem.apa kamu suka dengan kejutan ku?"
"Terimakasih, kamu begitu baik pada ku."
" Apa kamu serius Arya?"
"Serius apa?"
" Ya tadi yang kamu katakan pada ayah saya."
"Yang mana?"
"Yang....itu..ih.."
" Yang itu yang mana?"
Arya terus saja menatap wajah wulan.ia tak ingin melepaskan pandangannya dari wajah cantik milik Wulan. Begitupun dengan Wulan. Ia terus saja memeluk Arya.
"Ih..kamu kog gitu."
"Eh...jangan ngambek lan. Iya saya serius. Saya menyukai kamu sejak awal saya bertemu kamu. Apa kamu juga menyukai saya?"
"Eeeee...enggak."
"Kamu enggak suka sama saya? Kalau kamu nggak suka kenapa kamu melakukan ini semua?"
"Ih..ya enggak lah. Aku juga suka sama Arya.
Arya beda sama yang lain."
(Skip)
Pagi ini Arya, tengah berada di sebuah studio rekaman milik om Wulan. Wulan menemani Arya untuk rekaman. Hingga akhirnya Rekaman Arya telah selesai.
" Arya Wulan kalian bisa memasarkan kasetnya setelah seminggu."
"Iya om."
"Arya. Kamu beruntung sekali mendapatkan Wulan. Jangan lupakan perjuangan Wulan setelah kamu sukses nanti."
"Iya Om. Saya tidak akan melupakan perjuangan Wulan,om dan juga ayahnya Wulan."
"Jadi apa kalian sudah menikah?"
"Belum om."
" Jadi kapan Arya kamu akan menikahi Wulan.?"
" Nanti om.secepatnya doakan saja."
(Beberapa Minggu kemudian)
Arya telah menjual kasetnya di pasaran. Dan tak disangka kasetnya laku. Tidak disangka juga, Arya mendapat tawaran menyanyi,dan show. Hingga akhirnya Arya menjadi penyanyi terkenal dan sukses.
Wulan sangat bahagia, perjuangan nya tak sia-sia.
Kini mereka tengah beristirahat di sebuah sofa di rumah Wulan.
Nampak Wulan sangat manja pada sang kekasih.
"Terimakasih sayang. Kamu telah menemani saya dari nol hingga seperti ini."
" Sama-sama.jadi? Kapan kamu memberikan kejutan terindah untukku?"
"Kejutan terindah? Kejutan apa?"
"Eee...jadi kapan kau akan menikah dengan ku?"
"Secepatnya. Nanti malam aku akan meminta izin pada ayah untuk menikah dengan mu."
Malam telah menyapa. Arya datang kerumah Wulan. Sesuai yang ia katakan dengan Wulan. Malam ini ia akan meminta izin pada Ayah Wulan untuk menikahi putrinya.
"Arya. Bagaimana show-show mu?"
"Ee..lancar om. Saya juga berterimakasih berkat om saya bisa menjadi seperti sekarang."
"Kog terimakasihnya sama ayah doang.sama Wulan nggak?!"
"Iya sama Wulan juga. Terimakasih sayang."
"Ouh ya om. Saya kesini ingin meminta izin pada om."
"Meminta izin apa Arya?"
"Saya ingin menikahi wulan."
"Tentu saja. Saya merestui kalian. Dan kamu harus menjaga wulan.kamu tidak boleh membuat Wulan menangis. Dan kamu harus ingat siapa yang menemani kamu dari bawah hingga kamu bisa menjadi seperti ini."
"Iya om. Saya akan ingat pesan-pesan om."
Setelah lama di rumah Wulan. Kini Arya pamit untuk pulang. Wulan mengantarkan calon suaminya hingga depan pintu.
Ketika ingin pulang, tiba-tiba Wulan tak ingin melepaskan pelukannya dari Arya. Ia tak ingin jauh dari Arya.
Setelah merayu-rayu Wulan, akhirnya Wulan melepaskan pelukannya. Arya kini tengah berada di dalam mobil. Ia menatap wajah Wulan. Wulan memonyongkan bibirnya. Ia kesal dengan Arya.
Arya yang melihat tingkah Wulan ia kembali turun dan mendekati Wulan.
Arya mendekatkan wajahnya ke wajah Wulan. Benda kenyal milik Arya telah menempel di bibir Wulan. Mereka tengah menikmati ciuman bibir. Arya melumat lembut bibir milik Wulan. Wulan langsung membalas lumatan Arya. Mereka cukup lama menikmati ciuman bibir. Hingga akhirnya Arya menyudahinya. Dan mencium bibir Wulan dan juga pipi Wulan. Tak lupa Arya mengatakan sesuatu tepat di telinga Wulan.
" Terimakasih sayang, aku mencintaimu sangat mencintai mu. Aku akan menanamkan benih di perutmu. Tunggu aku menjadi suami mu.i love you Wulandari."
Arya dengan rasa bahagia bergegas pulang,dan Wulan yang mendengar ucapan Arya sangat bahagia. Ia tak sabar untuk menjadi istri Arya dan memiliki buah hati dari Arya,yang akan menambah keharmonisan Keluarga nya nanti bersama Arya Wiguna.