Dalam bis kuning yang membawanya ke sekolah, Nylon Red selalu terpaku pada toko antik, Serpêhatî, yang selalu ia lewati. Dalam hati ia bertanya ada apa didalamnya.
Penasaran? Tentu saja. Saat ia mengajak orang tuanya. Mereka tak pernah memperbolehkannya masuk ke toko itu.
Banyak rumor yang beredar. Mulai dari si penjaganya seorang penyihir. Atau jika kau masuk kesana kau tak akan bisa kembali. Dan banyak lagi.
Itu yang membuat Nylon Red semakin penasaran. Amber Downey, gadis dengan rambut kriting hitam, sahabatnya, selalu bilang, hei Nyny --panggilan Nylon dirumah-- kalau kau terlalu penasaran hati hati kau akan jadi korban berikutnya.
Suatu sore, pulang sekolah ia melihat si pembuat onar disekolahnya memasuki toko antik itu. Brooklyn Tompson.
Besoknya ia penasaran ingin bertanya pada Brooklyn apa yang ada didalam toko itu. Tapi ia takut. Ya kau tahu, siapa pula yang mau berurusan dengan biang onar disekolahmu.
"Nylon kau dicari Mr. Adam diruangannya!" Jake berteriak dari pintu kelas. Hmmm... kenapa tak mendekat saja. "Yeah thanks Jake" kata Nylon mengangkat jempolnya.
Nylon bergegas keluar kelasnya, ia akan bertemu Amber dan memberitahunya kalau ia tak bisa menemani sahabatnya itu untuk makan es krim di Dinner Paw.
"Kenapa lagi Mr. Adam memanggilmu?" Tanya Amber dengan melipat tangannya pada dada. Kesal. Tentu saja.
Mereka berencana mencoba es krim dengan rasa baru yang kata Bianca, kakak Amber, sangat enak. Dan terbatas. Apapun dengan kata "terbatas" membuat Amber tergila-gila juga menginginkannya.
"Terbatas itu artinya sedikit, aku mau jadi orang dengan sedikit itu Nyny, aku merasa istimewa, karenanya" penjelasan sahabatnya saat Nylon bertanya "kenapa kau gila, terbatas?".
"Dan stop memanggil ku Nyny, cukup dirumah, please, tidak disini" Nylon malas dengan panggilannya dirumah terlalu eeeww...
"Jangan bilang kau melupakan tugasmu lagi Nyny" matanya menatap Nylon tajam dengan tekanan pada kata Nyny.
"Hhhh...mungkin, tapi sepertinya aku selalu mengerjakannya, apa aku melupakannya? Ntah" Kebiasaan buruk Nylon. Ingatan yang pendek. Kalau tak ia catat apa saja agendanya, juga janji, ia akan lupa.
"Okay, aku akan kerumah Brenda menggambil Paulo --nama anak anjing milik Amber--" melas Amber.
"Ayo aku sekalian mengantarmu keruangan Mr.Adam" Mereka berjalan bersama.
"Kau bisa ke sana sendiri Amber, tak usah denganku, aku tak apa apa, lagian aku tak begitu tertarik" Acuh Nylon.
"Serius kau tak tertarik, Kau tahu kan Dinner Paw satu blok dengan apaaa?!" Ucap Amber menyipitkan mata dan menaik naikan alisnya, jahil.
Nylon menepuk jidatnya. Ia lupa kalau Dinner paw satu blok dengan toko antik itu, Serpêhatî.
"Oh Nylon Red, kemari cepat!" Seru Mr. Adam dari pintu ruangannya. Hhhh... kenapa semua orang suka berteriak di pintu. "Okay thanks Amber" Nylon melangkah cepat masuk keruangan Mr.Adam.
"Okay see you Nyny" Amber suka sekali menggoda Nylon yang menurutnya lucu itu.
***********
"Okay semua sudah disini, langsung saja, Ms. Red dan Mr. Tomson kalian tahu kenapa kalian disini" Tanya Mr. Adam di balik meja. Nylon tidak sendiri ada Brooklyn Tompson disana
Nylon agak terkejut kenapa ia bisa disini bersama si biang onar sekolah.
"Ms. Red? Mr.Tomson? Kenapa kalian diam!" Seru Mr. Adam.
Nylon menunduk ia tak tahu kesalahan apa yang telah ia buat. "Saya sudah membuatnya Mr.Adam, tetapi kertas kertasnya melayang dan tulisannya kabur" Mendengar itu Mr. Adam mengebrak meja.
Nylon terjengit dikursinya. Ia tak habis pikir dengan bocah lelaki disebelahnya.
Jawaban yang akan membawamu ke neraka dan menyertakan diriku terseret ikut. Pikir Nylon yang melirik tak suka ke sampingnya.
"Maaf Mr. Adam apa saya melupakan tugas Anda?" Pertanyaan berbisik Nylon membuat Brooklyn memandang remeh dirinya.
"Ya jelas nona, kita dipanggil kesini karna tidak memberikan tugas kita" Jawab Brooklin.
Nylon melirik kesal Brooklin.
"Sudah! Sepertinya kalian berdua akrab. Kalau begitu saya akan berikan tugas kelompok untuk kalian" Apa yang sudah di ucapkan Mr. Adam tidak boleh dibantah atau kau akan mengulang kelas yang sama pada tahun depan. Oh tentu saja tidak.
********
Kau tahu apa yang membuat semangat Nylon di pagi hari ini tinggi. Bukan. Bukan karna kebanyakan makan gula jadi hiperaktif. Bukan apapun itu yang ada diotak kalian.
Ya sepagi ia sudah bangun dan menyiapkan segala keperluan untuk tugas yang diberikan Mr. Adam.
Waktu tugas membantu sosial diceploskan Mr. Adam kemarin, Nylon serasa ogah ogahan, tetapi saat nama toko disebutkan Nylon jadi tidak sabar
"HAH! Lagi!" Dengusan bosan keluar dari mulut Brooklyn. Sudah langganan bagi Brooklyn sebagai anak yang suka bikin onar.
"Okay, sana kalian boleh pulang" Usir Mr. Adam pada mereka berdua. Mereka segera keluar setelah Mr. Adam memberi jadwal kapan mereka menjalankan hukumannya.
Brooklyn melihat senyuman senang dari Nylon. "Senang, Huh!" Ledek Brooklyn. Nylon mengkerutkan bibirnya. Tak ingin berbicara pada Brooklyn. Lalu berjalan cepat mendahului Brooklyn.
"Hei! Di ajak ngomong, kamu bisu!" Teriak Brooklyn dibelakang Nylon, tak mengejar. Nylon berjalan cepat dengan kedua tangannya menutupi kuping.
Nylon berada didepan Sepêrhatî. Ntahlah ia terlalu bersemangat. Ragu-ragu dengan perlahan tangannya akan menyentuh kenop pintu.
Tetapi pintu sudah didorong cepat oleh orang dari belakangnya.
"Lama" Brooklyn masuk. Dengan cemberut. Nylon mengikuti dibelakangnya.
"Selamat Datang di Sepêrhatî, pilihan!" Salam dari dalam, seorang lelaki seumur Mr. Adam dengan rambut panjang yang di ikat asal, mengenakan kemeja dengan suspender, celana bahan hitam juga sepatu kulit hitam, yang kilatnya, kau akan tahu kalau itu mahal.
"Eh kami dikirim Mr. Adam" Ucap Nylon. "Saya Nylon Red...." belum selesai Nylon. Dengusan keras menghentikan perkenalan Nylon.
"Kau datang lagi, Huh!" Nylon memandangi bergantian antara Brooklyn dengan Lelaki itu.
"Tanyakan pada si tua Adam, suka sekali dia menyiksaku" Brooklyn masuk kedalam dengan tak tahu diri. Meninggalkan Nylon yang mati kutu.
"Hai kau, Ms.Red, aku Brandon Adam, kau bisa memanggilku Brandon, aku pemilik Sepêrhatî, salam kenal" lelaki itu tersenyum, matanya juga ikut tersenyum dibalik kacamata dengan bingkai tipis.
"Ah Mr.Brandon kau bisa memanggilku Nylon" Nylon sangat bersemangat.
"Okay Nylon, kau bisa ke lantai dua, mengerjakan tugasmu, disana kau akan dibantu Brooklyn" Nylon melangkah masuk, memperhatikan sudut-sudut ruangan. Kemudian ia kembali ke depan.
"Mmm... Mr. Brandon, apakah aku boleh berkeliling setelah, tugasku selesai" Mr.Brandon yang sibuk dengan buku, melihat kearah Nylon dan tersenyum.
"Silakan, dengan senang hati" Nylon, tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. "Terimakasih" ia kembali melangkah dengan semangat menuju lantai atas.
*********
Ternyata merapihkan dan menyusun buku lalu menjurnalnya adalah tugas yang diberikan Mr. Adam. Dan ini sangat menyenangkan bagi Nylon, pecinta buku.
Dilantai 2, Sebuah perpustakaan yang sangat indah. Menyapanya.
Banyak sekali buku-buku disini. Nylon sangat suka. Aroma perpustakan, aroma meja kayu terbuat dari pohon oak, Di rak-rak terdapat buku tua. Nylon suka aroma buku. Best hidden place, pikirnya.
Kalian tanya dimana brooklyn. Ditengah ruangan, duduk dengan kaki diangkat diatas meja dengan wajah menengadah keatas ditutup oleh sebuah buku. Tertidur, setelah memberi tugas-tugas pada Nylon. Memang biang onar.
Lupakan si biang onar itu.
Nylon menumpuk buku-buku. Ia melihat buku dengan sampul tebal juga besar, buku yang menarik.
Mendekati lalu mengambilnya. Berat. Ia letakan dibawah. Karena ia sudah tak sabar mengetahui apa yang tersembunyi didalamnya.
Nylon mencoba membukanya. Tetapi tak terbuka, Aneh.
Seseorang menepuk bahunya, agak terjengit dari duduknya. Karena terlalu fokus, ia tak mendengar langkah kaki Mr.Brandon yang mendekatinya.
"Kalau kau ingin membukanya kau memerlukan itu" Mr.Brandon menunjuk gelang yang melingkar indah di patung tangan yang ada di rak atas. Samping, dimana buku itu ia temukan.
"Aku bisa memberimu cuma-cuma kalau kau mau" tersenyum dengan memangku tangannya di meja.
"Kau serius? Tidak menjualnya?" Nylon melihat dari dekat. Gelang yang sangat cantik pikirnya.
Dengan bandul seal wax, lucu sekali. Siapa yang akan menolak. Amber pasti iri bila Nylon memamerkannya besok.
"Kau mau? Karna dia telah memilihmu, berarti menjadi milikmu" Mr.Brandon berjalan mendekat, mengambil gelang dan mengenakannya pada tangan Nylon.
"Kau tahu keistimewaan di toko ini, barang yang akan memilih siapa tuannya" perkataan sang pemilik toko yang misterius itu membuat Nylon bingung.
"Dan hanya orang terpilih yang tertarik masuk kedalam toko" lanjutnya dan pergi menjauh.
Nylon masih menatap punggung Mr.Brandon hingga punggung itu hilang dibalik rak buku.
Nylon kembali fokus pada buku dihadapannya, buku tebal dengan sampul berupa ukiran yang sangat indah, ditengahnya ada sebuah manik dengan warna ruby sebesar jempol yang unik.
Ia meraba manik itu, dan bandul seal waxnya yang ada di gelangnya, seperti magnet, menempel pada manik di tengah buku.
Seketika cahaya sangat terang dan menyilaukan keluar dari balik buku. Terpancar. Nylon memejamkan matanya tak kuat melihat sinarnya.
Kling... sleeejjp...
Takut-takut Nylon membuka matanya.
Dimana ia? Rumput luas dengan hamparan bunga daisy kuning terpampang disegala mata memandang.
Pikirannya ada apa ini? Kata yang tepat buat bertanya tak ada yang bisa ia keluarkan.
Pluk...
Nylon masih berjibaku dengan kebingungannya.
Pluk... pluk...
Masih kusut, mencoba memejamkan mata, terus membukanya. Tak terjadi apa-apa. Mengetuk kepalanya berkali, pun tak membuatnya kembali kelantai dua toko antik itu.
Pluk... pluk... pluk...
Hah! Kembali... Nylon tersenyum aakh... iya, ini pasti mimpi.
Pluk..pluk..pluk..pluk... PLETAK!
"ADUUH! SAKIT BODOH!!" Nylon memaki dengan mengambil apel yang mengenai kepalanya dan mengarahkan buah apel kearah atasnya. yang ia temui cengiran lebar dari Brooklyn Tomson. Ya si pembuat onar.
"Kau!!! Ini mimpiku!" Nylon kesal.
"Kau juga ternyata..." Ucap Brooklyn terjeda, ia melompat turun, mengambil apel ditangan Nylon dan menggigitnya. Menyisahkan Nylon dengan kerutan dahi.
"Mimpi, ya... bisa jadi! Karena disini kau juga bisa terluka. Kalau tak hati-hati" lanjutnya, kemudian, Suara lantang Brooklyn membuatnya memutar mata, jengah.
"DASAR KAU BUKU TUA EGOIS!" Brooklyn memaki ke langit dengan mengacungkan buah apelnya yang telah ia gerogoti.
"Putriiiiiii... putrii Nylonia... Anda dicari baginda Ratu" Nylon menatap pada wanita paruh baya yang berlari mendekat padanya, wanita gemuk tak terlalu tinggi itu dengan susah payah mengatur nafasnya.
Drela Tompskin, pengasuh Putri Nylonia. Nylon masuk dalam dunia dongeng, disini ia seorang putri. Ia seorang anak Raja Louis antonious Red III dan Ratu Arrabelle Red. Putri tunggal yang tomboi.
Sering kali kelakuannya membuat sang ratu menggelengkan kepala. Dimana biasa putri kerajaan lain akan menujukan kecantikannya serta keanggunan, beda cerita dengan putri Nylonia, ia suka berburu, memanjat pohon, bela diri, bahkan keahlian memanahnya dan berkuda tak diragukan.
Walau tomboy ia sangat pintar, berdansa salah satu keahliannya.
"Harusnya kau sering-sering berolahraga bibi Drela" Brooklyn Masih sibuk dengan apel ketiganya. Senyum mengejek tercetak dibibirnya.
"Diam kau Tompskin, jauh jauh dari putri kami" Usir Bibi Drela pada ponakannya itu. Brooklyn mendengus mengejek bibinya itu. Si pengacau ini membuatnya kesal.
"Ayo putri, kau harus membersihkan dirimu, jangan dekat dekat dengannya putri" Peringatan Bibi Drela yang melengos saat mata sengit Brooklyn menatapnya.
Nylon yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya mengikuti si Bibi Drela.
Nylon sudah mengenakan gaun yang sangat indah jika hanya kau lihat bukan kau kenakan.
Ini sangat menyiksa. Sesak. Berat. Nylon tak habis pikir apa guna dari besi-besi ini? Hanya membuat gaunnya mengebung besar, agar apa?
Rasanya ingin Nylon lepas saja.
"Oh putriku, kau cantik sekali, harusnya setiap hari kau seperti ini, agar pangeran di luar sana mengantri ingin menjadi pasanganmu" seorang lelaki tambun dengan kumis tebalnya memeluk Nylon.
"Oh putriku sayang" lelaki itu mengecup berulang kali pipi Nylon. Nylon mengernyit, mendorong muka lelaki itu menjauh.
"Raja! Jangan memanjakannya! Jaga wibawa!" Ucap tegas wanita cantik, mendekat dengan sangat anggun. Sang Raja mendekat ke Ratunya.
"Iya Ratuku, Putri kita cantik sekali, makasih sayang, telah melahirkan putri kita yang cantik ini, muah...muah...muah" Sama seperti yang dilakukan Nylon. Sang Rayu juga mendorong wajah sang Raja menjauh.
"Putri Nylonia" Sapaan sang Ratu,
Ratu melihat anak gadisnya, lalu tersenyum.
Ia harus menjawab apa? "Y... ya ibu" sudahlah, pikirnya.
Satu alis Ratu naik, sepertinya ada yang salah. Nylon mengigit bibir dalamnya. "Drela tinggalkan kami" Perintah Ratu Arra.
"Baik Ratu" Bibi Drela membungkukan diri diikuti para bawahannya meninggalkan kamar Nylon.
"Putri Nylonia kamu tahu, negeri kita sedang dibayangi mendung gelap" Raja Louis menyampaikan sepeninggal bibi Drela. Nylon hanya mengangguk.
Bukan, Nylon masih tak paham.
"Arogoos memberitahu hanya keturunan Raja yang bisa turun tangan" Ibunya yang cantik tak suka basa basi. Benar!
"Ayah sudah menolak sayang" Raja tak mengijinkan anak tercinta mereka turun dalam perang.
Ratu menghela nafas, siapa yang rela mendorong anak satu satunya dalam perang.
"Tapi ibu yakin kamu siap dan bisa, bukannya kau selalu diam diam belajar bela diri dari Ayas --prajurit penjaga putri--" Ratu Arra Tersenyum, menjahili sang putri.
Dan keadaan genting seperti sekarang mau tak mau ia harus merelakan, rakyatnya membutuhkannya. Ratu mendekat, menangkup wajah Nylon. Anaknya yang cantik juga tomboy. Senyum menenangkan terbit dibibirnya.
Nylon menarik benang merah disini. menyimpulkan, 1. ia masuk kenegeri dongeng, 2. menjadi putri raja, yang pembangkang juga tomboy, 3.ikut dalam perang? What the??!!
Apa ini semacam cerita Merida???
Waaahhh luar biasa. "Iya ibu aku... aku siap" Jawab Nylon tak siap, berperang? yang benar saja.
Seminggu sudah Nylon berada dinegeri dongeng, ia sudah bertemu dengan Ayas, dan Arogoos yang OMAIGOSH!! Sangat tampan.
Nylon kira Arogoos sebangsa penyihir, kalau tak peot yaaa keriput memenuhi wajahnya.
Tapi yang ini, Amber akan hilang minat, pada serba terbatasnya jika bertemu dengan dua mahkluk itu. Nylon jamin.
Selain itu yang membuat Nylon berdecak kagum adalah jamuan saat makan. Benar-benar se-WOW itu. Seperti jamuan ulang tahun artis hollywood versi kerajaan. Kau tahu kan. Mewah.
Tapi semenjak ia menginjakkan kakinya dikerajaan ia tak melihat Brooklyn sama sekali. Kemana pembuat onar satu itu. Ntahlah.
Hari yang ditentukan tiba, sebelumnya Nylon sudah mendapat petunjuk dari Arogoos, walau tak berguna,
"Tuan Putri anda harus melakukan perjalanan ke arah tenggara" sambil menunjuk peta, Nylon masih mendengar dengan seksama,
"Emm... lalu?" Arogoos hanya menujukan peta lagi, tak ada kata, pun tindakan. Ya, sudah itu saja petunjuknya.
Nylon tak gentar.
"Saatnya tiba Putri" Bibi Drela mengetiluk pintunya, "Ya" dan yang membuat ia kesal, mengapa harus mengenakan dres dengan besi besi ini. Nyl9n mengangkat roknya. "Jangan tuan putri" BibiDrela melirik beberapa pengawal yang juga ada disana.
Merapikan kembali gaun Nylon.
Bibi Drela mengiring Nylon untuk mengikuti Raja dan Ratu yang keluar menuju pintu kerajaan.
"Aku titip putriku padamu Brooklyn Tompskin, lindungi dia" Brooklin yang sedari tadi menunduk. Mengangguk patuh.
Ini si pembuat onar. Nylon kira ia akan pergi dengan Ayas. Ternyata, hah, sudahlah.
"Saya akan melindungi putri dengan seluruh nyawa saya, yang mulia ratu" Nylon yang mendengarnya ingin mendengus tapi ini sedang serius.
Serius? Kau ikut drama ini. Tompskin, nama apalagi itu. Nylon berusaha menahan gelak tawanya.
"Jaga putriku baik baik Tompskin" Raja menepuk pundak Brooklyn.
What the???
Nylon menaiki kereta kuda yang telah disiapkan. Setelah drama yang membuatnya tergelak mati konyol.
********
Perjalanan.
"Excuse me, sebenarnya kita sedang apa?" Akhirnya Nylon bisa menegeluarkan suaranya.
"Kau tak tahu Red?" Sarkas Brooklyn
"Si tua bangka Brandon dan si buku tua Ini tidak memberitahumu?" Melihat Nylon menggeleng dengan muka idiotnya membuat Brooklyn tertawa terbahak.
Nylon yang tak tahu apa-apa, melihat Brooklyn malah menertawakan dirinya membuat Nylon marah.
"PUAS KAU!" Nylon menjejalkan apel kedalam mulut Brooklyn.
"Okay okay aku jelaskan padamu. Sekarang kau ada didunia dongeng, putri" nylon bersabar menunggu penjelasan selanjutnya.
"Kau dicerita ini menjadi putri tomboy, pantas aku merasa familiar dengan nama si putrinya" Brooklyn menerawang.
"Kau menyeretku ikut masuk kesini" Tuduh Nylon. "Seenaknya kau menuduhku, kau salahkan dirimu sendiri yang mau aja terima gratisan." Ucapnya keras.
"Gratisan?" Nylon menelaah apa yang diucapkan Brooklin padanya. Mengingat apa yang dimaksud oleh lelaki menyebalkan ini.
"Nah kita sudah sampai" Brooklyn menujuk gelang Nylon yang bersinar. Matanya melebar apa benda ini yang dimaksud Brooklyn.
Ia meneliti terus melihat ke gelang pemberian Mr.Brandon.
"Kenapa bersinar? Ah aku ingat, sebelumnya aku melihat sinar yang menyilaukan dari dalam buku besar di per..." Nylon tak melanjutkan, sinar ruby itu keluar dari gua. Brooklin sengaja membuka jendela memperlihatkannya pada Nylon.
"Ini yang kita harus cari, untuk menyelamatkan negeri dongeng ini" kereta kuda sudah tiba didepan gua yang berpendar terang dengan warna yang sama dengan gelangnya.
Brooklyn mengulurkan tangannya, membantu Nylon turun dari kereta kuda.
"Ikuti aku" Brooklyn berjalan mendahului Nylon. Gua semakin dalam semakin gelap. Jalannya pun semakin menyempit.
Nylon merasakan ketakutan. Tapi ia harus terus mengikuti Brooklyn karna ia yang tahu keadaan disini.
Siapalah Nylon, hanya orang baru, anak bawang disini.
"Hei Brooklyn mau kau bawa aku kemana?" Ucapnya agak gemetar.
Brooklyn tak menjawab ia terus berjalan. "Hei kau idiot, pelankan jalanmu, aku kesusahan dengan gaun menyebalkan ini" Brooklin berdecak. Nylon memang kesusahan dengan gaun yang lebar juga berat.
"Seharusnya kau tahu akan kemana kita" Omel Brooklyn.
"Kalau aku tahu mau kesini juga, tak akan mengenakan gaun merepotkan ini" Nylon mencati pengait intuk menali besi di gaun itu.
"Siapa suruh kau berdandan. Mau kepesta putri?" Sarkas Brooklyn. Broolyn tetap berjalan walu temponya diperlambat.
Krang... krang... Brak!
"Astaga tak kukira diriku seringan ini" Nylon berhasil melepaskan besi-besi itu,
"Kita harus cepat sebelum pedarannya hilang" Brooklyn memutar kedua bola matanya, mendapati kelakuan Nylon yang menendang besi- besi itu seperti menendang musuhnya.
"BROOKLYN! LIHAT LIHAT!! gelangnya mengarahkan kesesuatu disana" Nylon berlari mendekat ke Brooklyn, menunjuka gelang ditangannya.
"Bedebah tua kenapa tak bilang dari kemarin" ini bukan pertama kalinya Brooklyn masuk kedunia dongeng.
"Itu manik kan?" Tanya Nylon melihat sumber pedaran ternyata manik sebesar jempol seperti yang ada di sampul buku tebal yang ia temukan.
"Sudah sana, itu tugasmu dengan gelangmu." Mendorong Nylon untuk mendekati manik itu.
"Kau saja, aku masih waras, tak mau" seenak saja lelaki itu mengumpankan dirinya.
"Apa yang kau takutkan Red" ejek Brooklyn.
"Apa maksudmu aku takut? Tidak!" Jawab Nylon menantang balik. Ia tak mau direndahkan oleh si pembuat onar.
"Ya sudah lakukan! Mendekatlah pada manik itu kalau kau tak takut!" Masih dengan nada mengejek.
Nylon melangkah gusar mendekat dan Brttzzzzz...
" AOOWW... BROOOKLYYYYNN AKU BUNUH KAU!!!" Nylon tersentak sekeliling manik dilindungi oleh setrum tak kasat mata. Jika kau mendekat kau akan tersengat.
Tawa Brookyn mengelegar, mengisi ruangan, ia pernah, dan tak mau merasakan sendirian. Dan waktu itu yang tertawa adalah Leonardo Adam sang guru dan Brandon adam, adik leonardo. Keduanya sama sama gila dan ditambah satu lagi si buku tua egois dan suka mengomel.
Nylon memegangi tangan yang nyeri. Menatap sebal Brooklyn yang telah memperdayaianya.
Brooklyn mengeluarkan sehelai bulu dari tasnya. "Hey Red, jangan hanya disitu, mendekat kemari" perintah Brooklyn.
"Malas!" Nylon tetap pada tempatnya.
"Ayolah Red! Jangan buat ini lama" Nylon tak terima.
"Kau yang buat ini Lama, Tompskin!" Derapan langkah kesal Nylon bergema diseluruh penjuru gua.
"Kekanakan!" Ejek Brooklyn.
"Lihat ini" Brooklin menjentikan helain bulu ke tempat itu. Dan voila! Aliran listriknya bergelinjat marah.
"Brooklyn! Kau gila!" Maki Nylon ketakutan di balik punggung Brooklin. Bersembunyi.
"Ayolah Red! Tunjukan keberanianmu" Congkak Brooklyn. Ditengah kemarahan aliran listrik yang bergeliat. Masih bisa si sialan ini mengejeknya.
Brzzzttt... brzzzttt... Ctas... Ctas...
Ragu Nylon maju "Okay tenang anak manis" mencoba membanyangkan ia mendekati Alqatras, kucing ras milik Amber yang enggan ia dekati. Suka menyakarnya. Brooklyn menyunging sedikit senyum.
"Gelang tolong bantu aku!" Nylon menangkupkan kedua tangan, Memohon pada gelang berleontin itu.
Tangannya menjulur, mendekati aliran listrik, tangan Nylon bergetar. Ya kau pikir seberani apa ia, 0, Z E R O, dengan huruf besar! jangan bayangkan.
Tapi tetap saja tangannya terus mendekat hingga Seal Wax menyerap semua aliran listrik itu, masuk dalam gelangnya. Nylon memegangi kuat tangannya.
Dorongan sangat besar ia rasakan. Ia harus bertahan. Dan Brooklyn, manusia sialan itu hanya menonton sambil mengerogoti apelnya.
"Dasar tak berguna!" Cibir Nylon.
Seketika keadaan menjadi senyap. Nylon menjatuhkan diri. Nafasnya tersenggal. Ia kelelahan.
Tangannya mengangkat menuju ke manik ruby didepannya. Gelangnya menarik Nylon berdiri. Ia melayang mendekati manik itu.
Semuanya terjadi secepat kilat berwarna merah jambu. Gelangnya menyentuh manik. Berpedar,
"Welcome home, Saphire"
"Kau sudah bekerja keras, setelahnya mungkin akan semakin berat Nyny" sekilas terdengar suara Brooklyn dibelakangnya menepuk kepalanya pelan, Sebelum semuanya menjadi gelap.
Tak berapa lama, matanya terbuka, ia masih ada ditempat yang sama. Lantai dua, toko antik, Sepêrhatî.
Didepannya ada sebuah buku dengan sampul yang berbeda dari sebelumnya. Dan ada dua note yang berwarna merah jambu berisi, "Langsung pulang Red! Si duo gila itu tak akan kembali!"
Dan berwarna kuning berisi "hai Nylon, benar yang dikatakan si pembuat onar ini, Besok akan kami jelaskan, terimakasih telah membantu hari ini, see you soon ^^ Brandon"
Nylon bergegas mengenakan ranselnya, saat melihat kearah tangannya, liontin pada gelangnya bertambah satu. Tetap berbentuk Seal wax, tapi ukiran dan warnanya berbeda, kalau yang satu berwarna ruby yang ini berwarna merah jambu, atau Saphire. Sangat cantik.
Nylon keluar dari Sepêrhatî dengan melambaikan tangan, terlihat kilauan dari tanganya,
"See you tomorrow," lantang, tersenyum, petualangan apa lagi yang menantinya besok. Semoga akan lebih seru dari hari ini.
Dikejauhan ada seseorang duduk dengan mata mengarah ke Nylon, seorang dengan mantel tebal hitam juga topi menghiasi kepalanya, menghembuskan asap dari mulutnya, lalu menghisap lagi cerutu ditangannya.
Kemudian berdiri, mengambil tongkat disisi kursi, dan menjauh berlawanan arah dengan Nylon. Sambil melambaikan cerutu.
"Adios, little Nyny" bisik terkekeh pelan
"See you soon" lanjutnya, bersamaan dengan hembusan asap cerutu dari pinggir mulutnya yang menyeringai mengerikan.
bersambung...
Terima kasih yang sudah membaca, maaf kalau banyak kesalahan, sampai jumpa^^
lazyafternoon