*BAP 1 AWAL KEHANCURAN*
" Hay cantik, sendiri aja.
Sama abang aja yuk" Goda
seorang pria seraya mencolek
dagu sarah dengan
pandangan yg menjijikan. Sara
beringsut mundur, ia berniat
berlari namun naas, seorang
pria bertubuh tinggi besar
berhasil mencekal lengan
kanannya yg membuat ia
hampir terjatuh.
" Lepaskan saya. Lepas.
Saya mohon, jangan ganggu
saya" Sarah terus memohon
dengan air mata berderai.
Namun segerombolan pria itu
malah menyeretnya ke dalam
sebuah rumah tak
berpenghuni. Disana, Sarah di
gauli oleh 5 pria secara
bergantian. Kedua tangannya
di ikat. la terus memberontak
namun mereka tetap
memaksanya dengan brutal.
Setelah puas, mereka pergi
meninggalkan sarah yg terkulai lemah tak berdaya.
Sarah menangis seraya
menutup tubuhnya dengan
baju yg sudah terkoyak akibat
paksaan para pria-pria laknat
yg telah menodainya. Sarah
merasakan rasa ngilu yg
teramat sangat pada pangkal
pahanya. Namun tak
sebanding dengan sakit hati
yg di terimanya. la menangis
sejadi-jadinya.
"Maafkan aku mas"
Gumam sarah lirih. la berjalan
pulang dengan menggunakan
baju yg tak lagi sempurna. la
berjalan termenung di bawah
hitamnya langit malam.
"Ya allah, sarahh.."
"Ya allah, sarahh"
Ningsing langsung berhambur
memeluk tubuh putrinya yg
lebam-lebam dengan ramut
acak-acakan.
"Ya allah, apa yg terjadi
sama kamu nak. Siapa yg tega
berbuat jahat sama kamu?"
Ningsing terisak sembari
terus memeluk tubuh putrinya
yg luruh di atas lantai dingin.
Sarah menangis
sejadi-jadinya.
" Ada apa buk.
Astagfirulloh nak kamu
kenapa, siapa yg berani
jahatin kamu" Cecar ayahnya
dengan raut wajah panik.
Sarah tak menjawab, ia terus
menangis. la yg pulang denga
kondisi yg mengenaskan
membuat kedua orang tuanya
histeris.
Satu bulan berlalu setelah
kejadian pemerkosaan sarah.
Sarah yg setiap harinya hanya
duduk di kursi dekat jendela,
menatap ke arah luar dengan
tatapan kosong. Putranya yg
baru genap berusia 4 tahun
terus mencoba membujuk
sang bunda untuk bermain
bersamanya. Namun sarah
tetap termenung.
Roni sang suamimu telah
di kabari oleh ningsih perilah
kecelakaan yg di alamai
sarah. la berjanji akan segera
pulang, namun di karnakan
terjadi suatu kendala yg
mengharuskan
kepulangannya di tunda untuk
sementara waktu.
Pagi itu, sarah muntah
dengan hebat. la merasakan
perutnya terus bergejolak
dengan kepala yg terasa
berat. Ningsing yg terlampau
panik langsung membawa
sarah ke puskesmas terdekat.
"Bagaimana keadaan
anak saya dok" Tanya
ningsing dengan raut wajah
khawatir.
"Anak ibu sedang hamil.
Diharapkan agar si ibu tidak
terlalu banyak fikiran, karna
akan berpengaruh buruk pada
jabang bayi yg ada di dalam
kandungannya" jelas seorang
bidan dengan ramah.
Ningsing menutup mulutnya
tak percaya. Anaknya harus
menerima kenyataan pahit di
tengah-tengah rumah
tangganya yg tadinya
baik-baik saja.
Sarah menangis
mendengar penuturan sang
Bidan.
"Aku benci hidupku.
Hidupku hancur"
"Yang sabar ya nduk. Ini
semua ujian dari gusti allah"
Ucap ningsing menenangkan,
dengan tangan terus
mengusap pundak sarah yg
terguncang akibat
tangisannya.
" Sudah bu jangan
menangis, kasian bayi nya
ntar..
"Saya gak peduli, saya
benci bayi ini dia bukan
anakku" tegas sarah
memotong pembicaraan bu
bidan. Bu bidan terdiam,
takutnya sarah semakin
tersulut emosi dan
mencelakai bayi dalam
kandungannya.
Setelah menerima obat
dari bu bidan, ningsih
membawa sarah pulang.
Tangis sarah sudah berhenti,
di gantikan dengan tatapan
kosong yg selalu ia lakukan
sejak mengidap depresi pasca
kejadian kelam sebulan lalu.
"Bu, roni pulang hari ini"
ujar roni dari sebrang telpon.
"iya nak hati-hati di jalan'
Sarah duduk di tepi
ranjang. Meratapi nasibnya yg
semakin hancur.
Pandangannya terkuci pada
gulungan tambang yg
tergeletak di pojok kamar.
Sarah mengambil tambang itu
lalu membawanya ke
belakang rumah.
"Bu sarah mana ya, dari
tadi bapak cariin gak ada"
tanya pak Karto ayahanda
sarah.
"Gak tau pak, tadi sarah
ke kamarnya"
" Bapak udah cari tapi gak
ada bu" Keduanya menjadi
panik, lalu berpencar untuk
mencari keberadaan sarah.
"Astagfirulloh
Bapaakkkkkk" Teriak histeris
ningsing dari arah belakang
rumah. Terlihat seorang
wanita yg lehernya tergantung
di bawah pohon nangka besar.
Tubuhnya sudah memucat,
mata melotot dengan lidah yg
terjulur. Ningsing meraung
kesetanan, kala melihat putri
semata wayangnya memilih
mengakhiri hidupnya dengan
cara tragis.
"Ya allah bu, kenapa jadi
begini" Pak karto lantas
menurunkan jenazah putri
semata wayangnya. Dengan
tubuh gemetar karto melepas
tali yg membelit leher sarah
hingga meninggalkan jejak di
leher jenjangnya.
Semua warga
berdatangan mendendar
teriakan ningsih. Salah
seorang warga menggendong
dimas.
Roni yg baru saja datang
langsung berlari membelah
kerumunan warga.
"Sarahh.
Roni memeluk tubuh
sarah yg tlah membeku. la
menangis sejadi-jadinya. Tak
ada lagi rasa malu karna di
saksikan para warga, yg ada
hanya penyesalan yg teramat
karna dia belum sempat
bercengkrama tuk sekedar
melepas rindu di detik-detik
terakhirnya.
"Sarah, kenapa kamu
tinggalin mas sayang. Mas
akan terima kamu apa adanya
sarah. Kenapa malah begini?"
Roni terus meracau. Pak karto
pun tak hentinya menguatkan
Roni.
" Yg sabar ya ron. Maafin
bapak yg gk bisa jagain sarah.
Maafin bapak yg ceroboh ini"
Tangis sang ayahanda sarah
pun pecah. Sedang ningsing
yg pingsan di boyong para
warga ke dalam rumah. la
terlalu syok hingga hingga
hilang kesadaran.
Jemazah sarah pun
selesai di kebumikan pada
sore hari. Para pelayat satu
persatu mulai pulang
meninggalkan pemakaman.
Hingga menyisakan Roni dan
orang tua sarah disana. Roni
terugugu seraya memegangi
nisan yg bertuliskan nama istri
tercintanya.
" Sarah, mas kangen
kamu. Kenapa kamu tinggalin
mas?" Roni menyeka air
matanya. Menatap gundukan
tanah yg masih merah di depannya.
"Yang ikhlas ya ron.
Sabar, mungkin ini sudah
takdir sang ilahi" Ujar sang
ayah menenangkan. Mereka
pun memilih pulang karna
sebentar lagi memasuki waktu
magrib.
30
O000
Doni, seorang pemuda
dari desa itu melangkah
melewati jalan setapak yg
nampak temaram karna
minimnya pencahayaan. la yg
baru saja pulang bekerja
memilih jalan yg melewati
pemakaman umum di desa
itu. Di bawah gelapnya malam
ia memicingkan matanya tat
kala melihat cahaya merah
timbul dari sebuah gundukan
tanah yg masih merah.2
"Apa itu? Astagfirulloh,
kenapa kuburnya
mengeluarkan cahaya seperti
itu" Roni memegang
tengkuknya yg mulai
merinding. la memilih tak
menghiraukan penglihatannya,
dan bergegas pulang.
"Mama, mama kemana
aja? Dimas tunggu mama dali
tadi. Dimas mau main cama
mama" Celoteh dimas dengan
suara cadelnya yg khas. Dia
seakan tengan duduk
bersender di pangkuan
seseorang. Roni yg hanya
melihat kejanggalan itu dari
balik pintu, mencoba
mencerna ucapan sang anak
semata wayangnya.0
" Mama disini aja ya
cama dimas"
"Udah kok, dimas udah
mamam di suapin nenek tadi"
"lya nanti dimas kasih
tau papa, kalo mama kangen
papa ya"
Rentetan ucapan keluar
dari mulut kecil dimas. la
terus berceloteh sambil
mengayun ngayunkan kakinya.0
." Dimas bicara sama
siapa sayang?" Ujar Roni sang
papa tiba-tiba. Dimas
mengadah menatap sang
papa.13
"Cama mama"
Celetuknya sambil terus
memainkan mobil-mobilan
miliknya.15
"Sekarang mamanya
kemana?" Tanya Roni lembut
seraya mengusap wajah
mungil dimas. Roni
celingukan, pasalnya, disana
hanya ada dia dan dimas saja.e
Dimas tersenyum ke arah
pintu kamar.o
" Mama katanya mau
bobo dulu" Jawab dimas
dengan polosnya. Roni
tersenyum, lalu memeluk
tubuh kecil sang putra.Te
Nasib malang harus
menimpa dimas bocah 4
tahun yg harus kehilangan
pemakaman sarah dikarnakan
suatu kendala.
Setelah acara selesai, roni
memasuki kamar tempat
mereka memadu kasih. Roni
duduk di tepi ranjang, aroma
tubuh sarah yg khas masih
tercium jelas di ruangan yg tak
terlalu besar itu. Baju-baju
favoritnya tergantung di sudut
ruangan. Roni mengusap sprei
yang bekas tidur sarah. Kanmar
nya yg sederhana namun
selalu rapi membuat ia larut
dalam kerinduan yg teramat
dalam.
Roni tergugu di sambil
meratapi hidupnya.
"Mass.."
*LANJUT BAP 2*