"Perpisahan dan patah hati bisa datang dengan cara apa pun dan kapan pun. Hati kita harus siap ketika dua hal itu datang. Tapi ingatlah, tak selamanya perpisahan dan hati yang patah selalu buruk, akan selalu ada cerita bahagia dibaliknya"
***
Malam itu, Deon berjalan di jalanan lengang menuju rumah kontrakannya. Ia baru saja pulang bekerja. Ingin rasanya cepat membaringkan badan di atas singgasananya. Ia baru saja lembur bekerja, karena itu ia pulang saat hari sudah malam. Sebenarnya Deon punya motor, tapi beberapa hari lalu, adiknya datang dari kampung halaman. Saat adiknya itu menggunakan motor. Adiknya mengalami kecelakaan, luka pada adiknya tak parah. Hanya motornya yang parah, masuk ke dalam selokan besar penuh air. Jadi ia mesti menunggu beberapa hari sampai motornya selesai diperbaiki.
Saat di perjalanan itu, tiba-tiba saja tanpa aba-aba, hujan turun. Sangat deras. Deon mengumpat kesal, badan yang sudah terasa remuk itu akhirnya ia paksakan untuk berlari. Dengan tas kerja ia gunakan untuk melindungi kepalanya. Deon kembali mengumpat ketika mengetahui bahwa badannya sudah basah kuyup.
Akhirnya ia sampai di rumah, dengan badan yang menggigil ia merogoh saku tasnya mengambil kunci rumah. Saat akan memutar kunci yang sudah terpasang di pintu, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.
"Oiiiii! Apa tu?!!!!" teriak Deon terkejut bukan main. Saat ia membalikkan badannya, ada seorang perempuan yang tengah menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Maaf buat mas kaget," Deon menghela nafas. Kalau saja bukan perempuan sudah ia maki-maki tadi.
"Kenapa ya mbak?" tanya Deon dingin.
"Mau numpang tanya, kontrakan Delima dimana ya mas?" Deon melirik wajah perempuan itu sekilas, lalu menatap mobil yang berada dibelakang perempuan itu.
"Ini kontrakan Delima, dari sini kesana," Deon menunjuk rumahnya dan deretan samping rumahnya.
"Oh ini...tapi kok gak penanda nama kontrakannya?" Deon ingin cepat-cepat mengusir perempuan ini. Badannya benar-benar sudah kedinginan.
Perempuan dihadapan Deon sepertinya menyadari kalau badan Deon bergetar karena kedinginan. "Eh masnya kedinginan ya. Ya udah mas masuk aja, maaf ya ganggu dan makasih mas,"
Deon hanya menganggukkan kepalanya. Lalu ia masuk ke dalam kontrakannya, meninggalkan perempuan yang masih berdiri di tempatnya sembari menatap Deon.
Deon segera mengganti pakaiannya. Awalnya ia ingin mandi terlebih dahulu, tetapi karena badannya yang sudah benar-benar terasa hancur. Ia lebih memilih untuk langsung tidur.
Esok harinya, ketika Deon akan berangkat kerja. Perempuan yang bertanya padanya tadi malam, berada di samping kontrakannya. Deon tak ambil pusing, perempuan itu pasti penghuni baru. Deon segera memakai kaos kaki dan sepatunya. Untung saja ia punya sepatu lain.
"Eh mas mau berangkat kerja?" Deon menatap ke arah sang empunya suara.
"Iya mbak," Deon membalas dengan senyum tipis.
"Mau bareng saya aja nggak?" Deon langsung menggelengkan kepalanya.
"Tak apa, saya bisa sendiri," netra perempuan itu mengitari sekeliling rumah Deon. Tak tampak kendaraan satu pun.
"Mas naik apa?" tanya perempuan itu.
"Naik bus nanti di simpang," jawab Deon.
"Mas kerja di daerah mana?" Deon menyebut daerah tempatnya bekerja.
"Oh searah sama saya. Udah mas ikut saya aja ya. Anggap aja saya balas budi untuk tadi malam," wanita itu segera berlari ke arah mobilnya. Saat mobil itu berhenti di depan kontrakan, wanita itu membuka kaca mobil dan menyuruh Deon masuk.
Dipikir-pikir tak apalah ia menerima tawaran perempuan ini. Hitung-hitung bisa menghemat ongkos busnya. Deon pun masuk ke dalam mobil perempuan itu.
Saat di perjalanan rasa canggung menggelayuti Deon. Ia ingin memulai percakapan, tapi suaranya terasa tercekat. Deon menghela nafas pelan. Jika tahu secanggung ini biarlah ia tadi naik bus.
"Oh iya mas kita belum kenalan. Kenalin nama saya Ervina, panggil saja saya Vina. Kalau mas?" Deon sedikit lega. Untung saja Vina mengajaknya berbicara.
"Saya Deon," Vina mengangguk-anggukkan kepalanya.
Karena merasa sedikit luwes. Deon berusaha memulai kembali percakapan. "Mbak kerja dimana?"
"Saya guru di SMA Jaya Bangsa," setelah itu, mereka tak lagi melanjutkan percakapan. Karena mereka sudah sampai di kantor Deon bekerja.
Deon mengucapkan terima kasih. Vina mengangguk, lalu mengendarai mobilnya pergi.
***
Seperti itulah kira-kira pertemuan Deon dengan Vina. Kini ia dan Vina sudah akrab, sangat akrab, tak jarang mereka pergi kerja bersama-sama. Nongkrong, sekadar jalan-jalan, tapi tetap tak mengubah status mereka. Jangan berpikir kedekatan itu membuat mereka menjadi sebuah pasangan. Tidak-tidak, mereka masih sebatas teman. Seperti itulah yang dipikirkan Deon.
Jujur saja, Deon menyukai Vina. Perempuan itu menarik, ia ramah, manis, dan kuat. Tapi Deon tak pernah berusaha untuk mengungkapkan perasaannya. Bukan tanpa sebab, Deon tak mengungkapkan perasaannya karena ia takut ditolak. Ya, hanya karena takut ditolak.
Deon tersenyum ke arah Vina. Mereka tengah menghabiskan malam penghujung menuju tahun baru. Vina terlihat sangat senang. Begitu pun Deon, melihat Wina tersenyum, membuat hatinya terasa tenang. Senyum Vina benar-benar menenangkan.
"Deon, sebentar lagi!" teriak Vina. Setelah itu Deon dan Vina menghitung mundur dari sepuluh sampai satu. Saat mereka selesai berhitung, kembang api bertebaran. Menyemarakkan malam tahun baru. Tiba-tiba perasaan Deon berdebar. Ia ingin menjadi laki-laki romantis seperti di sosial media. Menyampaikan perasaan ketika malam tahun baru dibawah gemerlapan kembang api.
"Vin! Aku mau ngomong sesuatu!" teriak Deon ditengah kebisingan malam itu.
"Ya tinggal ngomong Yon! Ada apa?!" balas Vina yang juga berteriak.
"Aku!" jeda.
"Suka!" Deon kembali menjeda ucapannya.
"Sama kamu Vin! Aku suka sama kamu! Kamu mau jadi pacar aku?!" Deon mengucapkan dengan lantang dan jelas.
Vina tiba-tiba terdiam, ia menatap Deon. Ekspresi Vina saat itu tak dapat di artikan. Vina tersenyum tipis, lalu tiba-tiba ia pergi meninggalkan Deon. Pria itu terdiam. Mengapa Vina tiba-tiba pergi? Deon segera mengejar Vina. Tampak dimata Deon, bahu Vina bergetar.
"Vin!" saat dipanggil. Vina berhenti, ia berbalik menatap ke arah Deon. Saat itu sebenarnya ada bekas air mata di pipi Vina, tapi tak disadari Deon.
"Ayo pulang!" ucap Vina, lalu kembali meninggalkan Deon.
Deon bingung, kenapa Vina tiba-tiba berubah. Ada apa dengannya? Deon dan Vina pun sudah berada di dalam mobil. Mereka terdiam di dalam mobil. Tak ada yang berbicara.
Tiba-tiba saja, Vina mengecup bibir Deon dengan cepat. Tapi raut wajah Vina datar. Deon terkejut bukan main. Ini...ini ciuman pertamanya. Masih dengan keterkejutan, Vina menyuruh Deon untuk mengendarai mobil untuk pulang.
Saat tiba di kontrakan mereka. Deon langsung memakirkan mobil di halaman kontrakan Vina. Mereka keluar, Vina tersenyum tipis.
"Istirahatlah Deon! Besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," Vina langsung masuk ke dalam rumah, tanpa menunggu Deon yang ingin mengatakan sesuatu.
Deon menuruti Vina, ia tak mencegah Vina. Ia pulang dan beristirahat. Semoga saja besok Vina menjawabnya. Deon berharap semoga jawaban dari Vina tak mengecewakan hatinya.
Besok siangnya, mereka pergi berjalan-jalan. Pergi ke tempat makan yang biasa mereka datangi. Juga dengan tempat yang sering mereka datangi. Tapi sepanjang hari itu, Vina tak sedikit pun membahas ungkapan Deon malam itu. Deon pun juga tak kuasa menanyakannya. Ia tak mau Vina bersikap seperti tadi malam lagi.
Mereka keluar sampai langit biru sudah berganti hitam. Vina mengajak Deon ke tempat terakhir yang akan mereka kunjungi. Sebuah bukit yang ada di kota itu. Disana ada disediakan kursi-kursi kecil. Dari sana mereka bisa melihat hamparan kota dengan leluasa.
"Aku tahu tempat ini dari anak murid. Baguskan tempatnya?" Vina menghirup udara malam itu.
"Iya," Deon tersenyum hangat melihat Vina.
"Soal pengakuan kamu kemarin malam..." sial! Kenapa Vina tiba-tiba membahas itu? Jantung Deon jadi berdebar, ia pun takut Vina bersikap aneh lagi. Vina menatap ke arah hamparan kota di bawahnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Maaf Deon. Aku gak bisa terima,"
Deon hanya diam mendengar ucapan Vina. Ia tak mampu tersenyum. Ia hanya menatap Vina penuh dengan tanda tanya. Mengapa? Apakah ada hal yang tak disukai Vina?
"Aku suka kamu juga kok Yon. Aku sayang sama kamu Yon. Tapi...sepertinya udah terlambat," Deon menatap heran ke arah Vina. Apa yang dimaksud dengan terlambat?
"Maksudnya terlambat?" Vina menatap ke arah Deon. Ia memegang tangan Deon dan membelainya perlahan. Lalu Vina tersenyum dengan hangat ke arah Deon. Suasana sore itu dingin. Vina sedikit merapat ke arah Deon, membuat jarak antara mereka saat itu menipis.
Vina memeluk pria yang menatapnya heran ini. Deon yang bingung, masih belum membalas pelukan itu, masih banyak pertanyaan dipikirannya. Tiba-tiba badan Vina bergetar, dan Deon merasakan sesuatu yang hangat di bahunya. Lalu setelah itu, diiringi suara sesenggukan dari Vina.
"Hey! Kamu kenapa Vin?" tanya Deon. Akhirnya Deon membalas pelukan itu. Yang membuat Vina semakin terisak.
"De-Deon...huuuu...aku sayang kamu..." badan Vina semakin bergetar. Pelukannya pada Deon pun semakin erat.
"Kamu kenapa hmm? Cerita ke aku. Aku juga sayang kamu Vin," Deon mengelus surai Vina yang lembut. Aroma rambutnya terasa segar di penciuman Deon.
Vina akhirnya melepas pelukannya pada Deon. Ia menatap Deon dengan mata yang sembab, hidung memerah, masih ada isakan dari bibir mungilnya.
"Se...sebentar lagi...aku," Vina menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa cerita,"
Deon menggapai tangan Vina dan mengelusnya lembut. "Cerita aja, pasti aku dengerin kok,"
Mendengar itu rasa bersalah di hati Vina semakin besar. Betapa lembutnya hati pria ini. Pria yang setahun lalu ia temui basah kuyup di kontrakannya. Yang awalnya ia kira pria ini adalah pria pendiam, tertutup, dan angkuh. Ternyata sangat lembut, pria ini mampu membuatnya merasa nyaman saat didekatnya. Air mata kembali mengalir di pipi mulus Vina saat mengingat kenangan itu.
Vina menarik nafas perlahan. Mengatur agar nafasnya lebih teratur. Ia harus menceritakan ini. Agar setidaknya Deon bisa dengan cepat melupakan perasaannya. Sekali lagi Vina menghela nafasnya.
"Deon...bentar lagi...aku mau...nikah," Deon yang tengah menghapus air mata Vina, terhenti.
"Apaan sih Vin?! Gak lucu bercandaan kamu. Kalau emang kamu gak mau terima aku, ya tinggal jujur, ngapain bilang mau nikah, hahaha," Deon mengacak-acak rambut Vina.
"Aku serius Deon. Aku akan menikah, dia teman aku di kampung. Dia udah banyak bantuin aku dan keluarga aku selama ini. Dia ngelamar aku lewat orang tuaku dan...orang tuaku tentu menerima. Aku gak bisa nolak dia Deon," Vina kembali terisak melihat wajah terkejut Deon, sekaligus ada pancaran kesedihan di mata hitam pria ini.
Deon tertawa kecil. Pantas saja Vina mengatakan ia terlambat. Ternyata sebentar lagi Vina, perempuan yang ia sukai akan menjadi milik orang lain. Padahal Deon pikir, Vina akan membuat harinya menjadi lebih indah. Yang biasanya kehidupan Deon hanya seputar kerja, makan, dan tidur. Saat Vina hadir, ia tak lagi hidup dengan monoton, ia sering bepergian, dan baru tahu kalau di kotanya ini banyak tempat bagus. Tapi apa ini? Kenyataannya hidup yang monoton itu akan kembali lagi.
"Ya sudah, jika memang seperti itu. Semoga kamu bahagia ya Vin. Kamu bilang kamu sayang sama aku kan? Berarti imbas dong, kamu berusaha lupain aku, begitu juga aku," Deon tersenyum kecil, namun tulus. Walaupun ia merasa sedih.
"Deon...maaf... maafin aku," Deon memeluk Vina. Mungkinkah ini pelukan terakhirnya.
"Ngapain minta maaf? Kamu gak salah," Vina memeluk erat tubuh Deon. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Deon.
"Aku menyia-nyiakan perasaan kamu Deon. Bahkan walaupun aku tahu, aku memiliki perasaan yang sama. Tapi aku tetap gak bisa memilih kamu. Aku salah karena punya perasaan terhadap kamu. Jika aku tak memiliki perasaan sama kamu. Mungkin kamu tidak akan terlalu sakit ketika aku tolak, tapi ini, kamu tahu aku punya perasaan yang sama. Tapi kita malah tak bisa bersatu," Deon mencium puncak kepala Vina.
"Ya memang benar ini lebih menyakitkan. Ketika mengetahui orang yang kita sayang juga menyayangi kita, namun kita gak bisa bersatu. Tapi walaupun begitu, jika kamu pada awalnya gak memiliki perasaan terhadapku dan tidak memiliki rencana menikah, aku akan tetap berusaha mengejar kamu, sampai kamu juga menyukaiku. Lalu, jangan salahkan perasaanmu Vina. Wajar menyukai seseorang, apalagi kita sering bersama," Deon menjeda ucapannya.
Suasana malam itu sunyi, membuat isakan kecil Vina terdengar. Untung saja orang tak terlalu ramai, jadi mereka tak menarik perhatian orang lain. Mereka masih berpelukan.
"Vina, jika kita diciptakan untuk menjadi satu. Kita pasti akan bersatu, entah melalui cara yang bagaimana. Sudah jangan nangis lagi, ini mungkin terakhir kalinya aku bisa ngehapus air mata kamu. Karena nanti akan ada laki-laki lain yang akan menghapus air mata kamu kalau lagi sedih," Deon melepas pelukannya. Ia menatap manik mata perempuan di hadapannya. Terlihat penuh dengan air mata yang siap luruh. Lalu, tangan Deon bergerak menghapus air mata itu dengan lembut.
"Saat hari dimana kamu menikah, jangan undang aku ya. Aku gak bisa datang, aku udah merelakan kamu. Hanya saja aku belum bisa secara langsung melihat kamu dengan orang lain. Vina berbahagialah. Lupain aku ya," Vina tak lagi mampu berkata-kata. Isakannya kini ia redam.
Hari itu adalah pertemuan terakhir mereka. Deon meminta izin untuk pulang sendiri meninggalkan Vina di bukit itu. Bukan tanpa alasan ia pergi malam itu. Ia hanya berpikir, bahwa langkah pertama untuk saling melupakan adalah dengan cara menjauh. Jika bertanya-tanya, mengapa Deon tak berusaha lagi untuk mengejar Vina. Deon mungkin akan berusaha, jika Vina sedikit saja memberinya harapan. Jika Vina menyuruhnya untuk membantu ia lepas dari perjodohan itu, mungkin Deon akan mau berusaha. Tapi, Vina sendiri menerima perjodohan itu, ia tak mau mengacaukannya. Apalagi lamaran itu sudah disetujui orang tua Vina.
Semenjak hari itu, Deon tak lagi bertemu Vina. Walaupun Vina adalah tetangga sebelah rumahnya. Sering kali, Deon berangkat kerja lebih awal, atau jika ia melihat Vina berangkat lebih awal, ia akan berangkat setelah Vina. Begitu juga Vina, ia tidak ingin Deon mengharapkannya, oleh karena itu dia juga berusaha menghindar. Mereka sama-sama berusaha untuk saling menghindar. Baguslah jika seperti ini, mereka mungkin akan cepat melupakan satu sama lain.
Bertahun-tahun berlalu, Deon sudah hampir melupakan Vina. Sebelum itu, pernah sekali Vina memberikan sebuah surat yang ia selipkan di pintu kontrakan Deon. Surat itu berisi ucapan pamit. Vina akan kembali ke kampungnya dan tentu...disana ada tanggal pernikahannya yang dicantumkan wanita itu, Vina akan segera menikah. Deon hanya tersenyum kecut membaca surat itu.
Sudahlah, itu sudah menjadi cerita lama. Yang mungkin tak perlu lagi Deon ingat. Kini hidupnya sudah lebih baik. Ia tak perlu Vina ada untuk membuat harinya indah. Ia sudah bisa dan menemukan hal lain yang mampu membuat ia bahagia.
Deon membuka handphonenya. Menelepon seseorang, ia sumringah menerima telepon itu. Ia kini tengah berada di stasiun. Namun tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Deon?!" jujur, Deon masih mengingat suara itu. Suara milik seseorang yang pernah mematahkan hatinya. Ya, suara itu milik Vina.
Deon melihat ke sumber suara. Ternyata benar, memang Vina. Perempuan itu terlihat sama saja walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, tetap tampak manis. Vina tersenyum kecil ke arah Deon, ia menghampiri Deon. Vina tak menyangka ia akan kembali bertemu dengan pria ini.
"Deon, udah lama ya? Kamu ngapain disini?" Deon tersenyum hangat. Vina ikut membalas senyuman itu, ia ingat betul. Dulu senyuman inilah yang membuat ia candu. Terasa hangat.
"Iya udah lama ya. Aku lagi nunggu orang. Oh iya, kamu tinggal di kota ini?" Deon hanya mencoba memulai pembicaraan selayaknya bertemu teman lama. Ia melihat tak ada barang yang dibawa Vina, maka dari itu ia menebak Vina tinggal di kota ini.
"Iya, udah setahun ini aku tinggal disini," Deon ber-oh ria.
"Terus kamu lagi nunggu orang juga?" tanya Deon balik. Vina mengangguk, sepertinya Deon tahu siapa yang Vina tunggu. Tentu saja suaminya, pasti Vina sudah berstatus istri orang sekarang. Mengingat sudah bertahun-tahun berlalu dari tanggal yang Vina tuliskan di surat dulu sebagai tanggal pernikahannya.
"Oh nunggu suami kamu?" Vina tersenyum kecil. Tentu saja Deon akan langsung mengira seperti itu. Namun kenyataannya tidak, ia tidak sedang menunggu suaminya.
"Aku belum punya suami Deon aku lagi nunggu orang tua aku," terlihat raut terkejut dari Deon. Bolehkah Vina merasa senang, ia kembali bertemu Deon. Seseorang yang ia sukai, bahkan sampai sekarang. Ya, Vina masih menyukai Deon dan Vina berharap perasaan Deon masih sama seperti dulu.
"Bukannya kamu bilang, kamu mau nikah?" tanya Deon.
"Pernikahan aku batal. Teman aku itu tahu kalau aku terpaksa menerima lamaran itu. Dia tahu kalau aku gak cinta sama dia, jadi dia gak mau nikah kalau akunya gak punya perasaan yang sama," jelas Vina.
"Lalu kenapa kamu gak datang nemuin aku?" Vina terdiam, saat itu ingin rasanya ia langsung menemui Deon. Tapi ia masih harus menjelaskan dan menenangkan dulu kedua orang tuanya. Ia juga harus mengumpulkan keberanian untuk bertemu Deon kembali. Namun, saat ia kembali untuk bertemu pria itu di kontrakannya dulu. Dari informasi yang ia dengar, Deon sudah pindah dan Vina tak tahu harus mencari kemana.
"Aku belum siap ketemu kamu lagi. Aku takut nantinya ada hal lain yang mengecewakan kamu. Jadi aku harus menyelesaikannya dulu sampai benar-benar tuntas. Tapi saat aku coba cari kamu lagi di kontrakan dulu. Kamu udah pindah, nomor handphone kamu juga gak aktif. Pas aku coba ke tempat kamu kerja, kamu juga udah gak kerja lagi disana," Deon tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Vina, apa kamu masih memiliki perasaan terhadapku?" Deon tak ingin berbasa-basi. Ia masih melihat dari mata Vina kalau wanita itu masih memiliki rasa terhadapnya.
Vina tersenyum manis, lalu menganggukkan kepalanya. Deon menghela nafas, ternyata benar perkiraannya tadi.
"Apa kamu juga masih ada..." Vina tak mampu menyelesaikan ucapannya, karena Deon langsung memotongnya.
"Gak Vin. Perasaan aku udah berbeda. Kamu terlambat," Vina mengernyitkan dahinya. Masih belum mengerti.
Namun, saat Vina ingin bertanya maksud Deon. Ada suara perempuan memanggil Deon.
"Mas Deon!" seorang perempuan berlari ke arah Deon dan langsung memeluk Deon.
"Hana kangen banget sama mas," Deon merasa kikuk. Karena ada Vina di dekatnya. Tapi itu tidak menghalangi Deon untuk membalas pelukan Hana. Ia membelai rambut halus milik Hana.
"Mas juga kangen sama kamu," Hana tersenyum dalam pelukan Deon. Lalu melepaskan pelukannya, tapi ia baru menyadari ada orang lain berdiri di dekat mereka. Hana tersenyum ke arah Vina.
"Ini siapa mas?" Deon melirik ke arah Vina. Tampak raut kebingungan dari Vina.
"Ini teman lama mas," Hana menganggukkan kepalanya. Lalu ia mengulurkan tangannya pada Vina seraya tersenyum.
"Hai mbak. Kenalin saya Hana," Vina balas tersenyum dan menjabat tangan Hana.
"Saya Vina," Deon mengacak-acak rambut Hana setelah itu.
"Ya udah kalau gitu, Hana ayo pulang. Ibu di rumah udah nungguin kamu," Hana mengangguk. Lalu pamit pada Vina, dan menggeret kopernya berjalan duluan.
Saat melihat Hana agak jauh dari mereka. Deon membuka suaranya. "Dia calon istri aku,"
Vina sekarang seakan terasa disambar petir. Hatinya langsung terasa sakit. Apakah seperti ini yang dirasakan Deon dulu? Tiba-tiba saja tanpa aba-aba, air mata luruh dari mata Vina. Deon menghela nafas, ia tak bisa lagi memeluk Vina untuk menenangkannya. Kini sudah ada hati lain yang mengisi hatinya dan harus ia jaga.
"Vin...maaf aku harus pergi. Tapi sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu. Seiring waktu, hati seseorang akan berubah. Apalagi aku dulu menunggu kamu dalam ketidakpastian. Ini bukan penyesalan, namun aku tak tahu apakah jalan cerita kita akan berbeda jika dulu kamu langsung menemuiku. Ini sudah bertahun-tahun berlalu, aku harap kamu bahagia Vin. Mari kita saling melupakan. Aku yakin kamu pasti akan menemukan seseorang yang baru. Aku pergi Vin. Jaga diri kamu baik-baik," Deon menepuk kepala Vina pelan.
Ia pergi meninggalkan Vina. Kali ini memang benar-benar pertemuan terakhir mereka. Deon melihat Hana memanggilnya seraya tersenyum. Senyum yang mampu membuat hatinya terasa tenang, senyum yang mampu membuatnya candu. Ia balas tersenyum, lalu berlari kecil ke arah Hana. Wanita itu yang mampu menyembuhkan luka lamanya, yang mampu membuat harinya kembali indah. Hana juga mampu membuat debaran yang dinamakan cinta kembali hadir. Deon merangkul Hana. Ia berjanji akan selalu menjaga Hana.
Vina melihat punggung itu menjauh. Punggung yang sama dengan yang ia lihat saat di bukit dulu. Vina terduduk, tentu saja ia menangis, hatinya begitu sakit. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Kini ia mengerti dari kata terlambat yang Deon ucapkan. Tentu saja, ia sudah sangat terlambat. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan bagaimana mungkin Deon menunggunya terus ketika Deon mengetahui kabar terakhir Vina yang akan menikah.
Vina bertanya-tanya, apakah jalan cerita mereka akan berbeda jika dulu ia langsung menemui Deon? Atau jika ia lebih berusaha lagi untuk menemui Deon? Tidak-tidak. Jika pun ia dulu tidak pergi dan memutuskan untuk bersama Deon. Mereka juga pasti akan berpisah, namun pasti dengan cara yang berbeda. Satu yang Vina dapat simpulkan. Ia dan Deon tak diciptakan untuk menjadi satu. Mereka tak diciptakan untuk bersama.
Mereka diciptakan hanya untuk memberikan kenangan dan pelajaran untuk kedepannya. Deon tak salah, wajar bagi seseorang menemukan orang baru. Ia sangat berterimakasih pada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Deon. Dari pertemuan ini, Vina bisa sedikit lega. Ia akhirnya tahu akhir dari perasaannya terhadap Deon. Karena pertemuan ini, ia bisa menentukan kemana hatinya harus bergerak. Vina sadar ia harus melupakan Deon. Melupakan cintanya terhadap Deon. Dengan melihat Deon sudah menemukan hal yang membuat bahagia, sudah cukup bagi Vina. Kini giliran ia untuk berusaha mencari kebahagiaan. Ia harus memulai kehidupannya yang baru. Ia harus melangkah maju, memulai lembaran baru.
***
🌻Dari Deon untuk Hana
Hana, terima kasih telah datang ke kehidupanku. Terima kasih telah membuat hidupku kembali berwarna, kembali terasa bahagia. Kamu mampu membuatku kembali tersenyum dengan lega. Kamu mampu membuatku melupakan betapa patahnya hatiku dulu. Kamu mampu menyembuhkan luka pada hati ini. Aku tak bisa membayangkan jika saat itu kamu tak datang. Walaupun kamu bukan cinta pertamaku. Akan ku pastikan kamu adalah cinta terakhirku. Aku mencintaimu Hana. Aku berjanji akan selalu melindungimu. Darimu aku tahu. Akan selalu ada pelangi setelah hujan datang dan akan selalu ada setitik cahaya dalam kegelapan.
🥀Dari Deon untuk Vina
Vina, terima kasih pernah hadir. Aku harap kamu bisa melupakanku. Padahal saat di bukit dulu, sudah ku katakan mari saling melupakan. Tak seharusnya kamu mengingatku. Berbahagialah Vina, aku akan selalu mendo'akan kebahagiaanmu. Aku yakin kamu bisa menemukan seseorang yang akan mencintaimu nanti. Vina, darimu aku belajar bahwa cinta benar-benar tak harus memiliki. Juga dengan cinta tak selamanya berakhir indah. Ada kalanya kita mesti merasakan patah hati untuk menemukan hati yang baru. Darimu juga aku belajar untuk mengikhlaskan. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal Vina, ah tidak sampai jumpa lagi. Semoga kamu selalu bahagia.
💐Dari Vina untuk Deon
Deon, maaf jika dulu aku membuatmu terluka. Tapi aku yakin, kini Hana sudah menyembuhkan luka itu. Semoga kamu selalu bahagia ya bersama Hana. Aku turut bahagia. Aku banyak belajar darimu. Ketika mencintai seseorang, kita harus berjuang. Ketika seseorang mencintai kita, dan begitu juga sebaliknya, maka jangan pernah sia-siakan rasa itu. Aku akan melupakan perasaan ini terhadapmu, tapi aku takkan melupakan kenangan kita dulu. Kamu adalah orang yang baik, takkan mungkin bisa ku hapuskan dari ingatan ini. Nanti jika Tuhan mengizinkan kita untuk kembali bertemu. Mari bertemu ketika kita telah bersama orang-orang yang mencintai kita. Aku akan menyusulmu Deon. Aku akan bahagia, tanpa perlu kamu minta aku akan berusaha untuk bahagia. Sampai jumpa lagi Deon. Terima kasih pernah hadir dan mengajarkan banyak hal.
TAMAT