Aku selalu menangis sendirian, kesepian, kesakitan dan kedinginan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tetapi aku kini hanya berada di tempat kumuh yang penuh debu.
Aku mencoba menyentuh sesuatu tetapi gagal, semuanya melewati tubuhku begitu saja. Itu membuatku berputus asa untuk meraih sesuatu dan menggenggamnya.
Ketika aku hendak beranjak dari rumah ini aku terjebak sebuah batas yang menahanku layaknya dinding transparan yang menyandraku untuk keluar.
Suatu hari seseorang datang kemari sambil mengetuk pintu rumah. Pintu itu pun akhirnya dapat terbuka setelah sekian lama. Akhirnya aku dapat melihat cahaya dari senter yang dibawa oleh seorang pria.
"Woahh gelap juga yah, kelihatannya sudah lama tidak ditinggali," gumam pria itu pelan.
Aku terdiam, tidak ditinggali?! Jelas-jelas akulah yang selama ini ada untuk menghuni rumah ini.
Pria itu membuka sebuah lemari dan mencoba mencari sesuatu di dalamnya.
"Aku harus cepat menemukannya!" Katanya sambil sesekali bergidik ngeri.
Karena penasaran aku pun mendekat kearahnya lalu bertanya, "Hai mas sedang apa?" Tanyaku pelan kepadanya.
Dia pun terlonjak kaget lalu melihat kerahku. "Se-setaannnnn!!" Teriaknya sambil berbalik dan bersiap untuk lari tetapi kakinya justru tersandung reruntuhan kayu yang berserakan di sana.
Aku tersentak, "Hah orang cantik gini dibilang setan!" Protesku tidak terima.
"Astaga setannya bisa bicara! Ngaku cantik lagi!" Pekiknya heran.
"Huhuhuhu teganyaa kenapa kau bilang orang secantik aku setan?" Tangisku sambil jatuh terduduk.
Pria itu prihatin melihatku lalu mulai memberanikan diri untuk mendekatiku.
"Cup cup cupp jangan nangis, gak deh mbak, mbak bukan setan, cuma mukanya aja yang pucat kayak Mak Lampir," katanya menghiburku atau malah terdengar seperti menghinaku.
Dia menyibakkan rambutku ke samping kemudian tersenyum simpul. "Nah kan kalau begini gak keliatan serem!" Ucapnya dengan senyum polos.
Saat itu dia belum mengetahui kalau aku adalah seorang hantu yang bergentayangan tanpa tujuan. Tapi aku senang karena dia tidak terlihat ketakutan lagi saat bertemu denganku, cuma dia yang dapat menyentuhku dan mengajakku berbicara layaknya seorang manusia yang memiliki nyawa.
Pria itu, aku belum mengetahui namanya, dia adalah lelaki polos yang berseragam SMA yang selalu hadir menemaniku di setiap dia memiliki waktu luang.
Sejak dia masih berpakaian putih piru dia tetap hadir disini hingga berganti menjadi putih abu-abu dia tetap selalu memenuhi janjinya untuk bertemu denganku.
Karena kehadirannya di sisiku, aku tidak lagi merasa kesepian. Dia selalu hadir membawa tawa di setiap kami bersama. Namun akhir-akhir ini aku tidak melihatnya lagi, mendengar kabarnya saja tidak, melihat dia berjalan kaki sepulang sekolah juga tidak.
Dia menghilang tanpa kabar dan hanya meninggalkan secarik kertas kepadaku.
Aku menyukaimu Riana, karena itu aku akan selalu berada di sisimu, bagaimanapun caranya... jadi tunggulah kehadiranku yah...
Itu adalah isi dari surat itu, walaupun aku tidak begitu mengerti maksudnya tetapi membacanya membuat hatiku merasa teriris.
Tapi aku baru menyadari satu hal, bahwa itu adalah kali pertama dan terakhirnya aku bertemu dengan orang yang bisa melihat dan mengakui keberadaanku.
Aku percaya kalau dia akan kembali, karena itu aku kan menunggu selama apapun di tempat ini untuk bertemu dengannya lagi.
Aku tidak peduli sudah berapa lama aku disini kesepian... Tapi kali ini aku punya tujuan untuk tetap menunggu kehadirannya, aku percaya dia tidak akan berbohong karena dia kan selalu menepati janjinya.
Seribu bulan pun berlalu, tempat itu sudah tidak ada lagi, kini hanyalah lapangan luas yang penuh dengan bunga-bunga indah, tapi aku tetap berada disini menunggu kehadirannya... sembari menatap purnama malam yang bercahaya suram dan seluruh kota yang dikelilingi oleh cahaya temaram.