*Cerpen ini saya buat saat masih SMP jadi ada beberapa bagian yang saya edit sedikit. Mohon maaf jika ada kesalahan kata dan terima kasih telah membacanya! 💕💕💕
Saat berlarian kembali ke kelas aku menyempatkan diriku untuk melihat kebelakang kalau-kalau wanita tadi menghampiri. Beruntungnya tidak.
"OI, OOI!!!" aku berteriak tidak karuan kepada semua orang dikelas agar mereka memperhatikan aku. "Luna? AWAS!! Lantainya..."
Suara dari Ayu memperingati aku dan benar saja, lantainya ternyata masih basah dan... "KYAAA!!!..." Aku terpeleset karena tidak bisa mengontrol kecepatan lariku.
Setelah sudah agak baikan, aku jelaskan pada mereka kejadian saat aku dan Riko ditempat sampah besar. Saat kita bertemu dengan 'penunggu'-nya.
Lalu Nabil angkat bicara, " 'Kan sudah aku bilang kalau tempat itu ada penunggunya."
"Jadi kamu kesana bareng Riko? Di mana dia?" Tanya Ayu heran.
"Eh gila, Luna ketemu sama penunggunya! Kayak gimana? Gimana??" Dan disusul pertanyaan anak kelas.
Tidak lama kemudian, Riko masuk ke kelas dengan nafas tergesa-gesa. "Ku..ku..kunti.., GW KETEMU KUNTI!!" Kata pertama yang dia lontarkan setelah masuk kelas.
"Rik, lo beneran ketemu?"
"Gimana rupanya?"
Rata rata pertanyaan yang diucapkan oleh anak kelas berhubungan dengan si 'penunggu'.
Belum sempat Riko menjawab pertanyaan tersebut, dia sudah jatuh pingsan. Anak perempuan panik sedangkan anak laki laki berusaha menggotong tubuh besar Riko yang pingsan.
Kami pun pulang dari piket lebih awal, padahal kelas belum bersih karena kejadian ini. Aku, Nabil, dan Ayu pulang bersama-sama karena searah. Tapi aku harus turun setelah melewati Deltamart lalu jalan masuk ke gang, sedangkan mereka masih jalan.
Dan masalah ini yang membuat aku sedikit merinding. Aku harus jalan sendirian untuk pulang. Padahal masih siang, tapi hawanya sangat dingin seperti kutub, dengan cahaya mentari. Instingku menyuruhku untuk lari karena sepertinya ada yang mengikuti. Aku menuruti instingku dan lari kerumah.
Aku sudah sampai ke pintu depan. Di teras kucoba membuka sepatu dengan susah payah lalu mengucapkan, "Aku pulang!" Saat membuka pintu.
"Luna? Ibu masakin makanan kesukaan kamu. Tapi kamu mandi dulu." Baru saja masuk kerumah, ibu sudah menawarkan makanan. Aku yang dengarkan, membalas, "Iya" lalu pergi ke kamarku diatas tangga, mengambil baju, lalu ke kamar mandi disebelahnya.
Setelah selesai makan siangnya, aku segera ke kamarku dengan perasaan gelisah karena kejadian tadi. Agar perasaan ngeri ini hilang, aku tiduran dikasur dan memainkan HP-ku.
Aku tidak tau mau melakukan apa dengan HP-ku. Aku hanya browsering hal hal tidak penting seperti, Kartun terpopuler tahun ini, Cara membuat kue lebaran, Hal-hal yang menenang, dan lain-lainya.
Saat aku sedang membaca artikel 10 tempat wisata terindah Afrika, ada pesan masuk ke HP-ku. Ternyata pengirimnya adalah Cika.
Dia menulis di chatnya:
Nabil A. :
Lunaaa!! Cincin gw kmn? G ad d tas. Lo bw kan? Bilang lo bw. Plizzz!! Gw panik nih, kl nanti ketahuan g ad nanti gw bakal d marahin!
Aku lalu menjawab:
Luna :
Tenang aj, ad d tangan yg tepat kok. Td pas mau buang sampah gw bw takut kehilangan dan skrang kebawa x'v
Luna :
Wkwkwk nanti gw bawa ke sklh bsk.
Nabil A. :
Bsk libur neng! Gw g bs nunggu senin. Gw g mau tau lo harus bw cincin gw krn itu cincin nikah mak gw
Luna :
Kenapa lo ambil cincin mak lo o'on?
Nabil A. :
Makanya cariin! Skrang in mereka blm tau. Kl tau mati gw
Luna :
Lo msh hidup kok.
Nabil A. :
Pokoknya gw bsk ke rumah lo y
Luna : y
Pip
Percakapan kita pun berakhir. Dan aku baru sadar, kalau cincin yang aku pakai di jari tengahku sekarang HILANG!!!
APA KATA NANTI NABIL?! Masa aku berbohong diambil anak kecil malam-malam? Gak mungkin 'kan?? Bagaimana nasibku gimama nanti? Sebegitu banyaknya argumen dalam hatiku karena cincin yang hilang. Aku menutup mukaku dengan bantal lalu mulai berteriak. "Aaaaaaaaaaaaaaa!!!" Kesal, sedih marah, panik, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi 1.
Tiba-tiba ditengah kegalauan, suara ibu memanggil. "Luna! Ada temen kamu dibawah!" Padahal aku masih ingin merenung nasib. Tapi seperti yang orang tua sering katakan, jika sudah disuruh jangan ngebantah, nanti kualat. Yap, aku memilih turun dengan langkah berat.
Saat aku sudah diujung tangga, nampak seorang gadis sebaya denganku masih memakai seragam SMP-nya sedang duduk dibangku ruang tangga. Gadis itu langsung menengok saat merasakan kehadiranku. Dia menatapku dengan mata yang seperti sudah mengenalku lama. Tapi aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Sungguh ironis.
Gadis itu langsung saja menghampiriku yang mau melangkah kearahnya. Tas ransel yang dia gotong seperti memperberat langkahnya. Karena dia berjalan sambil sesekali bergerak ke kanan atau ke kiri sedikit tanpa dia sadari seperti gravitasi pelan-pelan menahannya.
Aku bingung dengan kehadiran orang yang tidak dikenal ini merasa agak aneh. Tapi setelah dia menunjukan sesuatu ditangan kanannya, aku sedikit paham. "Ehm, tadi kau menjatuhkan cincin ini saat lari." Ucap gadis ini dengan malu-malu.
Ternyata Kunti yang kita lihat ditempat sampah besar adalah dia yang kebetulan lewat. Gadis bernama Rima ini hanya ingin memanggil kita untuk bertanya apakah aku dan Riko melihat temannya yang pergi bersamanya saat buang sampah. Tapi karena waktu itu rambut Rima tidak dikuncir dan sangat panjang, kita jadi mengiranya Kunti lalu lari tunggang langgang.
Bahkan sampai aku tidak menyadari kalau cincin Nabil lepas dari jariku. Untungnya Rima sempat melihatnya dan berhasil menemukan cincinnya dijalanan sepi.
Aku sangat bersyukur kepada Rima. Tak henti-hentinya aku memeluk dan mengucapkan terima kasih kepadanya. "Terima kasih!" Ucapku disela-sela tangisan. Rima menyambut pelukanku dan membalas, "Sama-sama." Dengan senyuman ramah.
Keesokan harinya, Nabil benar benar datang ke rumahku untuk menagih janji. Sedangkan aku dengan mudah memberikan cincinnya tanpa rasa gelisah karena cincinya sudah ada.
Saat aku sudah memberikan cincinnya pada, Nabil bertanya, "Gak hilangkan tadi?" Aku lalu menjawab, "Sempet, tapi ketemu lagi"
"Eh?! Hilang dimana? Kenapa bisa?" jawaban aku cukup membuat Nabil terkejut. Kemudian aku jawab, "Udah, yang penting sudah ada." Untuk mengakhiri percakapan. Tapi, sebelum benar benar mengakhirinya, aku meledek,
"Bilang makasih dong sama aku yang setia menjaga cincin ini.".
"iye, makasih ya".
"Bilang makasih sama Rima juga dong." tambah aku. "Ya ya, eh? Apa?". Aku memasang sunggingan dikedua sudut bibirku. "Dia yang beneran menemukan cincinya".
Kemudian aku menceritakan semua hal yang aku alami kemarin. Nabil agak was-was padahal dia sudah memegang cincinnya. Tapi diakhiri tawa jahat saat aku menceritakan adegan aku memeluk Rima. Sepertinya aku salah menceritakan bagian cerita. "Seharusnya aku diamkan saja!" Ocehku dalam hati.
- TAMAT - 🍀