Lina adalah gadis cantik berusia 17 tahun yang baru saja masuk kuliah tahun ini. Dia bersekolah di salah satu sekolah SMA negeri dan selalu mendapatkan juara pertama di kelasnya, hanya dengan modal itu sampai nekat mengikuti SNMPTN dan akhirnya masuk ke jurusan kedokteran.
Anehnya dia selalu memuji sahabatnya Lia yang hanya bisa mencapai peringkat 7 disekolah SMA dulu, hal ini terjadi karena saat SMP Lia mampu meraih juara umum dan itu membuatnya terkagum-kagum. Entah apa yang membuat Lia menjadi turun se-drastis itu saat SMA karena mereka beda sekolah, namun takdir menemukan lagi keduanya di bangku perkuliahan meskipun keduanya beda jurusan.
Pagi hari sekali Lina mengeluarkan motornya dari bagasi, dia berencana untuk menjemput si putri Lia tentu saja untuk kepentingannya yang ingin membeli buku novel terbaru. Dia tidak ingin berangkat sendiri dan menyeret sahabatnya itu kesana kemari toh Lia pasti juga tertarik dengan buku-buku komik berseri yang berjejer rapi di sana.
Lina pun menancapkan gasnya dengan cepat dan melaju menuju kost Lia. Setelah sampai dia langsung melihat Lia yang sudah berpakaian rapi, rambut pendek sebahunya di kuncir dua kesamping dan dia memakai masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya namun masih jelas untuk dikenali.
"Heyoo," sapa Lia pada Lina.
"Buru naik woe, gue pengen cepat sampai,"
"Biasa aja kali,"
"Emang kamu gk mau ketemu husbumu?"
"Mau-mau," jawab Lia sambil lompat ke motor yang ditumpangi Lina.
"Heh, hampir aja kita nyium aspal bareng-bareng gara-gara gorila lompat,"
"Hah apa? Enak aja aku imut gini di bilang gorila," Lia tidak terima.
"Iya-iya, iyaaaain aja,"
Sejurus kemudian motor hitam itu melaju cepat menuju Gramedia terdekat yang ada disanaa. Mereka berdua pun langsung menyerbu masuk dengan tidak sabaran.
"Gue pengen beli novel romantis yang pemerannya itu Juki ah," Lina mengungkapkan rencananya.
"Hooh, aku mau beli komik shoujo," imbuh Lia.
Baru saja hendak memilih buku-buku yang tertera disana mereka berdua dikejutkan dengan munculnya kedua pria yang sebenarnya sudah mereka kenali dan langsung membuat wajah mereka menjadi tegang.
"Btw yok pergi," ajak Lia sambil berbalik dengan kaku.
"Aku setuju, sebaiknya kita cabut karena di sini ada hawa hawa iblis lewat," Lina menyetujui.
Mereka berdua berbalik dan menutupi waja mereka dengan buku asal yang mereka ambil dari sana. Tapi terlambat kedua pria tampan itu sudah menyadari keberadaan mereka yang kebetulan bertemu.
Dengan cepat Ray langsung melangkah namun dihentikan oleh Devan yang tidak terima Ray mendekati Lia, pacarnya saat itu dan menahan cemburu mati-matian.
"Mau kemana? Disini aja temani aku sebentar beli buku ensiklopedia," Devan mencegah.
"Ah... Ba-baiklah," jawab Ray dengan pipi yang bersemu.
"Tidak, ini salah, aku sudah punya pacar cewek, tidak mungkin aku selingkuh darinya," batin Ray.
"Gapapa deh sekali-kali," imbuhnya dalam hati dengan seringai kecil. Mereka pun melanjutkan aktifitasnya untuk mencari buku incaran mereka.
Sementara itu Lina dan Lia sedang mengintip di balik lemari yang agak jauh dari sana. Mereka berdua merasa lega karena tidak diikuti.
"Ajiiirrr pacar Lo selingkuh sama cowok aneh itu," heboh Lina sambil menggoyang-goyangkan pundak Lia.
Lia tidak peduli dan memilih untuk memperhatikan buku tentang panduan kehamilan yang dipegangnya.
"Aku salah bawa buku, ini bukan komik shoujo romance" gumam Lia menghela nafas.
"Anjir pacar Lo selingkuh gk dipeduliin! Lo harusnya marah, gue gak terima ini terjadi," kesal Lina.
"Gapapa toh mereka sama-sama cowok jadi aman," ucap Lia dengan santainya.
"Gak bisa gini, Lo pacarnya tau, Lo tau di saat seperti ini Lo harusnya ngelabrak mereka!"
"Aku malas cari masalah dengan psikopat itu,," jawab Lia memberikan julukan pada pacarnya sendiri.
"Heh masalahnya ini tentang harga diri kamu, ingat harga diri kamu, kalau cowok kamu nge gey padahal udah punya pacar, ntar harga diri Lo yang jadi taruhannya,"
"Hmmm..." Lia berfikir sejenak.
"Iya deh sekalian aku mau minta putus dengan alasan kalau mereka selingkuh," Lia menyetujui.
"Nah gitu dong bestiee!" Kata Lina senang.
"Lagian kenapa kamu yang tidak terima?" tanya Lia.
"Karena aku peduli sama kamu oon," jawab Lina greget.
Setelah itu Lina langsung mendekati sosok Ray dan Devan yang sedang bercanda sambil sesekali berangkulan manja. Dengan tatapan mengintimidasi mereka Lina tersenyum jahat kepada mereka berdua.
"Jeng jeng..." ucap Lia sambil menyambut kedatangan Lina. Sejurus kemudian sebuah kepalan tangan Lina langsung mendarat di bahunya.
"Selamat kalian ketahuan sedang selingkuh berduaan di toko buku," sindir Lina.
"Gak estetis banget si selingkuhannya di toko buku," Lia mentertawakan ucapan Lina.
"Diem napa, gue lagi bela-belain Lo ego,"
"Fufufu," Lia hanya ikut-ikutan tersenyum sinis.
Devan dan Ray yang sudah berbalik pun terkejut dan melepaskan rangkulan mereka. Ray terlihat sangat tenang sedangkan Devan memasang wajah seperti ada hama kotor di depannya.
"Kenapa? Masalah? Gua kan lagi beli buku di toko buku sama teman gue seperti kalian berdua emang gak boleh?" jawab Devan.
"Huh? Beli buku kok rangkulan!" Sinis Lina.
"Beli buku kok pegangan tangan!" balas Devan.
Lina menyipitkan matanya tajam menatap Devan dengan penuh kekesalan begitu juga sebaliknya.
Ray tersenyum terus melihat mereka berdua yang berdebat lalu dia menatap Lia yang ikut-ikutan menatap benci ke arah Devan, tiba-tiba ada perasaan kesal pada gadis polos itu di benaknya dan langsung menarik jaket pink yang dikenakannya.
"Yuk kita menyingkir..." Ray menarik paksa Lia dengan ekpresi yang tenang sedangkan Lia terlihat panik.
"Tidak Lina! Tolongin guee... guee mau di mutilasi aghh!"
"Hah?" Kaget Lina yang langsung melirik ke samping tetapi Lia sudah menghilang tanpa jejak.
"Hah kemana Lia," tanya Lina sambil memutar pandangannya.
Devan menepuk jidatnya. "Tuh kan kemunculan kalian itu membawa sial," kesal Devan.
"Hah dasar orang aneh, gak normal gue jijik banget sama Lo,"
"Cewek banyak baacooot..." Kesal Devan sambil tersenyum jengkel.
Sepertinya mereka berdua akan bertempur lagi tetapi Lia tertarik kepada salah satu buku ensiklopedia yang berada di belakang Devan dan langsung mendorong Devan dan meraihnya.
"Wah wahhh ada harta Karun," batin Lina dalam hati.
"Hey itu milikku enak aja sembarangan di ambil!"
"Punyaku, ble... siapa yang ngambil duluan siapa yang dapat," ejek Lina langsung menancapkan kaki seribu dengan cepat untuk menghindari amarah Devan.
***
"Aku mau puut" perkataan Lia terhenti karena mulutnya tersumpal ice cream. Dengan cepat mata serius gadis itu berubah menjadi berseri-seri.
"Apa tadi?" tanya Ray yang sebenarnya memang sengaja.
Lia langsung nyengir kuda sambil menggelengkan kepalanya. "Makasih banyakkk... Anggap aja tadi itu angin lewat." Ucapnya sambil tertawa kecil.
Ray menatap gadis itu dengan senyuman penuh arti, dia mulai menyukai sifat polos dan ceria Lia yang menghiburnya hampir di sepanjang waktu.
***
Keesokan harinya Lia keluar kos-kosannya dengan wajah yang seperti panda, kalau saja Lina tidak bilang kalau dia ingin mentraktirnya dia tidak akan mau keluar.
"Lemes banget yaa pren," kata Lina sambil tertawa terbahak-bahak melihat mata panda Lia.
"Iyaa ni braay, gue abis di telpon Ray sepanjang malam sampai lupa tidur, kalau gk diancem gue gak bakal mau nerima telponnya," kesal Lia.
"Derita Lo, enak yaa gue jomblo heppy," sindir Lina.
Lina pun berjalan dengan hati senang menyusuri pinggiran trotoar yang agak sepi pejalan kaki dan disisi jalannya ditumbuhi pohon-pohon besar yang membuat suasana terasa sejuk, meskipun mereka berada di kota.
"Hari ini aku pengen traktir Kamu bakso, tapi sebelum itu Kamu temani aku dulu belanja album biasku, akhirnya aku bisa beli album..." gumam Lina memuji ketekunannya yang terus menabung demi menafkahi sang idola.
"Iyaaa..." jawab Lia dengan lemas.
Setelah itu keduanya langsung datang ke sebuah toko yang didalamnya penuh dengan barang-barang Korea, produk dan makanan khas Korea bahkan album-album idol Korea termasuk BTS.
"Hanya ini incaranku ya tuhan," gumam Lina dengan penuh harap.
Namun baru saja berbalik dia bertemu dengan rival kakak tingkat yang selama ini paling dihindarinya.
"Hah? Orang aneh ngapain ke sini!" kaget Lina.
"Gue mau beli album BTS, emang kenapa?"
"Hah? Eh.. tunggu tunggu berarti ini... Tidak tidak boleh, jangan lecehkan husbuku, cukup anda saja yang tidak normal!" usir Lina.
Devan yang tadinya terlihat bingung langsung berubah ekpresi dan tersenyum jahil.
"Hahaha iya saya mau melecehkan husbu anda itu untuk memuaskan nafsu birahi,"
"Anjir serem... Tidak akan ku biarkan," kaget Lina yang langsung melindungi semua album itu dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Awas minggir satu aja kek gue mau beli untuk keperluan penting,"
"Gk boleh!" larang Lina.
"Awas nenek rempong,"
"Apa?! Gue cantik membahana begini dibilang nenek rempong. Enak aja!" Kesal Lina yang reflek memukul lengan kekar Devan tetapi langsung ditangkis oleh Devan.
Kini album kesayangan Lina itu berada di tangan Devan dan Lina berniat untuk menariknya kembali tetapi tidak bisa karena Devan terlalu kuat.
"Lepasin husbu gue, najis tau,"
"Hah? Apa? Gak denger, btw makasih albumnya..." Ucap Devan sambil tersenyum manis dan menarik Album itu dengan paksa dari tangan Lina.
"Hah?! Itu punya gue anjir, woe balikin gak!"
"Terimakasih, gue balas penghinaan Lo nanti yaaa..." teriak Devan sambil ngeluyur ke kasir.
"Aghhh padahal album tadi cuma ada satu dan itu limited edition huhu, belum lagi nanti di... ANJIR KESUCIAN HUSBU GUE, WOE ORANG ANEH BALIKIN!!" Teriak Lina sambil berlari mengejar Devan yang sudah menghilang.
Lina terduduk lemas di pinggir pintu sambil menatapi kepergian Devan yang sudah pergi dengan mobilnya dan dia yang hanya berjalan kaki pun tidak dapat mengejar.
Akhirnya karena tidak mendapatkan apa yang dia incar Lina keluar dengan wajah kusut, dia menarik Lia yang dari tadi hanya duduk diam sambil menonton tingkahnya.
"Sudah selesai debatnya? Sekarang ayok makan bakso!" ujar Lia penuh semangat.
"Yok..." Sekarang giliran Lina yang lesu dan nyawanya seperti sedang melayang dari raganya.
"Li, kalau aku pingsan, kuburin di tempat kuburan album di kamarku yah," ucap Lina dengan langkah gontai.
"Yoi, kenapa gk sekalian masuk liang lahat?" tanya Lia.
"Gue... masih... mau... berjuang... untuk... balas dendam!" gumam Lina.
Lia mengangguk saja tanda mengerti, tanpa mempedulikan Lina yang berjalan seperti orang mabuk di sampingnya.
***
Devan datang menghampiri Ray di rumahnya.
"Kak Devan, makasih yaaa," ucap seorang gadis remaja SMP yang girang mendapatkan sebuah album baru edisi terbatas.
"Sama-sama," jawab Devan sambil tersenyum.
Ray tersenyum senang menyambut kedatangan temannya dan mengajaknya untuk bermain game di kamar.
"Makasih sudah beliin adikku album," kata Ray senang.
"Yoi sama-sama," jawab Devan sambil menepuk pundak Ray.
"Sebenarnya aku dapetinnya penuh perjuangan ngadepin nenek rempong, tapi yaah gapapa demi buat kamu dan adikmu senang," imbuh Devan.
"Makasih banyak,"
"Sama-sama,"
"Btw kok kamu ketemu terus sama si Lina, apa kalian jodoh ya?" tanya Ray sambil mengambil susu coklat indomilk yang baru diambil dari kulkas sebelumnya.
Devan terdiam, terlihat dia sangat kecewa mendengar perkataan Ray. Devan pun melirik ke arah Ray yang fokus menatap layar sambil meminum susu.
"Gue berharap kita berdua yang jodoh, dan sebenarnya gue udah lama banget suka sama Lo, gue...,"
"Uhuk-uhuk..." Ray terbatuk keras selama beberapa saat dan membuat Devan panik lalu segera diambilkannya air minum untuk Ray.
"A-aku..." gumam Ray setelah batuknya usai dia langsung mengambangkan pembicaraannya dan menatap Devan sangat lama.
"Aku jug-"
Tringgg...Tringgg....
Sebuah telpon tiba-tiba nyasar ke handphone Ray. Ray pun segera meraihnya dan ternyata itu adalah telpon dari Lina. Tanpa pikir panjang dia pun menjawabnya.
"Ray..." Panghil Lina pada Ray.
"Yes? Kenapa? Tumben tumbenan nelpon,"
"PACAR LO HAMIL!"
HAH?!
Ray dan Devan langsung terlonjak kaget secara bersamaan. Keduanya saling melempar pandang dengan wajah terkejut bukan main.
Perasaan mereka kini campur aduk seperti nasi campur. Terlihat sekali wajah penuh kekecewaan di wajah Devan kepada Ray.
Ray menggelengkan kepalanya.
"Tunggu, ini bohong kan?!"
"BENER GEBLEK!"
"Tapi aku belum ngapa-ngapa Lia! Jangan bilang dia selingkuh!" Kaget Ray.
"DIA HAMIL BAKSO ANJIR, LIHAT TUH PERUTNYA BUNCIT, DIA HABIS MAKAN TIGA MANGGOK BAKSO DAN DIA MAKAN SENDIRI, GUE GAK KEBAGIAN, KAN GUE RUGI, BESOK-BESOK LO YANG TANGGUNG JAWAB KEUANGAN GUE!"
Tut Tut.... telpon terputus dan Ray dan Devan pun hanya bisa melongo selama beberapa menit.
End...