Pernah terlintas di pikiranku untuk bisa bertemu dengan kekasih hatiku, tapi entah mengapa aku merasa tak yakin dengan hal itu
Aku merasa bodoh tatkala mengaguminya, entah keberanian dari mana hingga aku memutuskan untuk selalu menyebut namanya di sepanjang doa ku agar ia menjadi kekasih hati ku selamanya dan mendampingiku hingga maut memisahkan hanya itu yang bisa aku lakukan untuk selalu dekat dengannya.
Zain....nama yang selalu ku sebut dalam doa ku, lelaki yang selama ini menjadi bahan utama dalam pikiranku.
Bagaimana bisa aku mengagumi seseorang yang nyaris mendekati kesempurnaan, hidung mancung, alis tebal dan tubuh tinggi tegap membuat semua mata tak jenuh memandangnya.
Zain merupakan anak konglomerat tetanggaku yang sangat dihormati, sehingga membuat nya tumbuh menjadi lelaki playboy yang suka gonta-ganti ganti pacar namun tak mengurangi rasa kagum ku terhadapnya.
Ayahnya sangat dekat dengan ayah ku sehingga keyakinan ku untuk bersamanya mempunyai peluang yang sangat besar.
Dan aku merupakan penggemar rahasianya, aku selalu bersifat cuek tatkala bertemu dengannya seperti cintanya sayyidina Ali kepada Fatimah Az-Zahra yang mencintai dalam diam dan aku juga mencintainya dalam diam.
Setiap kali aku bertemu dengannya hatiku sangat bahagia namun tidak dengan wajahku yang selalu memasang wajah cuek agar tidak terlihat olehnya.
Ia sangat dekat dengan ayahku tapi tidak dengan diriku karena setiap kali ia mengunjungi rumahku aku lebih memilih menghindar darinya aku tak berani bertemu dengannya walaupun hanya sekedar lewat.
Aku tidak suka kepribadiannya yang selalu mempermainkan wanita ia menggunakan ketampanannya untuk membius semua mata yang melihatnya termasuk diriku
Dan aku sadar diri pantaskah diri ini menjadi pendamping lelaki bak pangeran itu.
Sehingga aku memilih cuek tatkala bertemu dengannya agar hati ini tidak sakit ketika pangeran ku bersanding dengan wanita lain.
Aku gadis biasa yang tidak mempunyai sama sekali yang namanya percaya diri, aku terlalu tertutup kepada siapapun hingga berjalan pun aku selalu menunduk dan itulah sifat ku yang selalu jadi tertawaan nya Zain
Entah...tidak ada angin tidak ada hujan lelaki yang tidak pernah sekalipun bertegur sapa denganku menyapa ku di jalan, ia juga sedang jalan kaki dan berjalan tepat disampingku dan itu menjadi hal langka dalam hidupku.
Hati ku terlonjat kegirangan tatkala pangeran ku berjalan beriringan denganku.
Dan ia mulai membuka pembicaraan
"Hay....apa aku boleh menemanimu berjalan...?"
Ingin rasanya aku loncat-loncat dan berteriak mengatakan "iya" tapi lidah ini terasa kelu untuk mengucapkannya dan aku hanya bisa mengangguk menjawabnya
Dan kenapa wajah ini selalu menunduk tak berani menatapnya
"Apa kau keberatan jika aku menemanimu berjalan...?" tanya Zain karena sedari tadi aku hanya diam tak bersuara
Aku segera mengangkat wajahku dan tak sengaja netra mata kami bertemu dan saling mengunci, dan hal itu terjadi cukup lama
Hingga Kami berdua langsung memutuskan kontak mata itu dan terjadilah kecanggungan diantara kami berdua.
Agar kecanggungan itu tak terjadi cukup lama ia kembali bersuara
"Kamu anaknya pak Wijaya kan...?"
Yaa nama ayahku Wijaya dan namaku sendiri adalah Nabila Wijaya.
"Yaa memang benar...." Jawabku singkat dan masih menunduk
"Namamu Nabila kan..?"
Aku sangat bahagia karena ia tahu namaku dan lebih bahagianya lagi tatkala ia mengulurkan tangannya ingin menjabat tanganku,
Jika aku tak ingat dosa sudah ku sambut tangan itu dan menerima perkenalan itu, Namun aku segera mengatupkan tanganku didepan dada karena ia bukan muhrim ku.
Ia menarik kembali tangannya dan meminta maaf padaku.
"Maaf aku lupa....perkenalkan namaku Zain..." ucapnya tersenyum
Dan senyumannya mampu mengalihkan dunia ku bagaimana tidak..? Senyuman yang menampilkan lesung pipi itu mampu membuat ku terpana dan cocok sekali diwajahnya yang putih bersih ditambah lagi mata yang agak sipit, ingin sekali aku menyebutnya "oppa korea".
Tak terasa aku sudah sampai didepan gerbang rumahku, ingin sekali aku memindah kan rumahku agar lebih jauh dan otomotis aku akan lebih lama bersamanya.
"Terima kasih telah menemaniku berjalan, apa mau mampir dulu...?" Tawar ku padanya
"Saya yang harusnya berterima kasih padamu karena kamu mau berkenalan denganku..... dan lain kali saja aku akan mampir ke rumahmu..."
"Hmmm baiklah aku masuk dulu.." pamit diriku
"Ya silahkan ...salam pada om Wijaya..."
"Yaa nanti aku akan sampaikan.."
Dan aku pun masuk ke dalam rumah setelah melambaikan tanganku pada Zain, dan Zain pun membalas lambaian ku .
Hari ini merupakan hari keberuntunganku sepertinya alam sedang berpihak padaku, dan aku selalu tersenyum saat memasuki kamarku hingga aku berpapasan dengan ayahku.
"Anak ayah tumben senyam-senyum sendiri..."
"Hmm masak...perasaan ayah saja kali..."
Ayahku sudah ku anggap sebagai teman sekaligus ayah buat ku, beliau menyuruhku agar tidak sungkan untuk menceritakan masalahku terhadapnya namun tetap saja diriku selalu menutup diri dari siapapun.
"Hmmm baiklah..tadi ayah melihat Zain didepan apa dia mengantarmu..?"
"Tidak ....kami hanya kebetulan bertemu, makanya kami bareng karena satu jalur.." ucapku se adanya, tidak mungkin kan diriku mengatakan jika Zain mengajakku berkenalan
"Apa karena itu dirimu senyam-senyum..?" goda ayahku
"Tidak...itu tidak benar ayah..." Jawabku gugup dan ayah sudah pergi meninggalkan ku.
Seminggu setelah perkenalan itu...aku tidak pernah lagi bertemu dengan pangeran ku..dan ia juga tak pernah lagi mengunjungi rumahku, biasanya satu minggu sekali ia akan berkunjung ke rumahku untuk bertemu dengan ayahku, namun tidak dengan minggu ini ia seperti ditelan bumi yang hilang entah kemana, diriku sudah sangat merindukannya bayangan akan dirinya terus saja berputar di kepala ku.
Hingga minggu kedua iapun tak kunjung datang, aku pun semakin menyebutkan namanya disetiap sujud ku namun pada akhirnya aku pun merasa lelah menunggunya hingga aku jatuh sakit selama tiga hari.
Aku pasrah tatkala ia bukan jodohku karena takdir tuhan lebih indah dari rencana ku tapi siapa sangka pada hari ketiga diriku sakit ia datang ke rumah bersama keluarganya, yang sontak membuat ku terkejut.
Kaget campur bahagia tatkala ia ingin meminang ku, seperti obat yang sangat manjur tubuhku langsung berekspresi sembuh, aku menepuk kedua pipiku takutnya aku hanya mimpi indah yang ketika bangun hanya menyisakan luka namun inilah kenyataanya aku benar-benar dipinang olehnya, mimpi yang selama ini aku impi-impikan.
ternyata dia bukan ditelan bumi melainkan ikut ayahnya keluar negeri dengan urusan bisnis, dan ia kembali pulang hanya karena mendengar diriku sakit.
tidak hanya disitu ia juga diam-diam menyukaiku karena hampir dua tahun lebih ia menyimpannya, tapi tidak dengan hari ini, dia berani meminang ku dan akan menghalalkan ku seminggu lagi.
Dan tibalah saatnya hari ini dimana ia akan menepati janjinya, ia telah mengucapkan ijab qobul yang berarti seluruh tanggung jawab ayahku akan diserahkan padanya.
hari-hari ku kini sangatlah indah, hidup bersama dengan lelaki yang sangat saya idamkan.
menatap wajahnya yang putih, hidung mancung, lesung pipi dan masih banyak lagi kelebihan yang ia miliki, aku merupakan salah satu orang yang sangat beruntung memiliki kekasih dalam hati yang nyaris mendekati kesempurnaan.
tak hanya itu ia selalu memanjakan ku setiap harinya sehingga aku merasa seperti tuan putri yang sangat di istimewa kan.
begitulah hari-hariku bersama dengannya ternyata doa ku tak mengecewakan ku.
TAMAT
jangan lupa like ok👌
~pena misterius~