Bangun-bangun sudah pindah alam? Bukan, tapi pindah tubuh dan dunia!
Aku tidak menduga bahwa jiwaku masuk ke dalam tubuh seorang adik dari protagonis pria di dalam novel yang aku baca beberapa jam yang lalu.
Claresta de Gesine Beyonce.
Rambut bergelombang berwarna biru sebiru lautan, mata merah yang bulat, pipi kemerah-merahan, bibir merah muda yang mungil dan semua itu ditampilkan oleh cermin besar didepanku. Sungguh, deskripsi sempurna untuk adik dari protagonis pria.
"Claresta!"
Aku membalikkan tubuhku dan menghadap ke arah pemuda tampan rupawan yang sekarang adalah kakakku.
Pangeran mahkota kerajaan Beyonce, Ishara de Gesine Beyonce. Warna rambut yang sama denganku dan mata hijau emerald itu menatapku dengan senang bercampur terharu.
Dia tiba-tiba saja memelukku, adiknya yang baru bangun dari tidurnya selama sebulan ini. "Syukurlah... Syukurlah! Adikku sudah bangun, hiks."
Ishara menangis? Meskipun di novel, Ishara diceritakan mudah menangis tapi melihatnya langsung membuatku tak enak hati.
"Kakak, aku baik-baik saja." Aku mendorong kedua bahunya yang lebar untuk menjauh dariku. Ishara mengusap matanya dengan lengan tangannya untuk menghapus air matanya.
Hidungnya memerah karena menangis melihatku yang baru saja bangun dari koma. Pasalnya, Ishara baru mendengar kabar tentang Claresta yang terbangun dua hari yang lalu saat berada di akademi. Dan ia buru-buru pulang untuk bertemu Claresta alias aku yang sekarang.
"Nevra juga ingin bertemu denganmu."
Nevra? Apa maksudnya Ginevra Eldoris sang protagonis wanita di dalam novel ini? Jika iya, berarti usiaku disini adalah 10 tahun!
"Dimana dia?"
"Ada di belakangku."
Sontak, aku menyingkirkan badan Ishara ke samping untuk melihat sang protagonis wanita yang di deskripsikan cantiknya mengalahkan Putri Beyonce ini.
Rahangku nyaris saja jatuh ketika melihat anak berusia 13 tahun masih mengenakan seragam akademi lengkap itu. Rambut coklat terang dengan mata hazelnya begitu membuatku terpana sekejap.
"Claresta?" Aku memperbaiki raut muka ku dan melirik sekilas ke Ishana yang memanggilku. "Apakah ada yang salah?"
"Tidak kak, aku hanya terkejut saja," balasku sambil terkekeh kecil.
"Semoga berkah dan perlindungan dari Dewi Athena selalu mengiringi Yang Mulia Putri. Perkenalkan nama saya Ginevra Eldoris, anak dari Count Eldoris."
Ginevra membungkuk hormat dengan mengangkat kedua sisi gaunnya. Menyita perhatianku yang sedang berbicara dengan Ishara.
Tentunya aku harus bersikap layaknya Claresta yang asli bukan?
"Oh..." Aku hanya ber-oh ria dengan memasang senyum tipis.
Claresta yang asli dikenal dengan sifat cuek dan mudah tak menyukai orang yang membuatnya merasa kesal. Semoga ucapanku tidak diambil hati olehnya. Kita doakan saja seperti itu.
"Bisakah kamu membalasnya dengan mengucapkan sesuatu bukan hanya oh saja?"
"Aku bingung harus berkata apa."
Dasar bulol! Bucin t0lol. Hanya mengucapkan oh saja dia kesal, pantas saja Claresta memilih mati di bunuh antagonis pria dibandingkan diselamatkan oleh Ishara, kakaknya sendiri.
Ya... Tentunya aku tidak akan memilih mati di tangan antagonis. Toh, umur Claresta saja pendek disebabkan ia sering sakit-sakitan.
"Nona Eldoris, bisakah anda mendatangi pesta teh yang akan saya adakan besok lusa?"
"Saya cukup tersanjung anda mengundang saya yang hanya anak seorang Count miskin. Sebisa mungkin saya hadir di pesta teh anda."
Lihatlah! Lihatlah ekspresi gembira yang ditampilkan oleh kakakku. Hanya mengundang Ginevra menghadiri pesta teh yang aku adakan sudah membuatnya senang.
Aku prihatin, padahal umur Ishara masih muda tapi dia sudah merasakan apa itu cinta. Coba bayangkan kala protagonis pria kedua mendekati Ginerva, semenyedihkan apa ekspresi yang dia keluarkan.
"Saya mengucapkan terimakasih atas waktunya untuk menghadiri pesta teh yang dibuat oleh anak kecil ini."
"Jangan mengatakan bahwa anda anak kecil, Tuan Putri. Anda lebih cocok dipanggil kutu kecil yang imut."
Aku tidak heran dia begitu karena dia adalah antagonis wanita di novel ini. Devora Anniken, anak dari Marquess Anniken ini dikenal sebagai Lebah Akademi. Cocok sekali dengan namanya yang artinya lebah, lebah yang sering menyengat orang-orang yang menghalanginya.
Kenapa dia datang? Padahal aku tidak mengundangnya. Omong-omong, dimana Ginevra? Jika ada yang berpikir seperti itu, jawabannya adalah...
Yap benar! Devora dengan alibinya yang mudah ditebak itu mengatakan bahwa Ginevra tidak bisa hadir dan menyuruhnya menggantinya.
Beruntungnya aku hanya terkena sindiran halus dari Devora, bukan penindasan dan pelecehan yang didapati Ginevra. Hahaha, mungkin karena aku calon adik iparnya.
"Katanya putra Duke Arcelia begitu tampan dan perhatian terhadap semua perempuan ya?"
Nona ini ... Dia seringkali mengawali pergosipan yang terjadi ketika pesta teh maupun salon. Aku lupa namanya karena dia cuma figuran yang lewat saja.
"Saya dengar begitu juga, sampai-sampai Putri kerajaan lain mengejarnya hingga menyusulnya ke akademi."
Sepanjang pesta teh yang aku adakan penuh dengan desas-desus akan keberadaan si protagonis pria kedua ini. Nafeda Arcelia, calon sadboy yang sekarang berusia 12 tahun ini.
Dia paling muda seangkatannya bahkan Nafeda menyukai Ginevra dari pertemuan tak sengaja.
Tak kusangka akan bertemu dengannya di taman istana Mawar yang luas ini! Baru saja selesai pesta teh sudah disuguhi tokoh kesukaanku, Nafeda.
Rambut merah bagaikan rasberi dan mata kuning kecokelatan itu, ciri khas dari anak Duke Arcelia. Dan aku menyukai penampilannya yang menenangkan jika dilihat.
"Kau! Kau bukan Tuan Putri!"
Eh–
"Maksudnya?"
Kenapa dia tiba-tiba saja menuduhku bahwa aku bukan Claresta. Jangan sampai dia tahu bahwa aku bukan Claresta asli!
"Kau bukan Tuan Putri, dia tidak memiliki bau jiwa seperti! Siapa sebenarnya kau!"
Sepertinya... Aku melupakan sesuatu deh.
"Hust! Diam! Jangan beritahu siapapun tentang hal ini. Tolong rahasia hal ini ... Aku mohon."
Percuma aku mengelak darinya, karena Nafeda bisa membuktikan bahwa aku bukan Claresta yang asli. Dia memiliki kemampuan mencium jiwa bahkan memanggil jiwa yang sudah mati.
Beruntungnya Nafeda luluh dengan ekspresi memohonku yang menggunakan wajah menggemaskan Claresta kecil ini. Dia menjadi lebih lembut setelah merona.
"Dimana Tuan Putri yang asli?"
"Dia... Aku tidak tahu."
"Huh! Sepertinya kau dan Putri telah bertukar tubuh."
Tunggu. Apa yang dimaksud Nafeda? Tidak mungkin aku dan Claresta bertukar tubuh. Toh, ragaku disana telah terbakar akibat ledakan mobil itu.
Bersambung/Tamat?