Ayu berada di dalam toko sedang membeli hadiah ulang tahun untuk tunangannya yang bernama Rendi. Mereka sudah melaksanakan tunagan dan tinggal beberapa bulan lagi, mereka akan menikah. Siang ini, Ayu pergi sendirian untuk membelu hadiah karena sahabatnya sedang ada urusan keluarga. Rendi dan Ayu akan makan malam bersama di Restoran favorit Rendi sambil merayakan ulang tahunnya.
Ayu masuk ke dalam toko dan ia terlihat bingung. Setiap tahun, Ayu selalu memberi kado ulang tahun dan sekarang, Ayu terlihat sangat bingung. Ayu melihat-lihat topi yang terpajang dan terlihat sangat bagus. Ayu mengambil topi berwarna hitam dengan kombinasi warna putih di lingkaran kepalanya. Ayu terlihat sangat menyukai topi tersebut. Tanpa berpikir panjang, Ayu segera membeli topi tersebut. Kemudian, ia pindah ke toko lain untuk membeli jam tangan. Karena Rendi bekerja di kantor, jadi Ayu ingin memberinya hadiah jam tangan. Ayu ingin, hadiah ulang tahun untuk Rendi, akan berguna sampai kapan pun.
Rendi berada di ruangan meeting sedang membahas tentang proyek pembuatan gedung baru karena, Rendi dan para karyawannya akan pindah ke gedung yang lebih luas. Berada di ruang meeting, Rendi terlihat tidak fokus dan terus melihat ke arah layar ponselnya.
"Kita rencanakan akan membangun 4 lantai saja tapi, masing-masing lantai cukup luas. Kita juga membuat rooftop buat santai-santai pas istirahat. Ditambah dengan tangga darurat di luar gedung. Kalau terjadi kebakar yang cukup besar, kita bisa keluar lewat tangga darurat yang ada di luar gedung. Perlantai harus diberi tangga darurat, dan tangganya bisa dilipat. Bagaimana pak Rendi?" Tanya Haikal, karyawan yang melakukan presentasi.
Rendi tidak mendengar pertanyaan Haikal. Mala sang sekertaris, langsung menepuk bahu Rendi. Rendi terkejut dan langsung memasukkannya ke dalam saku jas nya.
"Iya?. Ada apa?" Tanya Rendi bingung.
"Haikal sudah selesai presentasi, pak. Bagaimana selanjutnya?" Tanya Mala.
"Ya sudah. Kalian lanjutkan saja dan jangan lupa untuk menghubungi investor"
"Baik, pak"
"Baik. Rapat sudah selesai. Kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing"
Rendi segera keluar dari ruangan rapat dan berjalan menuju ruangannya. Karyawan yang lain juga ikut keluar dari ruangan meeting dan beristirahat di ruangan masing-masing. Saat, Rendi masuk ke dalam ruangannya, ia melihat Arum duduk di sofa dalam ruangan Rendi.
"Arum?. Sejak kapan kamu di sini?" Tanya Rendi.
"Heem... aku sudah di sini sekitar 10 menit" Jawab Arum sambil memainkan rambutnya.
"Ah, cukup lama juga. Kenapa nggak kabari aku dulu?"
"Karena aku mau kasih kejutan buat kamu"
Arum mencium pipi Rendi lalu, memberi sebuah kotak padanya. Rendi membuka kotak tersebut dan ternyata isinya adalah sepatu yang sangat diinginkan oleh Rendi.
"Arum, kamu tahu barang yang aku mau. Terima kasih"
Rendi langsung memeluk Arum dengan sangat erat. Rendi segera mencoba sepatu kets dan terlihat sangat cocok di kaki Rendi.
"Arum! Terima kasih banyak. Kamu tahu apa yang aku mau"
"Sama-sama. Aku kan sering jalan-jalan sama kamu. Setiap kali lihat sepatu kets kaya gitu, kamu mau beli tapi, kamu tahan. Sekarang, aku beliin buat kamu"
"Kamu memang yang paling terbaik. Nggak kaya Ayu. Pasti dia beli kado yang itu-itu aja"
"Nggak masalah. habis ini, kamu jadi suaminya Ayu dan kamu bakal punya banyak uang"
"Haha... kamu benar"
Arum adalah kekasih Rendi. Mereka berpacaran sudah sekitar tiga tahun. Rendi dan Arum akan berencana menikah tapi, mereka belum memiliki cukup biaya. Rendi bertemu dengan Ayu di pinggir jalan yang hampir dirampok. Rendi mengusir perampok tersebut dan rela wajahnya terluka demi menyelamatkan mobil Ayu. Ayu sangat berterima kasih pada Rendi lalu, membawanya ke rumah sakit untuk mengobati lukanya.
Mereka sering bertemu dan sampai akhirnya, mereka menjalin hubungan. Rendi tidak mengatakan dengan jujur jika, ia memiliki kekasih. Rendi mendekati ayu hanya ingin memanfaatkan Ayu dan mengambil hartanya. Rendi berpura-pura mencintai Ayu, bersikap perhatian dan bersikap sopan di hadapan orang tua Ayu.
***
Hari sudah semakin gelap tapi, Ayu memutuskan ke kantor Rendi sebelum waktunya makan malam. Ayu masuk ke dalam ruangan Rendi tapi, Rendi sudah tidak ada. Ayu mencoba bertanya pada karyawan Rendi. Katanya, Rendi sudah pergi beberapa menit yang lalu. Ayu langsung keluar dari kantor sambil menelepon Rendi. Mencoba menelepon Rendi tapi, teleponnya tidak diangkat.
Ayu keluar dari kantor menuju tempat parkir yang ada di basement. Ayu melihat mobil Rendi yang masih terparkir di basement. Ayu melihat hal yang membuat hatinya hancur dan sangat marah. Seketika, tubuh Ayu menjadi lemas karena melihat tunangannya sedang bercumbu di dalam mobil dengan wanita lain. Ayu segera mendekati mobil Rendi dan memukul keras bagian depan mobil Rendi. Rendi dan Arum terlihat sangat terkejut. Rendi melihat ke depan, ternyata Ayu sudah berada di hadapannya.
"Ren, gimana ini?" Tanya Arum ketakutan.
"Tenang. Aku coba tenangin Ayu" Jawab Rendi lalu, keluar dari mobil.
"Hai, sayang. Kok kamu di sini?" Tanya Rendi.
"Mas... kamu sudah pulang dari tadi?"
"Iya, aku baru aja selesai. Ada apa?"
"Siapa perempuan di dalam mobil kamu?"
"Ah... dia temanku. Katanya mau numpang. Dia lagi nggak bawa mobil"
Ayu hanya tersenyum mendengar jawaban Rendi. Rendi terus menyakinkan Ayu jika, Arum adalah temannya.
"Aku nggak bodoh, mas. Aku lihat semuanya. Dia bukan teman kamu. Sekarang, sebaiknya kamu jujur"
"Dia temanku. Kita nggak ada hubungan apa-apa"
"Oh ya?. Kalau teman nggak ada hubungan spesial, nggak mungkin mereka berciuman mesra seperti itu"
Rendi hanya diam saja. Ia sudah kehabisan akal untuk membalas perkataan Ayu. Arum keluar dari dalam mobil dan mencoba tersenyum pada Ayu. Ayu langsung melepas cincin tunangannya dan memberikannya pada Rendi.
"Aku sudah capek, mas. Sebaiknya, cincin ini... buat kamu nikah sama dia" Kata Ayu.
"Tapi, Ayu... aku mencintai kamu. Aku nggak mau ninggalin kamu"
"Sepertinya, kalian sudah kenal lama. Apa kamu sudah berpacaran dengannya sebelum berpacaran denganku?"
Rendi hanya diam dan terus menatap mata Ayu. Ayu hanya bisa diam dengan mata yang berkaca-kaca. Ayu mengambil ponselnya untuk membatalkan makan malam dan perayaan ulang tahun Rendi.
"Ayu, dengerin aku dulu. Aku bisa tinggalin dia dan hidup bahagia sama kamu"
Ayu melepas tangan Rendi yang menggenggam tangan Ayu. "Aku pergi. Semoga kalian hidup bahagia. Mas Rendi, aku harapa nggak ketemu lagi sama orang jahat kaya kamu"
Sambil menyeka air matanya, Ayu pergi meninggalkan Rendi dan Arum. Ayu segera masuk ke dalam mobilnya dan tidak jadi memberikan hadiah tersebut pada Rendi.
***