Maaf, konten ini sudah di hapus. Karena sedang dalam masa terbit
Toh, gak ada yang baca, dan percuma rasanya.
"Zahwa?!"
Aku terperanjat mendengar suara panggilan itu. Sudah aku hafal siapa pemilik suara itu, namun aku masih saja memastikan bahwa dia adalah orang yang sama, yang membuat jantung ku melompat tak karuan.
Ku lihat dirinya, sambil menyeka air mata yang masih menggenang di permukaan pipi. Aku masih merasakan takut tiada henti saat berhadapan dengan dirinya saat ini.
"Mas Surya! Kenapa di sini?" tanya ku di sela keterkejutan ku.
"Aku ingin bertemu orang tua ku, aku tidak memiliki kesempatan untuk berbicara di saat-saat terakhir mereka." Jawabnya seraya duduk berjongkok di sisi ku. Ku lihat kepiluan dalam dirinya. Memandang satu persatu batu nisan di depannya.
Tidak ingin membuatnya kaku. Ku biarkan diri ku tetap di sisinya. Mengikuti ritual bacaan tahlil dan Yasin yang ia lantunkan. Saat ini aku merasakan damai. Sedikit melupakan jika saat ini dia adalah kakak ipar ku, bukan kekasih ku lagi. Mas Surya selalu membuat ku terpesona dengan segala perilakunya.
Andaikan, kita masih sepasang kekasih yang sesungguhnya. Mungkin suasananya tidak akan setegang ini. Aku akan bisa melepas lelah di bahunya, dan merapal gundah untuk ia pinta dengarkan.
"Very, cepat! Dia sudah tidak sadarkan diri!" Seru ku kritis. Aku tidak lagi bisa berpikir tenang. Aku membawa Zahwa dengan menggendongnya hingga ke ruang pemeriksaan. Selama perjalanan dia masih saja terpejam. Keringat dingin terus keluar dari tubuhnya. Sedang tubuhnya, semakin lemas tak terkendalikan.
"Siapa dia? Apa dia pacar,mu?" tanya Very. Dia mulai memeriksa denyut nadi pada lengan Zahwa. Aku menghiraukan pertanyaan yang di ajukan Very. Ke khawatiran ku tentang Zahwa menghapus semua status yang sesungguhnya.
"Untuk saat ini dia baik-baik saja. Aku akan menyuntikkan," kata Very.
Setelah Zahwa mendapatkan suntikan. Very mengajak ku ke ruangannya. Hati ku ingin menunggu Zahwa sampai siuman, namun very mengisyaratkan untuk aku ikut bersamaku.
"Kau sudah memberitahu Hanan soal kondisi istrinya?" tanya Very setelah kami berada di ruangannya. Aku duduk di sofa tamu ruangan itu, sedang dia mengambilkan dua botol minuman dari lemari es yang berada di ruang tersebut.
"Belum. Aku panik, dan lupa untuk menghubungi Hanan." Jawab ku.
Very mendaratkan pantatnya pada kursi sofa tunggal yang berseberangan dengan ku, namun dengan begitu saat ini dia sedang berada di hadapan ku. Satu minuman botol dingin dia sodorkan pada ku.
"Ada apa?" tanya Very. Dia sedang menatap menyelidiki ke arah ku.
Dia dokter khusus keluarga ku. Sebelumnya ayahnya lah yang menyandang hak itu. Namun karena banyaknya pekerjaan yang harus di tangani oleh ayahnya. Hak untuk menjadi dokter khusus keluarga kami di berikan kepada very.
Meskipun dia masih muda dan seumuran dengan ku, tapi kemampuan dalam hal kedokteran dia tidak kalah dengan para dokter seniornya. Dia menyandang gelar dokter muda terbaik di ibu kota.
"Apanya?" tanya ku balik. Tidak mengerti apa yang sedang dia tanyakan.
"Aku melihat ketakutan saat melihat adik ipar mu itu terkapar lemas? Itu terlihat aneh,'' ungkapnya tanpa basa basi.
"Bukankah itu hal wajar. Siapa yang tidak panik melihat orang di sekitar mu tiba-tiba pingsan begitu saja." Balas ku mencari alasan. Namun very tidak juga melepaskan tatapan mencurigakan itu kepada ku.
"Begitu ya?" Very seakan tidak percaya. Namun aku tidak peduli itu.
Aku mengambil ponsel ku dalam saku celana. Mencari kontak nama Hanan dan mulai menyambungkan panggilan nomernya. Beberapa detik aku hanya mendengarkan nada sambungnya saja.
Aku harus mengusir ego ku. Kini Hanan lah yang berhak akan Zahwa. Sekecil apapun itu diapun harus sigap bertanggung jawab akan istrinya.
Aku mencoba menghubunginya lagi. Mengulangi beberapa kali, tapi tetap saja Nihil. Hanan tidak juga mengangkat telpon ku. Akhirnya aku putuskan untuk mengirimi dia pesan.
[Zahwa tiba-tiba pingsan. Sekarang dia ada di rumah sakit. Tapi tadi Very sudah memberikan dia obat.]
"Apa Hanan tidak menjawab telpon mu?" tanya Very. Dia menebak gelagat yang sedari tadi aku lakukan.
"Terakhir aku menghubunginya, dia mengatakan jika dia sibuk. Barang kali memang ada pekerjaan penting yang harus ia kerjakan segara. Tidak apa, biar aku yang menjaga Zahwa." Jawab ku.
"Dia punya penyakit maag? Dari kondisi yang terlihat, dia juga belum makan.'' Ucap Very.
Aku mengangguk, mengiyakan. Dugaan ku benar jika saat ini penyakit maagnya itu kambuh. Barang kali itu terjadi karena diriku. Selepas kedatangan ku, dia tidak memikirkan kesehatan tubuhnya. Barangkali kali aku adalah penyakit yang baru saja datang kembali, setelah sekian lama menghilang.
"Aku akan kembali menunggu Zahwa, kamu bisa melanjutkan pekerjaan mu." Kata ku seraya berdiri. Very tidak lagi mencegah ku. Dia membiarkan aku pergi meninggalkan ruangannya.
Ku tengok jam dinding saat aku melewati perempatan jalan koridor rumah sakit itu. Pukul dua belas lewat sepuluh menit. Sebaiknya aku pergi ke mushola terlebih dahulu. Waktu sholat dhuhur sudah masuk. Lagipula akan tenang lagi saat aku nanti menungun Zahwa dengan keadaan sudah mengisi absen pada sang pencipta.
Rumah sakit ini, rumah sakit yang sama yang telah menjadi tempat terakhir orang tua ku. Barang kali salah satu ruangan yang sejak tadi aku lewati dulu menjadi kamar terakhir mereka. Tapi, rumah sakit ini pula yang menjadi tempat penyatuan Hanan dan Zahwa. Saat itu Hanan bilang, jika dia menikahi gadis atas kemauan orang tua kami, dan hari itu juga mereka menikah di depan ayah yang menjadi saksi.
Sesak rasanya jika mengingat hal itu. Andai saja aku bisa mengulang waktu maka aku akan kembali di hari di mana orang tua ku masih sadarkan diri. Dan pernikahan itu tidak akan terjadi, barang kali juga malah akulah yang akan menikah dengan Zahwa. Karena kami sudah saling mencintai sejak lama.