Hujan turun dengan deras, sederas air mataku disabtu sore pertengahan Desember. Aku duduk termenung dari balik jendela kaca kamar tidurku. Memandang kearah luar, melihat guyuran hujan yang bersamaan menghantam rerumputan dipekarangan rumah, sama seperti semua kenangan tentangnya yang datang menyergapku tanpa peringatan. Aku masih berjalan menyusuri setiap tempat yang pernah aku singgahi bersamanya. Aku tidak tahu mengapa semua harus terjadi. Bahkan akupun harus menyadari, bahwa aku hidup disaat ini. Bukan lagi di masa lalu bersamanya. Hingga aku memutuskan untuk pergi jauh, hanya untuk melupakan semua kenangan tentangnya. Namun, bukan hal mudah untukku melakukan semua itu. Masih saja aku ingin kembali, menengok masa lalu dan mengingat kenangan yang dia tinggalkan bersama rasa sakit ini.
Lima tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang laki-laki. Saat itu kami masih sama-sama dibangku sekolah dengan seragam putih abu-abu. Sebagai siswa baru, aku masih terlalu asing dengan kegiatan disekolah. Beberapa saat setelah kegiatan masa orientasi siswa selesai. Untuk mengenalkan kegiatan sekolah. Panitia OSIS mengadakan acara “Gelar Seni” di Aula utama sekolah. Acara yang setiap tahunnya selalu ada, untuk menunjukkan berbagai macam ekstrakurikuler dalam bidang seni. Seperti tarian tradisional hingga tarian modern, band, dan berbagai macam permainan alat musik tradisional. Semua itu dikemas dengan baik. Hingga dapat menjadi sebuah pertunjukan seni yang luar biasa.
Aku duduk dikursi bagian belakang bersama Novi temanku satu bangku dikelas, karena kami terlambat untuk segera merapat ke Aula sekolah. Tidak masalah, selagi aku masih bisa melihat pertunjukkan itu.
“Via!!, apa sih yang kamu cari?”, Novi yang sedari tadi duduk disampingku, menegurku dengan rasa penasaran dan sedikit jengkel. Karena mataku sibuk mencari-cari seseorang saat Novi mengajakku bicara.
“Iya Nov, kenapa?”, jawabku dan mencoba fokus dengan pertanyaan Novi.
“Kamu mencari siapa?, Kak Fa’i?”, tatapan Novi terlihat menebak-nebak isi pikiranku.
“Tidak, bukan siapa-siapa”. Aku menggelengkan kepala ku untuk meyakinkan Novi.
Padahal sebenarnya iya, tapi tidak mungkin untukku terus terang secepat itu pada Novi. Aku hanya ingin memendamnya sendiri. Novi bisa menduga bahwa yang aku cari benar Kak Fa’i, karena ketika MOS minggu lalu aku terpergok Novi sedang memandang wajah Kak Fa’i dengan tatapan yang berbeda saat memberikan pidato sambutan ketua panitia. Kak Fa’i adalah kakak kelasku, dia duduk dikelas XII dan juga sebagai pengurus OSIS.
“Sudahlah, terus terang saja. Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan dariku Via, justru akan semakin terlihat jelas”, desak Novi yang terus memintaku untuk mengakuinya.
“Apaan sih, sok tahu kamu”, aku mengelak dengan sedikit kesal.
“Hehehe, Kak Fa’i hari ini nggak masuk sekolah”, Novi tertawa, seakan dia benar-benar tahu.
“Dari mana kamu tahu?”, selidikku.
“Iyalah, satu sekolah juga tahu. Hari ini timnya mewakili sekolah untuk ikut turnamen basket”, dia mencoba meyakinkanku.
Aku hanya diam tanpa menanggapi lagi perkataan Novi. Dalam hatiku aku sedikit kecewa, kenapa hanya aku yang tidak tahu alasan kenapa Kak Fa’i hari ini tidak masuk sekolah. Segera kutepis pikiran itu, “Sudahlah, kenapa harus memikirkan Kak Fa’i terlalu dalam. Lagi pula aku juga belum mengenalnya”. Segera kufokuskan kembali penglihatanku untuk melihat pertujukan seni. Tapi sebelum acara Gelar Seni selesai aku sudah bosan. Aku memutuskan untuk meninggalkan Aula, sendiri tanpa Novi.
Aku berjalan keluar dari pintu belakang Aula menuju kelas dengan kepala sedikit tertunduk sebagai wujud kekecewaanku. “Memang salah, niatku tadi ke aula. Bukan bermaksud untuk melihat acara gelar seni, tapi malah ingin melihat Kak Fa’i, ternyata orangnya malah nggak ada”, gerutuku dalam hati.
“Maaf”, terdengar suara laki-laki yang tak asing menegurku dari belakang.
“Iya?”, aku menoleh kearah suara itu muncul.
"Gelang kamu jatuh”, laki-laki itu menyodorkan gelang yang ditemukannya padaku.
“I...”, belum sempat aku meneruskan perkataanku, aku sangat terkejut.
“Laki-laki itu. Ya Tuhan, apa ini benar?, apa jangan-jangan hanya imajinasiku saja”, aku masih terus berusaha meyakinkan diriku.
“Ini gelang kamu kan?”, dia kembali memastikan bahwa itu gelangku.
“I.., iya. Ini gelang aku”, aku benar-benar terkejut. Dalam hati aku bertanya-tanya, “Novi bilang Kak Fa’i ikut turnamen basket. Tapi, kenapa sekarang dia malah ada didepan aku ”.
“Lain kali hati-hati”, suaranya terdengar lembut ditelingaku. Aku hanya menganggukan kepala.
“Oh iya, nama kamu siapa?”, dia menyodorkan tangannya padaku.
“Namaku Via kak, siswa baru”, nadaku sedikit terbata-bata.
“Aku Fa’i, oh iya kalau begitu aku duluan ya”, dia melangkahkan kaki meninggalkanku.
“Iya kak, makasih”.
Perkenalan dengan Kak Fa’i dimulai saat itu. Tapi aku masih penasaran kenapa Kak Fa’i tiba-tiba dibelakangku, lebih tepatnya kenapa dia ada disekolah hari ini dan bukannya ikut turnamen basket seperti kata Novi. Aku benar-benar tidak menyangka semua sudah menjadi takdir tuhan. Hari demi hari berlalu bersama tenggelamnya perasaanku padanya. Namun, setelah perkenalan dengan Kak Fa’i jarang kutemui dia. Sesekali aku melihatnya berjalan dari kejauhan, tapi dia terlihat sibuk mungkin karena sebentar lagi ujian. Aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk menyapanya. Aku hanya mengaguminya dalam diam. Cukup, mana mungkin seseorang seperti Kak Fa’i masih sendiri. Asumsi seperti itu membuat kepercayaan diriku semakin menipis.
Dipenghujung semester ganjil bulan Desember, sepulang sekolah. Hembusan angin membawa awan mendung menyelimuti langit sekolah. Mungkin hujan akan segera turun. Aku melihat Kak Fa’i keluar dari parkiran motor. “Apa dia akan segera pulang?”, tanyaku dalam hati. “Lagi pula kenapa memangnya kalau dia pulang?, akupun juga harus segera pulang”. Aku berjalan menuju halte depan sekolah menunggu jemputan.
Saat itu dihalte hanya ada aku dan seorang ibu-ibu paruh baya.
“Mau pulang neng?”, tanya ibu itu padaku.
“Iya bu, nunggu dijemput”, aku menjawab dengan senyuman tipis diwajahku yang letih sembari mendudukkan diriku dibangku halte. Aku tenggelam dalam lamunanku dan hujan tiba-tiba turun dengan lebat. Kudengar suara motor yang tak asing merapat ke halte.
“Neng, itu ya yang jemput?”, seraya ibu itu berkata kepadaku dan berhasil membuyarkan lamunanku. Aku tertegun melihat orang itu yang muncul tiba-tiba untuk berteduh di halte karena guyuran hujan yang semakin lebat. Sontak saja ku jawab, “Bukan bu”. Ada perasaan tak menentu saat orang itu mulai mendekat. Ya, aku tahu dengan jelas siapa orang itu.
“Via?!”, dia memanggilku dengan sedikit terkejut dan senyuman yang membuat lesung pipinya terlihat cukup jelas.
“Kak Fa’i, belum pulang?”, tanyaku dengan nada sedikit terkejut.
“Belum Via”. Dalam guyuran hujan yang lebat itu, aku berbicara banyak hal dengan Kak Fa’i, tetapi lebih banyak membahas tentang sekolah. Hari itu, benar-benar hari yang indah bagiku. Walaupun aku cukup letih tapi semua terkalahkan dengan rasa bahagiaku bisa lebih dekat mengenal Kak Fa’i. “Terimakasih Tuhan, kau menurunkan hujan hari ini”, batinku.
Sejak pertemuan kedua itu aku menjadi lebih dekat dengannya. Kami saling menemukan kecocokan saat berbicara, apalagi mengenai organisasi. Saat itu Kak Fa’i menceritakan bagaimana dia bisa menjadi anggota OSIS sekaligus bergabung dalam tim basket disekolah kami. Dia juga bercerita bagaimana susahnya membagi waktu. Namun, semenjak kelas XII dia sudah mulai mengurangi aktifitasnya.
Turnamen basket awal semester ini, adalah turnamen terakhir yang diikutinya. Kini dia harus fokus untuk kelulusannya. Aku tahu, bagi Kak Fa’i organisasi adalah nyawa baginya. Demikian juga aku yang saat itu bergabung dalam Jurnalistik sekolah. Kak Fa’i adalah laki-laki yang baik. Dia pandai bergaul sehingga tak heran temannya pun juga banyak, bahkan diluar sekolah. Perasaanku semakin tenggelam padanya. Bagaimana tidak?, saat aku kesulitan dia tanpa segan membantuku. Menghiburku saat aku sedih, seakan dia tahu apa yang aku rasakan. Kedekatan kami mengalir begitu saja, seperti yang aku katakan sebelumnya. Semua ini sudah menjadi takdir tuhan.
Menjelang ujian nasional kulihat Kak Fa’i sangat sibuk. Aku tidak ingin menganggunya. Hampir dua minggu kami tidak memiliki ruang untuk bicara. Kutanggalkan rasa egoisku untuk ingin terus bersamanya. Karena aku tahu dia sedang bekerja keras untuk diterima dikampus yang sangat dia inginkan. Sesekali aku menyapanya dengan obrolan ringan lalu pergi. Mungkin dia paham maksudku. Terkadang aku bertanya dalam hati, “Kita dekat, dan kamu sangat perhatian. Apa sama sekali tak ada rasa darimu untukku?”.
Sabtu sore setelah ujian nasional berlalu. Kak Fa’i menelponku, “Iya Kak Fa’i ada apa?”.
“Apa besok kamu sibuk Via?”.
“Enggak kak, Via dirumah aja. Kenapa?”.
“Besok hari minggu, apa kamu mau menemaniku latihan?”. Mendengar permintaannya aku sangat senang, dan aku mengiyakan ajakannya.
Aku tahu dia harus rajin latihan fisik untuk persiapan seleksi menjadi taruna. Saat dia bilang ingin melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer, ada perasaan sedih yang menggelayuti diriku. Itu artinya aku akan sangat jarang bertemu lagi dengannya. Tapi aku tidak boleh egois, aku tidak memiliki hak melarangnya.
*** Minggu Pagi***
Minggu pagi yang cukup cerah. Kak Fa’i datang kerumah menjemputku dengan menaiki sepeda motor kesayangannya untuk meminta izin ke mama, bahwa hari ini kita akan pergi ke taman kota untuk latihan. Sesampainya ditaman, dia bersiap-siap dan mulai berlatih berlari mengelilingi taman. Aku memandanginya dari kejauhan, dia terlihat begitu semangat. Sesekali dia memandangku dan melempar senyum. “Oh tuhan, andai laki-laki itu milikku”, pintaku dalam hati.
Dia tampak kelelahan, lalu berhenti berlari dan mendekat duduk disampingku. Tapi entah kenapa hari ini perasaan bahagiaku bercampur dengan rasa sedih. Ku berikan air mineral yang ada digenggamanku padanya. Ku pandangi wajahnya yang terlihat lelah.
“Sebentar lagi kita akan berpisah, dan mungkin perlahan kau akan melupakanku”, hatiku mengatakan itu dan wajahku tertunduk sedih.
“Via!”, Kak Fa'i menegurku.
“Iya kak?”, kuangkat kepalaku dan menjawab panggilannya. Tatapannya serius dan pandangannya begitu dalam, seakan ada hal yang penting untuk dikatakan, namun terlihat ada keragu-raguan didalamnya. Sesaat suasana menjadi hening.
“Via, jika aku diterima disana mungkin kita akan jarang bertemu. Kau jangan rindu ya”, kalimat itu diucapkan Kak Fa’i dengan nada candaan yang menggodaku, dan mengalihkan pandangannya.
“Ah, mungkin kau yang justru akan rindu padaku kak”, balasku dengan senyum menyerengai menatap wajahnya. Aku yakin bukan itu yang ingin dia katakan. Iya kan?, jelas kau mengalihkan perkataanmu.
“Hahahah, iya. Mungkin kau benar Via. Aku yang akan merindukanmu”. Tawa pecah diantara kita. Seolah tak ada satupun beban yang kita rasakan hari itu.
“Via, kamu masuk gih”, Kak Fa’i masih duduk diatas motornya.
“Lho, Kak Fa’i nggak mau mampir kerumah dulu?”. “Enggak Via, aku buru-buru. Salam ya sama mama kamu”.
“Oh, iya udah kak. Hati-hati ya”, aku mengatakannya dengan senyuman, yang terselip rasa sedih. Berat hatiku saat itu melepas kepergian Kak Fa’i. Lelah kurasakan, lalu kurebahkan tubuhku diatas kasur dan tertidur.
Suara ponsel yang berdering sejak tadi berhasil membangunkanku. Ku lihat muncul nama Kak Fa’i dilayar ponselku.
“Halo, iya kak. Ada apa?”, kuangkat telepon dari Kak Fa’i.
“Via, ini aku Andre”, suara itu bukan suara Kak Fa’i. “Lho, Kak Fa’i kemana?”, tanyaku dengan nada penasaran.
“Via, kamu tenang ya”, nadanya gugup.
“Iya. Kenapa?, Kak Fa’i dimana?, nadaku meninggi mendesak Andre untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Firasatku tidak terlalu enak sejak tadi, bahkan semenjak mengangkat telpon itu firasatku semakin buruk.
“Fa’i, Via. Fa’i kecelakaan, dan dokter bilang nyawanya tidak bisa diselamatkan”.
Mendengar itu, aku tak mampu lagi berkata-kata. Aku sangat terkejut. Tanganku bergetar dan tubuhku jatuh tersimpuh dengan ponsel yang masih tergenggam ditanganku. Aku masih tak percaya. Secepat itu kau pergi?, bahkan beberapa jam yang lalu kau masih bersamaku. Terbayang semua kenangan yang kulalui bersamanya. Saat pertama kita saling mengenal dan mulai dekat. Menghabiskan waktu bersama.
Tuhan, kenapa?. Kenapa secepat ini engkau memanggilnya?. Apakah permintaannya kemarin adalah firasat?. Tidak biasanya dia memintaku menemaninya latihan. Tepat dihadapanku, jenazah orang yang aku cintai dikebumikan. Aku berharap ini hanya sebuah mimpi. Tapi kau benar-benar pergi untuk selamanya.
“Via”, Andre mendekat duduk disampingku. Sudah seminggu yang lalu semenjak kepergiaannya, aku masih terbawa kesedihan yang mendalam.
“Aku ingin mengatakan sesuatu. Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa Fa’i selalu baik dan perhatian padamu. Aku kenal Fa’i dengan baik. Dia tidak terlalu dekat dengan wanita manapun selain kamu. Dia pernah bilang padaku, jika kamu adalah satu-satunya wanita yang dia sayangi setelah mamanya. Katanya dia akan mengungkapkan perasaannya padamu minggu lalu. Tapi kulihat Fa’i belum mengungkapkan perasaanya padamu”.
Tangisku pecah mendengar apa yang disampaikan Andre padaku. Sesak rasanya dada ini. Andai waktu bisa diputar pada waktu itu. Aku ingin mendengarnya langsung dari bibirnya
“Jangan salahkan Fa’i karena kamu tidak bisa mendengarkan langsung darinya. Maafkan dia. Mungkin saat itu dia memiliki alasan lain”, Andre berusaha menenangkanku.
Kini kau bukan hanya akan jarang menemuiku seperti katamu sebelumnya, bahkan kau tak akan pernah menemuiku lagi selamanya. Tenanglah disana. Kau pergi dengan membawa rasa cintaku.
Dua tahun telah berlalu bersama tenggelamnya rasa cintaku. Seiring dengan berjalannya waktu, dan berputarnya roda kehidupan. Semua masih saja sama, tak banyak berubah semenjak kepergiannya. Tempat-tempat yang dulu kami kunjungi bersama, kini hanya menyisakan luka. Mengingatkanku akan kenangan indah bersamanya, namun tak lagi kudapati orangnya. Sekarang aku bukan lagi rumah untuknya pulang. Kini rumahnya adalah sang pencipta.
~SELESAI~