Cinta Dalam Diam
Cinta tak harus diungkapkan dan tak harus memiliki. Hanya memandang dan mengagumi dari jauh sudah cukup.
Kisahku berawal saat di lingkunganku mengadakan kegiatan Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang dimeriahkan berbagai macam kegiatan dan perlombaan.
Saat itu yang menjadi ketua panitia adalah laki-laki bernama Muhammad Artono. Dia laki-laki yang cerdas dan cermat serta kreatif dalam mengaplikasikan sebuah ide hingga tercipta suatu gagasan-gagasan baru yang menambah kesan unik dan menyenangkan bagi para masyarakat di sekitarnya.
Kemasan berbagai kegiatan yang begitu menyenangkan bagi semua orang tersebut juga membuat kagum seorang Alya Alfarati yang sejatinya ia mendambakan laki-laki yang memiliki nilai plus.
Kekagumannya ternyata membuatnya selalu terbayang-bayang wajah pria tersebut selama mereka bergaul bersama. Padahal yang bekerjasama membuat acara ini lancar sesuai rencana bukan hanya mereka berdua tapi masih ada puluhan bahkan ratusan orang yang terlibat di dalam kepanitiaan tersebut, tapi mengapa hanya Alya orangnya yang mengagumi sang pemilik berbagai ide brilian itu.
Mungkin hanya Alya yang lemah dallam hal mengagumi sosok laki-laki yang tidak pada tempat dan waktu yang tepat.
Dalam setiap sesi acara Alya terlibat bersama dengan Artono karena kebetulan Alya menjadi sekretaris dalam susunan kepanitiaan tersebut.
Alya dengan teliti dan cermat mengikuti arahan ketuanya.
Mereka saling bekerjasama tanpa saling bantah-bantahan, Alya dengan sangat patuh mengerjakan semua yang diarahkan ketuanya, begitu pun ketuanya begitu kagum dengan cara kerja sekretarisnya yang begitu patuh dan juga rapi, teliti dan terlihat sekali kecermatannya dalam mengatasi berbagai macam masalah.
Jadilah partner ketua dan sekretaris ini yang saling melengkapi diantara peran yang lain yang tak kalah penting dari peran mereka.
Alya pulang malam ini dengan tubuhnya yang telah kelelahan. Ia diantar sampai kerumahnya oleh salah satu panitia yang sudah senior di kepanitiaan tersebut yang memang telah mengenal Alya dan keluarganya.
"Aku masuk dulu ya Pak, terimakasih dah mengantarkan aku" ucap Alya pada Pak Maman yang telah mengantarkannya
"Iya neng, istirahat yang cukup neng, besok masih banyak tugas yang menunggu kita" ucap Pak Maman menyemangati Alya yang baru turun dari mobil yang dikendarainya.
Alya hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan arahan Pak Maman.
Sampai di dalam kamar ternyata seisi kamar yang ada hanya bayangan wajah Artono yang menghiasi seluruh dinding kamarnya.
Alya beberapa kali memejamkan matanya untuk menetralisir semua bayangan yang menghiasi ruangan kamar tidurnya tersebut, tapi semakin ia berusaha menghapusnya semakin banyak bayangan itu datang memenuhi otaknya.
Tiba-tiba ponsel Alya berbunyi dan terlihat pesan masuk. Alya melihat nomor yang masuk, ternyata itu dari sang ketua yang saat ini tengah membayangi pikirannya.
"Mas Artono" bisik Alya pelan.
Dengan hati yang berdebar hebat Alya mulai membuka isi pesan tersebut.
*Alya, jangan lupa besok kamu siapkan surat undangan untuk peserta karnaval, biar nanti Jajang yang memfotokopi undangan itu dan menyebarkannya. Kamu istirahat yang cukup ya, biar besok badan kamu fit untuk mengerjakan pekerjaan yang telah menunggu kita kerjakan* isi pesan Artono pada Alya.
"Iya Mas* jawab Alya singkat.
Hanya pesan biasa tak ada kata istimewa yang ditujukan untuk pribadi Alya, namun kata-kata tersebut mampu memporak-porandakan hati Alya dan membuat Alya senyam-senyum sendiri di dalam kamarnya sambil meneluk ponselnya.
Artono adalah pemuda yang baru datang dari kota. Ia adalah anak dari salah satu tokoh masyarakat yang ada di tempat tinggal Alya. Dia belajar beberapa tahun di kota besar hingga akhirnya selesai kuliah dia pulang dan didapuk menjadi salah satu nominator ketua panitia Agustusan di daerah tempat tinggalnya. Dan ternyata ide-idenya membuat semua orang yang ada menjadi terkagum-kagum dengannya, tak terkecuali Alya seorang wanita yang menjadi idola di daerah tersebut namun terkenal sangat sulit di dekati para pria dan sangat selektif menilai para pria.
Bukan hanya pria yang sulit mendekatinya namun juga wanita yang seusia dengannya pun sulit mendekatinya walau telah mengatasnamakan teman.
Alya adalah perempuan cerdas dan cantik namun dia sangat tertutup pada dunia luar. Bila ada waktu luang untuknya, maka akan ia gunakan untuk membaca buku di perpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah yang ada di daerah tempat tinggalnya.
Dengan tertutupnya akses untuk orang lain mendekatinya otomatis semakin ekslusif orang yang mampu mendekatinya dengan mengatasnamakan sebuah keadaan.
Seperti saat sekarang, disaat orang yang ada di sekitarnya mempertanyakan segala hal mengenai acara tersebut, Alya begitu selektif memilih antara orang yang benar-benar menanyakan hal tersebut murni atau hanya alasan semata agar bisa dekat dengan dirinya.
Alya hanya membiarkan saja pesan yang masuk tanpa membalasnya atau paling parahnya menghapusnya langsung dari ponselnya tanpa ia membukanya dan membacanya.
Memang terkesan angkuh bagi pendapat beberapa kalangan, namun bagi Alya hanya membuang waktu sia-sia untuk meladeni orang yang tidak penting.
*****
Artono mendengarkan dengan seksama pendapat orang yang ada disekitarnya mengenai perempuan yang bernama Alya yang selama beberapa hari ini dekat dengannya karena tugas penting untuk kemajuan dan suksesnya acara yang tengah ia pimpin ini.
Selama ia bekerjasama dengan Alya tak satu kalipun Alya mengabaikannya seperti cerita-cerita dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan setiap pesannya selalu Alya respon dengan baik.
Artono tidak mau merasa diistimewakan oleh gadis eklusif yang tengah menjadi perbincangan di daerah tempt tinggalnya tersebut dan lagi dia harus menjaga hatinya hanya untuk satu wanitanya.
Acara demi acara berhasil dilaksanakan dengan sukses tanpa kendala yang berarti. Semua berkat kekompakan dan kerjasama antar anggota kepanitiaan tersebut. Tak terkecuali ketua dan sekretarisnya yang menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat sekitar dan menganggap mereka memiliki kedekatan khusus dan menganggap mereka pasangan yang serasi.
Artono hanya menanggapinya dengan tersenyum. Parahnya Alya menanggapinya dengan dingin tanpa ekspresi. Memang, membuat Alya tersenyum adalah hal yang sangat mahal dan langka. Jarang sekali orang melihat Alya tersenyum. Alya tersenyum hanya pada orang yang dianggapnya kenal.
Malam itu adalah puncak acara dari berbagai acara yang telah diadakan dari beberapa hari yang lalu. Puncak acara tersebut diisi dengan berbagai atraksi kesenian daerah yang ada di daerah tersebut.
Di depan panggung berderet beberapa kursi yang disediakan untuk tamu undangan dan panitia inti sebagai tanda penghormatan bagi mereka yang telah bersusah payah menyelenggarakan acara tersebut dari awal hingga akhir. Tak terkecuali bagi Artono dan Alya sebagai ketua dan sekretarisnya.
Dan acara pun telah berjalan beberapa saat. Alya telah menempati tempatnya beberapa saat yang lalu, namun tempat duduk yang seharusnya diisi Artono masih terlihat kosong.
Alya sempat ditanya beberapa orang mengenai keberadaan Artono, Alya hanya menjawab Mas Artono masih ada urusan.
Saat acara sambutan ketua panitia dibacakan oleh pembawa acara tiba-tiba Artono datang dan menempati kursinya bersama seorang wanita disisinya.
Semua orang yang ada di tempat tersebut memusatkan perhatian mereka pada pasangan yang baru saja memasuki ruangan tersebut, tapi tidak bagi Alya yang terkesan biasa saja.
Orang-orang yang awalnya memperhatikan Artono beralih perhatian mereka pada Alya, namun yang diperhatikan sangat dingin dan cuek tanpa terusik sedikitpun meski perempuan yang dibawa Artono duduk disebelahnya.
Setelah pembawa acara menyelesaikan ucapannya, Artono naik ke atas mimbar dan memulai sambutannya. Dalam sambutannya tersebut dia mengucapkan terima kasih pada semua jajaran kepanitiaan yang telah membantunya, bahkan dalam akhirnya sambutannya dia mengenalkan pasangannya yang telah membantunya di balik layar.
Deg...deg...deg..., jantung hati Alya seakan bergemuruh hebat mendengar kalimat yang disampaikan Artono yang ditujukan pada wanita yang ada di sebelahnya. Dalam hatinya ia merutuki dirinya yang telah berharap pada laki-laki yang tak pantas ia kagumi sama sekali yang tak tau cara berterima kasih yang baik bagi Alya pribadi.
Alya tak mau menyapa sama sekali pada wanita yang ada disisinya, ia tak mau dibilang sok akrab sementara wanita tersebut tak memberi respon sama sekali pada keberadaan Alya yang lebih dulu menempati tempatnya sebelum wanita tersebut datang bersama pasangannya.
Wanita tersebut sibuk sendiri dengan memperhatikan Artono yang memberikan kata sambutan yang juga telah menyihir sebagian dari para pengunjung yang ada di tempat tersebut.
Alya telah jengah dengan keadaan yang membuatnya bosan, marah dan ingin rasanya ia pergi dari tempat tersebut agar ia terhindar dari tempat yang tak membuatnya nyaman.
Akhirnya Alya berdiri kemudian pergi sebelum Artono beranjak dari podium kebesaran.
Alya pulang dengan tanpa pengawalan sama sekali tidak seperti biasanya. Alya telah memantapkan pulang setelah memperhitungkan kemungkinan terburuk jika ia meninggalkan acara malam ini.
Sesampainya di rumah Alya masuk kamar dan mengunci dirinya didalamnya. Alya menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini Alya merasakan kagum dan suka pada seseorang tapi disaat bersamaan ia juga dikecewakan oleh perasaannya sendiri.
Setelah beberapa hari acara selesai dilaksanakan semuanya, anggota kepanitiaan dikumpulkan kembali untuk acara pembubaran panitia.
Alya sebenarnya enggan berangkat karena ia takut tidak menguasai dirinya saat berada dekat dengan Artono. Namun karena tanggung jawabnya, maka Alya bertekad untuk berangkat dengan dijemput Pak Maman.
Saat di jalan Pak Maman bercerita tentang Artono yang pernah mengatakan padanya bahwa sebenarnya Artono suka pada Alya, namun ia terlanjur memiliki istri.
Deg...., Alya seperti biasa hanya menanggapi santai atas cerita Pak Maman, walau sebenarnya hatinya dibuat berdebar-debar.
Sesampainya di tempat acara ternyata kedatangan Alya telah ditunggu yang lain dan saat Alya memasuki ruangan tersebut matanya bertemu dengan mata Artono dalam sepersekian detik mereka beradu pandang, namun kemudian mereka mengalihkan pandangannya.
Dalam acara pembubaran panitia tersebut Artono memberikan sambutannya dan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantunya hingga acara yang mereka susun bisa berjalan dengan baik. Dalam kesempatan tersebut juga ia mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah karena kehendak Allah dan kita hanya perlu menyikapinya dengan logika dan akal yang cerdas.
Alya langsung mengetahui maksud dan tujuan dari kata-kata yang diutarakan Artono tersebut. Dengan kata lain bahwa rasa yang mereka miliki biarlah hanya cukup mereka rasakan sendiri dalam diam tanpa harus mereka saling memiliki. Cukuplah rasa yang telah ada, tak perlu mereka mengungkapkannya bila harus menyakiti hati yang lain.