Bagi beberapa orang pacaran dengan lawan jenis membutuhkan waktu pdkt yang lama. Tapi tidak dengan Lia dan Ray yang baru bertemu langsung jadian tanpa sempat berkenalan sebelumnya. Aneh bukan? Yaa begitulah mereka yang sama-sama awam tentang dunia percintaan. Lia yang sifatnya polos dan baik hati tentu saja tidak menolak bila seseorang yang ganteng meminta bantuan kepadanya saat itu. Bantuan untuk menjadi pacar Ray agar Ray bisa hidup normal kembali karena sesuatu hal.
Hari ini Lia mengunjungi kampus kedokteran untuk melihat Ray yang katanya minta ditemani oleh pacar barunya. Jarak antara kampus biologi dengan fakultas kedokteran tentunya lumayan jauh sehingga Lia lebih memilih untuk joging santai di sepanjang jalan walaupun hari sudah sore.
Lia berdiri di depan ruang tunggu dekat kantor para dosen, pandangannya memperhatikan dan mengikuti arah jalan beberapa orang yang lewat di hadapannya. Gadis itu hanya diam sambil sesekali melihat jam di handphonenya.
"Kalau dipikir-pikir sudah 6 hari kami berpacaran dari hari itu," gumam Lia dalam hati.
Namun Lia dan Ray sangat sibuk hingga akhirnya mereka jarang bertemu dan sama-sama tidak memiliki nomor telpon pacarnya.
Lia menghela nafas, "Apa yang harus kulakukan untuk membantu Ray?" pikirnya bingung.
Lia beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk melangkah ke kantin FK. Selama dia berjalan melewati koridor, dia selalu jadi pembicaraan orang-orang karena Lia yang biasa-biasa saja itu berpacaran dengan Ray salahsatu manusia yang tampan di sana.
"Hey Liaaa!" Seru Lina saat melihat temannya datang ke kampusnya.
Lia menoleh sambil tersenyum, dia senang karena bertemu dengan Lina, temannya yang cantik jelita dan jadi pembicaraan hangat di kampus hampir di semua prodi.
"Lia ngapain lu kesini ego, lu kan bukan anak kedokteran?"
"Aku mau ketemu Ray," jawab Lia.
"Ngapain mau ketemu dia? Ohh iya iya kalian kan pacaran yaa hehe," goda Lina.
Lia menangguk singkat, "Sebenarnya aku memikirkan rencana untuk putus secepatnya, berpacaran dengan Ray membuatku susah karena di tanyai ini itu sama teman-temanku yang ada di jurusan biologi, jadi aku kesini untuk berbicara dengan Ray," jelas Lia.
"Anjirr udah dapat cogan malah mau diputusin, kamu tu kurang bersyukur banget jadi orang,"
"Habisnya cogannya gak normal," imbuh Lia sedikit mencibir.
"Hahaha itu derita Lo sih gue gak mau tau, salah sendiri nge iyain tanpa berfikir panjang," kata Lina sambil ngeluyur pergi untuk membeli makanan.
Lia hanya duduk di salah satu meja kosong. Sekarang sudah sore dan kebanyakan orang sudah pada pulang kecuali mahasiswa yang mengambil kegiatan lain di kampus.
Tidak beberapa lama kemudian Ray datang dengan jaket merah yang dia pakai, dia tersenyum tipis sambil menghampiri pacarnya yang sedang menunggunya.
"Maaf aku terlambat soalnya ada tugas tambahan yang dikasih dosen tadi,"
Lia menghela nafas panjang karena merasa lega Ray datang menemuinya.
"Mau tetep disini atau kita jalan keluar?" tanya Ray.
"Jalan keluar..." jawab Lia ragu.
"Okeh," Ray pun segera menggenggam dan menarik tangan kanan Lia dengan pelan sambil berjalan ke luar kampus.
"Sekalian ku antarkan ke rumahmu aja gimanaaa?"
"Tapi aku tidak punya rumah disini,"
"Oh kamu nge kost?"
Lia mengangguk.
"Boleh aku menginap sambil mempraktekkan pelajaran biologi denganmu?" tanya Ray sambil tersenyum.
"Boleh," jawab Lia tanpa berfikir panjang.
"Heh? Anjir boleh dong?!" kaget Ray.
"Emang kenapa? Kalau cuma praktek mah gapapa sekalian aku mau membantu, bagaimana rasanya jadi anak kedokteran," jawab Lia dengan ekpresi yang terlihat murung. Karena sebenarnya jurusan kedokteran adalah mimpinya dari dulu karena beberapa hal akhirnya dia tidak mengambil ujian untuk bisa masuk kesana.
"Kamu tau artinya praktek biologi antara aku dan kamu?" tanya Ray.
Lia mengangukkan kepalanya ragu. "Sama-sama ngerjain tugas biologi bukan?" tanya Lia.
"Bukan itu maksudku kita sama-sama praktek buat ngehasilin sesuatu,"
"Heh?"
"Baby ok? Ngerti gak sekarang," tanya Ray sambil memijat keningnya.
Lia tersentak lalu berfikir sejenak, tidak lama kemudian wajahnya langsung memerah.
"Mengerti?"
Lia mengangguk, "Kamu panggil aku baby..."
Guplak, Ray menepuk jidatnya karena kesal.
"Sebenarnya kamu pintar atau enggak sih?"
Lia menggelengkan kepalanya, "Gak, hanya mereka yang menganggapku pintar," jawab Lia.
Ray menghela nafas panjang.
"Kenapa?" tanya Lia.
"Gapapaa, kamu cantik, kamu manis dan kamu pintar," jawab Ray serius.
Lia memalingkan wajahnya karena malu, baru kali itu dia di puji cantik sejak terakhir kali hanya gebetannya yang mengatakan itu padanya.
"Ma-makasih," jawab Lia.
Ray menghentikan langkahnya di depan sebuah mobil mewah berwarna merah maroon. Dia melirik ke arah pacarnya yang berdiri kikuk disampingnya.
"Silahkan masuk nona," ujarnya sambil membukakan pintu mobil itu dengan otomatis dan menuntun putri kesayangannya yang berharga itu masuk ke dalam.
"Ehh... Jadi ini mobilmu yah," gumam Lia.
"Ya? Kenapa? Ada masalah dengan itu?"
Lia menggelengkan kepalanya. Pantas saja dia dibicarakan banyak orang, ternyata pacarnya itu adalah orang yang sangat sempurna dengan ketampanan, kebaikan dan kekayaannya.
"Kamu seperti pangeran impianku," puji Lia saat Ray juga sudah ikut masuk ke dalam mobil.
"Yah... terimakasih aku tidak tersanjung kecuali dia yang memujiku," jawab Ray, sebelum itu dia melepaskan jaket merahnya setelah itu kemudian ia menancapkan gasnya.
Lia menggembungkan pipinya kesal. Keberadaannya rupanya masih belum bisa menggantikan seseorang yang kini berada di hati Ray, itu artinya misinya belum berhasil.
"Lihatlah aku, aku kan pacarmu," kata Lia sambil menarik kerah almamater yang kini dia pakai.
Nyiiiittt
Suara decit rem mobil berhenti mengejutkan Lia sehingga dia kehilangan keseimbangan dan membentur bagian depannya.
Dug
Tiba-tiba saja kepalanya terasa nyeri dan pusing bersamaan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ray panik.
Lia menggelengkan kepalanya cepat, "Aku baik-baik saja,"
Segera Ray menepikan mobilnya ke sisi jalan raya kemudian Ray pun melepaskan sabuk pengaman untuk memeriksa Lia dan memastikannya baik-baik saja.
Ray menghembuskan nafas lega, "Syukurlah hanya benjol saja, untungnya kita tidak tabrakan dengan mobil truk di depan kita, tadi itu sangat bahaya loh, kau menarik almamaterku dan menyuruhku untuk melihatmu," terang Ray membuat Lia merasa malu sekaligus merasa bersalah.
"Maaf..." Lirih Lia.
Ray merasa kasian melihat gadis di depannya merasa bersalah. Dia tersentak saat melihat gadis itu ternyata tidak benar memasang sabuk pengamannya. Ray pun mendekat dan memperbaiki sabuk pengaman yang mengikat Lia.
"Baru pertamakali ya?" tanya Ray diiringi anggukan Lia.
"Yasudahlah aku maafkan.,"
"Makasih,"
"Tapi ada hukumannya,"
"Apa?"
"Cium aku di sini dan aku akan memaafkan kecerobohanmu," ujarnya sambil menunjuk ke arah bibir merahnya.
Lia tersentak, "Apa? tidak ada cara lain apa? kita barusaja bertemu dan tidak pantas untuk melakukan itu," tolak Lia.
"Yasudah silahkan turun, soalnya aku sangat marah padamu," ujar Ray sambil tersenyum mengusir pacarnya.
Lia tertegun, lalu membuka pintu mobil itu dengan terpaksa, tetapi yang jadi masalahnya dia tidak tahu cara membukanya dan cara apapun yang dia coba sama sekali tidak membuahkan hasil, artinya pintu itu sengaja di kunci oleh Ray.
Lia melirik ke arah Ray dengan ekpresi ketakutan dan tubuhnya mulai gemetar, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, dengan kasar dia pun menegak salivanya.
"Ke-keluarkan aku dari sini," lirih Lia.
Ray tersenyum lalu menggenggam tangan pacarnya dengan keras. "Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menyelesaikan tugasmu, sekarang kau tidak bisa lari dan kau adalah milikku Lia..." bisik Ray dengan seringai tipisnya.
End...