“Hey, lagi baca apasih? Keliatannya serius banget?” tanya seorang pemuda pada seorang gadis cantik yang sedang duduk di kursi depan rumahnya.
"Eh ... Bimo, aku lagi baca novel nih. Mau ikutan?” tanya gadis itu pada pemuda yang ternyata bernama Bimo.
"Hmm ... aku gak terlalu suka novel. Lagian, kamu tuh kenapa sih suka banget baca novel? Jam istirahat ke perpus baca novel, kalo ke kantin jangan bawa novel!" gerutu Bimo pada gadisnya.
"Ih ... aku suka novel tuh karena seru aja, dan udah jadi hobi juga sih. Aku suka jalan ceritanya, endingnya, dan ini juga pengetahuan buat aku," jawab gadis itu seraya tersenyum dan memegang novel nya.
"Emm ... kalo gitu aku mau tanya, dari berbagai macam novel Teenlit yang kamu baca, kamu lebih suka happy ending apa sad ending?” tanya Bimo.
Gadis itu tampa menghela napas sejenak sambil memikirkan jawaban yang pas.
"Emm ... sad ending," jawabnya pendek.
"Sad ending?! Alasannya?!" Bimo bertanya lagi.
"Enntahlah, mungkin karena novel sad ending itu feel nya lebih terasa, dan nyeseknya juga terasa,” jawab gadis itu yang seraya tertawa kecil dan membuat Bimo sedikit mengerutkan dahinya.
Gadis itu bernama Ayu Cantika, seorang gadis yang hobi membaca novel. Namun, novel-novel yang ia baca hanya seputaran novel remaja.
***
“Ayu!!” terdengar suara seorang gadis meneriakan namanya.
"Apa sih Tami? Bisa gak sih gak usah teriak gitu?” sahut Ayu kesal.
"Eh ... gue dari tadi udah teriakkin nama lo ya, Ayu ... Ayu ... Ayu ... dan lo gak denger! Makanya jangan kebanyakan baca novel!” sergah gadis bernama Utami itu seraya memutar bola matanya.
"Hehe ... maaf Tamiku sayang, emang ada apa sih?” Ayu berucap pelan sambil terkekeh.
"Elo ditunggu Bimo di kantin. Tadi gue ketemu dia," jawab Tami.
Ayu hanya mengangguk, kemudian beranjak dari kursinya dan langsung meninggalkan Tami. Sedangkan Tami hanya menggelengkan kepalanya.
***
"Hai Bimo!" sapa Ayu pada Bimo yang sedang duduk di kursi kantin.
"Hai juga Ayu cantik!" Balas Bimo.
"Sini kamu duduk disebelah aku," tambahnya.
Ayu menurut saja, ia duduk lalu meletakkan novelnya di meja kantin. Bimo yang melihat novel Ayu hanya bisa menatap dengan tatapan sinis.
"Hari ini kamu gak usah baca novel bisa kan?” tanya Bimo.
Ayu hanya mengerutkan keningnya, seolah tak percaya dengan ucapan lelaki di hadapannya.
"Kenapa sayang?! Gak biasanya?!" tanya Ayu.
"aku kangen sama kamu," jawab Bimo lirih.
"Maksudnya?!" Ayu bertanya memastikan.
"Pokoknya, mulai pulang sekolah sampai besok kamu harus temenenin aku. Seharian ini aku mau sama kamu. Bisa kan lupain novelnya sebentar?” pinta Bimo dengan tatapan memohon.
Ayu hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka makan dan berbincang-bincang. Sekali-kali mereka tampak bermesraan, membuat iri orang disekitar mereka.
***
Bel berbunyi, Ayu dan Tami memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas, kemudian beranjak keluar kelas. Sampai di depan kelas sudah terlihat Bimo menunggu di sana.
"Ciyee so sweet banget sih, iri deh” sindir Tami.
"Sirik aja lo, jomblo berkepanjangan sih” balas Bimo.
"Rese lo Bim!” Tami mendorong pelan tangan Bimo sambil manyun.
"Haha ... jangan gitu ah Bim, kasian Tami,” tawa Ayu.
"Oh ya ... gue duluan ya Tam, mau jalan sama Bimo. Dadah Tami!” ucap Ayu berpamitan, kemudian mereka pergi ke parkiran meninggalkan Tami.
Mereka berdua berencana pergi ke pantai. Karena seiring dengan suara desiran ombak dan hembusan angin, kemesraan diantara mereka pun semakin indah.
***
Terlihat dua insan yang sedang dimabuk asmara itu kini sedang merasakan indahnya dunia. Ayu yang sedang duduk di kursi panjang pinggir pantai merasa terkejut saat tiba-tiba Bimo datang berjalan ke kursi Ayu.
Lelaki itu lantas duduk dibelakang Ayu, kaki kanannya ia posisikan setengah bersila sedangkan kaki kirinya menapak ke pasir. Kemudian ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Ayu, dagunya ia letakkan di leher gadis itu. Sehingga Bimo bisa menghirup wangi parfum Ayu lalu mengecup pelan leher gadisnya kini dipeluknya.
"Geli ah ... Bim," Ayy sedikit menggeliat akibat ulah Bimo.
"Aku sayang kamu," bisik Bimo seraya menenggelamkan wajahnya di bahu Ayu.
"Kamu kenapa sih Bim?!?” tanya Ayu polos.
"Aku gak akan tinggalin kamu, aku janji," bisik Bimo menghiraukan pertanyaan Ayu.
Kini Ayu mengubah posisi untuk menghadap Bimo dan menggenggam kedua tangan lelaki itu sambil tersenyum.
"Aku juga sayang sama kamu, dan aku gak mau kamu ninggalin aku. Bener janji?” ucapnya lirih.
"Iya, aku janji," balas Bimo.
Kedua insan itu pun lalu saling berpandangan dan tersenyum. Seperti terbawa oleh suasana, Bimo pun secara perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu seraya tangannya menaruh tangan Ayu di pinggangnya.
Ayu kemudianvmenutup matanya, perlahan-lahan rasa hangat itu pun datang di bibir Ayu. Bimo semakin mendekatkan Ayu kedalam pelukannya, secara refleks Ayu pun membalas pelukan Bimo.
Bimo mencium bibir Ayu, dan gadis itu membalasnya. Dirangkulnya leher Bimo dengan kedua tangannya dan keduanya hanyut dalam suasana penuh cinta.
***
Sinar mentari pagi tepat menyinari wajah Ayu, sehingga membuat gadis itu menyipitkan matanya. Sinar itu sungguh mengganggu tidur indahnya.
"Good Morning sayang,” bisikan itu sangat terdengar di telinga Ayu dan membuat gadis itu langsung terbangun.
"Bimo?!? kok kamu di kamar aku?!" tanya Ayu dengan nada terkejut.
"Hari ini kita mau jalan lagi, kamu lupa ya?” kata Bimo sambil tersenyum manis.
"Iya ... tapi ini masih pagi banget Bimo sayang," jawab Ayu malas.
"Aku gak mau membuang banyak waktu untuk hari ini,” jawab Bimo.
"Hmm ... yaudah, aku mandi dulu," ucap Ayu, kemudian ia beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi.
Tepat di depan pintu kamar mandi, Ayu menoleh ke arah Bimo yang masih terpaku memperhatikannnya.
"Ngapain masih disitu?” ucapnya tegas.
"Gak mau di mandiin nih?” tanya Bimo jail.
"Bimooooo!!!!” ucap Ayu geram seraya mengepalkan tinjunya.
Melihat hal itu, Bimo kemudian berlari keluar dari kamar Ayu.
***
30 menit Bimo menunggu di ruang tamu rumah Ayu bersama Mama Ayu, akhirnya gadis yang ditunggunya datang dan turun dari tangga rumahnya yang melingkar itu.
Dress selutut berwarna soft blue dengan pita putih panjang melingkar dipingganya. Tak lupa juga ia mengenakan flat shoes dengan warna senada, rambut hitamnya ia geraikan untuk menambah kesan seksi, serta sedikit lipglos menghiasi bibir merahnya.
"Kau ... bidadari turun dari tangga," goda Bimo saat melihat penampilan Ayu. Sementara Ayu hanya menjulingkan mata seraya tersenyum malu.
"Kamu cantik banget, sayang” ucap Bimo memuji.
"Makasih Bim," balas Ayu dengan wajah bersemu merah.
"Tante, Bimo ajak Ayu jalan dulu ya” ijin Bimo pada Mama Ayu.
"Jangan malam-malam ya pulangnya Bimo, jaga Ayu!” pesan Mama Ayu.
"Siap Tante, yuk Ay!” jawab Bimo seraya mengajak Ayu dan menggandeng tangannya.
"Ayu pergi ya Mama!"
***
Bimo membawa Ayu ke sebuah danau tempat ia menyatakan cinta pada Ayu. Danau yang memang sangat indah dan romantis. Penuh bunga-bunga, angsa yang berenang ke sana ke mari di danau, kupu-kupu yang indah beterbangan, dan pohon-pohon yang rindang.
Mereka berdua lalu menuju sebuah pohon besar yang terdapat sebuah ayunan disana. Ayu kemudian duduk dan mengayun-ayunkan dirinya pelan, sementara Bimo melingkarkan tangannya di leher Ayu.
"Happy Anniversary, sayang” bisik Bimo.
Ayu langsung berdiri dan menghadap Bimo, “maaf Bim, aku lupa, Happy Anniversary too ya Bimo sayang.”
"Enggak apa-apa, yang penting aku sayang kamu dan kamu sayang aku," balas Bimo seraya tersenyum.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju sebuah pohon besar. Keduanya tersenyum saat melihat sebuah pahatan, pahatan yang merupakan karya mereka berdua. Simbol love dengan nama Bimo dan Ayu di tengahnya, yang mereka buat tepat setahun yang lalu saat pertama kalu mereka jadian.
Flashback On
"Kamu ngapain sih Bim?” Ayu bertanya penasaran dengan apa yang di kerjakan Bimo di batang pohon besar itu, Ayu kemudian bangkit dari ayunannya dan berjalan mendekati kekasih barunya.
"Yaey, jadi. Sekarang kamu buat nama kamu disini ya," ucap Bimo pada Ayu.
Kemudian gadis itu mengukir namanya di bawah nama Bimo.
"Semoga cinta kita seperti phon ini, saling melindungi dan menguatkan, until the death separate us," ucap mereka bersamaan pada kalimat yang mereka garis bawahi.
Flashback Off
Tik! Tik! Tik!
"Gerimis Yu, gimana?" tanya Bimo saat perlaharan rintik hujan menetes ke tubuhnya.
"Aku mau ujan-ujanan Bim,” pinta Ayu manja.
"Gak sayang, tar kamu sakit. Ayo cari tempat berteduh," ucap Bimo menolak ucapan Ayu.
"Gak mau!" balas Ayu seraya menggembungkan pipinya.
Bimo menghela napas sejenak, lalu ia berlari sambil berteriak, “KEJAR AKU YANG!!!”
Ayu tersenyum lebar dan mulai mengejar Bimo. Dua insan itu kini kejar-kejaran di tengah hujan dengan cerianya.
BRUKK!!!
"Aassshh, Bimo,” Ayu terjatuh dan memegangi lututnya, Bimo menoleh dan langsung menghampiri Ayu.
"Kamu kenapa sayang? Apa nya yang sakit? Udahan aja yuk kalo sakit,” ucap Bimo khawatir.
Ayu mendorong pelan Bimo yang berjongkok dihadapannya, lalu berdiri sedikit menjauhi Bimo, “segitu khawatirnya ya, weeek. Kejar aku coba!” ucap ayu sambil berlari.
"Berani ngerjain aku ya? Sini kamu!” Bimo pun bangkit dan mengejar Ayu.
Hap!!
Bimo menangkap dan memeluk Ayu dari belakang.
"Dapetkan sama aku? Kamu emang gak pernah bisa lepas dan menghindar dari aku," bisik Bimo.
Suara Bimo terdengar berat di telinga Ayu. Kemudian Bimo mencium pipi Ayu dengan sangat lama, dengan posisi yang masih sama. Lalu Ayu menoleh ke arah Bimo yang masih memeluknya dari belakang, sehingga posisi mereka berhadap-hadapan.
"I love you”
Cup!
Ayu mencium bibir Bimo cepat, kemudian berlari lagi.
***
Saat ini hujan sudah reda, Bimo dan Ayu berjalan di taman sekitar danau dengan baju yang masih agak basah.
"Pulang dulu yuk Bim, aku pengen ganti baju," ajak Ayu pada Bimo.
"Gak mau ah,” balas Bimo seraya menggandeng erat tanya Ayu.
"Bimo sayang, Nurut sama aku!” ucap Ayu seraya menatap tajam Bimo.
"Yaudah deh, tapi tunggu disini sebentar ya,” ucap Bimo.
Lalu ia berlari kecil ke arah tukan balon, tak lama kemudian ia kembali sambil membawa 10 balon untuk diberikan kepada Ayu.
"Ya ampun Bim, ini untuk apa?!" tanya Ayu yang tak mengerti.
"Untuk kamu lah, yuk!” jawab Bimo sekenanya.
Kemudian mereka berjalan menuju motor Bimo yang ada di seberang taman. Namun, Bimo menghentikan langkahnya saat akan menyeberang.
"Kamu tunggu sini ya, aku ambil motor dulu," ujarnya pada Ayu.
"Iya, hati-hati ya,” balas Ayu sambil melihat Bimo yang sedang berjalan menyeberang.
Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan balon Ayu ke tengah jalan.
"Yah, balon jangan lari!” ucap Ayu sambil mengejar balon itu.
Namun percuma, balon itu sudah terbang tinggi sekarang.
Baru saja Bimo menaiki motornya, ia melihat dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan cepat dan melihat Ayu di tengah jalan sedang meratapi balonnya. Dengan cepat Bimo turun dari motornya dan berlari ke arah Ayu.
TIINNN!!! TINNN!!!
Terdengar bunyi klakson mobil.
"AYUUUU AWASS!!!” teriak Bimo.
BRRUUUKK!!!
"Aaahhh,” Ayu jatuh ke trotoar, ia melihat mobil itu langsung melaju begitu saja.
“BIMOOOO!!” Ayu berteriak dan berlari ke arah Bimo yang sudah berlumuran darah, dipeluknya Bimo erat-erat.
“Bimo! Bangun Bim!!!! Bimo!!! Bangun!!” ucap Ayu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ayu ... aku,” Bimo berusaha menjawab.
"Ayo Bim, kita kerumah sakit,” ucap Ayu yang mulai menangis dengan derasnya, dress-nya sudah berlumuran darah Bimo.
"Gak ... Ayu ....” jawab Bimo dengan suara tertahan.
Ayu masih terisak melihat Bimo.
"Ini yang kamu suka kan Yu? S ... sad ending? Ini ... ending cerita cinta kita Yu. Makasih untuk hari ini, ka ... kamu udah mau nemenin aku. Ma ... maaf, aku gak bisa tepatin janji untuk gak ninggalin kamu. Ha ... Happy Anniversary Ayu sayang. Aku ... aku selalu mencintai kamu," ucap Bimo untuk yang terakhir kalinya, ucapan yang tak akan pernah bisa didengar kembali oleh Ayu.
"Gak Bim!! Bimoo!!! Bangun Bimooo!! BIMOOO, BANGUN!!! JANGAN TINGGALIN AKU!!"
Gerimis datang kembali, menjadi saksi bisu cinta dan akhir cerita cinta mereka hari ini.
THE END.