Lia adalah seorang mahasiswi baru dari jurusan Biologi yang memiliki otak cemerlang. Dia adalah seorang gadis yang sepanjang perjalanan sekolahnya belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan hanya tertarik pada hal-hal yang berbau anime atau manga. Dari situlah dia sedikit bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta kepada lawan jenis.
Dia memiliki seorang teman bernama Lina yang sekolah di jurusan kedokteran, dia adalah gadis cantik yang kaya yang selalu menarik perhatian banyak pria. Berbeda dengan Lia, Lina sudah berkali-kali merasakan hal yang namanya jatuh cinta setiap kali dia menjalin kasih dengan orang lain yang disukainya.
Lia dan Lina adalah gadis yang sangat baik dan disukai oleh banyak orang juga dosen mereka. Lia adalah anak yang cukup pemalu dan ramah serta dia bisa jadi anak yang pintar mengatur publik speakingnya di tempat tempat tertentu, berbeda halnya dengan Lina yang hampir tidak mengenal malu dan dan selalu penasaran dengan hal-hal yang baru.
Suatu hari mereka berdua nongkrong di kafe terdekat yang berada tidak jauh dari kampus mereka. Pandangan mereka berdua pun tak sengaja melirik ke arah beberapa orang pria tampan yang menarik perhatian mereka. Terutama pada dua orang pria tampan yang sedang berbicara dengan akrabnya satu sama lain.
Salah satu pria berjaket hitam dengan rambut ala Oppa Korea yang imut dan ganteng. Di mata Lia pria itu terlihat seperti cosplay anime yang imut dengan senyuman manisnya dan merupakan tipenya. Di mata Lina pria itu terlihat seperti Oppa Korea yang tinggi dan menawan tetapi sangat disayangkan sepertinya dia tidak memiliki roti sobek yang waw di balik pakaiannya. Sedangkan Lina lebih tertarik ke seorang pria lagi yang terlihat lebih gagah dengan rambut yang agak ikal dan senyuman yang memikat dengan gayanya yang stylish.
Lina dan Lia saling memandang satu sama lain dan melemparkan senyuman yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Cowok impian!" pekik keduanya dalam hati.
Lia menggelengkan kepalanya cepat, dia rasa ada yang salah dengan kedua cowok itu yang dirasanya terlalu dekat tetapi dia butuh loading yang cukup lama untuk memahami kejanggalan itu. Berbeda dengan Lina yang sudah ngeluyur duluan ke meja kasir untuk membayar kopi pesanan mereka berdua sekaligus Pdkt dengan salah satu dari mereka, entah itu siapa, dia tidak bisa memilih, tapi siapapun yang menyapanya duluan, itu akan jadi targetnya.
Lina berjalan sangat santai di depan kedua pria tampan itu, sesekali dia menyibakkan rambutnya ke tepi untuk menarik perhatian keduanya tetapi tidak ada reaksi sama sekali, bahkan ketika Lina selesai membayar di kasir pun keberadaannya tetap saja diabaikan oleh mereka berdua.
"Apa yang salah?" batin Lina sambil merogoh cermin dan berkaca sebentar. Dia tetap cantik seperti biasanya, harusnya mereka berdua meliriknya walaupun hanya sekilas tetapi kenapa malah bisa-bisa keberadaannya hanya dianggap bak angin lalu saja.
Karena tidak terima diabaikan oleh mereka Lina pun melirik ke arah mereka dengan mata tajamnya lalu tersenyum tipis menebarkan pesona khasnya yang membuat semua mata pengunjung kafe terpana kearahnya begitu juga Lia yang langsung paham dengan kejadian itu.
"Lina, kau salah target!" batin Lia dalam hati sambil memberikan kontak mata kepala Lina tetapi Lina mengabaikannya.
Lina sebenarnya tidak terlalu memperhatikan Lia dan fokus untuk mencari cara agar dia bisa berbicara kepada salah satu dari pria tampan itu.
"Haruskah kita pergi Ray?" tanya Devan temannya Ray.
"Kurasa tidak, kau hanya perlu berbicara baik-baik padanya agar tidak menghalangi jalan," jawab Ray.
Devan pun membalas tatapan Lia dengan kesal. "Menyingkir, kau menghalangi jalan kami," titah Devan pada Lina.
Lina tidak terima karena perkataan kasar laki-laki dihadapannya dan memiliki untuk bersikukuh berdiri disana tanpa mengucapkan sepatah katapun atau menuruti kata pria tadi.
Devan kesal lalu menggeser tubuh Lina dengan kasar dan membuatnya hampir terjatuh kalau saja Devan tidak dengan sigap menangkapnya lagi. Saat itu Lina merasa terkejut sekaligus kagum dengan kelihaian Devan menangkap dirinya yang hampir jatuh karena ulah Devan sendiri.
"Maaf, saya tadi sudah meminta anda untuk menyingkir tetapi tidak didengarkan," tutur Devan sekali lagi.
"Formal sekali?!" batin Lina.
"Hmm? Saya tidak mendengar tadi," jawab Lina akhirnya.
Lia tertegun sejenak lalu berniat menghampiri Lina yang sedang diambang bahaya karena berhadapan dengan orang tidak normal, meskipun mereka tampan.
"Lina sebaiknya kita pergi saja," ujar Lia sambil menarik tangan Lina tetapi Lina menepisnya karena sudah tersulut emosi.
"Hah apa yang kau maksud cari-cari perhatian?!" bentak Lina.
"Itu sudah jelas, kau berdiri sangat lama disini tadi dan kami dengan sabarnya menunggu kamu pergi," jawab Devan.
Lia menghela nafas pasrah. Temannya emang susah di lerai bila sudah berdebat seperti ini dengan orang lain, kalau begitu sebaiknya dia pergi saja menunggu di luar.
Lia pun pergi keluar untuk menunggu Lina selesai berdebat dengan laki-laki yang berseragam almamater kuning, yang artinya mereka sekampus, tetapi tidak saling mengenal. Wajar sih, toh keduanya sama-sama murid baru.
Tiba-tiba Lia teringat sesuatu, bagaimana kalau Lina ternyata berdebat dengan kakak tingkat?! Bisa bahaya jadinya, apalagi kalau mereka sejurusan.
Lia pun berbalik dan berniat untuk menghentikan Lina tetapi langkahnya terhenti karena melihat seorang pria tampan temannya laki-laki yang ngamuk kepada Lina tadi. Laki-laki itu tersenyum sambil menatapi Lia dengan lekat.
"Kau cantik," pujinya membuat Lia tersentak. Seketika ekpresi Lia berubah menjadi jijik dan tidak mempedulikan Ray.
"Hei berhenti, kamu mau kemana?" tanya Ray.
"Lepaskan, jijik tau dasar gey, aku ingin menyelamatkan temanku," jawab Lia yang terhenti karena cengkraman kuat dari Ray.
Ray tertawa renyah lalu menarik Lia pergi, terpaksa Lia mengikutinya karena pegangan tangan Ray begitu erat.
"Kau tahu darimana kalau kami pecinta sesama jenis?" tanya Ray mulai serius.
Lia menunjuk ke arah mata Ray. "Tatapan menjijikkan kalian," jawabnya singkat.
"Wah hebat, tebakanmu benar tetapi sayangnya kami belum pacaran sama sekali,"
"Oh iya? Aku tidak ingin tahu..."
Ray tertawa hambar lalu menatap Lia penuh harap, dan itu membuat Lia menjadi bingung.
"Ada sesuatu yang kau harapkan dariku?" tanya Lia.
"Kau benar sekali,"
"Apa?"
"Maukah kau membantuku?"
"Bantu apa? Pdkt sama crush gey mu itu? tentu saja aku tidak mau dan menolak dengan tegas,"
Ray menggelengkan kepalanya.
"Jadilah pacarku, dengan begitu aku akan menjadi orang normal lagi, agak aneh rasanya kalau seseorang dengan jurusan kedokteran sepertiku malah suka dengan sesama jenis," jelasnya.
Lia membelalakkan matanya lebar-lebar dan menatap Ray tidak percaya tetapi setelah itu dia langsung mengangguk cepat dan membuat senyuman di bibir Ray terukir lebar.
"Ehh tungu, ini hanya reflek karena aku melihat cogan, aku tidak mau... lagian kenapa kau bisa seyakin itu aku bisa membuatmu normal?!" kata Lia yang baru saja sadar.
"Hanya perasanku saja," jawabnya singkat membuat blush di pipi Lia terpampang jelas.
"Kau terlihat malu-malu," kata Ray sambil tertawa kecil.
"Se-sebelumnya aku belum pernah di tembak cowok," jawab Lia jujur namun sebenarnya salah besar. Lia sudah berkali-kali di tembak dengan kata-kata cinta tetapi dia yang terlalu tidak peka kepada mereka.
"Kalau begitu kita sama, aku juga baru pertamakali berpacaran, karena sebelumnya aku terus menolak banyak pernyataan," kata Ray menimpali.
Lia berohria mendengar perkataan Ray.
"Btw kau anak FK?" tanya Lia.
Ray mengangguk.
"Semester berapa?"
"Baru semester 6" jawabnya sambil tersenyum.
"Temanmu tadi gimana?"
"Sama, jurusannya juga sama,"
Seketika wajah Lia pucat pasi, kali ini Lina benar-benar diambang kesialan karena menciptakan rival baru yang merupakan kakak tingkatnya.
"Btw siapa namamu?" tanya Ray kepada Lia tetapi Lia sudah ngeluyur duluan, tubuhnya yang pendek membuat Ray tidak menyadari kalau gadis itu pergi dan hanya bisa menepuk jidat ketika melihat pacar tidak dikenalnya itu sudah kabur ke tempat temannya.
"Linaaaaaa aku datang menyelamatkanmu!" Teriak Lia keras sambil menghampiri kawannya.
Lina yang melihat Lia lari ke arahnya sambil teriak-teriak keras dia pun hanya bisa menatapnya nanar saja.
"Kau lambat!"
"Apa yang terjadi?" tanya Lia.
"Aku mendapatkan masalah karena ternyata dia kating kitaaa...." keluh Lina.
"Wew..."
"Dan lagi dia di jurusan kedokteran dan jadi asisten dosen salah satu guru FK, aghh jangan bilang nanti aku diajari sama anak itu," imbuh Lina penuh penyesalan.
"Beruntung banget dia punya kating ganteng-ganteng," batin Lia.
"Gimana-gimana nihhh gimanaaa nihhh liaaaaa...." tanya Lina panik.
Lia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum polos. "Tidak tahu,"
"Hey kau kan pintar! Masa tidak bisa mencari penyelesaian dari masalah ini,"
"Kau yang menganggapku pintar, aku tidak merasa begitu kok beb,"
"Ayolah beb liaaaaaaa, kasih aku jalan keluar,"
Lia menghela nafas panjang, "Baiklah nanti akan kupikirkan jalannya,"
"Yey," Lina tampak girang dengan jawaban Lia.
Sementara itu tidak jauh dari situ ada Ray yang melihat keduanya, Lina dan pacarnya saling memanggil panggilan sayang satu sama lain dan itu membuatnya langsung kecewa karena merasa telah salah pilih orang untuk mengobati kelainan hatinya.
Ray datang dan menarik Lia serta memisahkan rangkulan Lia dan Lina. Itu membuatnya keduanya tersentak kaget.
Terlihat raut kecewa yang ditujukan kepada Lia dari Ray.
"Wow wow ada apa ini, kenapa main kasar, apa semua cowok ganteng kasar ya," cibir Lina.
Lia menatap balas Ray tidak mengerti.
"Kita putus,"
Lina tersentak karena tiba-tiba mendapatkan kata-kata seperti itu diucapkan kepada temannya yang selama ini belum punya pacar, itu membuatnya berprasangka bahwa Lia sudah pacaran diam-diam selama ini.
"Wew ngeri liaaa, kau bermain di belakangku yaaa," ucap Lina dengan sengit membuat Lia menjadi tidak paham dengan keadaannya namun beberapa detik kemudian dia baru paham.
"Kau mendengarnya?" tanya Lia pada Ray.
Ray mengangguk.
"Kami berdua memanggil beb seperti itu bukan panggilan sayang seperti orang lesbian tetapi hanya karena kami sahabat, tidak lebih, lagipula Lina meminta saranku untuk menghadapi temanmu itu," jelas Lia.
Ray mengerti dan langsung terlihat sangat menyesal. "Maaf aku tarik kembali kata-kataku, kita balikan kan?"
Lia hanya terdiam
"Anjir... Secepat itu?" gumam Lina.
"Mendengar ucapanmu tadi membuat aku berfikir 2 kali,"
"Maaf, lain kali aku tidak akan mengucapkannya," sesal Ray dengan wajah yang menggemaskan.
Lina mengerutkan keningnya. "Aku belum selesai bicara, pertama kapan kita jadian? Siapa kamu?" tanya Lia.
Seketika membuat Lina terlonjak. "Loh kalian belum saling kenal?" tanya Lina dijawab dengan gelengan oleh Lia dan Ray.
"Kami baru saja bertemu, dan aku ingin membantunya," terang Lia.
"Membantu apa?" tanya Lina.
"Membantunya normal kembali," jawab Lia.
"Hah?"
Ray mengangguk singkat lalu menepuk-nepuk pundak Lia. "Aku memilihnya karena dia sempat jadi trending topik di fakultas ini karena kepintaran dan juga kebaikannya tetapi aku tidak tahu namanya,"
"Berani-beraninya kau memanfaatkan kepolosan Liaaa...." Geram Lina.
Ray menjulurkan lidahnya untuk mengejek Lina lalu tersenyum jahil sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aku juga memiliki rencana untuk mendekatkan mu dengan temanku, Devan. Orang yang berdebat denganmu tadi,"
"Hah? Ogah!" tolak Lina langsung.
Ray tidak mempedulikan pendapat Lina yang tidak setuju dengan rencananya dan memilih untuk mengajak Lia pergi dengannya.
"Pinjam temanmu yaaa..." kata Ray langsung menarik dan menggenggam tangan pacar barunya.
Lia diam sambil memalingkan wajahnya ke arah bawah karena dia merasa malu telah berpacaran dengan seseorang yang tampan sekelas Ray yang terkenal.
"Kenapa hanya terdiam?"
"..."
"Ngomong-ngomong kau setuju dengan rencana ku pada temanmu?"
Lia menggelengkan kepalanya.
"Apa kau mau Lina si gadis cantik sekolah itu jomblo terus?"
Lia menggelengkan kepalanya lagi.
"Berati kau setuju."
Lia mengangguk singkat.
"Aku Ray, mahasiswa kedokteran semester 6 yang bercita-cita menjadi spesialis bedah organ dalam, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan dariku, kalau ada seseorang yang memanfaatkanmu aku akan dengan senang hati mencincang mereka," kata Ray sambil tersenyum.
"Lia, dari jurusan biologi murni," Lia menganggapku dengan anggukan kepala ragu dan berkeringat dingin.
Dia tidak menyangka kalau dia bermain-main dengan orang psikopat yang tidak normal itu. Salah-salah bisa nyawanya yang melayang nanti.
Sementara itu di tempat lain ada Devan yang mencari-cari keberadaan Ray. Dilihatnya seorang gadis yang berdebat dengannya tadi tengah berdiri dengan muka masam. Tanpa berpikir panjang Devan pun menghampiri gadis itu dengan menyentuh pundaknya.
"Apa kau melihat Ray temanku tadi?" tanya Devan dengan wajah khawatir dan tidak ada sama sekali wajah kasar seperti sebelumnya.
Lina menggelengkan kepalanya lalu mengangguk pasrah.
"Kemana?"
"Dia mengambil Lia dariku," jawab Lina.
"Hah? Maksudnya?"
"Dia barusaja berpacaran dengan Liaaa!!...." Teriak Lina dengan sambil merengek menangis karena tidak terima dia ditinggal jomblo sendirian.
JEDARRR...
Bagaikan tersambar petir, Devan pun tertegun dengan wajah tidak percaya dengan kata-kata Lina. Dia mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin kau bohong kan?!" tanya Devan memastikan namun dijawab anggukan yakin oleh Lina.
GUBRAK!
Devan pun pingsan karena merasa tidak kuat kehilangan seseorang yang dia sangat cintai dsn justru menjadi milik orang lain yang baru dikenalnya sedangkan Lina menjadi panik setengah mati dan langsung menolong Devan dengan bantuan beberapa orang di dekatnya.
End...