*Cerpen ini saya buat saat masih SMP jadi ada beberapa bagian yang saya edit sedikit. Mohon maaf jika ada kesalahan kata dan terima kasih telah membacanya! 💕💕💕
"Teng Tong".
Suara bel pulang sekolah yang khas terdengar hampir keseluruh ruangan. Dan ini adalah pertanda bagi seluruh pelajar di SMP ini, terutama aku, bahwa kebebasan dari belajar telah kita dapatkan.
Setelah suara bel berhenti, Pak guru yang duduk meja guru mulai membereskan barang bawaannya. Kemudian, Pak guru tersebut berkata, "Yap, hari ini kita tutup pelajaran kali ini."
"KETUA KELAS!!!" Teriak seluruh anak dikelas VII- 1 tidak sabar untuk memanggil ketua kelas agar cepat-cepat memulai doa pulang kerumah, mengucapkan salam kepada guru, dan akhirnya kita pergi.
Dengan tegas, si ketua kelas mengatakan 'mantra ajaib'-nya untuk memulai doa. "Sebelum kita pulang, ada baiknya kita berdoa. Berdoa mulai!". Kemudian kita menengadakan tangan sambil berdoa.
"Berdoa selesai. Memberi salam!". Sebuah doa yang cepat dan tidak khusus karena aku saja baru mulai. Mungkin karena si Ketua kelas juga ingin cepat pulang
Karena memang dasarnya kita tidak mau berlama lama. Jadi, langsung saja kita mengucap salam, lalu bergerombol untuk 'Antri' bersaliman.
Tidak lama kemudian, siswa yang namanya piket hari ini, yang juga hari terakhir bersekolah-hari jumat-, langsung berlomba lomba berebut sapu. Termasuk aku yang akan piket. Dikarenakan kami tidak ingin mengangkat kursi ke meja, mengepel lantai, atau yang paling dihindari-buang sampah-. Dan akhirnya, setelah persaingan panjang nan aneh, sapunya aku miliki. "Luna, nanti habis kamu, aku ya!" ucap temanku yang bernama Nabil. Padahal aku belum sempat menyapu lantai. "Iya iya. Daripada kamu nganggur, mending bawa ember sama Ayu buat ngepel." Balasku menanggapi.
"Yaaah, kenapa aku malah yang ngepel? Nanti cincin aku kotor dong," Keluh Nabil. Entah mengapa aku kesal dengan sikapnya yang secara tidak langsung sombong.
"Yaelah cincin doang. Lepasin aja, ribet banget". Ucapan Nabil sepertinya terdengar oleh orang banyak, termasuk Ayu yang aku sebut sebelumnya.
"Taruh dimana? Masa aku taruh ditas?! Kalo ada yang malingin gimana? Kayak waktu uang jajannya Riko hilang kemarin." balas Nabil paranoid.
" 'Kan ada Luna. Dia bakal liatin tasnya kok, gak usah panikan gitu. Aku aja pernah ninggalin HP di meja guru gapapa." Balas Ayu untuk meyakinkan Nabil.
Nabil akhirnya merasa yakin. Diapun melepas cincin tersebut lalu meletakannya didalam tas berwarna oranye-nya. Sebelum pergi, dia berkata padaku, "Yaudah, aku tinggalin. Jaga cincinku baik - baik Luna!".
Setelah itu, aku mengambil ember tempat air pel-an lalu memberikannya ke Ayu. "Ini embernya." Ucap aku sambil memberi embernya ke tangan Ayu. "Iya, aku tau." balas Ayu. Kemudian mereka pergi ke toilet untuk mengambil air, sementara aku dan teman-teman yang lain piket membereskan kelas.
Kalian tau tidak suatu keganjilan saat piket hari jumat?
Yaitu, sebelum piket hari jumat kebagian membersihkan kelas, murid yang membereskan kelas kemarin lupa membuang sampah ke tempat pembuangan besar dibawah. Itu sebabnya sampah pada hari jumat lebih banyak dan membutuhkan 2 orang untuk membuangnya.
Dan, sial sekali. Saat aku lengah karena mengobrol dengan Nabil dan Ayu, seseorang memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil sapu yang aku letakan sembarang. "Luna sama Riko buang sampah. Aku yang sapuin lantainya!" Itu yang dikatakan oleh orang yang mengambil sapu saktiku.
"Cieee~ Luna sama Riko buang sampah barengan~ yang jomblo bisa apa~?". Kambuh lagi kebiasaan buruk remaja saat ada yang 'berpasangan'.
"Ngapain sih? Mak comblang rese banget deh." Hardikku marah. Tapi bukannya diam, langkah itu malah memperparah reaksi seperti tumor. "Ciee, marah, ciee". Inti dari reaksi mereka.
Sedangkan Riko yang akan buang sampah bersama aku, juga orang yang sama diomongin Nabil sebelumnya, sudah kesal menunggu aku yang sedang membalas komentar Netizen Maha Ribet.
Diapun menyudahi perdebatan aku dengan berkata, "Luna! Cepet lo megang kantong ini, gw yang bawa tongnya." Riko lalu memberiku kantong plastik yang akan dibuang. Tapi aku risih karena merasa tidak adil terhadap Riko yang membawa tongnya sampahnya sedangkan aku hanya 1 kantong.
Aku berkata, "Eh Rik, gapapa 'kan? Masalahnya kamu megang yang tongnya dan aku cuma satu kantong. Gak keberatan?" Dia hanya berkata, "Yang penting kelar." Bahkan dia pake pose orang keren yang membuatku jijik.
Agar jijiknya ketutupan, aku membalas, "Ya deh yang 'Gentalmen', bawa yang bener ya." Hampir aja muka jijik aku kelihatan. Dia hanya melihat aku dengan aneh.
Ditengah jalan, pikiran entah darimana aku dapat seperti memperingatiku untuk membawa sesuatu. Tapi aku lupa apa itu, sampai seseorang berkata "Luna, cincin Nabil mau ditinggalin?". Sontak aku langsung ingat kembali dan mengambil cincin milik Nabil ditas oranye miliknya untuk dijaga, karena aku diberi amanat oleh Nabil. Setelah sudah mengambil cincinnya, aku pakai di jari tengahku.
Tapi, komentar rese entah dari mana datangnya berteriak, "Dan saya nikahkan, Luna binti Fulan dengan Riko Jeriko. Sah? SAH!!". Saat aku mencari sumber suaranya, ternyata dari teman sekelas yang memang sudah rese - rese semua. Saat aku ingin membalas ucapan yang sudah mempermalukanku, Riko membentak, "CEPETAN!! Ini berat sampahnya!!"
Aku terpelatuk. "Eh, iya." Lalu menyusulnya.
Kata 'Cieee' didalam kelas semakin keras bergeming seiring melangkah kami pergi.
Untuk orang yang tidak tau apa - apa tentang sekolah ini, seharusnya bisa jalan sendirian. Tapi karena jalan ketempat pembuangan besar ada 'Penunggunya', jadi kita harus bersama teman. Apalagi Riko hanya badan saja yang gede, tapi mentalnya sekecil kerikil aquarium.
Sangat kecil ya? Kalau aku, lumayan takut karena antara percaya gak percaya. Jadi kita yang penakut harus bersama untuk membuang sampahnya. Sebenarnya aku belum tau cerita ini sampai mendengarnya dari Nabil si 'Tukang Rumpi'.
Akhirnya kita sampai ke tempat sampah besar. Aku langsung lempar sampah asal tanpa liat-liat. Tidak seperti Riko yang menaruh sampahnya pelan-pelan. Mungkin karena sudah keberatan? Padahal aku sudah tawarin untuk membawanya bersama tapi dia nolak. Memang azab orang gengsi.
"keberatan Rik?" Ledek aku. "Gak kok" jawabnya dengan muka datar. "Ayo cepet pergi." Ajaknya.
"Halo..."
Suara entah darimana datangnya, menyapa kami. Aku mencoba melihat sekitar. Lalu aku dapati seorang wanita beramput panjang datang dari samping timbunan sampah. Dia datang perlahan-lahan ke arah kami. Wajahnya samar-samar terlihat karena lokasi kita yang berjauhan. Namun, sepertinya Riko menyadari sesuatu.
"Se.. Se.. SETAN!!!!". Jerit Riko hampir seperti pekikan berlarian keluar. Aku yang panik, ikut lari tanpa menghiraukan panggilan dari wanita berambut panjang tersebut.
"Tunggu.."
Kata terakhir yang aku dengar.
- Bersambung - 🍀