Sedih kata-kata kasar yang slalu didengarkan dengan profesi pekerjaanku yang ganda ini, keluargaku ikut merasakan beban khidupan yang harusnya aku sebagai kepala keluarga yang menanggung sendiri semua ini, tanpa harus istriku yang menahan semuanya sehingga sakit-sakitan.
Aku pulang ke rumah dengan wajah yang penuh beban, saat menerima surat dari dinas pendidikan. Aku resah akankah mampu aku menjaga kehormatan jabatan ini, langkahku semakin cepat. Aku tidak sabar mendengar apa pendapat istriku tentang hal ini, terkadang aku merasa dia yang lebih berpendidikan dari pada aku.
Hampir 18 tahun aku mengabdi menjadi guru di SMP Setia Bakti, Desa Sekar Mulia. Dengan tulus mengajar kepada anak bangsa, generasi penerus pemerintah negara. Aku bekerja dengan senang hati setiap harinya. Tidak banyak yang mencela hasil kerjaku menjadi guru, predikat guru baik, guru asik, guru kesayangan, sebab itu aku mendapat surat.
Bapak Andar guru yang baik, usia tidak muda lagi 43 tahun yang hampir setengah abad. Kulit mulai keriput dengan warna kecoklatan, badan yang khas wangi pewangi pakaian habis disetrika, dengan kacamatanya dari pertama menjadi guru, gaya yang rapi setiap hari datang ke sekolah, celana dasarnya dan baju kemeja sentuhan warna biru selalu ada. Tiba di depan rumah, aku melihat istriku sedang menuntun Rado anak pertama. Berlari aku menggantikan istriku menuntunnya. “Kenapa kamu nak, sudah bapak bilang jangan terlalu lelah” kataku kepada Rado. Duduklah keluargaku di kursi tamu, terdiam sejenak menatap satu sama lain.
Bingung dan gelisah, melirik-lirik seperti berebutan ingin berbicara pertama, siapa dulu yang ingin menceritakan masalahnya satu persatu.
“Pak, bu” Aira dan Rado serempak bicara.
“Kenapa?” jawab aku dan istriku bersamaan.
Akhirnya aku memutuskan untuk menentukan siapa yang akan bicara terlebih dulu.
“Bapak mulai dari yang paling kecil di rumah ini, Aira ada apa nak?” tanyaku pada Aira.
“Bapak dan Ibu, aku minta maaf. Aku baru memberitahukannya sekarang saat setelah habis masa toleransinya, uang perbulanku harus segera dibayar lusa pak. Aku takut memberitahunya kemarin-kemarin bu, maafkan aku.” penjelasan Aira dengan nada manja dan suara ketakutan.
“Terus kamu Rado, mau bicara apa kamu dengan bapak dan ibu.” tanyaku kepada putraku.
“Sudah hampir dua minggu ini aku nakal, untuk tidak minum obat pak. Aku minta maaf, bukan tidak mau minum lagi, tapi persediaan obatku habis dan itu ibu tahu, iya kan bu. Untuk bayar ektrakulikuler aku juga belum bayar pak.” Rado menjelaskannya.
Untuk istriku, aku tahu sekali keluhan apa yang sedang dilandanya kini, pasti sama dengan hari sebelumnya. Bahwa dia lagi-lagi dicibir, diejek dengan tetangga perkumpulan RW.
“Kenapa dengan ibu, apa yang membuatmu gelisah?” tanyaku kepada istriku.
“Aku gelisah pak, ada orang yang mencoba memfitnah keluarga kita, terutama dengan bapak” sepenggal cerita yang aku hentikan saat istriku bicara.
“Maaf bu, bapak hentikan ibu bicara. Tidak etis kita bicara begitu depan anak-anak, nanti kita lanjutkan berdua ya” sambung aku bicara dengan istriku.
Sekarang giliranku untuk memberi tahu isi surat yang aku pegangi sejak pulang tadi. “Ya sudah pak, tidak apa. Sekarang giliran bapak mau sampaikan apa?” lanjut istriku.
Aku sejujurnya juga tidak mengetahui apa yang tertulis didalam surat itu, tetapi aku yakin surat itu penting dan tanpa melihat isi dalamnya aku tahu surat itu dari kop surat pada amplop tersebut menunjukan naik jabatan.
“Sebenarnya bapak juga belum membaca isi surat ini, tapi bapak akan bacakan didepan keluarga bapak” kataku.
Isi suratnya, pernyataan dari yayasan SMP Setia Bakti bahwa Bapak Andar diangkat menjadi kepala sekolah dengan menimbang dan mengingat. Istriku, Rado, dan Aira bingung. Mereka tidak tahu senang mendengar aku membacakan surat ini ataukah harus sedih. Sebab mereka tahu menjadi seorang pimpinan sekolah itu tidaklah mudah.
“Untuk keluargaku, aku yakin dengan kemampuan kalian mendukungku dengan segala yang terjadi dalam keluarga kita, apapun itu kita saling mendukung. Untuk Aira uangnya dalam minggu ini akan bapak lunaskan langsung kesekolahmu dan Rado, juga untuk obatmu akan bapak racik banyak menggantikan persediaannya yang habis, maafkan bapak. Sekarang Aira dan Rado bersih-bersih, istirahatlah di kamar masing-masing.” kataku dengan anak-anakku.
Baru aku sadari sejak sibuk-sibuk mempersiapkan berkas ulang menjadi guru, aku lupa bertanya kepada keluargaku apa yang dibutuhkan. Mencoba mengingat adakah lagi uang penghasilanku minggu ini, pasti gaji guru sudah habis untuk belanja. Uang hasil keliling-keliling berojek, ada tetapi hanya cukup untuk menutupi salah satu dari mereka berdua. Sedangkan hasil ramuannya baru minggu depan dibayar lunas dengan pembelinya.
Aku semakin bingung, aku resah. Tidakkah menjadikan aku sebagai kepala sekolah, semakin membebani hidupku dan keluarga. Aku bekerja mencari tambahanpun tetap saja belum cukup.
“Apakah profesi ini akan aku terima, bu” keluhku kepada istriku.
“Itulah pak, lanjut cerita ibu tadi. Tadi siang saat ibu kumpul-kumpul dengan ibu-ibu di perkumpulan RW, ibu ditanya dengan salah satu ibu disana. ‘bu, apa betul pak andar tukang ojek di gang sebelah’ ibu jawab iya, kenapa memangnya bu. ‘begini ada isu katanya pak andar setiap hari ada perempuan khusus yang diantarkan sampai kerumahnya’ ibu cuman diam saja dengar pernyataan seperti itu pak.” jelas istriku.
Semakin rumit pikiranku, belum habis aku diangkat menjadi kepala sekolah, masalah perselingkuhan yang harus aku hadapi.
“Bu, kita sudah lama menikah. Tidakkah tingkahku dan sikapku selama ini ada mengganggu hidup ibu, berpaling dari ibu seharipun bahkan sejam dan sedetik, tidak pernah bukan, bapak tahu ibu pasti percaya dengan bapak, makanya bapak bangga dengan sikap ibu mendengar hal seperti itu tidak lantas ibu langsung marah namun ibu memilih untuk diam dan pulang kerumah.” jawabanku bangga dengan istriku ini.
“Itulah pak, ibu takut jika bapak menjadi kepala sekolah nanti. Bukan hanya soal perselingkuhan saja yang mereka bicarakan dengan pekerjaan ganda bapak itu, mungkin bapak dianggap menurunkan makna dari pimpinan di sekolah pak, padahal mereka tidak tahu hasil dari guru bahkan nanti bapak menjadi kepala sekolahpun tidak jauh beda bukan?” suara ketakutan yang aku dengar dari pernyataannya itu.
“Seberat apapun beban masalah yang bapak hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tidak pernah melebihi batas kemampuan bapak” katanya menguatkanku.
Dari pagi hari berangkat ke sekolah menjadi pimpinan baru di SMP Setia Bakti, hingga sore menjelang bergegas pulang sebentar merubah penampilan menjadi tukang ojek, dengan kaos oblong warna yang buram dan celana dasar singkat rompi berlebel ojek gang sebelahpun tidak tertanggal olehku. Berbanding terbalik dengan penampilanku sebagai kepala sekolah baru. Hingga senja menjelang dan setelah isya semakin buruk penampilanku pergi mencari laron untuk dijadikan obat penyakit diabetes, ginjal, stroke, asam urat dan sakit kanker/tumor.
Profesi ini tidak jarang orang-orang mencibir, menjelekkan dan menghujat keluargaku, aku dianggap merendahkan profesi guru apalagi jabatanya cukup keren yakni kepala sekolah. Justru dengan pekerjaanku yang lain, aku tidak begitu rendahnya. Tukang ojek mengantar orang yang tidak berkendaraan, dan mencari laron dan meraciknya itu karena anakku yang menderita sakit tumor dibagian paha.
Apa yang mereka pikirkan dengan profesi kepala sekolah, gaji yang besar apa kurang dengan mencari pekerjaan tambahan, tidak malukah menjadi kepala sekolah menjadi tukang ojek gang sebelah, atau kurangnya kerjaan sampai malam-malam keluar hanya untuk mencari laron. Mereka tidak tahu apabila uang adalah segalanya, dan segalanya pula sekarang pakai uang.
“Hei Reti, kamu bilang ke suamimu. Kuat sekali tenaganya dari pagi sampai malm kerja, apa tidak pernah istirahat?”
“Hebat suamimu itu ya, merendahkan guru dengan berlaga menjadi tukang ojek, mana kegatelan sama perempuan-perempuan”
“Makanya anak itu dikasih makan yang bergizi biar tidak sakit-sakitan, sampai-sampai bapaknya harus mencari laron demi untuk diracik menjadi obat”
“Apa jangan-jangan kau itu slalu meminta uang belanja lebih untuk bisa shoping biar samaan dengan kami gitu”
“Bilang anak-anakmu jangan yang aneh-aneh minta sama orang tuanya” begitulah cibiran, ejekan, dan hinaan yang slalu di dengar Reti istriku setiap hari dari tetangga sekitar.
Tidak hanya keburukan yang didengar Reti juga, “Sabar bu, tidak masalah kalau bapak bekerja keras seperti itu”
“Kita tahu gaji kepala sekolah tidak bisa juga menutupi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya berobat”
“Tukang ojek juga pekerjaan yang mulia bu”
“Dengan kita cari tahu obat untuk sakit anak kita, kn bisa juga untuk penghasilankan bu”
“Ikhlas bu, mendengar colehan orang-orang yang syirik dengan kita bu” kata tetangga yang baik dan pengertian keluargaku.
Istriku itu orang baik, dia hanya mendengarkan apapun yang dikatakan orang-orang tentang keluargaku, sampai akhirnya dia hanya menerima tanpa menjelaskan yang sebenarnya seperti apa, tetapi semua terlambat, istriku jatuh sakit. Lama melawan sakitnya itu, hampir 2 tahun sakitnya. Sakitnya lebih kuat daripada tubuhnya untuk melawan.
“Orang lain itu tidak tahu apa yang keluarga kami rasakan dengan cibiran mereka, mengatakan apapun yang buruk tentang pekerjaanku. Sampai istriku sakit-sakitan, mungkin dia lelah mendengar semua yang warga bicarakan. Aku harus berlapangdada dengan keadaan saat ini, tidak lagi bisa melihat wajah dan senyum istriku, tidak mendengar isak-tangis dan celotehannya saat mencurahkan isi hatinya padaku.” kataku dengan salah satu sahabat istriku.
“Ibu tidak berharap bapak menjadi segalanya untuk setiap orang, ibu lebih suka bapak menjadi sesuatu untuk seseorang, untuk ibu dan untuk anak kita” kata yang penuh bijak yang dengar darinya saat-saat dia mendukung profesiku.
Aku hanya tertunduk, mengingat kembali semua yang disampaikan istriku itu. Hanya air mata yang tidak tertahan olehku yang keluar, saat aku mendengar semua perkataan istriku itu.
“Sedih, kenapa harus seperti ini. Salahkah ini, sampai semua ini ada yang terkorbankan” meratapi kesedihanku.
“Sabar pak, semua sudah ada jalannya. Saya tahu betul yang dirasakan Reti, istri bapak yang bapak cintai, bukan hanya dengan bapak, Aira, dan Rado. Reti banyak cerita tentang kisah hidupnya yang tidak sulit dijalani namun banyak batu berserakan yang harus dibersihkan. Ada satu cerita yang sampai saat ini saya ingat:
Reti cerita: aku tahu, aku bukan perempuan yang berpendidikan tinggi, aku hanya perempuan desa yang dinikahi dengan tulus oleh suamiku, aku mencintainya bukan karena dia seorang guru apalagi pimpinan sekolah, bukan juga dia tukang ojek yang handal, bukan pula pengumpul laron dimalam hari. Sebab aku menyayanginya karena dia laki-laki bertanggungjawab dan kerja keras.
Orang-orang tidak tahu betapa sulit diposisi suamiku, dia harus bertanggungjawab atas ilmu yang diberikannya kepada murid-muridnya dengan gaji pegawai sekolah swasta. Hanya di gaji Rp.400.000-Rp.700.000,- per bulan, dengan penghasilan sekecil itu, apa salah suamiku mencari pekerjaan tambahan, menjadi tukang ojek setiap sore hari sampai adzan maghrib, ketika isya selesai mengumpulkan laron dan diraciknya menjadi obat untuk anaknya yang sakit, tidak sekali-kali orang lain membutuhkannya juga.
Bukan berarti suamiku menganggap rendah profesi guru, apalagi sekarang jabatannya cukup terhormat, menjadi kepala sekolah. Tidakkah menjadi tukang ojek juga pekerjaan yang baik, mengantar orang lain yang tidak berkendaraan, dan membuat ramuan dari laron. Apa orang-orang ridak mencari tahu apa yang kami rasakan sebelum akhirnya mereka mencibir keluarku, menghina suamiku.
Aku ingat prinsip suamiku saat minta agar mendukungnya dari pendapat –Goenawan Mohamad: definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial. Maka dari itu suamiku meyakinkan aku jika dia menjadi kepala sekolah yang dia lakukan hanya tanggung jawab sosial dia sebagai seorang pengajar.
Saya percaya dengan apa yang diceritakan Reti, saya berkeyakinan jika diantara sakit dan mati tidak ada hubungannya. Tetapi antara fitnah dan hati tidak juga memiliki hubungan erat, namun dari historisnya, ‘fitnah lebih kejam dari pembunuhan’ itu lah erat kaitannya. ‘Jika kita benar-benar bisa memahami persoalannya, jawabannya akan datang sendiri, sebab jawaban tidak pernah terpisahkan dari persoalan’ kata ini yang slalu saya sampaikan kepada Reti kata Kiran menjelaskan curahan hati sahabatnya.
“Ikhlas lah, nak. Ibu kalian orang baik, pasti akan diberi tempat yang baik pula. Biarkan orang-orang yang telah menyakiti ibu kalian dengan perkataannya, pasti akan berbalik kepadanya. Tidak baik berlarut seperti itu, ibumu akan melihat anaknya telah lupa apa yang diajarkannya kepada anaknya.” lanjutnya lagi.
“Iya, aku selalu diberitahu tentang arti ikhlas dan tulus dari ibuku” jawab Aira dengan suara sendu.
“Tidak pernah ketinggalan satu kata pun, untuk aku menjadi lelaki yang kuat, agar sama dengan bapakku” Redo meneruskan kata adiknya.
“Sesungguhnya kalian adalah keluarga yang baik, tidak ada yang salah di keluarga ini. Hanya kesalahan-kesalahan akan menghantui orang-orang yang mencibur, mengejek, dan menghina kalian” Kiran melanjutkan.
“Semoga saja begitu Kiran, aku tidak tahu apakah akan kembali bersemangat dalam bekerja lagi seperti dulu saat istriku ada” kata Andar.