Mungkin kamu saat ini sangat kesal sama aku, tapi aku percaya kok kamu itu baik nggak mungkin kan nggak maafin aku. Kata bundaku kita harus percaya pada waktu agar bisa dipertemukan dalam keadaan yang tepat.
Boleh marah tapi jangan benci
Boleh nangis tapi jangan ditahan sendiri
Dari temanmu yang menyebalkan
Dena~
~@~
Namaku Kamila Rifana kini aku menjadi siswi baru di SMA Y, seperti biasa setiap tahun aku menanti kabar tentang sahabatku, tapi hasilnya nihil tak ada satupun kabar tentangnya. “Sekarang aku sudah gedhe, akankah impian kita bisa terwujud?”, Batinku mengingatnya.
Flash back on
“Nanti kalo udah gede kesini yuk”, pintaku dengan membawa poto papa dan mamanya Afan di puncak Bromo.
“Ayok bagus ya, tapi bagaimana dengan ayah bundamu, Rif?”, tanyanya kemudian.
“Gampang pokoknya gedhe dulu, kata ayah aku kalo udah gedhe udah boleh main sendiri”, sambungku.
“Tenang kan ada Afan yang melindungi kalian”, sombong afan dengan gaya super heronya disambung dengan gelak tawa kami bertiga.
Flash back off
Huft, aku menghela nafas kasar mengingat impian masa kecil kami. Tapi takdir tidak memberikan kesempatan untuk kita bersama lebih lama, Afan pindah ke Surabaya dan Rifa sendiri entah ke mana.
Di tengah keramaian siswa baru yang mulai berdatangan, aku merasa aneh ada seseorang yang sedari tadi menatapku.
“Eh..itu lihat kak Andi ganteng banget ya”, ucap siswi A
“Iya udah ganteng ketos lagi”, ucap siswa B
“Ih..lihat deh nata kita”, ucap siswa C yang disambung dengan teriak mereka bersama yang berdiri tidak jauh dariku.
“Oh.. namanya Andi sang idola sekolah ternyata aku harus hati-hati dengannya, tapi perasaan nggak asing deh sama kakaknya”, gumamku sendiri.
~@~
Pada masa pengenalan sekolah ada moument di mana di perkenalan oleh organisasi sekolah, yang menarik perhatianku adalah organisasi pramuka karena menurutku program yang dilakukan selalu berhubungan dengan alam seperti jelajah di beberapa hutan, hiking, kemah, dan masih banyak lagi. Sejak saat itu aku berambisi untuk menjadi bagian dari mereka untuk mewujudkan mimpiku yang telah lama terkubur. Tapi mengapa ada saja penghalang entahlah aku nggak terlalu memikirkan hal itu. Sampai suatu ketika pada saat mau pulang sekolah...
“Rifa dicariin tuh sama kak Vanya and the geng”, Teriak Ronal ketua kelasku.
”Apa lagi ini ya Allah”, batinku. Entah mengapa mereka sangat suka melabrakku.
“Ada apa kak?”. Ucapku di ambang pintu.
“Heh kamu jangan kecentilan ya anak baru, ngapain ikut pramuka”
“Emang kenapa kak”, tanyaku polos.
PLAK…
Shs…, ringisku dan kubalas dengan senyum dengan banyaknya pertanyaan dibenakku.
“Maaf kak, aku nggak bisa jika harus berhenti”, ucapku sambil berlalu pergi dengan membendung air mata yang ingin pecah.
“Kali ini kuampuni lihat aja besok”, teriaknya kepadaku. Aku berlari menuju lorong sepi untuk mengontrol emosiku.
“Huft, mengapa sangat berat?, tapi hanya ini terakhir usaha untuk mimpiku ”, fikirku.
“Udah nangisnya gitu aja cengeng”, suara kak Rama mengagetkanku. Karena tidak ingin ada masalah baru aku pergi meninggalkannya.
~@~
Sejak kejadian Kak Vanya and the geng menamparku, aku semakin hati-hati dalam hal apapun. Samapai aku membatasi pergaulanku agar temanku tidak diganggunya. Hari ini ekstra pramuka masuk seperti sabtu biasanya yang berbeda adalah pada akhir pertemuan ketua Pradana Putra mengumumkan bahwa akan diadakan perekrutan anggota inti, bagi yang ingin ikut setelah pembubaran apel disuruh ke markas Pramuka. Aku berfikir ini ide bagus kata beberapa kakak kelas jika terpilih maka akan diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) ke luar sekolah. Tahun kemarin diadakan perkemahan mungkin tahun ini akan lebih menantang fikirku.
“Rif kamu pasti ikutkan”, Tanya kak Elda sebagai pengurus inti lama.
“Iyalah kak pastinya kan enak tuh bisa healing gratis” jawabku dengan nada bercanda.
“Jangan lupa besok tes nya kalau kamu masuk dua minggu lagi diadakan LDK di Gunung Bromo”, kata Kak Elda sambil berbisik.. “Akhirnya mimpiku sudah di depan mata”, semangatku dalam hati.
~@~
Aku diterima menjadi anggota inti pramuka dan besok adalah hari di mana LDK di lakukan. LDK dilakukan sehari semalam dengan kegiatan mendaki gunung Bromo. Jadi hari ini kami anggota inti baru diberikan dispensasi untuk mempersiapkan hari esok. Setelah persiapan selesai aku kekantin karena lapar tadi tidak sempat membawa bekal karena terburu-buru.
BYUR….
“Astaghfirullah, Ya Allah apa lagi ini”, Batinku sambil memejamkan mata.
“Rifa! Kam..” ketika dia mualai angkat bicara tiba-tiba PLAK…
SHHS... ringis Kak Vanya
“Apa-apaan kamu Sayang, kenapa kamu menamparku”, Tanya kak Vanya dengan nada manja seketika aku muak melihat dramanya.
“Apa tamparan ini belum cukup untuk menghentikan tindakan konyolmu itu, semua maumu sudah kupenuhi termasuk menjadikanmu pacarku. Aku hanya minta jangan ganggu Rifa”, Emosi kak Andi. Mendengar itu seketika hatiku rasanya sakit sekali seakan-akan aku hanya sebagai tempat pelampiasan yang aku sendiri tak tau apa tujuanya.
PLAK….dengan emosi aku menampar kak Andi entah mendapat keberanian dari mana.
“Sudah puas kak membuatku menderita, jika itu memang tujuan kakak, selamat kakak berhasil ” prok prok prok aku bertepuk tangan di depan kak Andi dengan senyum getir.
“Bukan begitu Rif maksudnya…”, Ucap kak Andi mencoba menjelaskan.
“Terimakasih dan tolong biarkan aku sendiri”, Ucapku memotong dan berlari meninggalkan kantin sesekali mengusap air yang mulai membasahi pipiku.
~@~
Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Malang tepatnya gunung Bromo, LDK ini dilakukan gabungan dengan sekolah lain dan disinilah ada sedikit harapan muncul setelah beberapa kali harapan tersebut kupendam. Sekarang kami berada di pos pemberangkatan. Aku baru tahu bahwa selain jadi ketua OSIS kak Andi juga sebagai jajaran pengurus inti pramuka, dan di moument LDK ini dialah ketua panitianya. Setelah kejadian kemarin ada gossip bahwa mereka putus, entahlah aku tidak peduli lagi dengan semua itu mengingatnya membuatku sakit hati.
“Salam pramuka, Okey untuk adek-adek kelompok akan saya bagi. Kami harap kalian bisa kerjasama dengan baik antar anggota. Setiap kelompok akan ada satu kakak pendamping untuk memandu jalan kalian”, Jelas kak Andi dan mulai membacakan kelompoknya. Anggota kami ternyata di campur dengan sekolah lain dengan alasan agar kami memiliki jiwa sosial tinggi.
Ternyata aku mendapat kelompok terakhir yaitu kelompok 20 setiap kelompok berisikan 10 anggota. “Okey, kelompok sudah terbagi untuk kelompok pertama bisa berangkat terlebih dahulu”, atur kakak panitia lain. “Kemana kak Andi ya…ah sudahlah ngapain aku mikirin dia nggak penting”, kepoku yang setengah mati berusaha kuhilangkan.
“Kak kelompok kita masih delapan kurang dua”, teriak anggotaku dari sekolah lain. “Iya dek yang dua orang masih diperjalanan, sebentar lagi pasti datang”, terang kakak panitia yang memandu kelompokku. “Yah.. yang gini nih paling nggak demen aku molor karena ada yang telat”, batinku sambil menghela nafas.
Dari arah jauh aku melihat sosok cewek dengan rambut dikuncir kuda memakai syal merah, jaket coklat susu tebal karena memang hawanya yang dingin dengan celana kempol menghampiriku bersama dengan kak Andi dengan senyum manisnya. Bukan, itu bukan kak Vanya. Seketika duniaku terasa terhenti entah apa yang aku rasakan sudah tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata lagi. Aku berlari menerobos kerumunan tak menghiraukan teman-teman yang melihatku.
BUG….
Aku langsung berhambur dipelukannya dengan pecahnya tangis yang ku tahan sejak tadi. Ya, ini adalah tangisan bahagia setelah sekian lama tak bertemu akhirnya sahabatku kembali dan ini seperti mimpi bagiku.
“Kau kemana hiks..saja..kau jahat hiks…selama hiks..ini nggak ada... hiks..kabar”, ucapku yang masih terisak dalam pelukannya.
“Kenapa nangis, seharusnya seneng dong ini kan impian kita mendaki bersama di gunung Bromo”, ucapnya menghiburku.
“Jelaskan hiks…dulu hiks... ke..ma..na ..selama i..ni”, ucapku meminta keterangan.
“Okey, tapi jangan nangis malu tau diliatin temen lain”, perintahnya yang ku jawab dengan anggukan dan mulai kulerai pelukanku.
“Aku pindah ke Solo karena pengobatan, ya aku mengalami kecelakaan tunggal saat aku ingin pergi ke rumah mu, tiga hari aku tidak sadarkan diri dan ketika aku terbangun ternyata aku di rawat di rumah sakit X dengan keadaan tanganku retak ya bisa dibilang parah dan di rumah sakit itu kurang memadai peralatannya, akhirnya ayah dan bunda memutuskan untuk di rujuk ke Solo”, terangnya.
“Tapi…kenapa nggak ngasih kabar Den hiks...kenapa juga lama banget”, tanyaku penasaran.
“Aku tau kalau kamu tau tentang kabarku pasti kamu khawatir, ya akhirnya aku minta tolong bundaku untuk buatkan surat untuk di sampaikan kepadamu. Masalah lama ya namanya tulang yang retak bukan sekedar kejedot tembok, Rifa”, ucapnya kulihat matanya dan benar tidak ada kebohongan di matanya. Kupeluk kembali sahabat lamaku yang telah lama tak bertemu.
“Kamu ingat nggak Rif kita pernah bermimpi mendaki gunung Bromo bertiga”, Tanya Dena ketika melihatku sudah sedikit tenang.
“Nggak mungkinlah aku lupa itukan impian kita sejak kecil aku, kamu, dan Afan kan. Tapi sayangnya hari ini kita hanya mendaki ber dua”, jawabku dengan sedikit kecewa.
“Siapa bilang hanya berdua”, Seloroh seseorang di belakangku dan kutatap Dena yang memberi anggukan.
“Boleh marah tapi jangan benci”, ucapku
“Boleh nangis tapi jangan ditahan sendiri”, sambung kak Andi dan Dena secara bersamaan. Dengan reflek aku berhambur ke pelukan Kak Andi bukan tepatnya Afan dengan air mata yang menetes kemabali teringat bahwa selama ini aku terlalu keterlaluan dengan sahabatku yang satu ini banyak penhorbanannya demi aku tapi aku tidak bisa mengenalinya.
“Kamu jahat Fan hiks..kenapa nggak bilang dari awal hiks...dan kamu udah kelas XI hiks...bukannya dulu kamu gendut hiks...maafkan aku hiks...”, cerocosku dengan segudang pertanyaan.
“Gimana mau jelasin kamu aja selalu menghindar ya kan..trus masalah kelas sebelas nggak usah kagum kan aku emang cerdas dari SMP aku mah makek jalur ekspres.. eh udah melonya kan jelek dalam persahabatan nggak ada kata maaf luapakan aja yang sudah lalu. kelompok kita sudah dipanggil”. Kami bertiga berjalan beriringan dengan sesekali bercanda. Ya inilah impian kami bertiga , terimakasih jarak sudah menjaga hubungan walau kita sama-sama jauh. Terima kasih waktu ternyata inilah kejutan besar yang kau sembunyikan.