Takdir. Sebuah kata yang menjadi misteri. Kata yang hanya terdiri dari enam huruf, namun memiliki banyak. Kata yang hanya diketahui Tuhan, bagaimana jalan ceritanya
Seperti takdir seorang Maya yang bertemu dengan Dimas. Maya muda mengenal Dimas muda sebagai teman sekolah menengah atas. Tak ada yang istimewa di antara keduanya. Hanya ikatan murni yang dinamakan pertemanan.
Namun, siapa yang tahu bagaimana takdir berjalan. Maya muda yang setelah lulus sekolah, tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia memilih pondok sebagai tujuannya. Sedangkan Dimas muda, memilih sekolah lanjutan ke universitas ternama yang tak berada di satu kota yang sama dengan sekolah sebelumnya.
Dimas muda pernah penasaran pada Maya muda, kenapa setiap kali ada kakak kelas yang datang ke sekolah mereka untuk promosi universitas, setiap kali itu pula Maya tak terlihat tertarik pada satupun universitas mereka. Hingga pertanyaan itu terlontar karena rasa penasaran yang sudah tak dapat dibendung lagi
"May, kenapa sih setiap ada kakak kelas yang promo, kamu kayak nggak tertarik gitu?" Tanya Dimas kala itu.
"Sebenarnya tertarik, tapi belum ada yang cocok." Jawab Maya agak cuek.
"Emang kamu pengen kemana?"
"Pengenku sih universitas islam yang di Malang, tapi kayaknya gak mungkin deh."
"Kenapa? Kalau menurutku, kamu bisa kok masuk situ, kan kamu juga pinter."
"Meski pinter atau bahkan dapet beasiswa sekalipun, kayaknya nggak bakalan aku berangkat."
"Kenapa?"
"Karena jalan aku nggak sama dengan kalian, aku udah didaftarin ke pondok."
Jawaban terakhir Maya membuat Dimas tak melanjutkan pertanyaannya. Wajah Maya memang tersenyum, namun terdapat kesedihan di sana. Itulah yang menuebabkan Dimas tak melanjutkan sifat keponya, walaupun sepertinya, dia masih belum puas
Lima tahun berlalu setelah perbincangan itu. Kini Maya sudah kembali ke rumahnya. Meski belum menikah, namun banyak para pemuda yang suka padanya. Padahal tak sedikit teman sebayanya yang sudah punya anak, dan tak sedikit pula lamaran datang pada kedua orangtua atau kepadanya langsung.
Namun, entah karena apa. Seorang Maya tak mengiyakan satupun lamaran itu, bahkan meski banyak orang mencibirnya dia tak pernah ambil pusing. Hingga ada sebuah lamaran dari seorang kyai tempat mondoknya dulu, Beliau mengatakan ingin mempersunting Maya untuk santrinya.
"Kedatangan saya kemari karena Bu Nyai Hasanah, istri saya ini ingin mempererat tali silaturrahim dengan keluarga Bapak Rojak. Istri saya ingin Nak Maya dapat menjadi bagian dari keluaga besar pesantren." Kata Pak kyai Jamal, membuka suara.
"Saya pribadi tidak bisa memberi jawaban, karena yang akan menjalaninya adalah anak saya, Maya. Jadi jawaban saya serahkan kepada Maya." Jawab Bapak Rojak, bapaknya Maya.
"Gimana, Nak?" Sekarang perkataan itu ditujukan kepada Maya.
Maya hanya dapat menganggukkan kepalanya. Wajahnya tetap menunduk mulai dari awal tadi sampai sekarang. Semua tersenyum dan bahagia dengan keputusan Maya.
Maya sendiri juga tidak tahu, apakah pilihannya kali ini benar atau tidak. Namun yang pasti diyakini bahwa pilihan Pak Kyai tak mungkin menyesatkan. Setidaknya itulah yang dipikirkan Maya.
Maya meminta pada kedua pasang orang tua itu agar diberikan waktu menikmati kesendiriannya tanpa tahu siapa lelaki yang akan menjadi imamnya. Dia bahkan menyerahkan penanganan berkas pernikahan pada adiknya.
Lain di mulut lain di hati. Permintaan Maya sebenarnya hanya kedok Maya untuk bisa melupakan seseorang yang baru disadarinya bertahta di hati. Sosok yang perhatian padanya dengan hal-hal kecil. Sosok yang bahkan bisa disebut musuh karena tak pernah ada perbincangan yang berakhir dengan baik.
Hanya Maya yang tahu sosok itu. Bahkan setelah lima tahun berlalu dan dengan kabar simpang siur tentang dia, Maya tetap tak bisa melupakannya. Yang dia tahu bahwa seseorang bernama Arga, orang yang dipilihkan Pak Kyai untuknya adalah orang yang harus bertahata di hatinya sekarang. Menggantikan sosok pangeran yang harus segera pergi dari pikiran dan hatinya.
Sebulan, waktu yang dipilihkan untuk Maya dan Arga agar bisa menjadi sah dalam sebuah ikatan. Di luar sana prosesi akad dilaksanakan tanpa kehadiran Maya. Maya memilih menunggu sang imam menjemputnya didalam kamar. Permintaan Maya yang masih berlanjut. Hanya suaranya yang terdengar. Dengan nada tegas tanpa keraguan.
Maya yang sudah berbalut busana pengantin memegang dadanya. Jantungnya terasa berdetak kencang, karena sekarang dia sudah sah menjadi seorang istri. Namun ada hal lain yang membuat jantung itu tak kalah kencang.
"Tidak mungkin suara ini adalah suaranya. Mungkin memang suara Mas Arga hampir sama dengannya. Tidak mungkin Mas Arga adalah dia, dia kan sudah menikah." Banyak sekali gumaman yang keluar dari mulut Maya. Gumaman yang berisi ketidakpercayaan. Hingga seseorang membuka pintu kamarnya dan menutupnyapun, dia tidak tahu.
"Hai, Cewek cupu." Kata seseorang yang berhasil mengembalikan Maya pada dunai nyata.
"Dimas?"
"Ka..kamu ngapin disini?" Tanya Maya dengan terbata-bata.
"Aku kesini mau menjemput istriku." Kata Dimas santai dengan langkah yang mendekati Maya di atas kasurnya.
"Jemput istri? Jangan ngaco deh, disini cuma ada aku. Dan aku udah jadi istri orang." Kata Maya sambil memundurkan duduknya.
"Iya, aku tahu." Kata Dimas semakin mendekat.
"Suami aku Mas Arga, trus istri kamu juga gak ada disini. Kamu mending keluar aja. Aku nggak ingin ada fitnah karena kamu masuk sesukanya ke kamarku." Seru Maya lagi.
"Gak akan ada fitnah. Percaya ma aku. " Jawab Dimas dengan percaya diri.
"Hah? Kamu ngomong apaan sih, Dim." Maya mulai menghela nafas lelah.
"Dimas, katanya kamu udah menikah dan aku juga baru beberapa menit sudah jadi istri orang. Udahlah...sekarang kamu pergi, aku nunggu suamiku kesini sekarang." Kata Maya panjang lebar sambil mendorong Dimas menuju pintu kamarnya.
"Kamu tega ngusir suami kamu?" Kata Dimas tiba-tiba saat mereka sudah di dekat pintu.
"Hah?" Maya yang tak paham hanya bisa memberikan ekspresi bingung. Bingung bagaimana menjelaskan lagi pada Dimas dan bingung dengan apa yang barusan dikatakan oleh Dimas
Dimas yang melihat ekspresi itu hanya tersenyum, dia menggiring Maya ke meja rias yang terdapat kaca besarnya.
"Lihatlah, dia adalah istriku. Istri yang baru aku nikahi beberapa menit yang lalu. Istri yang bahkan tidak ingin bertemu dengan suaminya setelah sah."
"Dimana? Hanya ada bayangan aku sama kamu Dim. Dan suami aku itu namanya Mas Arga bukan Dimas." Tolak Maya untuk kesekian kalinya.
"Apa kamu tahu siapa nama lengkap suamimu?" Maya hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Nama suamimu adalah Dimas Arga Wijaya. Nama tengah dari Dimas, teman sekolahmu." Jawab Dimas dengan tersenyum dan mulai memeluk Maya yang masih kebingungan.
Maya yang bingung hanya bisa diam. Dia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya, bahkan dia tak sadar sedang berada di pelukan seseorang.
"Tapi kenapa bisa?" Pertanyaan Maya terlontar dari bibir yang dilapisi gincu merah itu. Pertanyaan yang mirip gumaman namun masih terdengar di telinga Dimas.
"Hai.. kamu nggak percaya sama aku? Sekarang aku adalah suami kamu dan kamu adalah istri aku?"
"I..iya.. tapi gimana ceritanya. Kamu Dimas bukan Arga."
"Hai.. lihat aku..." Kata Dimas sambil memutar tubuh Maya menghadapnya.
"Namaku adalah Dimas Arga Wijaya. Aku nggak ngerti apa yang kamu dengar tentang aku. Yang aku tahu saat aku dengar kamu menolak lamaran para pemuda itu, aku ingin mempersuntingmu. Aku meminta pada Abah agar meminangmu untukku. Mungkin salahku karena tidak mencoba lebih keras agar kamu mau menemuiku. Dan Abha memperkenalkan namatengahku padamu karena itu memang nama panggilanku sejak kecil." Kata Dimas panjang lebar.
Keheningan tercipta beberapa saat setelah penjelasan itu. "Hiks hiks hiks.. maafkan aku." Ucap Maya memecah keheningan itu.
"Ssst.. sudah. Jang menangis. Nanti jelek lo.. istri Dimas Arga gak boleh jelek." Ejek Dimas yang akhirnya menerbitakan senyum diwajah Maya, walau cemberut lebih mendominasi.
"Ayo.. kita temui orang-orang. Sudah terlalu lama mereka menunggu kita." Ajak Dimas.
Setelah membersihkan air mata dan merapikan riasan, Dimas mengajak Maya keluar kamar. Meski mata merahnya tak dapat disembunyikan, setidaknya itu adalah bekas air mata bahagia karena senyuman tak terlihat pudar dari wajah cantiknya.
Tak ada yang pernah tahu bagaimana jalan takdir. Bahkan nama yang hanya ada di hati kini nyata ada di samping. Inilah awal kisah lain Maya dan Dimas yabg percaya bahwa takdir adalah rahasia dan bila kita selalu berharap sesuatu yang baik, maka Tuhan akan mengabulkannya. Atau bisa jadi Tuhan tak mengabulkan karena ada yang lebih baik menanti di sana...