Hai. Kenalin, aku Mika. Kalian tau, enggak? Aku ini lumayan tenar di sekolah. Mau tau kenapa? Aku dikenal sebagai tukang ngelamun paling rajin sedunia. Rajin ngelamunya dan sekali ngelamun, ada saja yang enggak masuk akal.
Di kelas IV-P ini, aku keliatannya biasa aja dari luar. Malah, tergolong salah satu anak terkecil. Aku baris di urutan kedua paling depan.
Di sekolah, ada anak yang terkenal baik banget. Namanya Arika. Dia baik banget sama aku dan siapa pun. Dia kadang-kadang ngasih bekalnya buat aku. Terus dia yang selalu ngajak main.
Aku biasanya jalan kaki ke sekolah karena jaraknya cukup dekat tapi agak jauh.
Sekarang, aku juga lagi jalan kaki. Ada yang dijemput orangtua, naik sepeda, dan bahkan skuter! Bukan skuter motor, tapi skuter sungguhan dengan roda tiga kecil dan setang sepeda. Kamu tahu siapa yang naik skuter ke sekolah? Lumayan banyak! Ada Kimi, Nanta, Ais, dan Kak Ndo.
"Hai, Ka!" sapa Arika yang naik skuter pink kesaya-nganya. Aku senyum sebelah kiri. "Pasti kamu mau pulang kan?" dia melanjutkan lagi.
Aku cuma mengangguk. Mau ngomong apaan?
Arika lalu pamit, "Ya udah, deh, Ka. Aku duluan ya... daaah, Mika!"
Oh, iya. Omong-omong, tadi aku disuruh nulis impianku oleh Pak Andra waktu pelajaran Musik.
Aku menulis kalo aku mau punya pohon ajaib, hamster yang bisa ngomong, dan hidup di Tana Tanyata, tempat di mana waktu tidak berjalan dan semua mimpi kita bisa terwujud, jadi aku enggak perlu ribut mikirin hal-hal kayak PR atau pusing mikirin Matematika. Pohon ajaibku nanti berbuah semua jenis buah. Nanas disamping stroberi. Terus nanti kalo aku mau seseatu, salah satu buah akan berubah jadi barang yang aku mau itu.
Aku mau hamster yang bisa ngomong itu biar aku ada temen. Aku mau tinggal di Tana Tanyata dan jadi anak umur sembilan tahun selamannya. Enggak usah mikirin tumbuh besar dan harus bikin KTP, cari uang atau apa. Makan juga tinggal metik.
Tapi mau apa? Itu, kan, ngayal doang. Paling juga nyampe rumah, sumpek, gerah, masuk tong sam-pah. Hahaha, itu hanya ungkapan, bukan sunggu-han.... Oh iya, aku harus nyampe rumah paling lama pukul lima. Sekarang pukul dua dan jalannya masih lumayan jauh.
Aku masih berjalan, tiba-tiba aku jatuh ke lubang. Lebar juga lubangnya. Ternyata ada perosotannya. Aku merosot ke dalam lubang itu. Jauuuh banget.
Begitu aku selesai merosot ke bawah, aku liat semua yang ada di tulisan yang aku kasih ke Pak Andra. Banyak pohon rindang, cahaya matahari juag terlihat indah menembus celah daun. Kayak di lukisan, deh. Aku heran, kok ada tempat sebagus ini? Tempat yang seperti mimpi dan kartun. Karena penasaran, aku berjalan mengikuti jalan setapak yang ada.
Ternyata, persis kayak yang aku bayangin. Pohonnya berbuah kesempek sama apel fuji. Aku terus bayangin makan coklat bulet-bulet yang isinya kacang. Eh, taunya tiga cokelat jatu dari pohon itu. Waaah... keren....
"Hai. Nama kamu siapa? Aku Cinderbell. Paduan dari Cinderella dan Tingker Bell. Selamat datang di Tana Tanyata," sambut seekor makhluk kecil yang melayang di depanku. Aku cuma bisa melongok.
"Woy!"
Aku kaget mendengar Cinderbell yang berteriak. Kecil-kecil suaranya lantang banget, lho... kali ini dia bertanya setengah marah, "Nama kamu siapa?"
Aku jawab aja,"Em, Aku Mika."
"Hai Mika! Kamu mau keliling Tana Tanyata?"
Waaah, ini kesempatan emasku! Kuiyakan pertanyaan itu, "Boleh, boleh!"
Bersama Cinderbell, aku berjalan mengelilingi Tana Tanyata yang sebetulnya tidak bisa dikitari hanya dengan berjalan kaki. Tana berarti negeri dalam bahasa Tanyata. Sementara kata 'tanyata' itu sendiri berarti 'tidak pernah ada'. Singkatnya Tana Tanyata berarti 'negeri yang tak pernah ada'. Cinderbell menjelaskan kepadaku bahwa kami cukup menyebutkan Tana Tanyata dengan 'Tanyata'.
Saat berkeliling, aku melihat tujuh air mancur berderet. Kata Cinderbell, nama tempat itu adalah Air Mancur Tujuh Warna. Masing-masimg memiliki pancuran air yang berbeda. Yang pertama berisi coklat cair dan yang kedua berisi krim vanilla, lalu jus jeruk, madu, coklat putih cair, dan pancuran terakhir berisi milkshake.
"Wah, Cinderbell! Aku mau cocol-cocol dong!" seru Mika.
Cinderbell lalu memberikan gelas kaca dan biskuit stick sepanjang pensil yang belum diraut. "Ini gelas sama biskuit sticknya. Gelasnya cuma buat jus jeruk dan milkshake dari air mancur lho...!"
Kenapa biskuitnya cuma satu? Aku lalu bertanya kepada Cinderbell, "Kok, biskuitnya cuma satu? Enggak cukup, dong?"
"Kami makan dulu. Nanti, liat apa yang terjadi, deh!"
Aku mengangguk, lalu mencelupkan biskuitku ke dalam pancuran pertama yang berisi cokelat cair dan memakannya. Tiba-tiba, biskuitku tumbuh kembali menjadi ukuran semula. Karena aku tahu tak mungkin menghabiskan seluruh biskuitnya, kupatahkan biskuitku tepat ditengah. "Ini buat kamu, Cinderbell," aku memberikan potongan biskuitku kepadanya.
"Makasih, ya, Ka," ucapnya kepadaku.
Kami lalu menikmati biskuit stick celup kami sambil mengobrol sebentar. Karena sudah kenyang memakan biskuit yang tidak pernah habis, aku bertanya kepada Cinderbell, "Kalo udah kenyang gimana, dong? Kan, sayang...!"
"Enggak pa-pa, kok. Kamu buang aja. Nanti, dibiarkan di tanah, kayak batang singkong, hehehe," begiti kata Cinderbell
Wah, Tanyata memang hebat! Tak penah aku menemui tempat seperti ini dimana pun.
"Ka, kamu bawa temen-temen kamu kesini? Boleh kok. Kalo kamu keluar dari Tanyata selama lebih dari tiga hari tanpa kunci, pintunya akan terkunci selamanya kecuali kalo bawa teman ke sini. Gimana?"
"Ya udah. Aku akan balik lagi ke sini bareng Arika," kuiyakan tawaran Cinderbell. Dia mengambil lollypop dari kantongnya, lalu menggerakkannya ke depan. Segera terbuka pintu menuju dunia nyata.
"Oh iya, gimana caranya aku balik ke sini?" tanyaku pada Cinderbell.
Cinderbell lalu memberi padaku pensil hitam dan biru yang dua-duanya sebesar telunjuk.
"Pensil apa ini?" aku kembali bertanya padanya.
"Ini kunci menuju dunia Tanyata. Jika kamu mau kembali, cukup masukkan kunci ini ke dalam lubang. Lubang mana pun akan pas dengan kunci ini, baik di tanah atau pasir. Pensil biru ini adalah kunci Dunia Matahari, sementara pensil hitam adalah kunci menuju Dunia Bintang. Dunia bintang adalah tempat kita beristirahat di Tanyata karena waktu tak pernah berjalan di Tanyata," jawa Cinderbell serinci mungkin.
Aku hanya berkata, "Terima kasih, Cinderbell." Aku keluar dari Tanyata. Ternyata aku keluar dari tong sampah di luar rumahku.
Sekarang sudah pukul tiga, jadi aku punya waktu dua jam sebelum pukul lima. Aku langsung bergegas ke ruma Arika yang untungnya tidak terlalu jau dari rumahku. Rumahnya bercat putih kelabu dan pagarnya berwarna hijau. Aku langsung menyapanya yang sedang bermain ayunan, "Hai, Rik! Kamu mau main sama aku?"
"Ke mana?" tanyanya.
"Kamu ikut deh, aku punya tempat baru lho!" seruku.
"Wah, ayo!" serunya padaku.
Aku lalu mengambil pensil biru kecil yabg diberikan Cinderbell, kunci Dunia Mataharidari kantongku. Aku pun menancapkan kunci Dunia Matahari ke tanah dan terbentuk lubang kembali menuju Tana Tanyata. Aku menengok ke arah Arika lalu berkata, "Ayo masuk!"
Arika melompat masuk diikuti aku. Lubang tertutup kembali dan kunciku jatuh dari tempat lubang itu semula berada. Aku mengambil kunci itu, lalu mengantonginya. Setelah kunci itu aman di kantongku, aku menuntun Arika yang tercengang melihat lingkungan di Tanyata menuju Air Mancur Tujuh Warna, pohon ajaib, semak sehat, dan tumbuhan ajaib lainnya di Tanyata.
Lalu tiba-tiba, muncul Cinderbell mengangetkanku, "Dor!"
"Hai, Cinderbell! Ini temanku, Arika," aku mengenalkannya kepada Arika. Cinderbell melambaikan tangannya lalu berkata, "Aku Cinderbell. Selamat datang di Tana Tanyata!"
"Kita temenin Arika jalan-jalan, yuk!" aku mengajak Cinderbell.
Cinderbell mengangguk. Dan pergilah kami menuju air mancur. Kami bertiga memetik permen dan biskuit dari pohon yang berasal dari biskuitku itu. Lalu, aku dan Cinderbell kembali memakan biskuit cocol bersama Arika. Setelah merasa cukup, kami membirakannya pada burung biru, satu-satunya jenis makhluk Tanyata yang bisa menghabiskan biskuit tanpa akhir itu.
Kami pun berlari melewati jalan setapak yang ada menuju pohon ajaib. Aku memberi tahu keistimewaan pohon ini pada Arika. Dia memikirkan kamera yang tidak perlu disentuh untuk memotret. Kamera itu terjatuh ke tanah. Tanpa pikir panjang, kami langsung bernarsis ria menggunakan kamera itu, hehehe...
Setelah puas berfoto-foto, kami menuju semak sehat, semak yang menurutku berbuah paling ajaib. Di sini terdapat beragam jenis kue dan junk food, tapi makanan ini tidak beracun sama sekali, malah berguna bagi tubuh. Dan kue yang paling unik menurutku adalah kue gigi! Kue ini tidak berbentuk gigi, hanya cupcake biasa. Icingnya rasa mint dan permen karet. Kue ini membuat gigi kita bersih, kuat, dan yang paling aneh, rapi! Kue gigi juga tidak beracun atau membuat gigi kita serasa ditarik. Tidak sama sekali!
Setelah menghabiskan kue, Arika berseru, "Ya ampun, Ka! Gigi kamu...!"
"Gigi kami juga...!" aku menunjuk balik, heran, inikah efek instan dan permanen dari kue gigi?
Kamo berdua tertawa bersama-sama. Kamu terliaht lumayan berbeda saat tersenyum dibandingkan dulu. Rasanya aneh. Sekarang, jika aku makan, tidak akan makanan yang terselip di celah gigi. Kalo kata Kak Dina, sepupuku, istilahnya 'plong'!
Ada juga roti sayur. Sebetulnya itu roti isi berry, namun memiliki segala manfaat sayur. Roti sayur memiliki beragam jenis vitamin, mineral, dan kandungan seratnya tinggi. Jadi, kita cukup pergi ke semak sehat untuk makanan yang betul-betul sehat dan enak!
"Ka, sekarang jam berapa? Jamku, kok mati?" tanya Arika. Oh iya, aku jadi teringat, apa sekarang sudah pukul lima? Aku mengambil kunciku, lalu menyilangkannya di udara. Aku keluar sebentar agar jamku bisa menunjukkan waktu yang benar. Ternyata sekarang sudah pukul lima kurang lima belas menit.
"Ayo, Rik. Kita pulang, yuk, udah pukul lima," ajakku.
Arika berkata, "Oke. Kita besok ke sini lagi ya, Ka!"
"Ya, udah. Dah Cinderbell...!" pamitku kepada Cinderbell.
Sekarang, aku dan Arika berada depan taman bermain yang ada di taman bermain yang berada di antara rumah kami.
"Dah... Arika!" aku pamit pada Arika.
"Dah... Mika!" pamitnya kembali padaku. Kami pun berjalan menuju arah berlawanan... pulang.
Di rumahku...
"Assalamu'alaikum!" seruku membuka pintu.
"Wa'alaikum salam!" jawab mama yang langsung memelukku.
"Ayo, mandi, Nak!" ucapnya. Kira-kira, kapan aku bisa ke Tana Tanyata lagi, ya?