Valentine day dimana-mana udah deh pasang iklan nya, ga mall, minimarket bahkan penjual keliling asongan juga ngebahasnya sama aja. "Tapi enggak bagi kita jomblowati gaes",, nyinyiran Sherina di telinga ku nggak berhenti. "Panas ...tambah berat badan untuk jalan... dengerin omongan kamu..."keluhku sambil menyeka keringat di dahiku dengan tisu.
" Udah deh kita ngadem dulu tuh di sebelahnya halte ada jual es potong", celetuk Dina.
Sial dari jam sepuluh pagi tadi udah keliling ke sekolah-sekolah nyari pinjaman tenda belum dapat. Mana pas hari valentine day lagi... tambah kesal aku. Aku seh ga masalah mau jomblowati abadi juga ga ngaruh, hanya panas aja dengerin sahabat ku ini, baru jomblo beberapa hari, karena di tikung sepupunya dia sudah nyap-nyap ga terima
Kita ( Dina dan aku) sudah berbaik hati denger curhatan, tapi juga ga kini lagi harus memasakkan diri cari gebetan terus ngerayainnya valentine day.
"Udah pusing cari tenda buat acara Pramuka Minggu depan masih tambah ini...Ya , Allah lindungilah hamba mu ini ..." gumamku Dina menyenggol bahuku berbisik .
" Sabar hamba Allah", tergelaklah kita berdua.
Sharena menatp kami tajamnya," Apa yang lucu coba?" sungutnya.
Kami berdua senyum aja sambil makan es potong.
Braakkk. Kabur ada Satpol-PP dan anak STM tawuran....teriak orang-orang dari arah berlawanan. Tukang es itu berlari-lari juga para pedagang yang tidak punya ijin. Bersama anak-anak sekolah berseragam abu-abu.
Aku bengong melihat kericuhan itu aku menoleh ",Hlo ??? Kemana Sharena dan Dina?" masih aku berpikir. Aku berbalik dan melihat punggungnya teman-teman ku sudah berlarian menjauh.
"Ayo...jalan nanti di tangkap ", kata si cowok seragam abu-abu menarik tanganku.
Otomatis aku ikutan berlarian di belakangnya dan masih kebingungan karena wajahnya asing.
" Pak nitip temenku, kasian dia udah kecapekan berlari. Nanti aku jemput. " aku di dorong ke arah kotak besar di samping gerobak jualan gado-gado di pinggiran bundaran tugu, tak lupa kepalaku di tutupi jaketnya yang bau tembakau, aku di masukkan seperti barang di simpan di almari.
Di dalam aku hanya mendengar suara sayup-sayup bersamaan rasa pening dan mual-mual.
Rasanya sungguh tidak tahan. Brukk begitu pintu itu terbuka badan ini ikut jatuh.
"Astaghfirullah nak...kamu tidak apa-apa?" , seorang bapak-bapak mengipasi aku dan mengoleskan minyak dragon yang bau itu.
"Maafkan aku ,pak! Aku lupa tadi nitipin dia..", seru si cowok tadi.
"Dia pucat banget pak, gimana nih?" , tanyanya panik.
"Kamu siapa ? Jangan pegang-pegang aku!! Aku enggak kenal kamu!!", protes ku walau dengan tenaga lemas berusaha menyingkirkan tangannya.
"Kita satu sekolah kejuruan jadi kita berteman" , serunya.
"Mata kamu rabun !! Aku anak kejuruan khususnya anak-anak cewek. Bisa baca bage tidak kamu!!" ,semburku kesal masih lemas tenagaku. si Bapak memberiku teh hangat. Si cowok itu garuk-garuk kepala. 'Kupikir kamu satu kejuruan satu sekolah sama aku,adik kelasku mungkin?" , sesalnya dengan memelas.
"Kau pikir aku barang kau masukin ke sana!! Apa ini jaketmu berapa lama kamu tidak mencucinya??" , kumaki sambil melempar jaketnya dan juga ku pukuli lengannya dengan sisa tenagaku.
"Maafkan aku. Aku takut kamu di jahati sama anak STM lawan tawuran tadi.." jelasnya memelas.
"Aku antar ya? Tapi jalan dulu ke simpang sana. Naik angkot DECH. aku bayarin. Mau ya?" , bujuknya. " Sebab motorku aku parkir di masjid Deket simpang. Kalau naik angkot nanti jalan terus ke rumahmu dari jalan raya, naik taksi kurang uang ku.." jelasnya.
"Aku tunggu sini aja boleh?" , negoku, jujur aku lemes juga malas balik ke titik awal tadi sewaktu dia ngajak lari tadi. Dia mengangguk sambil ninggalin uang chemban ke tanganku "buat bayar teh anget sama jajanan ". Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Dia numpang orang lewat dengan motor. Geleng-geleng aku..gimana tidak. Tuh anak seenak jidatnya.
Penampilan nya acak-acakan dengan kemeja putihnya yang tidak di kancingkan sedangkan celana abu-abu itu Kumal, sepatu juga sama. Siapapun ibunya apa tidak pernah mengomentari penampilannya gitu? batinku.
Tidak lama kurang setengah jam dia muncul dengan motornya yang kinclong warna-warni khas anak motor. Brisik banget knalpot racing itu. Aku matiin kuncinya" , Rumahku di jln Kartika di kompleks perumahan Akpol. Tahu kan?", tanyaku. Dia mengangguk. Lalu memasang helm di kepalaku. Aku naik kemudian dia menyalakan motor, melajulah ke jalanan dengan kecepatan sedang. Saat memasuki komplek perumahan dia berjalan pelan, aku nunjukin bangunan paling ujung. Dia mengangguk lagi.
Dia matiin motornya begitu sampai di depan. "Makasih untuk semuanya," kataku.
Dia hanya diam dan melihat sekeliling rumah. "Sepi" gumamnya.
"Semua kerja, aku di rumah sendirian. Kenapa ? Kamu mau berbuat jahat sama aku?", tuduh ku.
" Tidak. Mana berani disini banyak petugasnya, polisi. Hati-hati ya?" , jawabnya.
"Assalamualaikum , hati-hatilah di jalan" , kataku. Cowok itu hanya tersenyum dan mengangguk lalu berlalu.
Esoknya . Bell tanda usai pelajaran berbunyi. Anak-anak berhamburan, Dina Sharena dan aku berjalan menuju ke halte bus. "Kemaren kamu tidak ketangkap satpol PP kan?" ,cecar Dina aku hanya menggeleng. Aku tidak mau bercerita tentang anak aneh itu. "Udah bagaimana dengan tendanya?" , tanya ku aku sedikit kesal persewaan penuh dan belum dapat opsi mau pergi pinjam kemana lagi.
"Pasrah aja sama panitia gimana? " , usul Sharena.
Kami berpandangan. "Hai.." terdengar suara cowok menyapa lantangnya duduk di motor. Motor warna-warni itu lagi... aku mundur dan bermaksud membaur teman-teman yang bergerombol sialnya aku sudah ketahuan dia menarik lenganku ke sisi motor nya. "Kamu mau lari kemana?", tanyanya.
Aku hanya tersenyum", Kamu ngapain ke sekolah aku? Kita juga tidak ada urusan lagi kan?".
"Aku cuma mau minta maaf soal kemarin. Juga mau ngasih ini" disodorkannya 2 bayang coklat. Mataku mengerjap-ngerjap bingung. "Tidak di terima nih?". tanyanya. Aku menerimanya dengan tersenyum. " Makasih ya.." jawab ku.
" Berarti kita udah jadian dong.." lanjutnya
"Apa?", aku terkejut.
" Ya coklatnya kan dua, satu untuk minta maaf dan satu nya untuk nembak kamu. Please jadi pacarku", jelasnya dengan senyuman ala Pepsodent.
Nih anak baru' ketemu kemarin ngajak jadian? batinku.
"Sofi... Kamu kok tidak pernah cerita punya cowok anak STM.." berondong Dina dan Sharena. Aku bengong karena shock dengan kata-kata cowok itu.
"Aku Adi anak STM xx seneng kenal kamu", mereka berkenalan dan bercerita tertawa lebar. Lalu dia menoleh ke arahku. Dikenakannya helm hello Kitty pinky ke kepalaku," Ayoo...kita jalan dulu ya ..." pamitnya pada teman-teman ku. Motor melaju dengan kecepatan sedang sampai di kafe tidak jauh dari sekolah ku. Kami duduk, dia memesan makanan dan minuman. "Aku sudah lama pengen punya pacar tapi baru sekarang ketemu yang manis kayak kamu." jelasnya.
"Kamu terima aku kan? Aku janji tidak akan jahat sama kamu, juga jagain kamu ", dia memohon padaku.
" Baiklah kita coba ya..." jawabku lirih. Senyuman mengembang, baru ku tahu dia ganteng juga.
Sejak saat itulah kami resmi pacaran dan aku sudah punya teman yang jagain aku serta menemaniku jika aku sendirian di rumah, walau kita duduk-duduk di teras rumah sambil belajar.