Saat mata kami beradu, ku lihat tatapan kekaguman darinya untukku. Tapi, dia tak pernah membalas senyum yang selalu ku lempar manis ke arahnya.
Namun tak pernah ku lewatkan, lirikan matanya saat aku mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
Gadis cantik berparas oriental itu selalu menatap kagum kepadaku tanpa berbicara. Dia selalu bersikap dingin jika aku menggodanya, walaupun kami bekerja satu lantai.
Namanya, Menglie Aurelia biasa di panggil Lielie. Dia keturunan cina-jawa, berusia dua tahun lebih muda dariku. Namun, pemikirannya lebih dewasa dariku bahkan yang lainnya yang satu divisi dengan kami.
Suatu hari, Lielie di tugaskan pergi ke luar kota untuk presentase. Bos menjemputnya secara pribadi, tapi Lielie menolaknya dengan alasan ingin pergi sendiri ke daerah yang di tujukan perusahaan. Tapi si bos tetap keukeuh meminta untuk pergi bersama, karena tak mau mengambil resiko apapun jika Lielie sampai tak datang.
Akhirnya, Lielie menyerah dan menuruti perkataan bos untuk pergi bersama ke tempat tujuan tanpa protes lagi.
Melihat Lielie pergi begitu saja, hatiku terasa hampa. Mendadak aku cemas dan sangat khawatir kepadanya. Ditambah, seringai jahat si bos yang menggambarkan sebuah rencana besar.
"Apa si bos merencanakan sesuatu?" Batinku menerka lebih cepat dari biasanya.
Dengan beralasan sakit, aku izin tidak masuk ke kantor dan pergi menyusul mereka ke luar kota. Aku mencari tahu tempat presentase yang di maksud, sampai searching di website-nya.
Setelah mengetahui tempat yang di maksud, ku kebut motor matic-ku menuju Hotel Kartika Chandra. Hotel mewah di daerah luar kota, tempat pertemuan seluruh dewan direksi dari berbagai perusahaan.
Mataku menyapu ke berbagai penjuru tempat mewah ini, namun tak menemukan sosok yang sedang kucari. Sampai para satpam memandangku penuh selidik.
"Sedang apa bapak di sini?" Tanya kedua satpam penjaga luar.
"Aku ke sini mencari seseorang, ah tidak. Maksudku mencari tempat pertemuan perusahaan." Jawabku sedikit ragu.
Kedua satpam memicingkan mata curiga, memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah. Kemudian mereka menengadahkan tangan untuk meminta sesuatu. "Tanda izin masuknya mana?" Kata mereka bertanya.
Tentu saja itu membuatku bingung. Tanda izin masuk hanya di miliki bos dengan Lielie saja, sedangkan yang lain tak kan punya.
Aku cengengesan sambil menggaruk tengkuk tak gatal. "Tanda itu ya, hehehe. Aku lupa bawa!" Alasanku supaya di izinkan masuk.
Tapi ternyata, mereka tak mempercayai perkataan ku yang pasti tak masuk akal buat mereka. Dengan merentangkan tangan di depan, pertanda aku tidak di izinkan masuk begitu saja.
"Jika anda ingin masuk ke ruang pertemuan, tunjukan dulu identitas dan kartu keanggotaannya pada kami. Baru setelah itu, kami izinkan anda masuk." Jelas kedua satpam.
Pusing sekali memikirkan hal ini. Bagaimana bisa aku mendapatkan kartu keanggotaan dalam waktu sesingkat ini. Di tambah, aku bukanlah orang yang di tunjuk perusahaan untuk ikut dalam pertemuan.
Tak habis akal, tanganku merogoh ke dalam kantong jaket yang ternyata ada kartu tanda pengenal sebagai karyawan perusahaan. Ku tunjukan kartu itu sebagai bukti, berharap jika itu bisa membantu.
Mereka menerima dan meneliti dengan seksama. "Rangga Wijaya, tanggal lahir 27 juli 1987, karyawan PT NUSA UTARA, bagian marketing." Setelah membacanya, mereka kemudian menatapku kembali sambil berkata, "KTP." Aku pun segera mengeluarkan kartu identitas ku dan menyerahkan pada mereka yang langsung di samakan dengan kartu tadi.
"Maaf, tapi tetap harus ada kartu keanggotaan, pak." Jelas mereka kemudian setelah saling menatap satu sama lain.
Ah, sulit sekali masuk kedalam ruang pertemuan. Walaupun tujuanku bukan untuk mengikuti pertemuan, tapi ada yang lebih penting dari hal itu. Yaitu, keselamatan Lielie.
Melihat wajah memelasku, kedua satpam akhirnya memberiku saran. "Sebaiknya bapak menyewa kamar saja di hotel ini barang semalam. Setelah itu, anda bisa berkeliling dan pura-pura tersesat. Dengan begitu, anda bisa masuk kedalam ruang pertemuan." Bisik mereka di telingaku.
Aku tersenyum setuju dengan usul kedua satpam itu. Wajah mereka yang sangar, ternyata tersimpan hati yang baik dan pengertian.
"Terima kasih, pak!" Ucapku sopan dan di sambut ramah oleh keduanya. Setelah itu, aku bergegas menemui costumer service untuk memesan kamar di hotel ini.
Aku terkejut dengan harga sewa kamar di hotel ini. Hanya semalam saja, aku harus membayar uang sewa sebesar 3,5 juta rupiah. Harga yang cukup mahal bagiku yang hanya seorang karyawan pabrik sepatu, walaupun aku seorang staf di pabrik itu.
Tanganku terulur ragu untuk mengambil kunci kamar yang telah di sodorkan ke arahku, oleh wanita cantik di hadapanku yang tersenyum ramah. Dengan segera, aku melangkahkan kaki menuju kamar sesuai nomor yang tertera di kunci tersebut di dampingi seorang pelayan laki-laki.
"Silahkan, pak. Ini kamar anda!" Ujarnya seraya mempersilahkan ku masuk dengan mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.
"Terima kasih, mas." Ucapku balas tersenyum ke arahnya.
Aku langsung masuk dan menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang ternyata membuat mataku berbinar. "Pantas jika harganya sangat mahal, ternyata sesuai dengan fasilitasnya."
Aku menghempaskan tubuh di kasur empuk dan membenamkan kepalaku di bantal. Tak lama kemudian, aku tertidur dan melupakan tujuanku datang kemari. Setelah puas tidur, aku terbangun karena perutku yang keroncongan.
Saat bangun, aku baru sadar jika ini sudah malam hari dan pasti pertemuan itu pun telah berakhir. Setelah mandi, aku langsung memesan pelayanan kamar untuk membawa makanan. Tak lama kemudian, pelayan datang dengan mendorong troli berisi makanan di atasnya.
Setelah puas makan, aku pun turun untuk melihat-lihat pemandangan sekitaran. Persetan lah jika pertemuan itu telah usai, toh ini semua sudah terlewati. Tak mungkin kan aku mengulangi kejadian tadi. Lebih baik, aku menikmati semua yang telah ku bayar ini.
Saat melewati sebuah ruangan, mataku sedikit memicing karena melihat sosok yang sedang ku cari. Dia bersama si bos di ruangan tersebut dan beberapa orang yang ku yakini sebagai partner bisnis. Mereka terlihat sedang minum-minum untuk merayakan sebuah kemenangan, dan tertawa lepas bersama.
Sedangkan Lielie terlihat murung dan tak nyaman berada di sana, walaupun sesekali mengumbar senyumnya.
Semakin lama, kelakuan mereka semakin kurang ajar menurutku. Tangan nakal mereka menyentuh pipi Lielie dan memaksanya untuk ikut minum, walaupun gadis itu menolaknya.
Tanganku sudah terkepal ingin sekali meninju wajah mereka semua, tapi kedua penjaga di depan pintu pasti tak membiarkanku masuk.
Ku cari alasan agar bisa masuk ke sana. Saat seorang pelayan lewat, ku bisikan sebuah kata dan memberikan uang kepadanya sebagai balasan aku meminjam pakaiannya. Pelayan itu menuruti permintaanku dan kegirangan karena mendapatkan uang.
Setelah berpakaian seperti pelayan, kini giliran penjaga itu yang ku kelabui. Aku membawa nampan berisi dua botol anggur merah di atasnya, dengan alasan pesanan para bos. Mereka percaya dan mengizinkan masuk.
Saat di dalam, ku lihat Lielie sudah mabuk berat. Bicaranya melantur dan tingkahnya tak terkendali. Para pria brengsek itu kegirangan karena wanita cantik yang sedang mabuk akan mau di apa-apain saja oleh mereka. Tentu hal itu membuatku geram.
Ku masukan obat tidur yang di minta dari pelayan tadi, kedalam minuman para bos gila itu sambil memperhatikan Lielie. Selang beberapa waktu saja, mereka terkapar tak berdaya.
Ini kesempatanku untuk membawa Lielie keluar dari tempat terkutuk ini.
"Lielie, sadarlah. Ini aku, Rangga." Ku tepuk perlahan pipi Lielie dan ia pun merespon ucapan'ku.
Matanya yang sipit, terus menatap ke arahku sambil bergumam. "Rangga, pria pujaan ku!"
Aku terbelalak mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya. Aku semakin terbelalak kala dia dengan bringas mencium bibirku dan memperdalamnya, sambil membisikan kata mesra. "I love you so much!"
Wow ... aku tak percaya, ternyata gadis ini menyimpan perasaannya terhadapku. Bukan cuma aku yang mencintainya, ternyata dia juga mencintaiku.
Aku gelagapan saat dia terus menyerang'ku membuat jiwa keperkasaan'ku meronta. Ku bawa dia ke kamar yang ku sewa tadi, dan kami bercinta di sana semalaman.
Aku melupakan semua hal yang di larang karena bujuk rayuan setan. Kami menikmati malam bersama dengan penuh rasa cinta.
Namun saat ku terbangun di pagi hari, Lielie sudah tidak ada. Hanya sepucuk surat yang ku dapati, tergeletak di atas bantal.
"Maafkan aku, Rangga. Aku melakukan kesalahan yang besar karena telah melakukan ini sama kamu. Aku gak tahu setan apa yang merasuki ku semalam, tapi aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu. Minggu depan aku akan melangsungkan pernikahan, dan ikut pindah bersama suamiku. Jadi, ku harap kamu melupakanku dan kejadian malam tadi. Selamat tinggal, Rangga. Kamu akan tetap menjadi kekasih dalam hatiku, walaupun ragaku akan di miliki orang lain."
Itulah tulisan tangan dari Lielie untukku.
Benar saja, saat di kantor dia tidak ada. Semua temanku bilang bahwa dia sudah pergi ke kampung halamannya dan menikah dengan anak dari teman ayahnya.
Semenjak itu, aku tak pernah bertemu, bahkan mengetahui kabar apapun tentang Lielie.
Gadis cantik yang menjadi kekasihku dalam semalam. Akan ku ingat semua kenangan tentang kita, dan wajahmu selalu terukir indah dalam pikiranku. Walaupun kita sudah memiliki keluarga masing-masing, tapi aku selalu mengingatmu dan ku harap kamu juga mengingatku.
Menglie Aurelia. Kekasih dalam hatiku.
#Salam sejahtera, dari author manis tiada tara.
~Kucing Manis~