Kenalin, aku Kirana Putri Azalea. Aku orangnya emm .... ya, bisa di bilang sedikit ceroboh, usil, dan cerewet sih. Aku tumbuh tanpa mendapat kasih sayang dari orang tua. Mereka selalu hanya memikirkan pekerjaan mereka dan melupakan fakta bahwa mereka mempunyai seorang anak gadis.
Aku sering membuat masalah di sekolah karena aku berpikir jika aku membuat masalah, pasti papa sama Mama akan lebih perhatian padaku. Aku juga memiliki seorang sahabat, namanya Michelle Asyara Zevian. Asya bagaikan seorang kakak sekaligus ibu bagiku. Hanya dia yang paling mengerti diriku, selalu menyayangiku, dan mendukung ku disaat aku dalam keadaan terpuruk. Terkadang, saat aku bermain kerumahnya, orang tua nya selalu menyambut ku dengan hangat dan penuh kasih sayang. Mereka sudah menganggap ku seperti anak kandung mereka sendiri. Ya .... mereka sudah tau tentang kehidupan Kirana yang kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya dari Asya.
Mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa sebagai orang tua malah lebih menyayangi pekerjaan nya dibandingkan anaknya ? Mereka merasa geram akan hal itu, namun mereka tidak bisa berbuat banyak saat itu.
Sampai suatu ketika, perbuatan orang tua ku sudah melampaui batasan. Saat aku baru pulang sekolah, kulihat papa dan mama sedang duduk di ruang tamu. Dengan gembira aku menyapa dan memeluk mereka. Namun, apa tanggapan mereka ? Mereka malah menghempaskan tubuhku dengan kasar hingga kepalaku membentur meja. Pada dasarnya, aku yang berumur 11 tahun masih memiliki tubuh yang rapuh pun merasakan sakit yang luar biasa.
" BERANI-BERANINYA KAMU MEMELUK SAYA, DASAR ANAK PEMBAWA SIAL, BISANYA HANYA MENYUSAHKAN ORANG TUA SAJA. BISA TIDAK, KAMU TIDAK BERBUAT MASALAH SEHARI SAJA ? KAMU MAU MEMPERMALUKAN KELUARGA KITA YA. SAYA MENYESAL MEMILIKI ANAK SEPERTI KAMU. JIKA SAYA BISA MEMILIH, SAYA MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIKI ANAK SEPERTI KAMU YANG HANYA BISA MENYUSAHKAN ORANG SAJA !! " bentak mama sambil memukul dan menendang tubuhku dengan keras.
Begitulah kata mamaku, sedangkan papa ? papa juga melakukan hal yang sama seperti mama, memaki, memukul, mencambuk, dan menendang tubuhku.
Aku hanya bisa menangis dalam diam sambil menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhku. Tubuhku seolah olah mati rasa, tak dapat digerakkan. Perlahan pandangan ku mulai kabur dan menggelap. Saat aku bangun, ternyata mama dan papa sudah pergi, dan hari sudah gelap. Perlahan tapi pasti aku mencoba untuk bangkit, tapi .... setiap kali aku bangkit aku selalu terjatuh kembali kala rasa sakit yang teramat mulai menyerbuku dan beberapa kali batuk dengan darah keluar dari mulutku. Aku tak menyerah, aku terus bangkit dan beranjak ke kamarku.
Aku membersihkan seluruh badanku dengan air hangat, kemudian ku obati semua luka luka yang ada di tubuhku. Setelah selesai, kurebahkan tubuhku di atas kasur dengan perlahan, agar tidak terlalu merasa sakit. Perkataan orang tua ku terus terngiang-ngiang didalam kepalaku
" Apa benar yang dikatakan mama sama papa ? Apa benar aku anak pembawa sial ? hiks .... aku bukan anak pembawa sial ma, pa... hiks ... aku cuma pengen kasih sayang dan perhatian dari kalian ... hiks ... bukan menjadi anak yang tak dipedulikan dan tak di anggap ... hiks ... hiks ... aku ingin seperti teman-teman hiks ... kumpul bareng sama papa mama, aku pengen di peluk mama papa hiks ... bukan dimaki dan dipukul kayak gini. Sakit ma ... pa.... Badan Kira sakit, hati Kira juga sakit hiks ... padahal Kira sayang sama Mama papa, tapi kenapa kalian seolah olah benci sama Kira ? Seolah olah Kira emang enggak di inginkan mama sama papa hiks .... Kira capek, Kira udah nggak kuat buat nanggung semua nya hiks .... Kenapa kebahagiaan seolah olah menjauh dari Kira ? Sesulit itukah Kira ingin bahagia ? Apa salah Kira sampai Tuhan pun tak memberiku kebahagiaan sedikit saja ? " Begitu keluhku sambil memukul mukul pelan dadaku lantaran merasa sesak sampai akhir nya aku tertidur.
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Asya. Kenapa aku tak pergi ke sekolah ? ya ... karena hari ini adalah hari Minggu, simpel kan. Aku pergi dengan pakaian pajang dan tertutup, agar orang lain tak dapat melihat lukaku. Kuturuni setiap tangga dengan perlahan, setelah sampai di lantai bawah, aku bertemu dengan bi Sumi. Bi Sumi adalah tempat sandahanku saat di rumah. Kebetulan, bi Sumi baru Pulang dari mudik lantaran ibunya sedang sakit di kampung.
" Non Kira, mau kemana ? kok rapi banget ? sarapan dulu non, bibi dah masakin makanan kesukaan non Kira, Tahu Crispy Mozarella." tawar Bu Sumi
" Waaahh .... beneran bi ? ya udah, kita mau bi, tapi ada saos sama mayonaise nya kan ? " tanyaku antusias
" Ada non, itu udah bibi siapin di meja, silakan dimakan non, bibi temenin. " ucap bi Sumi lembut. Ya, bi Sumi sudah menganggap Kirana seperti anaknya sendiri.
" Oke, bi, makasih " ucapku dan langsung berlari menuju meja makan tanpa memikirkan rasa sakit yang menjalar di tubuhku agar bisa Sumi tidak curiga.
Bi Sumi pun menemani Kira makan. Tanpa sengaja, Lengan Kira terangkat sehingga membuat luka luka memarnya terlihat oleh bi Sumi. Bi Sumi yang tau itu lantas terkejut, dan menatap Kira dengan sendu, ia ingin bertanya kepada Kira tapi tak jadi karena ia tau kalau Kira tak ingin dirinya tau. Sedangkan Kira, ia tak memperhatikan akan hal itu dan masih sibuk dengan makanannya.
'Maafkan bibi non, bibi tidak bisa berbuat banyak untuk non kira, semoga ada seseorang yang akan membebaskan non Kira dari siksaan nyonya dan tuan dan memberikan sedikit kebahagiaan untuk non kira' batin bi Sumi sedih.
Setelah selesai, Aku pamit dengan bi Sumi untuk pergi ke rumah Asya. Aku berangkat menggunakan taksi online. Perjalanan ke rumah Asya membutuhkan waktu 35 menit lamanya. Setelah sampai, betapa terkejutnya Asya dan kedua orang tuanya melihat Kira yang datang dengan luka memar memar yang tertutup oleh pakaiannya. Kedua orang tua Asya pun meminta penjelasan kepada Kira.
Dengan ragu, aku pun menjelaskan apa yang menjadi penyebab luka luka yang ada di sekujur tubuhku. Kalian tau apa reaksi orang tua Asya ? Mereka sangat murka, lantas mereka segera mengambil tindakan untuk melaporkan papa dan mama ke kantor polisi dengan bi Sumi sebagai saksinya. Aku berusaha mencegah mereka, tetapi mereka tetep kekeuh dengan keputusan mereka. Aku hanya bisa pasrah, karena bagaimanapun aku membujuk orang tua Asya, mereka tetap tak akan mengubah keputusan mereka.
3 Hari berlalu, selama itu Aku tinggal di rumah Asya. Aku agak sedikit tenang saat berada di tengah tengah keluarga Asya yang sudah menganggap ku seperti bagian dari keluarga mereka. Siang hari itu, Aku ikut orang tua Asya ke pengadilan untuk memberikan keterangan tentang kasusku, dan pengadilan memutuskan akan memberikan hukuman penjara 20 tahun kepada papa dan mama serta diangkatnya aku menjadi anak dari keluarga Asya.
Aku agak sedikit sedih karena akan berpisah dengan papa mama, tetapi mengingat perlakukan mereka terhadap ku membuatku menghilangkan rasa sedih itu. Aku juga senang sekaligus terharu, akhirnya aku memiliki keluarga yang sayang dan perhatian denganku. Sejak saat itu, kehidupan ku mulai berubah, tuhan telah mendengar harapanku dan sekarang kebahagiaan telah datang kepadaku. Asya , ayah dan bunda selalu menyayangiku dan memberikan perhatian mereka kepadaku. Bagaimana dengan bi Sumi ? Bi Sumi telah di rekrut menjadi pelayan dirumah Asya atas permintaan ku. Ia juga senang melihatku telah bahagia dengan keluarga baruku.
~ Selesai dan Terima Kasih ~