Pada titik pertemuan antara aku dan ketidak pahamanku akan kamu, melahirkan sebuah pertanyaan di benakku. Mengapa aku harus tenggelam dalam pesonamu?
Sejatinya aku hanya pria yang suka kesenangan. Bukan pria yang teratur. Untuk urusan cintapun aku menolak berhubungan pada status yang serius. Itu hanya membuatku jadi terdikte oleh orang lain. Menjadi bebas adalah pilihanku. Namun sial, aku merusak semua kesenanganku hanya karena satu perempuan.
"Ooo—ya ampun. Bahkan saat aku terbaring di jalanan saja aku masih memikirkan nya". Keluhku sambil menahan sakit.
"Aku minum terlalu banyak. Sial. Berapa lama aku ada dibawah sini?".
Dengan jaket yang kotor juga mata yang sedikit kunang-kunang, aku mencoba berdiri kembali. Rasanya pening.
"Seperti fatamorga, aku melihat seseorang dari jauh".
Tiba-tiba saja ketika mendekat, ada tubuh yang menopang badanku yang hampir tersungkur kembali ke tanah.
"Kalo gak kuat rebahin dulu aja". Ucapnya yang masih memegang erat pundakku.
"Ah, hellooo... Seperti suara yang gak asing ditelinga". Balasku dengan sedikit senyum dan membalikan wajahku ke arahnya.
"Lain kali jangan pulang sendirian".
"Gak usah khawatir. Aku pernah melewati hal yang lebih buruk dari ini, jadi tolong lepasin".
Brraaakkkk.. badanku jatuh seketika ke tanah.
"Ternyata beneran dilepasin". Ucapku lemas.
"Kamu yang minta kan?".
"Jadi sekarang gimana hah?".
"Aku panggilin ojek buat kamu. Biar di anter sampai ke rumah".
"Aku berharap kamu yang mengantarku ke rumah". Celotehku dalam hati.
Tidd.. tidd.. suara klakson motor yang terdengar bising di telingaku.
"Anter dia sampe ke rumah nya ya pak. Alamatnya sudah saya tulis dikertas jadi—gak perlu repot-repot ngobrol buat nanyain alamat sama orang yang lagi teler".
"Oke mbak. Saya anter sampai rumah pokonya". Dengan menyiapkan helm untukku dan siap berangkat dengan motor bututnya.
"Pelan-pelan ya pak. Takutnya dia muntah-muntah dan ngerepotin bapak".
Dengan gesit motornya segera dipacu. Haahhh.. udara segar memang yang aku butuhkan saat ini. Terkadang, aku berpikir untuk menyerah pada keinginanku saja. Sastra-sastra apalah itu yang selalu dia baca, mungkin aku juga mulai sedikit menyukainya. Mungkin pula tidak buruk menjadi sedikit teratur.
"Yang tadi pacarnya ya mas?".
"Bukan pak".
"Bukan atau belum?".
"Astaga, bapak jadi kepo".
"Hehe.. maaf mas cuma nanya".
"Dia gak mungkin jadi pacar saya pak".
"Loh, memangnya kenapa? Kalian kan sama-sama cakep toh".
"Bukan begitu pak. Aku ngerasa gak cocok aja. Masa perempuan sebaik dia harus punya laki-laki berantakan kaya aku gini".
"Semua orang pasti punya alasan buat berubah mas. Mungkin mbak cantik itu bisa jadi alasan buat mas berubah".
"Bisa jadi, kalau dia lebih mendominasi dirinya di hidup aku".
"Yowes. Kalau memang suka mending bilang aja daripada nanti nyesel".
"Si bapak bisa aja".
"Sudah sampai mas. Benerkan ini rumahnya?".
"Iya bener yang ini. Berapa ongkosnya pak?".
"Maaf mas, sudah dibayar sama mbak cantik yang tadi".
"Oke kalau begitu".
Dengan berjalan sempoyongan akirnya aku bisa menenangkan pikiranku sejenak dirumah. Kuraih kunci pintu yang kusimpan di bawah karpet.
"Hoaammm". Menguap.
"Disaat yang tepat dia memang selalu muncul seperti matahari yang enggan meninggalkan bumi untuk menjaga keseimbangannya. Tapi aku—tunggu, dia memang selalu ada disaat-saat daruratnya diriku. Apa itu artinya bahwa diapun peduli terhadapku? Ah, aku rasa tidak begitu". Kupejamkan saja mataku dan membiarkan diriku tenang beristirahat.
Barisan kata dalam setiap makna. Tetap kamu yang ingin aku cari di setiap arti. Seperti pelangi yang hanya menampilkan keindahan nya sementara, kaupun mungkin sama, hanya indah di mataku untuk sementara.
"Kringg.. kringg". Dering teleponku berbunyi.
"Astaga.. Mengganggu waktu istirahatku saja". Ucapku kesal.
"Nanti sore bisa anter aku buat nganterin kue ke temenku?".
"Wow tanpa basa-basi kamu langsung minta anter".
"Yasudah kalo kamu gak mau".
"Aku belum jawab ya atau enggak".
"Jadi iya atau enggak?".
"Aku mau, tapi sebagai gantinya aku mau ngajak kamu nongkrong di cafe favorit aku".
"Oke aku ikut".
"Baiklah".
Kesempatan baik untukku lebih dekat dengan nya. Si kutu buku yang membuatku rapuh. Menyebalkan memang. dari banyak nya perempuan yang kutemui, ternyata dia yang membuatku jatuh hati.
Sebelum sore datang, sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Dateline tugas yang menumpuk membuatku mual. Apa perkulian memang sesibuk ini? Tidak seperti biasanya. Lebih baik kupersiapkan saja motorku. Dari minggu kemarin motorku kurang bersahabat. Aku tidak mau mengacaukan hari ini.
Sampai tiba sore hari
"Sudah siap berangkat?".
"Ayok".
"Oh, ya. Ngomong-ngomong itu temen kamu yang mau berangkat ke london?".
"Iya. Lusa dia pergi".
"Kamu gak mau nyusul?".
"Aku gak dapat beasiswa buat kesana. Lagi pula mungkin belum waktunya. Aku lebih fokus disini dulu".
"Memang nya apa yang mau kamu capai?".
"Mmmm.. jadi penulis terkenal".
"Kamu memang seneng banget nulis ya?".
"Yap, menulis itu menyenangkan".
"Eh, sudah sampai nih".
"Permisi... Riri aku diluar nih".
"Sebentar, aku turun sekarang".
Dengan rambut berantakan dia membuka pintu dan langsung memeluknya.
"Ini". Menyodorkan kue.
"Sebelum kamu ke london, aku buatin kue ini buat kamu".
"Aaaaa.. makasihhh. Eh, ngomong-ngomong jadi dia yang sekarang pacar kamu? Cieee..".
"Apasih ri.. dia bukan pacar. Cuma nganter doang".
"Beneran bukan? Cakep loh padahal".
"Kalau soal perasaan itu kadang kala gak mandang fisik ri. Di mata aku dia biasa aja. Aku lebih suka jatuh cinta karena karakter".
"Ya ampun.. bercanda kali".
"Jadi setelah lusa kita gak bakal ketemu lagi nih?".
"Kayanya begitu. Sedih banget gak sih?".
"Yaa, mau bagaimana lagi. Kamu juga harus kejar cita-cita kamu".
"Sekali lagi makasih ya buat kuenya. Habis dari sini kamu langsung pulang atau kemana dulu gitu?".
"Mmmm.. dia ngajakin nongkrong sih di cafe favorit nya dia".
"Cieee... Selamat bersenang-senang".
"Apaan sih.. tanpa dia juga aku bisa have fun. Yasudah kalo begitu, aku pergi dulu ya".
"Okey. Hati-hati di jalan". Dengan melambaikan tangan nya pada kami.
"Kita jadi nongkrong?".
"Ya jadi dong".
"Tumben ngajakin. Biasanya kamu lebih suka habisin waktu bareng temen-temen kamu itu".
"Aku gak melulu sama mereka kali ah".
"Ya, kamu kan lebih suka sama orang-orang yang lebih seru. Kalau aku cuma kutu buku yang membosankan".
"Aku juga gak ngerti, kenapa sekarang aku lebih suka habisin waktu bareng kamu".
"Maksudnya?".
"Ah, enggak. Lupain aja".
Setibanya di cafe. Kami mulai bercerita, saling terbuka. Aneh memang. Sebelum nya aku tidak pernah merasa se-bebas ini untuk bisa terbuka pada orang lain. Apa ini karena akibat dari aku yang mulai menaruh kepercayaan. Ah, ya ampun. Sudah terlalu jauh aku jatuh hati padanya.
"Menurut kamu aneh gak kalau aku suka sama kamu?". Ucapku dengan sedikit keberanian.
"Haaahhhhh?". Sendok makan nya seketika terhenti sebelum masuk ke mulutnya.
"Aneh kan? Pasti".
"Enggak maksudku, kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu?".
"Gak kenapa-kenapa. cuma sedikit jujur aja".
"Aku bingung harus bilang apa".
"Aku juga bingung sejujurnya. Kehidupan kita memang bertolak belakang tapi juga aku harus mengakui bahwa aku menjadi rapuh dihadapan kamu. Karakterku yang keras, yang memilih kesenangan diatas segalanya, yang tidak teratur, tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti di satu perempuan. Dan itu kamu".
"Aku gak tahu apa saja yang kamu alami saat ini dan jujur juga aku memang peduli sama kamu. Kalaupun aku harus menerima, aku mau sebuah penerimaan yang layak. Aku butuh waktu juga kepercayaan".
"Aku gak memaksa kamu mau terima aku atau enggak yang penting aku sudah bilang semuanya ke kamu. Terlebih, aku merasa kurang baik buat orang seperti kamu".
"Baik buruk nya seseorang tergantung kita yang menilai. Aku tahu kehidupan kamu seperti apa, tapi mungkin aku juga bisa jadi alasan buat kamu berubah".
"Ya, mungkin".
"Seperti kamu yang coba membuka ruang atas diri aku, tolong berikan juga aku ruang agar aku bisa melihat diri kamu lebih dalam".
"Aku selalu terbuka buat kamu bahkan sampai saat ini".
Dia tersenyum manja. Pipi nya yang merona menandakan bahwa diapun sebenarnya ikut bahagia. Mungkin juga perasaanku bisa terbalas.
Kala perjalananku menemui akhir, aku memilih kamu untuk berjalan kembali dengan berdampingan. Kala bahagia yang kucari selama ini, aku memilih kamu sebagai kebahagiaanku. Kala aku harus berubah untuk menjadi lebih baik, aku memilih kamu untuk memantaskan diri. Semua tentang kamu.
Malam tadi memang menyenangkan. Rasa nya lega sekali bisa berkata jujur padanya. Pesonanya memang mempengaruhiku. Dia perempuan paling baik yang pernah kukenal. Aku harus lebih sering membuat momen dengan nya untuk mempermudah dia mengenali diriku lebih dalam dan untuk meyakinkan dia jika aku benar-benar menaruh harapan padanya. Sampai kami benar-benar bisa menjadi satu, apapun pasti kulakukan untuk itu.