Seseorang sering kali mengartikan kehidupan itu adalah makhluk hidup yang bernyawa, namun itu hanya lah kata lain dari kehidupan, mereka terkadang keliru dari arti dari kehidupan, bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, menikmati harta sendiri, mementingkan hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri, itu bukanlah kehidupan sesungguhnya melainkan sifat serakah iblis.
Ketika kita sudah di ajarkan arti dari kehidupan, maka tidak ada hal sangat berharga bagi mereka. harta, tahta semuanya tidak ada apa-apanya, hanya ingat kepada kedua orang tua yang sangat berjasa pada hidupnya.
Hal yang sangat menyakitkan, menyengat, menusuk, menyayat hati seseorang adalah kehilangan orang yang sangat berharga baginya, laki-laki diberikan anugerah untuk menjadi manusia yang kuat, tidak seperti kaum perempuan.
Kehilangan bagi seseorang laki-laki yang terlihat kuat, pasti tidak akan bisa menahan air matanya keluar. Rasa penyesalan, rasa kegagalan, rasa putus asa, rasa kehilangan, kehancuran dirasakan oleh pria yang bernama Reinan
Ia baru saja mendapatkan berita bahagia, dimana dirinya sudah meraih cita-citanya menjadi abdi negara, namun saat ia ingin menceritakan semua hal tersebut, kabar yang tidak pernah ia sangka-sangka muncul begitu saja.
Dirinya merasa sangat gagal, belum bisa membahagiakan orang tuanya, belum bisa menepati semua janji yang ia janjikan kepada kedua orangtuanya, namun semuanya sudah pergi begitu saja, sang maha kuasa memanggil nya duluan.
Ia berdiri dengan baju loreng-loreng menatap kedua orang tuanya yang ada di balik kain kafan, air matanya tidak bisa ia tahan lagi, kesedihan yang mendalam baru ia rasakan, melihat orang yang sangat ia sayangi sudah pergi meninggalkannya duluan.
Perlahan dia duduk berharap orang yang ada di balik kain putih tersebut bukan kedua orangtuanya, namun takdir tidak bisa dirubah, dan kenyataan tetaplah kenyataan, Reinan membuka kain tersebut dan melihat wajah ibu nya yang selalu memberikannya kekuatan untuk bangkit dari kegagalan, selalu memberikan dia ketenangan saat dirinya takut akan dunia ini, dimana manusia saling merendahkan, memandang rendah dirinya.
Reinan memeluk ibunya dengan air mata yang sudah menetes deras, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menahan air matanya, ia mengingat saat ibunya menasehati nya, "jika ibu dan ayah pergi, jangan meneteskan air mata mu terlalu banyak, ibu atau ayah tidak bakal tenang di alam sana."
"Ibuuu..! ucap Reinan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dirinya sungguh di ambang kepedihan yang sangat mendalam, kehilangan orang yang ia sayangi secara bersamaan.
Reinan kembali menatap jenazah yang ada di samping ibu nya, ia melangkah dengan pelan, air matanya terus menetes di kedua pipinya, dia terlihat sangat lemah untuk saat ini, dia seperti merasa dirinya sudah tidak berguna untuk hidup, tidak ada lagi yang akan ia bahagiakan, sedari dulu dia selalu bercerita kepada kedua orangtuanya, jika kelak dirinya sudah masuk tentara, dia akan membahagiakan kedua orangtuanya, membawa mereka menyebrangi lautan, Reinan duduk dengan lemas, membuka kain kafan tersebut, melihat wajah ayahnya, membuat dirinya sangat sesak, baru kemarin dia melakukan panggilan Vidio, melihat senyuman ayahnya, memberikannya semangat untuk tes kelulusan, mengingatkan dirinya untuk melaksanakan kewajibannya untuk tetap beribadah, seandainya waktu bisa ia putar lagi, dia ingin sekali menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya sebelum meninggalkannya untuk selamanya.
"Ayahh..!, Reinan sudah meraih cita-cita sekarang, tapi kenapa Ayah sama ibu pergi meninggalkan ku sendiri, banyak janji yang belum Reinan kabulkan, Reinan belum sempat membahagiakan kalian, belum sempat membalas semua yang telah kalian berikan hiks........!" ucap lirih Reinan disela tangisannya.
Seusai pemakaman orang tuanya, dia hanya duduk di sela makam ibu dan ayahnya, duduk menatap kedua makam tersebut, ia memeluk batu nisan ibu nya, hanya sisa dirinya saja yang ada disana, seperti anak kecil yang menunggu kedua orangtuanya disana.
Waktu cepat berlalu hingga matahari hampir tenggelam, ia berjalan dengan wajah penuh kesedihan, tidak ada senyuman yang terukir di wajahnya sama sekali, dirinya sudah tidak ada arah untuk pulang, dia seakan tidak ingin kembali ke rumah penuh kenangannya bersama kedua orangtuanya.
Reinan duduk di taman, langit sudah gelap, hanya ada lampu taman yang menyinari tempat tersebut, sunyi terasa, hanya ada hembusan angin yang dirasakan, matanya yang sudah lelah menangis membuatnya tanpa sadar tertidur di kursi panjang taman.
Angin terasa sangat menembus kulitnya, ia membuka matanya dan melihat seperti ada malaikat yang ada didepannya, dengan wajah yang sudah pasrah akan kehidupan nyata, ia duduk menatap yang di anggapnya malaikat.
"Bawalah aku," ucap lirih Reinan berdiri dan penglihatannya kabur seketika, hingga tak sadarkan diri.
Reinan membuka matanya dan melihat sekeliling dipenuhi oleh benda yang mewah, membuat nya tersenyum tipis.
"Aku tidak menyangka akan masuk surga," ucap Reinan menghapus air matanya.
"Kamu sudah sadar,?" ucap seseorang membuat Reinan sangat kaget dan menatap arah dimana suara itu berasal.
"Apa aku belum mati,?" tanya Reinan saat melihat wanita yang ada didepannya.
"Apa maksudmu,?" tanya wanita tersebut.
Reinan berdiri ingin melangkah pergi tapi ditahan wanita tersebut."Kamu mau kemana,?" tanya wanita tersebut.
"Terimakasih telah menolong ku," ucap Reinan dingin dan melanjutkan langkahnya, dia berjalan terus menelusuri setiap lorong di rumah besar tersebut, dia tidak peduli orang yang menatapnya.
"Hei tunggu...!" ucap wanita tersebut sedikit berteriak tapi dihiraukan begitu saja.
Reinan keluar dari rumah mewah tersebut, tanpa ia sadari dia sampai di tepi pantai, dia hanya terus berjalan tidak tau arah, hingga dia sampai di tepi pantai tersebut, ia duduk menatap lautan luas tersebut, air matanya kembali menetes, mengingat salah satu janjinya yang selalu ia katakan kepada kedua orangtuanya jika kelak dia sukses, dia akan membawa mereka menyebrangi lautan, menghabiskan waktu bersama.
"Hai, apa kamu tidak lapar,?" tanya wanita yang menolongnya tapi tidak di sauti oleh Reinan.
"Namaku Indah," ucap perempuan itu lagi.
"Kenapa kamu mengikuti ku,?" tanya Reinan dingin tanpa menoleh ke arahnya.
"Aku hanya sedikit khawatir dengan keadaan mu," ucap wanita tersebut.
"Biarkan aku sendiri, apa kamu tidak takut denganku,?" tanya Reinan dingin.
"Memangnya kamu mau ngapain orang yang habis menyelamatkan nyawamu,?" tanya wanita tersebut.
Reinan diam, menghiraukan wanita yang terus mengajaknya bercerita.
"Aku sudah kehilangan kedua orangtuaku, dan aku tinggal bersama kakak ku, tapi kakak ku sangat sibuk dengan dunianya sendiri, mengejar harta hingga melupakan adiknya yang masih butuh perhatian," ucap wanita tersebut membuat Reinan menatapnya.
"Aku baru saja kehilangan kedua orangtuaku, aku tidak punya tujuan hidup lagi," ucap Reinan entah mengapa ingin bercerita dengan wanita tersebut.
"Jangan menyerah dengan kehidupan, semua pasti akan banyak cobaan, tapi yakinlah tuhan akan memberikan yang terbaik nantinya, aku sering merasa gagal, merasa paling bawah dari pada kakak ku, tapi doa yang melantun indah seperti bisikan ditengah malam, menuntunku menemukan jati diriku, tidak peduli dengan perkataan orang lain hanya fokus melangkah ke jalan yang lurus." ucap Indah.
"Teruslah jalan ke arah yang lurus, sampai kakak sampai ke gerbang dimana kehidupan nyata berada, jangan putus asa dengan kehidupan kakak sekarang, pasti kedua orang tua kakak bakal sedih melihat kakak yang seperti ini,"ucap lagi wanita tersebut.
"Kamu wanita yang baik, aku senang bisa mendengar nasihat darimu, sekali lagi terimakasih telah menolong ku," ucap Reinan.
"Namaku Reinan," ucap Reinan mulai tersenyum tipis ke arah wanita tersebut.
"Kakak ganteng kalau senyum," ucap wanita tersebut.
Reinan berdiri membuat wanita tersebut ikut berdiri, Reinan menatapnya bingung.
"Aku ikut, aku telah menolong mu, aku tidak ingin di penjara di rumah," ucap Indah membuat Reinan menggelengkan kepalanya.
"Kita baru saja kenalan, kamu tidak bisa langsung percaya dengan orang lain, kamu sudah menemukan jati dirimu bukan?, ucap Reinan sedikit kaget.
"Aku akan pergi jauh dari sini, entah kapan bisa datang lagi, kamu tidak bisa mengikuti ku, aku akan datang untuk membalas hutang Budi padamu," ucap Reinan.
"Aku menunggu mu membalasnya, aku hanya menerima balasannya Kakak menikahi ku," ucap perempuan tersebut membuat Reinan membulatkan matanya.
"Kamu memang sangat suka becanda, semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Reinan mengelus rambut wanita tersebut.
"Sebenarnya kamu mau kemana, dan aku sama sekali tidak bercanda, aku tidak ingin di jodohkan oleh rekan bisnis kakak ku," ucap wanita tersebut.
"Aku adalah abdi negara, dan...," ucapannya terpotong oleh Indah.
"Berjanjilah jika kamu akan datang menikahi ku," ucap wanita tersebut membuat Reinan hanya menganggukkan kepalanya entah kenapa.
Di pantai tersebut mereka kembali berpisah, Reinan sudah pergi untuk memulai hidup baru ya sendiri, menjadi abdi negara, meraih cita-cita nya selama ini.
TERIMAKASIH