Ketika aku sedang bersujud, kau disana sedang berlutut .. aku dengan tasbihku dan kau dengan salib mu .. kita berbeda namun itu yang menyatukan kita,, dan disinilah kisah kita.
***
Ananta pov,
Ketika gue sedang menikmati senja berteman semilir angin, disana terdengar riuh ramai sorakan untuk para pemain basket.
"Aduhh !! brisik banget sih tu cewek-cewek.." sewot gue.
Gue pun berjalan mendatangi arah dari keramaian itu. Tepat didepan saat ini adalah lapangan basket dengan beberapa cewek-cewek centil ber-rok mini sedang jingkrak-jingkrak kesurupan (menurut gue).
Karena penasaran akhirnya gue pun masuk aja kedalam lapangan itu, dan kebetulan atau emang udah takdir .. bola basket tiba-tiba saja melayang ngampirin gue.
"Awassss!!" teriakan seorang laki-laki.
Namun karena gue memang bisa bermain dengan bola basket, dengan sekali lompat menangkap bolanya. Entah kebetulan atau emang gue yang jago, bola itu langsung masuk ring saat balik gue lempar.
"Wawwww .. " seru mereka dengan tepuk tangan.
"Gue kira bakal kayak didrama-drama .. " ucap laki-laki yang tiba-tiba menghampiri gue.
"Maksudnya?" balas gue cuek.
"Yakan biasanya kalo didrama ceweknya bakal pingsan kalo kena bola, bukan ditangkep terua dilempar balik.. " ucapnya dengan sedikit tawa.
Pandangan gue terpaku dengan senyum laki-laki yang entah siapa ini. Jantung ,, berdegub tak semestinya.
"Heyy .. heyy .. " melambai tangannya tepat diwajahku.
"Apaan sih .. " gue tangkis tangannya yang masih didepan wajah gue dengan juteknya.
"Gue Arven .. nama loe siapa ??" mengulurkan tangannya.
Namun dengan tanpa minat gue pergi begitu aja meninggalkannya yang terus saja berteriak memanggil manggil gue.
Arven pov,
Gue lihat seorang cewek masuk kedalam lapangan tepat saat bola melayang kearahnya.
"Awass !!" teriak gue.
Kagetnya, cewek itu nangkep tuh bola dan dilemparnya masuk kedalam ring basket gue. Sejenak gue terpukau dengan gadis didepan gue saat ini, dan terdengarlah riuh sorakan membuyarkan lamunan.
Gue mencoba mendekatinya dan mengajaknya berkenalan, tak seperti gadis lainnya yang akan terpesona dengan ketampanan gue .. dia justru pergi begitu saja mengacuhkanku.
"Gue pastiin bakal tau nama loe ,, " senyum gue sebelum kembali bermain.
Hampir 2 jam gue bermain, kemudian mengakhiri saat langit berubah gelap.
"Bro .. kenal gadis yang tadi nggak ??" tanya gue pada yang lainnya sambil duduk selonjoran.
"Yang mana ?? yang pakai rok mini tadi nyorakin kita ??"
"Bukanlah,, yang tadi masukin bola ke ring.. "
"Kenapa ?? naksir loe Ven ??" sahut yang lainnya mentertawakan gue.
"Kayaknya .. " sahut gue dengan tersipu.
Terdengar suara tawa dari mereka yang membuat gue makin tersipu dengan wajah yang memerah.
"Hhhahaha .., setau gue tu cewek emang sering duduk dibangku tuh depan lapangan .."
"Loe tau namanya ??"
"Ya enggaklah .. jutek banget tu cewek ,, mana gue berani deketin.. "
"Syukurlah kalo gitu.. "
"Kenapa ??" terlihat mereka heran dengan jawaban gue.
"Kalo nggak jutek gitu, pasti kalian semua udah pada ngejar-ngejak dia .. " sahut gue dengan menunjuk setiap wajah teman-teman gue.
***
Author pov,
Malam kian larut ketika Ananta tengah selesia menjalankan sholat malamnya. Diranjang duduk sambil bersandar, ia teringat dengan kejadian sore tadi dilapangan.
"Ngapain mikirin dia sih .. " gerutunya menutup wajah dengan guling.
Terus teringat dengan Arven sore tadi membuat Ananta sulit memejamkan matanya. Rasanya baru saja ia memejamkan mata saat sang bunda membangunkannya.
"Bangun ,, subuhan dulu terus mandi.."
"Bentar lagi ya bun,,masih ngantuk.. "
"Kak ,,kok males-malesan sih ?? ayo buruan.." menarik tangan Ananta , memaksanya untuk membuka mata.
"Iya .. iya bunda aku bangun ,, " malasku beranjak menuju kamar mandi.
Hampir sejam dengan rutinitas , Ananta keluar dari kamar dengan baju santainya. Bunda yang melihat segera menegur putri sematawayangnya itu.
"Nggak kuliah ?? "
"Kuliah kok bun.. " sabutku sambil duduk memakan bakwan.
"Kok kakak masih pakai baju santai .?" duduk membelai kepala anaknya.
"Kuliahnya agak siangan bun,, "
"Yaudah kalo gitu bunda mau nemenin ayah dulu dibelakang.. "
Ananta memang bukan berasal dari keluarga kaya, namun mereka cukup berada dan dipandang oleh warga disekitar rumahnya. Selain karena baik , mereka juga rajin beribadah berasam para warga.
***
Selesai kuliah Ananta memilih berdiam diri dikantin bersama teman-temannya.
"Hai .. ketemu lagi kita .. " seru Arven yang tiba-tiba datang dan duduk didepan Ananta.
Sekeliling Ananta menjadi riuh saat Arven datang, karena Arven adalah mahasiswa paling tampin dikampusnya.
"Siapa ya ??"
"Loe lupa sama gue !!" terlihat raut kaget dari Arven.
"Loe gila Ta !! loe nggak kenal sama Arven ??" bisik heboh mereka.
Ananta hanya menggelengkan kepalanya, dan dapat dilihat wajah mereka semua terlihat terkejut.
"Kenapa sih ??" herannya.
Bukk ..
Salah seorang teman memukul bahu Ananta hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Sedang Arven yang melihat Ananta kesakita tiba-tiba saja berdiri menghampirinya.
"Jangan dipukul dong .. " terlihat Arven dengan nada kesal merangkul bahu Ananta.
"Loe siapa main rangkul-rangkul gue !!" Ananta menyingkirkan tangan Arven dengan sekali hentak membuat Arven diam kebingungan.
Bertambah bingung saat dilihatnya Ananta berdiri meninggalkan kantin. Kemudian dengan segera dikejarnya Ananta.
"Hai kita belom kenala loh ??" bertanya sembari berjalan beriringan.
"Nama loe siapa ?? gue Arven.. " lanjutnya.
"Ananta ,, udah ya loe nggak lihat semua mata liatin kesini.. " ucapnya menghentikan langkah.
"Gue nggak perduli ,, yang gue perduli cuma gimana cara biar gue bisa deket sama loe .. "
"Nggak mempan sama gue ,, !!"
Berjalan meninggalkan Arven yang sedang tersenyum penuh arti diwajah tampannya.
Hari demi hari Arven terus berusaha mendekati Ananta yang begitu cuek,hingga suatu ketika Ananta mengalami kecelakaan didekat perumahan tempat tinggal Arven.
Disanalah dimulainya Ananta yang menerima kehadiran Arven dihatinya.
Hampir satu bulan menjalani hubungan, Ananta baru mengetahui mengenai keyakinan kekasihnya itu. Namun hal itu tak menjadikan hubungan mereka renggang.
Terlihat saat dengan setia mereka saling menemani ketika beribadah masing-masing.
***
Sore hari keduanya tengah berkendara dijalan menuju pusat perbelanjaan. Ditengah jalan telihat Arven terus menggenggam tangan Ananta sambil mengemudi.
"Ta ,, "
"Hmm .. " cuek Ananta.
"Aku tau kita berbeda bahkan dengan pribadi kita .. tapi kamu harus tau,hati aku tak pernah akan berbeda sampai kapanpun .. " mengecup punggung tangan Ananta.
"Kita jalani dulu apa yang ada Ven, .. " balasnya terlihat sendu.
Arven merasa bersalah setelah melihat wajah sendu kekasihnya itu. Dengan cepat iapun mengubah topik pembicaraan mereka.
Sesampainya dipusat perbelanjaan mereka masuk dipusat buku, disana mereka fokus pada bacaan masing-masing.
"Kak ??" .. panggil seseorang.
"Bundaa .. " seru Ananta terkejut.
"Sama siapa kak ??"
"Sama ini bun .. " menarik lengan Arven mendekatinya.
"Sore tante .. " sopannya menyalami tangan bunda Ananta.
"Sore . . " balas bunda.
"Kak , bukannya tadi pamit ke bunda mau beli buku ya ??" herannya.
"Ini juga lagi nyari buku .. "
Namun sekilas mata sang bunda menatap kalung yang digunakan Arven saat itu. Terjut pasti, karena yang bunda tau.. Arven adalah kekasih dari anaknya.
"Yaudah, habis ini langsung pulang ya kak.. " ucap bunda menutupi keterkejutannya.
Selepas kepergian bunda, mereka kembali asik dengan buku masing-masing.
"Mau pulang sekarang ?? " tanya Arven sayang.
"Hmm ,, gpp ya Ven??" tanyanya tak enak hati.
"Iya gpp ,, lain kali kita bisa jalan lagi kan.. " merangkul bahu Ananta, berjalan beriringan.
Dirumahnya, Ananta disambut oleh kedua orangtuanya yang terlihat sedikit tegang. Dengan rasa ingin tahu, Ananta masuk dan duduk tepat didepan mereka.
"Ayah .. bunda ?? .. "
"Duduk kak .. " sahut ayah tegas.
"Ayah ingin bertanya kak ,, tapi kakak jawab yang jujur ya ??"
"Apaan sih yah ,, bikin kaka takut deh.. "
"Apa laki-laki tadi bener pacar kakak ??" sahut bunda.
Ananta pun mengakui Arven sebagai kekasih didepan kedua orangtuannya. Disana terlihat kedua orang tua itu menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Kaka masih ingat nasihat ayah bukan tentang pasangan .?"
"Ingat yah ,, tapi tolong kali ini biar kaka yang mutusin sendiri yah. Kaka tau ini berbeda dari nasihat ayah, tapi kasih kami kesempatan yah. ." ucapnya berderai air mata.
Bunda yang tak tega melihat anaknya menangis segera memeluknya. Membelai kepala dan meghujaninya dengan kecupan sayang.
Berbeda dengan bunda, ayah justru langsung bergegas pergi setelah mendengar jawaban putrinya itu. Hatinya saat itu sangat bimbang karena ia tak mau putri semata wayangnya menangis pada akhirnya.
"Bundaaa .. " tangisnya.
"Kaka tau ayah kan ,, ayah hanya nggak ingin kaka tersakiti nantinya.. " membalai rambut Ananta.
Ananta hanya menangis dipelukan bunda, menumpahkan rasa gundah hatinya saat ini.
*******
Keesokan hari dikampus, Ananta dengan Arven sedang duduk berdua didalam mobil. Dengan setia Arven menggenggam tangan Ananta sembari memainkannya. Sedang Ananta diam dengan pemikirannya.
"Lagi mikirin apa ??" seru Arven mengejutkannya.
"Aaa .. nggak ,, nggak ada .." menarik tangannya tiba-tiba dari genggaman Arven.
"Ven,, aku mau kita alkhiri hubungan kita !" seru Ananta akhirnya.
Arven yang terkejut hanya diam menatap Wanita disampingnya yang memalingkan wajahnya sambil menangis.
"Kenapa ??" tanyanya penuh sayang, membelai rambut belakang Ananta.
Tak mampu menjawab, Ananta hanya menangis menggigit bibir bawahnya agar tak bersuara.
"Apa karena perbedaan kita ?? " tanya Arven kemudian.
Ananta kemudian memeluk tubuh Arven dengan erat sambil menangis menyayat hati.
"Maaf .. maafin aku , , "
Mendengar tangis pilu wanita yang dicintainya membuat Arven merasa begitu sakit. Ia membalas pelukan Ananta tak kalah eratnya. Dalam diam mereka menenangkan hati masing-masing.
"Apa nggak ada yg bisa aku lakuin selain kita putus .?" tanya Arven, dan Ananta hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Huffft ,, yaudah aku anterin pulang ya .. " putusnya pada akhir.
Dengan sekuat tenaga Arven menahan air matanya agar gak berlinang, sedang Ananta sedari tadi masih saja menangis dengan pilu.
Dan sesampainnya didepan rumah, terlihat ayah dan bunda sedang duduk bercengkrama diteras. Dengan gagahnya Arven turun membukakan pintu mobil untuk Ananta kemudian menyalami ayah serta bunda.
"Om ,, tante saya kesini untuk mengantarkan Ananta pulang.. "
"Makasih ya nak Arven .. " ucap bunda.
"Masuklah ,, sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan.. " ucap ayah terlihat dingin.
Ayah masuk terlebih dahulu kemudian diikuti yang lainnya duduk diruang tamu.
"Apa yang ingin kamu sampaikan nak .. " ramah ayah kemudian.
"Saya tau ,, om dan juga tante pasti sudah tau tentang hubungan kami. Saya juga sadar perbedaan besar ada pada kami, tapi asal om dan tante tau .. saya sangat mencintai Ananta.. "
"Saya tau itu ,, tapi tanpa saya harus bicara saya yakin kamu tau alasan kenapa kami tidak bisa merestuinya.. "
"Saya faham om,, dan saya tau betul tentang itu. Maka dari itu saya datang kemarin untuk membicarakan hal ini.." terlihat mata Arven mulai berkaca-kaca.
Ananta semakin menangsi saat melihat Arven dengan mata berkaca-kaca dihadapannya, namun masih tersenyum kala memandang dirinya.
"Katakanlah nak .. "
" Saya datang kesini bertujuan mengembalikan Ananta pada om dan tante. Saya dengan tulus menerima keputusan untuk kami sampai disini.. " Arven terlihat menjeda ucapannya sambil menghapus air matanya.
Hati ayahpun tersentuh melihat ketulusan yang ditunjukkan Arven. Namun apadayanya ,, ia juga berat merestuinya.
"Saya ikhlas om berpisah dengan Ananta,, saya titip dia ya om , tante .. "
"Kami akan selalu menjaganya.. "
Kemudian terlihat Arven menghampiri Ananta yang sedang dipeluk bunda. mengulurkan tangannya, memeluk erat tubuh Ananta.
"Aku pergi ya ,,jangan nangis lagi. Aku mah kamu tetap tersenyum walaupun aku udah nggak ada disisi kamu ya.. "
"Dimanapun aku berada , aku bakal selalu ngawasin kamu .. " mengecup sekilas kening Ananta kemudian melepakan pelukannya.
Arven kemudian berpamitan dengan semuanya, Ananta yang tak kuasa menahan tangis memilih berlari kedalam kamarnya.
Didalam perjalanan, Arven yang sudah tidak bisa membendung air matanya akhirnya menangis tersedu mengeluarkan sakit dihatinya. Namun siapa sangka, Arven yang sedang tak fokus mengemudi dikejutkan dengan seorang pengendara motor yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
Arven yang kehilangan kendali memilih membanting setir menghindari tabrakan, namun naas .. justru mobilnya ditabrak sebuah truk dari depan hingga berguling ditengah jalan.
"Ananta .. aku cinta sama kamu .. " dengan bersimbah darah serta suara terbata-bata Arven berucap.
Tak lama ia pun menutup matanya. Warga yang melihat kejadian segera membawa Arven kerumah sakit, namun belum sampai disana ia sudah tiada.
Dirumahnya, Ananta yang sedang tiduran dikamar terkejut melihat berita duka kematian Arven di grup kampusnya.
"Nggak,, nggak mungkin!! pasti bercanda !!" berlari keluar kamar.
"Mau kemana kak malam-malam .. " tegur ayah.
"Ayah .. ayah, tolongin kakak .. ayah ,, "
"Tenang kak ,, ada apa .. "
"Ini yah .. " dengan gemetar menyerahkan ponselnya.
Ayah serta bunda begitu terkejut membacanya. Dengan rasa bersalah ayah mengajak semuanya kerumah Arven.
Hatinya Ananta hancur, seakan dunianya menghitam saat dilihatnya tubuh Arven sudah terbujur kaku tertutup kain.
****
Hampir sebulan setelag kepergian Arven, Ananta masih murung dan terus saja menangis.
Namun ia terus menyebut nama Arven dalam doa nya ,, ia selalu mendoakan nya bahkan mengingatnya dalam tasbih.
"Aku akan selalu berdoa buat kamu ,, tasbih ini yang akan mengantarkan doa ku untukmu .. " memeluk erat tasbih pemberian Arven saat terkahir mereka pergi ketoko buku.