Bukankah wajar menikmati hari Valentine bersama dengan kekasih? Lalu bagaimana dengan menghabiskan hari Valentine bersama seorang tahanan? Menarik bukan.
Seorang gadis tengah berdiri di luar salah satu sel tahanan. Perempuan dengan rambut lurus sepinggang, dengan wajahnya yang oval sangat cantik dengan netra coklat terangnya.
Ghea menatap tajam kepada seorang pria berperawakan tinggi, berkulit tan, dan juga seorang pembunuh.
Pria itu hanya melirik Ghea santai, ia sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu dari beberapa polisi yang berjaga maupun keluarga tahanan yang berkunjung.
PUK
Ghea tersentak kaget mendapat tepukan di bahunya, Ia membalikkan badan dan menatap seorang wanita berseragam polisi, “Apa yang anda lakukan di hari Valentine ini, nona? Mengapa berada di sebuah kantor polisi? Menjenguk salah satu tahanan kah?” tanyanya heran.
Ghea mengerjap lambat mendengarnya sebelum tersenyum tipis, “Aku adalah seorang mahasiswi hukum, dan aku bercita-cita menjadi seorang polisi sama sepertimu, jadi aku ingin membiasakan melihat para tahanan di hari Valentine ku hari ini,” jelas Ghea panjang lebar.
Ghea berjalan mendekat ke polisi itu dan mencondongkan badannya, “Kau tahu?” Netra coklat terangnya melirik tag-name di seragam polisi, lantas melanjutkan, “Miss, Bertha. Tahun depan aku sudah resmi akan menjadi seorang polisi wanita sama sepertimu,” Ia tersenyum lebar seraya menepuk pelan pundak polisi itu, “Oleh karena itu, mohon bantuannya.” pintanya tersenyum.
Miss. Bertha, mengangguk paham. Lantas ikut tersenyum, sejenak ia mengernyitkan dahinya dan bertanya, “Lalu....mengapa kau menatap tajam pria itu?” jari telunjuknya menunjuk sang pembunuh yang menampilkan raut wajah datar, “Apakah kamu memiliki masalah dengannya?” tanyanya penasaran.
Ghea terkejut mendapati pertanyaan tersebut, 'bukankah berarti Miss. Bertha sudah melihatnya menatap tajam pria itu sedari tadi?'
Ghea menggeleng pelan, ia menghembuskan nafasnya kemudian tersenyum, “Tidak ada, aku hanya tahu statusnya adalah seorang pembunuh, aku hanya tak menyukai seorang pembunuh, itu juga yang terjadi pada mendiang orang tuaku...” Ghea menunduk setelahnya mendongak menatap dalam netra hitam pekat Miss. Bertha, “Aku tidak bermaksud....aku juga tidak membencinya.” Kepalanya menggeleng panik setelahnya menatap pria itu yang hanya menatapnya datar dari balik jeruji besi.
Miss. Bertha mengangguk maklum, ia tersenyum tipis, 'menenangkan' itulah yang dirasakan Ghea. Ia merasa mendapat perhatian seorang kakak perempuan yang selalu ia impi-impikan.
“Maksudmu Hydral? Ia adalah seorang pembunuh. Benar seperti itu kebenarannya. Namun, ia memiliki alasan tersendiri untuk itu, ia menjadi pembunuh karena seseorang yang ia bunuh telah membuat adiknya bunuh diri, ia merasa dendam terhadap orang tersebut, hingga ia nekat merenggut nyawanya.” papar Miss. Bertha.
Ghea mematung mendengarnya,
'Ia sudah salah sangka.'
Miss. Bertha tersenyum sendu, “Bukankah wajar seorang kakak membela adiknya? Orang yang ia bunuh sempat berhasil dari persidangan banding kala adiknya bunuh diri, ia semakin tak terima akan hal itu. Lantas, ia merencanakan pembunuhan terhadapnya, miris bukan. Karena sebuah dendam. Semuanya menjadi runyam seperti ini,”
Ghea menatap Miss. Bertha. “Terimakasih Miss. Sekarang fikiranku menjadi tercerahkan. Terimakasih.” Ia menjabat tangan Miss. Bertha dengan erat setelahnya melenggang pergi dengan setengah berlari menjauhi kantor polisi.
Miss. Bertha menatap punggung Ghea yang perlahan menghilang dari balik pintu dengan senyuman hangat seperti biasanya.
---
Drap...drap..
Langkah riang yang Ghea jalankan tak sesuai dengan statusnya yang ingin menjadi seorang polisi.
Ia menatap telapak tangannya yang terdapat 2 batang coklat merk, Terkenal. Ia tersenyum tipis. Ia berjalan menuju kantor polisi kembali setelah membeli kedua coklat tersebut.
Derap langkahnya membawanya menuju salah seorang polisi, “Eum...permisi apakah Miss. Bertha ada disini?” tanyanya tersenyum tipis.
Sejenak polisi tersebut tertegun mendengarnya, “Miss. Bertha telah meninggal lima menit yang lalu, ia ditabrak sebuah mobil kala ia ingin istirahat makan siang, ia telah meninggal dunia, nak.” serunya memandang sedih Ghea.
Ghea mematung, tak terasa air matanya mengalir deras di pipinya, 'mengapa wanita sebaik Miss. Bertha telah meninggal secepat ini, baru tadi ia melihatnya, berbincang dengannya. Mengapa ia bernasib sama dengan kedua orang tuaku? Meninggalkanku sendirian di dunia ini?'
“Lalu bagaimana dengan tahanan di sini, Hydral?” tanyanya sembari menghapus kasar air matanya.
Polisi tersebut berfikir sejenak, “Hydral masih berada pada sel tahanannya, mengapa kau menanyakan hal itu nak? Kau ada masalah dengannya?” Polisi paruh baya itu bertanya dengan nada khawatir.
“Tidak pak, permisi.” Ia berlari menuju sel tahanan Hydral dengan 2 batang coklat ditangannya.
“Hiks...hiks..” Ia menangis saat berlari, ia membuka pintu seusai mengusap air matanya, netra coklat terangnya menatap Hydral yang masih berada di dalam sel tahanan.
Ia membuka sel dengan gembok kunci yang ia ambil di salah satu meja kayu bertuliskan, Miss. Bertha. Seseorang yang pertama kalinya membuat sensasi hangat mengalir pada dirinya yang kekurangan kehangatan keluarga.
Cklek
Drap...drap..
“Kau tidak merindukan Miss. Bertha?” tanyaku menyadarkan Hydral dari lamunannya, ia mendongak menatapku sembari mengerutkan alisnya, “Merindukannya.” balasnya singkat tanpa melihat Ghea.
Ghea tersenyum, “Ya, Miss. Bertha mengajarkanku jangan melihat seseorang dari kejahatan yang ia lakukan. Namun, apa yang selama ini dialami seorang tahanan. Ia juga membuatku mengerti apa itu artinya berkorban.” ucapnya. Ia duduk didekat Hydral.
Hydral menatap kosong jeruji besi yang tengah menahannya, “Aku benci menjadi baik.” serunya tiba-tiba, membuat Ghea spontan menatap Hydral.
“Mengapa?”
“Orang baik akan selalu menderita, melalui banyak rintangan untuk bisa bahagia. Dan terlalu cepat pergi meninggalkan seseorang yang sangat ia sayangi.”
“.....” Ghea mengatupkan bibirnya tak bisa berkata -kata.
“Sama seperti Miss. Bertha. Tentunya adikku. Adikku maupun Miss. Bertha memiliki kesamaan dalam memandang seseorang, tak peduli seberapa jahatnya seseorang tersebut, ia pasti akan memandang lembut orang tersebut. Sekalipun orang tersebut membunuh orang yang ia sayangi.”
“......”
“Aku turut berduka cita.” tuturnya menggigit bibir bawahnya yang bergetar, ia menahan air matanya.
Ghea mengulurkan tangannya, terdapat sebatang coklat yang ia beli beberapa menit yang lalu.
“Ku belikan coklat untukmu, selamat hari Valentine. Hydral.” Ghea tersenyum tulus mengatakannya.
Hydral menatap coklat Ghea dengan tatapan bahagia, “Baiklah, Ghea?”
“Oh. Namaku, Ghea Alamia Hidden.” ia melanjutkan, “kau bisa memanggilku apapun yang kau mau.” cetusnya.
Hening.
“Permisi.” Ghea melenggang pergi seusai menggembok kembali tahanan yang menahan Hydral.
Srek
Hydral membuka coklat yang Ghea berikan, ia tersenyum manis. Sangat manis, yang sama sekali bukan dirinya yang selalu datar, “Baiklah kalau begitu. Terimakasih, Mia.” ucapnya.
~Sinopsis
Periksa lebih lanjut mengenai cerpen ini.
Itu....sudah saya buat Novel. Segera periksa di akunku.
Terimakasih.
Sekian.