Surainya hampir sempurna perak, gadis itu semakin menakutkan. Namanya Aletta, teman sekelasku yang mencintai kematian.
Sejak pindah ke sebuah sekolah swasta di pinggir kota, rumor tentang Aletta sudah seperti bahan pembicaraan paling populer di sini. Katanya, dia mengidap penyakit aneh yang belum pernah ada sejak menjadi siswi kelas sebelas.
Sebagai murid baru, aku tidak terlalu memusingkan hal tersebut sampai fakta bahwa kami akan menjadi teman sekelas membuat tragedi hidupku dimulai.
Itu adalah seminggu setelah aku resmi menjadi murid baru. Tepat ketika Aletta kembali masuk sekolah setelah diberikan cuti khusus. Omong-omong, awalnya dia terlihat seperti gadis yang baik. Aletta tidak banyak bicara di kelas sampai-sampai aku hampir ingin menyangkal semua rumor yang beredar.
Aletta juga masuk kelompok belajar yang sama denganku, dia tidak terlihat aneh, justru kesepian.
"Neir, itu apa?"
Itu kalimat pertama yang diucapkan Aletta kala aku sedang melihat lembaran kertas di buku sketsa milikku. Yah, untuk seorang pria, hobi menggambar memang sesuatu. Namun, aku tetap menyukainya.
Aku menaikkan alis. "Oh? Ini hanya gambar-gambar sketsaku."
"Boleh aku melihatnya?"
Ditto, teman satu-satunya setelah seminggu kepindahanku, menyenggol pinggangku dengan sikunya. Sama sepertiku, dia jenis siswa yang tidak populer, tetapi dia baik dan menyenangkan. Meski begitu, Ditto tetap tidak nyaman ketika tahu kami dikelompokkan dengan Aletta.
Akan tetapi, aku mengabaikan Ditto. Aku tidak keberatan dan memberikan buku sketsa itu.
"Boleh saja, tetapi tidak ada yang menarik. Ini benar-benar gambar yang acak," kataku mengingatkan.
Aletta tidak menghiraukan dan membuka tiap lembar buku sketsaku dengan mata kosongnya. Dia tidak terlihat seperti benar-benar mengamati. Atap gedung, sebuah kue, dan banyak gambar milikku dilewatinya. Namun, di halaman terakhir, dia akhirnya menatapku.
"Pohonnya cantik."
Aletta tidak berkomentar banyak dan mengembalikan buku itu. Aku hendak menanyainya beberapa hal lain (siapa tahu kami bisa menjadi lebih dekat, dia benar-benar terlihat kesepian), tetapi bel jam makan siang berbunyi.
Itu membuatku tak memiliki kesempatan ketika gadis itu segera beranjak keluar bersama dengan kotak bekal makan siangnya.
"Kau tidak berpikir untuk makan siang bersamanya, bukan?"
Ditto cemas-cemas ketika aku hendak menyusul Aletta yang tampak akan makan siang di atap sekolah. Ditto berhasil menebakku, jadi sebagai balasan, aku hanya tersenyum tipis sebelum berlari menyusul.
Aku dan Ditto bukanlah murid yang terkenal, tetapi hari ini kami menarik perhatian sekali. Mungkin karena ini pertama kali setelah sekian lama seseorang berinteraksi dengan Aletta secara langsung—atau entahlah.
Tiba di atap, aku tak berhasil menemukan Aletta di manapun. Atap sekolah hanya dibatasi tembok setinggi pinggang, aku menyusurinya pelan-pelan sampai menemukan Aletta berdiri di atas pembatas tersebut.
"Tunggu—apa?"
Aku tidak bisa berpikir jernih. Aletta berdiri di atas pembatas adalah satu hal yang mencurigakan, tetapi ketika dugaan bahwa dia benar-benar melompat terjadi, aku tak menahan diri untuk tidak terkejut.
Benar-benar pengalaman mengerikan jika manusia normal melihat itu.
Aku berteriak dan berusaha menggapainya walau tahu tidak berguna. Tubuhku syok. Baru seminggu berstatus murid baru, rasanya seperti sudah ingin kembali pindah sekolah.
Akan tetapi, di situlah awal dari segala hal yang menjadi tragedi.
Dengan tubuh gemetar, aku berlari menuju ujung atap. Kotak makanku sudah terjatuh saat aku terkejut. Pikiranku tertuju pada Aletta yang baru saja melompat, berharap hal mengerikan ini adalah mimpi.
Akan tetapi, tidak. Ini nyata.
Begitu menengok ke bawah, alih-alih tubuh Aletta yang tergeletak, fokusku tertuju pada sedikit bagian rambut Aletta yang hitam berubah menjadi keperakan secara ajaib. Sambil berusaha bangkit dengan tubuh yang terlihat patah, Aletta mengusap darah dari luka yang perlahan menutup.
Aku kehilangan kuasa untuk berpikir jernih.
Kesimpulannya, rumor itu benar.
Setiap Aletta 'mati', dia akan kembali hidup dengan sangat ajaib (dan itu masuk akal untuk menyebutnya mengerikan). Sebagai ganti kematiannya, tiap bagian rambutnya akan berubah keperakan. Itulah kenapa semakin banyak rambut peraknya, orang-orang semakin menjauhinya.
Pihak sekolah mengetahui rumor ini, tetapi mereka tidak bisa mengeluarkannya hanya karena rumor semata. Para siswa mungkin pernah melihat kematian Aletta, tetapi pihak sekolah tidak.
Belum lagi ketika Aletta diperiksa, tidak pernah ada yang salah dengan tubuhnya seolah-olah dia tidak pernah 'mati'. Tentu saja rambut Aletta yang berubah adalah anomali lain dan disimpulkan sebagai penyakit yang belum ditemukan. Maka dengan keterangan pihak medis, pihak sekolah menganggap Aletta sebagai siswi yang sakit, bukan aneh seperti perkataan rumor-rumor.
Semua pemikiran itu langsung melewati pikiranku. Kakiku jadi gemetar hebat sambil menjadikan tembok pembatas sebagai penyangga, aku melihat tubuh Aletta kembali pulih. Dia berdiri, menepuk seragamnya yang memiliki bercak darah, lalu terdiam.
Aku hendak bertanya-tanya apa yang terjadi ketika kepalanya tiba-tiba mendongak ke atas. Dia tersenyum lebar sampai tidak terlihat wajar. Matanya membuka lebar dengan sangat mengerikan. Jarinya yang sebelumnya patah perlahan menunjukku.
Dia melakukannya untukku.
"Aku ... mengetahuinya ..., loh."
Suara Aletta tidak mungkin terdengat sampai atap, lantai keempat. Namun, entah kenapa gerak bibirnya begitu jelas. Aletta mengeja dengan mengerikan sambil menunjukku. Detik berikutnya, wajahnya kembali dan dia berjalan berjauh seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi.
Dia pergi di bawah sana, meninggalkanku yang jatuh lemas dengan kegilaan ini.
•••
"Katakan sekali lagi, Neir. Kau melihatnya terjun?"
Ditto melotot setelah membetulkan kacamatanya.
Aku mengangguk lemas. "Yah, aku tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir untuk melakukannya di depanku, tetapi aku bersumpah itu bukan pengalaman yang bagus."
Ditto semakin berbisik. "Karena itulah saat makan siang berakhir kemarin, kau dikabarkan masuk ruang kesehatan?"
"Yah, kau bisa menganggapnya begitu."
Selepas menyaksikan Aletta, tidak mungkin aku diam saja dan menganggap seolah semua itu tak ada. Aku melewatkan beberapa mata pelajaran kemarin, tetapi itu lebih baik daripada berpapasan dengan Aletta di kelas.
Omong-omong, saat ini juga adalah jam makan siang. Aku memutuskan makan bersama Ditto di kantin. Paling ujung, karena aku masih tidak ingin bertemu dengan gadis itu.
Pikiranku mulai kosong. Aku menyeruput susu kotakku sambil memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku tidak mungkin terus-terusan melarikan diri.
Lamunan berakhir ketika Ditto menendang kakiku dari bawah meja. Cukup sakit dan membuatku ingin memarahinya, tetapi wajah Ditto justru terlihat pucat.
"Ditto? Apa yang—"
"Aku datang untuk menyerahkan ini." Tiba-tiba saja rasanya seperti duniaku telah hancur. Itu hanya kalimat pendek dengan nada datar, tetapi seluruh tubuhku meremang. "Aku tidak menerima kata terlambat."
Itu Aletta. Dia menaruh secarik kertas di atas meja kantin yang kutempati sebelum berbalik menjauh. Orang-orang di sekitar kami segera menoleh. Lagi-lagi kami menarik perhatian.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil kertas lusuh itu. Isinya sederhana, tetapi aku bersumpah bahwa ini hampir membuatku kencing di celana.
[Temui aku. Pulang sekolah. Di tempat pertama kali kita bertemu.]
•••
Atap sekolah, sore hari.
Aku tidak menyangka akan kembali ke sini secepat ini. Dari kalimat yang diberikan Aletta, secara teknis kami harusnya pertama kali bertemu di dalam kelas. Namun, rasanya agak tidak mungkin. Di kelas akan terlalu banyak orang. Jadi, aku menyimpulkan bahwa atap adalah jawaban yang tepat.
Kemudian, benar saja.
Aletta ada di sana.
Firasatku tidak enak kala dia berbalik. Seragamnya berlubang dan bernoda merah. Tangannya menggenggam pisau, entah bagaimana bisa. Dia tidak tampak terluka, tetapi rambutnya benar-benar hampir perak secara keseluruhan. Aku jadi menyimpulkan; sambil menungguku, Aletta sudah 'mati' beberapa kali.
"Akhirnya."
Aletta tersenyum padaku. Senyum yang manis, andai keadaannya tidak seperti ini. Namun, tetap saja nadanya begitu kosong dan menyedihkan. Meski begitu, Aletta tetaplah Aletta.
Dia gadis yang mencintai kematian.
"Aku akan lebih senang kalau kau meletakkan benda itu," kataku gugup sambil tertawa canggung.
Tidak lucu jika tiba-tiba dia menerjangku dengan pisaunya atau lebih parah untuk membunuhnya diri sendiri di depanku lagi. Aletta tidak bisa kutebak.
"Tentu saja."
Aletta mengangguk. Dia menaruh pisau di saku roknya, seolah itu bukan apa-apa. Dia juga mengambil ransel yang terkapar di bawah kakinya. Aletta membuatku menunggu sampai tiba-tiba dia mengambil sebuah buku sketsa dari dalam tasnya.
Itu buku sketsaku.
"Eh? Bagaimana bisa buku itu ada padamu?"
Akan tetapi, Aletta tidak menjawab. Dia berbalik, membiarkan angin membawa rambutnya menari. Dengan jarinya yang lentik dan bernoda darah, dia membuka halaman terakhir sketsaku. Bukan lagi sebuah pohon, itu adalah atap sekolah.
"Lagi-lagi kau menggambarnya dengan cantik."
"Eh? S-senang mendengarnya darimu—"
"Kemarin sudah kubilang, bukan?" Dia langsung memotong ucapanku. Nadanya amat dingin. "Aku mengetahuinya, loh."
Aku terbatuk. "Maaf?"
Aku menelan saliva kasar. Aku akan lebih berterima kasih jika dia tidak membahas mengenai kejadian kemarin, tetapi hampir mustahil aku mengatakan itu sekarang. Aletta menoleh, dia tersenyum lagi.
"Apakah kau ingin tahu bagaimana aku bisa menjadi si 'Gadis yang Mencintai Kematian'?"
Nyatanya, Aletta tidak butuh jawabanku. Dia bercerita begitu saja.
Katanya, ini bermula di akhir tahun dia kelas sepuluh. Di atap yang sama dengan saat ini kami berdiri, dia tidak sengaja terjatuh dari ketinggian.
Saat itu, Aletta harusnya mati. Seluruh tulangnya yang patah menjerit. Dia terluka hebat dan mustahil selamat. Namun, Aletta tidak menyerah. Dia harus hidup. Meskipun kedua orang tuanya tidak selalu ada karena gila bekerja, dia masih ingin mengurus bibinya yang terbaring di rumah sakit.
Kemudian, keajaiban datang. Katanya, seorang pria menghampirinya yang setengah sadar. Pria itu menatapnya pilu sebentar, sebelum memberikan kekuatan untuk bangkit dari kematian. Sebagai gantinya, tiap Aletta mati, sisi manusianya akan semakin menghilang.
Pada awalnya, itu benar-benar keberuntungan. Aletta kembali hidup seolah-olah dia tidak penah mati. Aletta bersyukur, tetapi pria misterius yang memberinya kesempatan telah hilang. Namun, itu semua berakhir percuma ketika dua minggu setelah dia mendapat keajaiban, bibinya dinyatakan meninggal.
Aletta putus asa. Meskipun kedua orang tuanya lengkap, Aletta tidak pernah merasa bahagia tanpa sang bibi. Alhasil, dia memutuskan mengakhiri hidupnya di hari ulang tahun.
Sayangnya, dia kembali hidup.
Aletta mencoba berbagai cara untuk menyusul sang bibi, tetapi mustahil. Dia terus menyakiti dirinya—melupakan fakta bahwa semakin lama, dia semakin tidak memiliki sisi manusia normal. Aletta menjadi gila dan semuanya terjawab ketika dia bertemu denganku.
"A-apa maksudnya bahwa keberadaanku menjadi sebuah jawaban?"
Aletta mengangkat buku sketsaku sambil tersenyum. "Halaman pertama, atap sekolah. Halaman kedua, sebuah kue. Halaman terakhir kemarin, di bawah pohon yang cantik. Kini, halaman terakhirnya adalah atap sekolah lagi."
Aku tidak menduganya secepat ini, tetapi nada suaraku masih kebingungan. "Lalu apa?"
"Kau tidak berpikir bahwa itu adalah kebetulan bahwa tempatku mati adalah apa yang kau gambar di sini, bukan?"
Pertama kali, dia terjatuh dari atap sekolah.
Kali kedua, saat dia ulang tahun.
Terakhir kali sebelum kami bertemu, dia mengakhiri diri di bawah pohon rindang.
Terakhir kali aku melihatnya, dia terjun dari atap sekolah lagi.
Dia bermaksud mengatakan itu. Dia mengatakan bahwa aku selalu tahu di mana dia mengakhiri hidupnya.
Aletta menjatuhkan bukuku begitu saja. Namun, aku tidak keberatan. Sepenuhnya, dia menghadapku. Hanya sedikit bagian rambutnya yang belum berubah menjadi perak. Itu adalah kumpulan helai terakhir.
"Aletta?" panggilku canggung.
"Aku selalu bertanya, apa yang terjadi jika seluruh rambutku berubah menjadi perak? Atau kenapa aku diberikan kekuatan ini? Aku terus menyakiti diriku sendiri agar tahu jawabannya, ini perjalanan yang panjang." Dia berjalan mendekatiku, aku semakin terpojok menuju dinding pembatas. "Nah, Neir. Maukah kau memberitahukan jawabannya padaku?"
Aku mulai khawatir. Aletta berlari ke arahku, dia sudah mendapatkan pisaunya kembali. Aku panik. Apa yang dia pikirkan? Dia hendak menusukku? Aku tidak tahu jawabannya, jadi yang kulakukan hanyalah memejamkan mata.
Jleb!
Suara jaringan kulit yang robek amat mengerikan. Namun, ini tidak sakit. Begitu membuka mata, kudapati pisau itu telah menembus tubuh Aletta. Dia menusuk perutnya. Tepat di depanku.
Aletta kehilangan kuasa untuk berdiri bersamaan dengan helai rambutnya yang mulai menjadi perak.
"Aletta!" teriakku sambil menggapai tubuhnya.
Kali ini, dia tidak memulihkan diri. Kali ini, darahnya tidak berhenti. Aku panik, tetapi sudah tidak ada yang bisa kuperbuat. Mataku mulai berair.
Dengan tangannya yang bersimbah darah, Aletta mengusap pipiku. Dia tersenyum. "Kau pria itu, bukan? Pria yang menyelamatkan dan memberiku kekuatan ini." Aletta terbatuk sebentar. "Kau ... Kematian, bukan?"
—Orang-orang bilang, Aletta mencintai 'Kematian'.
"Aletta ...." Aku terisak. Dasar pria cengeng.
—Namun sebenarnya, 'Kematian'lah yang mencintai Aletta.
"Hei, Tuan Kematian. Katakan padaku, apa jawabannya?" Suara Aletta melemah, aku menggengam jarinya erat.
Benar, aku mencintainya. Walaupun begitu, kematiannya bukanlah sesuatu yang kuinginkan. Aku ingin dia bahagia, tetapi kematiannya sekarang bukan sesuatu yang berakhir menyenangkan.
Kepindahanku. Identitasku. Semua itu bohong. Aku mengkhawatirkannya. Aku ingin menjaganya dari dekat. Namun, ini percuma. Bagi Aletta, kesempatan yang kuberikan bukan lagi keajaiban, melainkan kutukan.
Napasnya semakin lemah. Aku mengangguk, sambil menyentuh pipinya. Berharap semua rasa yang kurenggut kembali padanya, sedangkan seluruh rasa sakit yang dia lewati, akan kulenyapkan.
"Ini lucu, bukan?" Aku memulainya dengan tawa menyedihkan. "Kematian memberikanmu kehidupan. Mengambil sisi manusiamu sebagai ancaman agar tetap hidup. Namun, kau menolaknya. Kau menolakku."
"Ne ... ir?"
Aku mengabaikannya sebentar. "Kau tahu? Setiap kesempatan yang kuberikan adalah sebuah perjalanan agar kau tahu; kehidupan adalah harga mahal. Kau tidak bisa hidup dengan satu tujuan. Aku memberikanmu waktu untuk mencari tujuan lain."
Mata Aletta mengilap. Dia benar-benar baru menyadarinya. "Maafkan aku."
"Ini memang hakmu untuk hidup, tetapi apa kau lupa bagaimana rasanya saat pertama kali kau merasakan kematian?"
—Aletta yang berusaha mati berkali-kali, pernah sekali berusaha untuk tetap hidup.—
Gadis dalam pelukanku akhirnya menyadari semua itu. Mungkin dia sedikit merasa menyesal karena menyia-nyiakan hidup setelah satu tujuannya tak lagi ada, tetapi kali ini dia tidak tampak menyesal.
Aletta menyentuhku. Dia berbicara, lemah sekali. "Terima kasih ... untuk mengatakan jawabannya padaku. Karenamu, aku bisa ada di sisi Bibi pada saat terakhirnya. Namun, maaf. Maaf karena terlambat menyadari arti sesungguhnya dari hidup. Ini konyol karena aku membuatnya berakhir seperti ini."
Aletta menatapku. Sisi manusianya sudah sempurna kukembalikan. Dia menjadi Aletta yang pernah bertahan hidup untuk menemani hari-hari bibinya. Senyumnya kembali lembut. Tatapnya kembali membuatku hancur.
Aku kehilangan kata-kata. "A-Aletta ..."
Saat ini, aku tahu lebih dari siapapun—
Aletta tertawa kecil menatapku. Dia tulus.
"Aku benar-benar mencintaimu, Kematian."
—itu adalah sentuhan hangat terakhir darinya.
Pukul lima sore. Gadis yang dicintai 'Kematian' akhirnya benar-benar membalaskan perasaannya. Gadis yang kucintai itu ... sudah ada di 'sisi'ku.
Tubuhnya berhenti menghangatkan diri. Cahaya hidupnya lemah, pecah menyatu denganku. Tangan Aletta terjatuh, aku segera membawanya ke dalam pelukan.
Sore itu adalah sore paling menyedihkan. Eksistensi ini ... menangis kencang karena satu manusia yang telah mati.
—Hidup itu ... ternyata seberharga ini, ya, Tuan Kematian?—