Saat memiliki suatu hubungan yang spesial, sudah jelas jika pada saat itu ada dua orang yang sedang dimabuk asmara. Mereka ingin selalu bersama, dan tidak pernah berharap akan berakhir dengan perpisahan.
Aku juga pernah merasakan hal seperti itu. Sebelumnya aku belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Aku bahkan tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang ketika bersama kekasihnya. Aku sangat lugu dan tidak tahu apa-apa tentang hubungan.
Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria, dia seumuran denganku. Awalnya sikapnya sangat dingin, seakan tidak terlalu peduli dengan orang sekitarnya, bisa di bilang dia introvert.
Dengan auranya yang seprti itu, jelas membuatku penasaran seperti apa dirinya yang sebenarnya. Ya, memang aku yang mendekatinya terlebih dahulu, memperkenalkan diri terlebih dahulu, tapi sikapnya padaku sangat cuek kala itu.
Setelah lama kami melakukan pendekatan, kami menjadi semakin akrab. Aku merasa bahwa kami sudah terikat dalam hubungan, kami sudah berkomitmen.
Aku tahu, bahwa Rendra, pria itu sudah mulai merasa nyaman denganku, mulai terbuka denganku, dia baik dan lembut padaku.
Memang Rendra dikenal sebagai pria yang baik, sopan, patuh pada agamanya, dan termasuk pria yang pintar dalam akademik maupun non akademik. Sebenarnya itu membuatku merasa insecure, dan membuatku merasa rendah diri karena tingkat kami berbeda.
Hubungan kami bukanlah hubungan jarak jauh, namun kami tidak bertemu setiap hari. Kami selalu menjadwal hari untuk bertemu setiap minggunya karena kesibukan masing-masing.
Dia merupakan pria pertama yang ku kenalkan kepada orang tuaku. Dan orang tuaku menerimanya dengan terbuka.
Kami memang bukan pasangan yang menghabiskan banyak uang ketika berkencan. Menikmati waktu bersama saja sudah membuat kami bahagia pada saat itu. Memasak, dan membuat berbagai makanan bersama, membaca novel di sudut ruangan perpustakaan, duduk bersantai di taman dekat rumah pada sore hari sambil memandang anak-anak lugu bermain-main bersama teman-teman sebayanya. Ya, sangat sederhana. Namun aku menikmatinya.
Aku sadar bahwa dia adalah pria yang sangat baik dan lembut padaku, dia tidak pernah membuatku menangis, dia tidak pernah berbicara kasar ataupun meninggikan suara, bahkan dia tidak pernah bermain fisik melakukan kekerasan kepadaku. Aku berpikir bahwa dia adalah pria baik untukku.
Walaupun sebenarnya dia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku, namun dengan sikap dan perilakunya kepadaku aku yakin bahwa dia mencintaiku dengan tulus saat itu. Seperti kekasih pada umumnya, aku merasakan kerinduan setiap kali berpisah dengannya dan harus menunggu waktu untuk bertemu dengannya lagi.
Rendra, sangat berbeda dengan laki-laki seusia kami. Dia tidak pernah memamerkanku sebagai kekasihnya baik secara langsung ataupun di media sosialnya. Dia selalu mengatakan berbagai alasan "aku tidak ingin kamu di goda pria lain", katanya, dan bodohnya saat itu aku percaya dengan apa yang dia katakan.
Saat itu aku tidak berpikir hal yang buruk tentang dia si pria baik itu. Hingga suatu hari aku mendapatkan panggilan dari tempat kerjaku untuk melakukan proyek di luar kota.
Saat itu hatiku berat sekali, berat merantau jauh di luar kota meninggalkan tempat kelahiranku, dan meninggalkan pria yang aku cintai.
Dengan berat hati aku meninggalkan kota tempat kelahiranku ditemani oleh kedua orang tuaku, kakak dan adik ku, bahkan Rendra juga mengantarku. Aku menangis di kursi bus, dan tidak berani menengok ke belakang menatap wajah orang-orang yang aku cintai semakin jauh dari jangkauanku.
Aku menyelesaikan proyek pekerjaanku dengan giat dan tekun, aku sangat sibuk. Hingga aku terkadang lupa untuk berkomunikasi dengan Rendra, bahkan sangat jarang. Namun, aku lakukan dengan berpikir jika aku terus menghubunginya akan membuatku tidak fokus pada pekerjaan ku dan akan kacau kemudian membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan pekerjaanku. Aku persiapkan segalanya dengan terburu-buru karena yang ada di pikiranku ingin segera kembali ke kota kelahiranku.
Tiga bulan berlalu, aku menyelesaikan semua pekerjaanku dengan baik dan saatnya aku kembali ke rumah. Dengan perasaan bahagia dan hati berbunga-bunga aku tidak sabar ingin kembali ke rumah yang nyaman. Aku berpikir bahwa rasa rindu berkepanjangan ku akan segera berakhir dengan orang-orang yang kucintai, termasuk pada pria pujaanku. Semangat dalam diriku berkobar lagi, ingin rasanya aku segera sampai ke rumah dan berlari ke arah priaku.
Aku menuju rumah dengan kendaraan umum, sehingga memerlukan waktu yang lebih panjang agar sampai ke tempat tujuan. Namun saat sudah dekat rumahku, aku merasa bahagia tetapi ada yang mengganjal di dalam hatiku. Aku tidak tahu perasaan apa itu yang tiba-tiba hadir di dalam diriku saat aku sedang merasa bahagia.
Sesampainya di rumah, aku disambut oleh keluargaku yang menantikan kepulanganku. Aku mau meluk mereka semua dan kemudian aku bergegas pamit untuk menemui pria pujaanku. Aku segera mengendarai sepeda motorku dan melaju dengan cepat.
Di persimpangan jalan aku melihat temanku, Wina. Gadis itu melambaikan tangan padaku memberi kode agar aku menghampirinya. Akhirnya aku menepi dan menemuinya, dia memelukku, namun bukan dengan tatapan kebahagiaan, yang muncul karna temannya pulang, tapi yang muncul di matanya adalah kekhawatiran.
Aku bingung saat itu, apa yang sedang terjadi. Seakan dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tak bisa mengatakan secara langsung kepadaku. Kemudian Wina hanya tersenyum tipis dan berkata "kau akan tahu nanti". Jujur, aku tidak tahu maksudnya. Tapi aku terus berpikir positif.
Setelah itu, aku kembali mengendarai sepeda motorku menuju rumah Rendra. Rumahnya sepi, seprti tidak berpenghuni. Aku melihat sesuatu yang membuatku terkejut, dengan perasaan khawatir aku membuka pintu rumahnya, tanpa memikirkan sopan atau tidaknya perbuatanku. Apa yang aku lihat di depan mataku membuatku terkejut setengah mati.
Rendra bertelanjang dada menahan setengah pintu rumahnya, dia menatapku terkejut juga. Aku heran dengan apa yang terjadi, tidak paham pada situasi saat itu.
Pria dihadapanku itu menghela nafas, dan mengeluarkan kata-kata yang membuatku merasa emosi. "Helena, maaf sepertinya aku sudah tidak ada rasa apapun padamu". Shit! Aku emosi saat itu, ingin rasanya menampar wajahnya, namun aku tidak bisa berkata apapun.
Aku ingin menangis, tapi rasanya air mataku tiba-tiba mengering. Ditambah lagi dia memberi kejutan lain yang membuatku semakin naik pitam, seorang wanita yang terlihat lebih tua dariku menunjukkan dirinya di belakang Rendra. Aku gemetar melihat kejadian itu, aku emosi, harga diriku runtuh saat itu. Aku mencoba menahan rasa amarahku, "Rendra, aku tau jika seorang pria bisa saja mencintai wanita selain kekasihnya, tapi tidak seperti ini caranya..." Lidahku kelu dan tidak bisa melanjutkan ucapanku.
"Kau pikir ini kemauanku?! aku seperti ini karena kau seakan mendorongku, kau tak pernah mengabariku, ku pikir kamu bersama pria lain dan berbahagia di sana" ucap Rendra dengan meninggikan suaranya. Itu pertama kalinya aku mendengar dia seakan berteriak padaku. Hatiku semakin tercabik cabik saat mendengar apa yang dia katakan.
"Baiklah, tapi apakah kamu tahu alasanku tidak sering menghubungimu? Aku berusaha fokus menyelesaikan pekerjaanku agar aku segera pulang menemuimu. Aku menahan rasa rinduku, karena jika aku mendengar suaramu, akan membuatku buyar! Tapi apa ini? Kau memberiku kejutan yang benar-benar tak terduga olehku"
Aku menghela nafas bentar, kulihat Rendra membuka mulutnya seakan ingin mengucapkan sesuatu, tetapi aku tidak memberikan kesempatan itu.
"Jika kau merasa sudah tidak mencintaiku lagi, bukankah lebih baik menyelesaikan hubungan denganku terlebih dahulu, baru kau boleh memulai hubungan baru dengan wanita lain? Tapi jika kamu melakukan hal seperti ini padaku, artinya kau tidak menghormatiku, dan menganggap hubungan kita hanya lelucon! Kau juga menunjukkan seberapa rendahnya dirimu." Rasanya darah dalam tubuhku mendesir, panas sekali, dadaku sesak dan engap. Nafasku tersenggal. Pria brengsek itu tak menjawab apapun. Hanya tertunduk lesu dengan tatapan kosong.
Aku menatap wanita yang berdiri dibelakang Rendra, nampaknya dia tidak merasa bersalah, sepertinya dia tahu jika pria yang sedang bersamanya memiliki kekasih, aku tersenyum tipis dan berkata " Kau.. terima kasih sudah menunjukkan padaku bahwa pria ini bukanlah yang terbaik untukku, dan terima kasih sudah mengajarkanku bahwa sesama wanitapun bisa menyakiti. Semoga kalian bahagia. Dan selalu ingat bahwa karma akan tetap ada".
Tanpa memberi kesempatan mereka untuk berbicara, aku berbalik badan segera pulang. Munafik rasanya jika aku berkata aku tak terluka, aku sangat terluka, dan tidak menyangka hal itu akan terjadi pada kehidupanku.
Padahal dahulu aku pernah berkata pada pria brengsek itu, hal yang paling aku benci di dunia adalah pengkhianatan, dan hal yang paling tidak bisa aku maafkan adalah perselingkuhan. Tapi pria itu melakukan keduanya sekaligus, seakan berniat membunuhku secara perlahan.
Dari kejadian yang pernah menimpaku, aku belajar bahwa jangan terlalu mempercayai orang lain melebihi diri sendiri dan Tuhanku. Karena yang akan bersamaku hingga akhir adalah diriku sendiri dan Tuhanku.
Tidak ada orang yang kebaikannya sempurna, pasti ada celah dia melakukan kesalahan. Namun apapun itu, perselingkuhan tidak akan pernah dibenarkan, ataupun dimaklumi. Aku tidak berniat balas dendam, aku mungkin akan memaafkan mereka demi kebaikan batinku, tapi aku akan butuh waktu yang sangat lama untuk mengobati lukaku, dan melupakan semua kenangan buruk yang menimpaku.