Ada diri yg layak untuk lebih dulu disayangi, daripada menyayangi yg tak pernah menyayangi. Ingat meski hidup bukan melulu soal timbal balik, menyayangi-disayangi, ikhlas dan bertepuk sebelah sayang; itu beda cerita.
Ya hidup memang seharusnya begitu soal timbal balik. Tapi dulu aku pernah memiliki pacar toxic. Apapun yang dia mau, aku selalu berusaha menuruti. Sebenarnya lelah, terus menerus begitu. Tapi semuanya yang aku lakukan agar dia tidak bisa pergi ninggalin aku. Namun tetap saja apapun yang aku lakukan, dia masih saja selingkuh berkali-kali.
Dulu pernah dia udah ketahuan selingkuh, lalu dia minta putus. Tapi aku malah minta maaf dan gak mau dia ninggalin aku. Padahal aku tau, sebenarnya rasa sayang itu sudah gak ada. Tapi alasan aku mempertahankan hubungan ini hanya karena kita sudah lumayan lama berpacaran.
Kita menjalani hubungan dari kelas 1 SMA. Sampai akhirnya kita memutuskan pindah kota dan kuliah. Kita memang kuliah masih di satu kota yang sama, tapi kita beda tempat kuliah. 6 tahun menjali hubungan sampai suatu hari, aku menemukan dia selingkuh lagi dengan teman kampusnya. Dan aku benar-benar capek dengan semua itu. Bahkan teman-temanku sudah mulai menjauhiku karena aku selalu bercerita dan mengulang kejadian yang sama. Mereka jenuh mendengar aku bercerita kalau pacarku selingkuh lagi dan aku sudah putus dengan dia. Tapi ternyata aku malah balikan sama pacar aku. Mereka tau kalau hubungan aku sudah toxic, tapi sayang dulu aku sama sekali gak sadar akan hal itu.
Akhirnya kita memutuskan untuk putus dan tidak berkomunikasi sama sekali. Awalnya aku masih belum terbiasa. Masih ingin sedikit tau tentang dia melalui teman-temannya. Tapi akhirnya setelah di jalani, ternyata kehidupanku mulai tenang. 1 tahun aku mencoba memahami diriku sendiri. 6 tahun aku egois dengan diriku sendiri. Aku lebih memilih kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaan diriku sendiri.
Kemudian aku mencoba tidak menyalahkan siapapun atau keadaan. Aku mencoba membenahi apa yang salah. Ya, sepertinya aku salah dulu berlebihan memberikan rasa sayangku. Aku lupa bahwa cinta itu adalah timbal balik. Jujur aku takut memulai yang baru dengan siapapun. Aku takut mengulang kesalahan ku lagi. Sangat trauma. Sampai akhirnya kita benar-benar lost contac menjalani hidup masing-masing sampai lulus kuliah.
Sampai zuatu hari, ada pesan masuk dari hp ku. Ternyata dia adalah kakak kelasku. Ya, dia kakak kelas ku dari SMP, SMA, sampai kuliah. Tapi aku terakhir berhubungan dengannya saat aku masih SMA. Dia sempat menyatakan perasaannya padaku. Tapi karena aku masih memiliki pacar, akhirnya aku mulai menghidar dan menjauh dari dia. 10 tahun yang lalu kejadian itu.
Lalu dia mencoba mendekati ku kembali. Mengajak jalan, jajan, nonton bioskop apapun yang aku mau dia mencoba menuruti keinginanku. Untuk yang kedua kalinya setelah 10 tahun lalu, dia mencoba mengungkapkan perasaannya kembali. Jujur aku belum siap. Tapi kapan lagi aku akan mencoba membuka hati ?
Akhirnya kita mencoba menjalani. Dia sama sekali membuat ku seperti ratu. Baru kali ini aku merasakan rasanya dicintai. Aku menjalani seperti air mengalir. Mengikuti kemana arusnya. Mencoba ikhlas apapun hasilnya. Tapi ternyata 6 bulan kami menjalani hubungan ini, dia datang melamarku. Dia tidak ingin membawa anak perempuan ayahku satu-satunya pergi jalan tanpa hubungan yang jelas. Intinya dia tidak ingin main-main dengan hubungan ini. Jujur aku sangat terharu. Ternyata masih ada lelaki yang mencintaiku sampai begini.
Kemudian beberapa hari setelah dia berbicara sendiri dengan orang tuaku, dia membawa orang tuaanya untuk berkenalan sekaligus langsung melamarku. 6 bulan kemudian kami akhirnya menikah. Tuhan benar-benar mendengar doaku. Sosok lelaki yang aku mau, semuanya ada pada suamiku saat ini. Aku juga sangat bersyukur, kami di pertemukan setelah aku mencoba memperbaiki diriku sendiri.