Hai semua...
Kali ini aku mau menceritakan pengalaman pribadi ketika bepergian keluar.
Fara Pov
Namaku sebut saja fara. Ada mama ku, papa, kedua kakak ku. Yang pertama bernama Lia, lalu yang kedua mima kemudian suaminya bernama aris dan adi.
Lalu kedua keponakan ku yang berisik sekali bernama azka dan dirga.
Ketika akhir tahun 2020, aku dan keluarga berencana untuk berlibur. Sejenak melepas penat dari padatnya aktivitas sehari hari.
Kali ini aku dan kakak kakakku berencana berlibur ke puncak bogor saja.
Aku tiga bersaudara. kedua kakakku sudah menikah dan mempunyai anak.
Kakakku sudah memesan vila via telepon dari pencarian nya di internet.
Tampak di foto nya lumayan bagus, indah, dan sejuk.
Hari ini pun kami bersiap untuk berangkat.
Mama dan kakak kedua ku menyiapkan makanan dan lainnya untuk bekal kita di sana. Karena memang tidak dapat bekal dari pihak vila.
Pagi pagi kami sudah bersiap.
Kami pergi dengan dua mobil.
Mobil pertama di isi oleh aku, mama, kakak kakakku beserta anaknya yang super berisik dan suaminya kakak pertama ku yang menyetir mobilnya.
Mobil kedua di isi oleh papa, suami kakak keduaku dan teman suaminya kakak pertama ku yang menyetir mobilnya serta semua barang ada di sana karena cukup banyak lapak lagi untuk di isi.
"Ayok bang jalan sekarang aja. Nanti terlalu siang gak enak panas". ujar kakak kedua ku pada kakak iparku.
"Iyaa ayok. Gak ada yang ketinggalan kan? udah masuk semua barang barang?". ucap bang aris.
"Yaudah masuk, mama udah gak sabar pengen ngopi di tempat dingin". memang ada ada saja keinginan mama yang aneh aneh, haha.
"Semua masuk, kita baca doa dulu yaa sebelum berangkat. Bismillahirrahmanirrahim....". Papa ku memimpin doa sebelum berangkat menuju vila untuk berlibur.
"Aamiin". Semua sudah siap untuk berangkat.
"Dah cimoy,, aku jalan jalan dulu yaa. Imoy baik baik dirumah sama om tetangga. Ji, titip kucing gue yaa. Makanannya ada di deket kandangnya. Temenin yaa jangan di tinggal". ucap ku pada tetangga yang sudah akrab. Kucingku tidak ku ajak serta.
"Iya siap ra".
Tenang sudah ku berangkat.
Di perjalanan aku bercanda dengan kedua keponakan ku.
Azka berusia delapan tahun, sudah masuk sekolah dasar di kelas dua. Kemudian dirga baru berusia satu tahun setengah. Sedang lucu lucu nya.
Vila tersebut berada di tengah tengah perkampungan yang jalannya pas-pasan sekali dengan ukuran satu mobil. Jika ada mobil dari lawan arah, tentu salah satu dari kita harus mundur.
Setelah satu jam perjalanan, kami pun tiba di vila tersebut.
Setelah check in, penjaga vila memberikan kunci nya lalu mengantar kami menuju vila yang akan kami tempati sampai esok hari.
Begitu sampai, mobil di parkir di depan taman dan kolam renang depan vila tersebut.
"Ma, aku mau main jungkat-jungkit yang di sana itu yaa". ujar azka pada mama nya.
Belum mama nya menjawab, sudah ku sela lebih dulu.
"Jangan, nanti aja!!". ucap ku seraya menarik tangan azka masuk ke dalam vila.
"Ini yaa teh vila nya. Selamat berlibur". setelah mengantar kami, penjaga vila itu kembali ke tempatnya.
"Assalamualaikum". ucap mama.
"Kurang bersih yaa kak tempat nya". ujar mama.
Vila ini seperti rumah panggung. Di bawah dan sekeliling nya terdapat kolam ikan yang sepertinya tidak terurus dengan baik.
"Iihh liat deh ada ular nya gede banget di kolam". ucap mima setelah lihat lihat kolam dengan dirga.
"Jangan di situ de, takut nyebur nanti dirga. Iya itu ada ular nya gede bener yaa". kata papa.
Kami semua pun masuk dan merapihkan barang bawaan.
Tas pakaian ku susun di dalam dan atas lemari kecil yang tersedia di dalam kamar.
Vila ini tidak begitu besar, namun cukup untuk kami semua.
Ada dua buah kamar tidur dan satu kamar mandi di antara kamar tidur ini. Dapur kecil serta ruang tamu.
Kamar tidur utama terdapat jendela menghadap ke depan. Lalu kamar tidur yang kedua terdapat pula jendela yang menghadap ke area samping. Dimana hanya ada tembok besar lalu kolam ikan.
"iihh ternyata banyak ular di kolam ikan nya. Liat tuh anak ular". ucap kak mima padaku sambil menunjuk anak ular yang sedang berenang di kolam ikan.
"Serem juga yaa kalo banyak ular gini. Tadi di kolam depan gede, berarti ini anak anaknya deh". ucapku.
Kak mima membuka jendela agar udara segar masuk ke dalam vila.
Para lelaki ngobrol di teras depan sambil minum kopi yang di seduh oleh mama.
sudah menjelang siang, keponakan ku semuanya tertidur. Mungkin karena lelah di perjalanan dan bermain begitu sampai di sini.
Para perempuan membuat makan siang untuk di santap bersama.
"Mah aku mau main jungkat-jungkit yang tadi boleh yaa". Azka merengek lagi ingin main di taman di ujung sana.
"Iya nanti bareng bareng yaa. Sekarang makan dulu". Kata kakak Lia mama nya azka.
"Nanti bareng ante aja yaaa mainnya. Sekarang makan dulu". Ucapku lagi.
"Iya deeh".
Setelah selesai makan siang. Kami pun melaksanakan kewajiban sholat dzuhur. Kami sholat secara bergantian karena tempatnya terbatas.
"Yuk udah sholat kita main ke sana". ajak ku.
"Dek, dirga ajak yaa. Gue belum sholat". ucap kak mima mama nya Dirga.
"Iyaa, yuk ganteng sama ante main ke sana". Dirga pun mengulurkan tangannya meminta di gendong. Karena jalannya cukup jauh ke depan.
Aku memperhatikan sekitar. Melihat kesana kesini.
'Aman'. Batinku.
Ku temani dua keponakan ku bermain tanpa ada yang janggal.
"Te, kenapa sih tadi baru sampe azka gak boleh main kesini?". blaasshh pertanyaan azka membuat bulu kuduk ku berdiri.
"Yaa,, yaa gak apa apa. Kan baru sampe, beres beres dulu dong". Ku jawab azka sekena nya saja.
"Oohh gitu". Azka pun berhenti bertanya lagi.
"Yuk balik. Sudah mau sore nih". Ujarku setelah agak lama bermain.
"Yok".
Ku gendong lagi dirga untuk pulang.
Tetapi ada yang aneh. Dirga seperti enggan untuk pulang. Pandangan nya fokus ke ayunan yang ada di sana.
Ku lirik sekilas, ayunan itu bergerak sendiri padahal tidak ada angin ataupun anak anak lagi. Ku percepat langkah kaki ku.
"Kok lari lari sih te? capek tau". azka mengeluh karena ku ajak berlari sambil ku gendong dirga.
"Gak apa apa dek".
Kami pun menonton televisi yang ada sembari bersenda gurau satu sama lain.
Langit pun sebentar lagi akan berubah menjadi gelap. Pertanda malam akan tiba.
"Pa, kamu taro tas dimana tadi?". kata kak mima pada suaminya yang menanyakan tas berisikan dompet dan ponsel.
"Eh,, itu kayaknya di depan meja teras deh. Bawa masuk deh sekalian punya bang aris". ucap bang adi pada kak mima.
"Yeh kebiasaan deh. Main tinggal aja isi nya kan penting". kak mima pun keluar teras.
Adzan pun berkumandang terdengar sayup sayup. Karena vila nya cukup jauh dari tempat ibadah masjid.
Ku lihat ke jendela sekilas, kak mima seperti sedang memperhatikan sesuatu.
Kak mima diam mematung menatap taman bermain tadi.
Sesaat kemudian kak mima setengah berlari masuk lagi ke dalam.
Ku intip pula dari jendela yang tertuju langsung ke arah taman bermain tadi.
Deg.....
Seorang anak kecil, perempuan, memakai dress selutut berwarna putih kusam sedang berlari kesana kemari dengan riang nya.
Anak perempuan itu seperti yang ku lihat tadi pagi ketika baru tiba di vila ini.
Maka dari itu ketika azka ingin langsung bermain di sana, aku tidak memperbolehkan nya.
Begitu kak mima ke kamar, aku menyusul nya.
"Kenapa kak?".
"Ng.. Nggak,, gak kenapa kenapa kok". Jawabnya gugup.
"Anak kecil yaa?".
"Perempuan, Pakai dress putih kumal?". tanyaku lagi ingin memastikan.
"Kok lo tau?". kak mima nampak kaget.
"Iyaa yang kita lihat sama berarti". ucapku lagi.
"Yaaa asal jangan ganggu aja deh. Masing masing tempat nya aja yaa". ucap kak mima.
"Iyaa yaa". sambungku.
Sudah larut malam. Sebagian ingin tidur, sebagian lagi merasa lapar.
"Yaahh mau masak mie habis lagi gas nya". ujar mama.
"Sini ma, adi beli ke depan siapa tau ada warung".
"Ikut pa". kak mima ikut suaminya mencari gas ke depan vila sana.
Azka, dirga dan kakak ku sudah mulai mengantuk dan tidur.
Aku menemani mama menunggu gas datang.
.
.
.
.
Mima Pov
Aku ikut suamiku adi mencari gas di malam hari. beberapa ratus meter di depan merupakan gerbang menuju perkampungan. Siapa tau masih ada yang buka warung nya.
Kami pun berjalan melewati taman bermain tadi.
Suamiku asik saja jalan sambil menenteng gas seraya mengepulkan asap rokok.
Setelah pas berada di taman itu, ku lirik ke kanan tepat dimana ayunan dan jungkat jungkit itu berada.
ngiikk ngiikk ngiikk .....
Suara besi dari ayunan besi itu terdengar menyeramkan.
Kenapa menyeramkan? karena bukan hanya bersuara, tetapi ayunan itu bergerak sendiri. Maka dari itu suara deritan besi itu terdengar.
"Ayo pa jalan nya agak cepat". Suamiku seperti paham akan maksudku. Dia pun berjalan lebih cepat lagi.
Aku dan adikku sejak kecil dapat melihat "sesuatu" yang orang lain tidak bisa melihat nya.
Tidak selalu sih. Tetapi seringkali makhluk itu menampakkan dirinya di hadapan kami.
Seperti di vila ini.
Setelah mendapatkan yang dicari, kami pun kembali ke vila.
"Alhamdulillah aman". batinku.
Tak lama kemudian kami semua terlelap. Karena cukup lelah perjalanan.
Aku tidur dikamar kedua dengan adikku dan mama ku.
sedangkan kakakku dan anaknya dikamar depan. Lainnya menggelar kasur lantai di ruang tamu.
ngeeekkkk......
Suara khas jendela, terbuka di malam hari.
Ku lirik ponsel baru pukul dua dini hari.
"Kak".
"Apa?"
"Lo denger gak?".
"Iyaa".
"Longok gih".
"Ogah ah, lo aja". Adikku malah balik merintah.
"Yeehh disuruh malah balik nyuruh".
"Hehe takut ah".
"Yaudah liatin nih dirga takut bangun. Biar gue tutup lagi deh jendela nya".
Aku pun turun dari kasur untuk menutup kembali jendela yang tiba tiba terbuka.
Padahal malam itu tidak ada angin ataupun orang lain.
Kecuali....
"Gak ada apa apa, dan gak ada siapa siapa". batinku.
Ku tarik perlahan jendela itu.
Sssssssttttt
"Astaghfirullah, itu anak ular nya makin banyak sih yaa". ucapku pelan.
wwuussshhh....
Tiba tiba angin bertiup meniup wajahku.
Seketika bulu kuduk ku meremang...
Tengkuk terasa panas.
Ini pertanda aku harus segera tidur kembali.
"Yuk tidur lagi. Udah gue tutup jendela nya".
"Ada sesuatu gak?".
"Banyak banget anak ular masa. Gak beres. Udah yuk tidur lagi. Awas geser, itu dirga hampir bangun deh". Ucapku seraya mengusap usap anakku agar by
"hiiiiii... Semoga cepat pagi". Ucap adikku.
Kami pun akhirnya melanjutkan tidur. Meskipun sulit untuk pulas. Sampai pada akhirnya, kepala kami pusing karena tidur nya tidak nyenyak.
Fara Pov
Keesokan harinya mama menyiapkan sarapan dengan kakak pertamaku Lia.
Mereka nampak biasa saja seperti tidak merasakan yang kami alami semalam.
Begitu juga dengan papa dan para abangku.
Mereka nampak biasa saja...
Seperti nya hanya aku dan kak mima yang merasakan kejanggalan semenjak datang di vila ini.
"Kok kayaknya pada ngantuk banget sih. Emang gak bisa tidur yaa semalam?". Tanya mama pada ku dan kak mima.
Kak mima langsung melirik ke arahku.
"Eh,, iyaa ma. Dirga bangun terus mimi". Alihnya seperti itu.
"Kok mama gak denger dirga nangis tapi?". Tanya mama lagi.
"Yaa,, emang gak nangis. Bangun aja". Kilah kakakku lagi.
"Oohh gitu". Akhirnya mama ku menghentikan pertanyaan lainnya.
Sebelum pulang kami pun sarapan terlebih dahulu.
Sebelum pulang ke rumah, kami akan mampir ke tempat wisata terdekat di sini.
Barang barang semua sudah beres masuk ke dalam mobil.
Kunci pun sudah di serahkan kembali pada penjaga.
Kami pun bergegas meninggalkan penginapan ini.
"Vila angker". Gumam kakakku sambil tersenyum aneh.
'Seperti nya bukan kak mima deh'. Ucapku.
Kemudian ku tepuk pundak nya agak kuat.
Lalu kakakku seperti tergagap kaget.
"Kenapa kak?". Tanyaku.
"Arah jam 10 dek". Ucap kakakku, dan aku pun reflek menoleh ke arah yang di maksud.
Yaitu taman bermain yang aku dan kakakku lihat ada sosok makhluk perempuan kecil berpakaian dress putih kusam ala ala zaman dahulu kala.
Yaa, anak kecil itu sedang sangat asyik main di ayunan yang bergerak pelan.
Wajahnya tak terlihat karena tertutup rambutnya yang panjang.
Merinding seketika.
Kakakku langsung menggendong anaknya masuk ke mobil secara tergesa-gesa.
Aku pun mengambil jurus kilat untuk masuk pula ke dalam mobil.
Kakak pertama ku Lia sampai hampir tersungkur karena ulahku.
Langsung lah dia memarahiku.
"Apaan sih dek jalan nya gak hati hati gitu. Gimana sih. Kalo gue jatoh gimana coba". Kakakku terus mendumel kesal karena memang salahku lari tak lihat lihat.
Setelah beberapa saat, kita pun bergegas segera meninggalkan vila angker ini.
Sebuah pengalaman yang menegangkan menurutku.
Meskipun aku dan kakakku sudah sering melihat hal 'tak kasat mata'. Tetapi aku tetaplah aku, tetap takut saat berhadapan dengan hal semacam itu.
Malah terkadang kakakku mima sering terkapar karena pingsan.
Kami pun berjalan ke gerbang vila angker tersebut dan benar benar meninggalkan nya.
Setelah jauh dari sini, akan ku ceritakan apa yang terjadi pada ku dan kakakku ketika tiba di vila ini sampai kami segera pulang.
Kebiasaan kami setelah mengalami kejadian janggal, kami akan menceritakan nya setelah pergi dari tempat tersebut.
Lain hal jika mengalaminya dirumah sendiri.
Tamat
.
.
.
.
Sampai jumpa di ceritaku yang lain....
Selamat membaca semuaaa nyaaaaa....