Manik abu-abu itu melirik datar remaja berambut keriting cokelat diikat satu yang menyeruput secangkir teh, elegan bak bangsawan. Kemudian ke gelas ramping tinggi berisi smoothie stroberi di hadapannya. "'Tuan muda'," komentarnya sambil menarik sudut kanan bibir, "apa anda tidak bosan berperilaku seperti itu bahkan setelah keluar dari rumah?"
Remaja keriting itu menurunkan cangkir, menatapnya tak kalah datar, "Kau bicara seolah aku dibuang dari keluargaku." Cangkir kecil itu ia letakkan di meja kayu bundar. "Tapi entah kenapa melihat kau yang masih kurang ajar ini malah membuatku lega. Aku pasti sudah gila karena kau, Elliot."
Kedua pasang iris merah itu sekali lagi bertemu, sama-sama tersenyum sinis.
"Dan kau bicara seolah kita sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun," balas Elliot sambil tertawa renyah.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Baik," Elliot menjawab asal, melemparkan pandangan keluar jendela sambil menyeruput minuman.
"Kau... tidak berencana kembali?" tanya remaja berkacamata itu hati-hati.
Elliot menghela kasar, menatap iris merah di balik bingkai bundar itu. "Jude," ucapnya pelan. "Seingatku, kau yang menyuruhku pindah. Sekarang, kenapa kau bersikap seolah aku pergi atas kehendakku sendiri?!!" tanya Elliot dengan api yang membara di punggung dan kedua maniknya.
Mendengar itu, Jude hanya tertawa singkat—terbahak. "Habis bagaimana ya, kudengar seseorang berencana pergi ke taman hiburan dengan seorang perempuan...." Manik merah itu melirik juniornya dengan sudut mata.
Elliot yang kembali menyeruput minuman refleks terbatuk. "Kau," Jude tersenyum, berusaha menahan tawa puas melihat manik abu-abu yang biasanya keras itu bergetar. "Kupikir kau mau bicara apa sampai mengajakku ke sini," Elliot memundurkan kursi tempatnya duduk. "Pada akhirnya kau tetaplah Jude Sharp, senior dan teman terburuk yang pernah ada!" ucap Elliot kembali pada kebiasaan lamanya, menggerutu tak karuan saat malu.
Jude menghela begitu pemilik rambut silver yang panik itu melintasi pintu kaca, mengempaskan punggung ke belakang. "Dia masih saja keras kepala." Remaja itu kembali mengambil secangkir teh yang tersisa setengah, tersenyum sinis. "Tapi ekspresinya benar-benar membuatku puas. Harusnya kurekam saja tadi."
***
Seruan yang semakin mengikis jantung remaja berambut silver itu terus terdengar, membahana, membuat peluh dingin tak henti berjatuhan. Namun sekeras apa pun hatinya memaksa, kakinya tetap saja pasrah mengikuti ke mana tangannya ditarik.
"Elliot!" gadis berambut hitam di depannya tersenyum, menunjuk wahana permainan yang sudah ia incar sejak keluar dari rumah sakit. Teddy Bear Coaster.
"Faith...." Iris merah itu bergetar. Paru-parunya seolah hampir rusak, seolah tak dapat mengumpulkan oksigen di sekitar. "Kau... tidak mau main yang lain dulu?"
Gadis bermanik hijau itu mengernyit, berpikir sejenak. "Teddy Bear Swing? Teddy Bear Kora? Teddy Bear Ship? Teddy Bear... Plane? Lalu... apa lagi, ya...?"
Mendengar nama-nama wahana yang keluar dari bibir gadis itu membuat Elliot semakin merinding. "Apa teddy bear sekarang tidak ada yang 'ramah' lagi?" gumamnya.
Manik abu-abu itu kembali bergetar tatkala tangannya kembali ditarik. "Yang mana dulu sama saja, ayo cepat!" ucap Faith sambil menarik paksa Elliot. Remaja yang entah senang entah sedih itu pasrah, demi teman yang akhirnya keluar dari rumah sakit setelah bertahun-tahun.
Besi penahan dan sabuk pengaman sudah terpasang. Manik abu-abu itu setia terbuka lebar seiring ludah yang tak henti melewati tenggorokan. Suara mesin penunjuk waktu membuat pegangan remaja itu pada besi menguat.
Detik berikutnya, roller coaster bertemakan teddy bear itu melesat pelan keluar dari bayangan, menuju rel yang dipasang tinggi jauh dari permukaan tanah. Elliot dapat melihat senyuman Faith dengan sudut mata. Namun entah kenapa raut wajahnya sendiri sangat sulit untuk tidak mengeras.
Begitu mencapai puncak, roller coaster itu terjun bebas di kemiringan 45 derajat dalam kecepatan penuh, membuat rambut panjang silver Elliot tersibak. Seruan 'menikmati' roller coaster itu terdengar memenuhi satu taman bermain, termasuk Faith di sebelahnya berteriak girang. Gadis itu benar-benar menikmati angin yang menerpa. Berbeda dengan Elliot yang malah olahraga jantung sekaligus menggigit bibir.
Jalur roller coaster itu terus berputar dan berputar, naik ke ketinggian tak terhingga, kemudian dijatuhkan lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya kembali ke tempat semula.
***
Remaja yang pasi itu berusaha mengatur napas, duduk di kursi taman terdekat. Bulu kuduknya berdiri tatkala merasakan dingin di wajah.
"Ini!" Gadis berambut hitam panjang itu menyodorkan sebotol mineral dingin sambil tersenyum. Elliot menghela, menerimanya. "Terima kasih."
"Selanjutnya main apa lagi, ya?" gadis itu bergumam seiring gerakannya duduk di sebelah Elliot, membuat remaja yang tengah minun itu tersedak. "Lagi...?" tanya Elliot sambil mengelap air di sudut bibir dengan lengan.
Melihat Faith yang mengangguk, iris merah itu segera menelusuri sekitar, mencari wahana yang "ramah". Pasalnya hampir setengah hari mereka habiskan dengan bermain Teddy Bear Ship, Teddy Bear Swing, Teddy Bear Plane, Teddy Bear Boat, Teddy Bear Kora, Teddy Bear Train, bahkan Teddy Bear Racing, juga teddy bear-teddy bear lainnya.
Semua permainan itu sama sekali tidak "ramah".
Ah. Menangkap satu wahana yang dimaksud, remaja berambut silver itu segera menarik tangan Faith tanpa aba-aba.
"Teddy Bear Target!" seru Faith, menatap stan di depannya dengan berbinar.
Elliot menghela lega.
Tanpa menunggu lagi gadis itu segera menghampiri pria di balik stan itu. Elliot tersenyum melihat Faith yang dengan semangat berbicara, tapi kemudian mengernyit ketika gadis itu menunjuknya. "Elliot!" seru Faith sambil mengisyaratkan agar dirinya mendekat.
"Ada apa?"
Faith menyerahkan sebuah bola sepak dalam genggaman Elliot, membuat remaja itu mengerjap. "Aturan main di sini agak berbeda. Ah, kau tahu dia?" Netra Elliot mengikuti telunjuk Faith.
Seorang pria tambun berkacamata hitam. Rambut dan jenggot abu-abu. Berkulit gelap dan pendek.
Elliot membelalak. "Dia..."
"Nah, selain menjatuhkan susunan kaleng-kaleng itu, kau juga harus melewati teknik hissatsu-nya dalam sepak bola, 'God Hand'."
Netra Elliot tambah membelalak. "'God Hand'... sama seperti milik Mark Hills, kiper legendaris itu?!!"
Faith mengangkat bahu. "Mana kutahu, mungkin saja."
Elliot mengerjap, kembali menatap pria yang tak lain adalah pelatih Jude Sharp dulu, sekaligus pelatih Mark Evans.
Elliot menghela, tiba-tiba ia dapat merasakan api yang membara di sepanjang tubuhnya. Sudut kanan bibir 'Iblis di Lapangan' itu terangkat. "Baiklah...."
***
Faith mengambil jarak beberapa meter. Kebetulan stan itu terletak jauh dari pusat taman hiburan, jadi tidak banyak yang melintas.
Elliot meletakkan bola sepak itu ke tanah, menatap tajam pria tua yang membuka tangan lebar-lebar seraya setengah membungkuk.
Elliot berlari setelah mundur beberapa langkah, kemudian menendang bola sepak itu tinggi ke langit. Remaja beriris merah itu melompat, bersiul di udara.
Bak sihir, penguin berwarna ungu dan putih muncul dari permukaan tanah, memelesat, menancapkan paruh di bola sepak itu. Elliot menendang bola itu dengan posisi tubuh terbalik. "Overhead Penguin!"
Dengan dikawal oleh beberapa ekor penguin, bola itu memelesat cepat ke arah pria itu. Pria berkacamata hitam itu diam, diam, dan diam. Hingga kemudian bola itu melewati atas kepalanya dan menjatuhkan seluruh tumpukan kaleng di belakang.
Bibir Elliot spontan terbuka setengah. Kenapa pria itu tidak mencoba menghentikan tendangannya?
Tanpa mengatakan apapun, pria itu masuk ke dalam stan, mengambil sebuah boneka teddy bear besar di antara benda-benda bertema teddy bear lainnya, memberikannya pada Faith. Gadis itu tersenyum senang, kemudian menghampiri Elliot.
"Lihat ini, Elliot! Lucu kan?" ujar Faith sambil memperlihatkan boneka barunya.
Elliot mengangguk kikuk. "Tapi Faith..."
"Hehe.... Maaf ya, sebenarnya aku hanya ingin melihat teknik hissatsu-mu yang biasa kulihat di TV secara langsung. Aku ingat pernah melihat pria tadi di salah satu majalah olahraga, dan teknik hissatsu yang kuingat selain milikmu hanya 'God Hand'. Jadi... ya begitu," ucap Faith masih sambil tersenyum. "Ah, tentang aturan main yang beda itu benar adanya. Tapi kalau kau tahu nanti kau hanya menggunakan tendangan biasa...."
Mendengar ucapan temannya sejak kecil itu, Elliot hanya bisa menghela, mengusap kepala gadis itu, "Lain kali kalau mau melihatnya bilang saja, aku bisa melakukannya kapan pun."
Ckrek. Sebuah layar ponsel memperlihatkan foto seorang remaja berambut silver yang tengah mengusap kepala gadis bermanik hijau, saling tersenyum. Pemilik ponsel itu sekali lagi mengamati foto yang baru ia ambil, tertawa.
"Astaga Kakak, apa perlu sampai difoto?" ucap gadis berambut sebahu di sampingnya.
Manik merah itu melirik, kemudian mengangguk. "Tentu saja! Siapa yang akan percaya 'Iblis di Lapangan', Elliot Evans, bisa menunjukkan ekspresi seperti itu!" ujar remaja berambut keriting itu.
Gadis bermanik hijau tua itu menatap datar. "Dan siapa sangka, 'Komandan di Lapangan' yang begitu dikagumi sebagai orang jenius di dunia sepak bola, Jude sharp, malah mengajak adiknya ke taman hiburan di saat adiknya itu tidak suka wahana ekstrem."
Bak pisau yang menancap di jantung, perkataan gadis itu membuat Jude tersentak. "Celia...."
Celia mendengus, tapi tidak terlalu menyalahkan. Baik bagaimana pun, setelah diadopsi oleh 2 keluarga berbeda saat kecil, mereka baru bertemu lagi saat SMP. Jadi wajar saja jika kakak kandungnya itu tidak banyak tahu tentangnya.
Celia berbalik, lanjut berjalan, membuat Jude mau tak mau mengikuti. "Aku mau es krim!" ucap Celia.
Jude mengangguk. "Akan kubelikan."
"Es krim tiga rasa!"
"Bisa diatur."
"Dan," Celia menunjuk ke belakang tanpa menoleh, "setelah mereka pergi, aku mau Kakak menunjukkan teknik hissatsu-nya juga."
Mendengar itu sudut kanan bibir Jude terangkat, peluh dingin jatuh di pelipis. "Kenapa tiba-tiba? Kau kan sudah sering melihatnya karena kau selalu menjadi managerku di tim mana pun aku berada. Dan kau juga tahu kan pria itu adalah Coach Hillman? Dia tidak akan lunak padaku sebagaimana dia lunak pada Elliot."
"Yah... sudahlah kalau tidak mau," ucap gadis itu pura-pura kesal, mempercepat langkah, membuat sang kakak lagi-lagi mengejar. "Tunggu, Celia!"
Gadis itu melirik ke belakang dengan sudut mata, tertawa kecil. Ternyata menyenangkan juga mengerjai kakaknya setelah sekian lama.
Fanfic dari "Inazuma Eleven Ares".