Malam mulai sunyi, hawa mulai dingin dan aku masih terdiam belum tertidur. Satu hal yang aku pikirkan saat ini tidak ada kata pisah baik-baik saja semua terasa menyakitkan.
4 bulan yang lalu, ibuku meninggalkan kami secara tiba-tiba. Tidak memiliki penyakit yang mematikan hanya saja dia baru saja jatuh dan kakinya harus dijahit.
Aku, adikku' dan ayahku benar-benar shok dengan kejadian itu. Barusaja berbicara, bercanda, tertawa bersama, tiba-tiba ibuku langsung sujud dilantai rumah kami.
Ayahku dan aku berusaha mengangkatnya untuk memperbaiki posisinya. Tetapi saat itu hanya kata "innalillahi wainna ilaihi rajiun" terucap. Air mata keluar walau ditahan, bibirku tidak hentinya memanggil namanya "ibu......." kataku sambil menangis
"ibu..... jangan tinggalkan aku....." lanjut adikku. Betapa lemah fisik in melihat orang yang paling disayangi tidak dapat bicara atau bahkan tersenyum. Bayangan dirinya saat terakhir muncul di pikiranku.
Tidak bisa kupungkiri, tidak pernah terbayang dibenakku sedikitpun kalau ibuku akan meninggalkanku. Yang terdengar hanyala suara tangisan. Seketika hidupku benar-benar hancur, ada perasaan untuk pergi bersama ibuku ditambah penyesalan belum sempat membahagiakannya. Ibuku masih terlalu muda dia berumur 39 tahun dan bulan depan adalah bulan kelahirannya dan usianya akan bertambah. Aku bahkan ingin membuatkan puisi untuk ibuku disaat umurnya yg ke 40 tahun. Sayang sekali semua itu tidak terwujud.
Kejadian itu sudah 4 bulan yg lalu. Aku harus kuat demi adik-adikku harus menyembunyikan luka dihati ini demi mereka. Sampai sekarang bayangan ibu masih menghantuiku dikala aku sendiri dan kesepian.
Aku harus mengurus rumah dan mengelolah keuangan walaupun aku bukanlah anak sulung dikeluarga ini. Aku hanya anak kedua sementara kakakku sudah berkeluarga dan punya anak. Tetapi aku dan kakakku tinggal dikota yg beda sehingga aku adalah anak yg tertua di rumah.
Adikku yg pertama masih berumur 18 tahun dan adikku yg 2 berumur 9 tahun. Dan ayahku bekerja sebagai petani jadi aku harus benar-benar teliti dalam mengelolah keuangan agar bisa makan. Untuk saat ini prioritasku adalah adik-adikku.
Meskipun aku selalu ada untuk mereka tetapi dihati mereka, mereka sangat merindukan kasih sayang seorang ibu apalagi si bungsu masih tergolong anak-anak. Bahkan aku saja masih sering menangis ketika mengingat ibuku.
Perasaan tidak terima tidak ikhlas selalu muncul dipikiranku. Rasa bersalah dan selalu menyalahkan tetapi siapa yang perlu disalahkn dengan kejadian ini. Ibu, apakah ibu mau meninggalkan kami begitu saja? Tentu saja tidak. Diriku? Diriku bahkan tidak tahu apapun dengan kejadian ini. Dari semua itu hanya satu yang mengganjal dihati, sejauh apapun kalian berpisah, itu tidak ada apa2nya dibandingkan perpisahan untuk selamanya. Untuk saat ini adikku masih fokus untuk belajar, adikku yg pertama kelas 3 sma. Sekolahnya tidak jauh dari tempat tinggalku sementara yg satunya kelas 3 sd. Aku hanya mengganggur dan mengurus rumah serta kebutuhan keluarga dan ayahkulah yg bekerja walaupun fisiknya masih lemah.
Jika ibuku masih ada, aku mungkin tidak perlu repot-repot melakukan pekerjaanku, semua dilakukan oleh ibuku. tetapi kini aku harus membagi pekerjaan rumah dengan adikku jika dia tdk ke sekolah. Tetapi jika dia ke sekolah, aku harus mengerjakannya sendiri. Mulai dari pagi bahkan sampai siang. Untuk saat ini sejauh ini aku dan adikku masih bisa hidup walaupun tanpa ibu tetapi selalu ada waktu merindukan seorang ibu. Serasa ingin mengembalikan waktu dimana ibuku masih hidup. Pakaian ibu sering aku cium untuk menghilangkan rasa rindu ini. Mom aku merindukanmu kapan kita bertemu entah dalam mimpi atau dialam yang berbeda.
Tetapi sejauh ini kami masih bisa bertahan hidup. Aku yakin bisa melalui cobaan ini selama aku berusaha. Tertap tersenyum dan kembali ceria lagi itu yang ada dipikiranku.