Sang Putri
dan
Seekor Naga
(Legenda Putri Hijau)
Oleh: Embart Nugroho
Abad pertengahan masehi, di mana sebuah peradaban masih dijajah kekuasaan seorang raja, lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Pada bulan purnama bayi perempuan itu mengeluarkan suara tangisan pertamanya. Bayi perempuan itu memiliki kelainan yang membuat sang raja keheranan. Tubuh bayi perempuan itu bersinar mengeluarkan cahaya berwarna kehijauan.
Raja sangat khawatir terjadi apa-apa kepada putrinya. Sang raja pun bertanya kepada tabib yang setia kepadanya. Sang Tabib berkata kalau putrinya baik-baik saja. Cahaya itu bagian dari kekuatan bayi perempuan raja. Akhirnya raja memberi nama bayinya Putri Hijau.
Sang putri pun tumbuh remaja layaknya anak-anak yang lain. Ia sangat baik dan ramah. Banyak yang suka padanya. Jika bulan pernama, tubuhnya bercahaya indah. Banyak yang takjub melihat kelebihan sang putri.
Suatu hari sang putri ketakutan berada di ruang gelap. Ia terjebak di ruang bawa tanah. Namun rasa takut itu hilang ketika ia mengeluarkan cahaya dan menerangi ruangan yang gelap.
Bukan itu saja, Putri mampu menyembuhkan penyakit jika ia menghendaki dengan hati yang tulus.
Saat menjelang senja, sang Putri bermain-main dengan seekor naga yang tak lain kakak lelakinya. Putri Hijau memiliki dua orang kakak lelaki yang juga memiliki kekuatan suprantural. Jazid salah satu kakaknya mampu merubah wujudnya menjadi seekor naga. Terkadang mereka berkeliling istana dan tanah perkebunan dengan naga. Melihat rakyat yang bekerja dan melihat bagaimana kehidupan mereka. Sang Putri senantiasa membantu rakyat yang kesusahan. Rakyat pun senang melihat sang Putri yang baik hati.
Kini putri tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik. Ia memiliki kecantikan yang luar biasa hingga banyak yang jatuh hati padanya. Kulitnya putih dan halus. Alis matanya tersusun rapi dengan bola mata yang indah. Senyum di bibirnya membuat hati tenang bagi siapa yang melihatnya.
Namun ada kecemburuan yang membuat sepupu putri iri. Ia berkata kalau masih ada yang menandingin kecantikkan sang putri. Putri pun menjawab dengan penuh keyakinan dan kelembutan.
“Secantik apa pun kelak lahir seorang putri, ia pasti memiliki kekurangan. Kecantikan yang sesungguhnya itu ada dalam diri dan hati kita.”
Perkataan itu membuat orang-orang yang mendengar hanya menundukkan kepala. Tidak bagi seorang gadis yang berdiri dengan wajah sinis.
Sebuah istana yang megah berwarna kekuningan terlihat kokoh dan elegan. Pilar-pilar di bagian sisi kanan dan kiri tampak begitu kuat. Halaman yang luas ditumbuhi bunga-bunga perdu dan mawar. Ada ruang bawah tanah yang menghubungkan ke beberapa tempat lainnya. Ruang itu menuju ke sebuah mesjid besar dan bangunan berarsitektur Belanda. Ruang rahasia dan hanya sang raja yang diperbolehkan menuju ruangan-ruangan itu.
Singgasana sang raja berada di ruang utama yang didekoratif sedemikian rupa. Kursi raja berlapiskan emas dan pernak-pernik lainnya yang terbuat dari emas asli. Dhayang-dhayang dan beberapa anggota sang raja selalu setia berada di ruang tengah. Para pengawal berdiri di beberapa pintu dan ruang khusus lainnya.
Di koridor tampak sang putri terpaku. Kini ia berusia Sembilan belas tahun. Ia berdiri di antara pilar sambil memperhatikan halaman depan. Hatinya telah raib bersama seorang laki-laki dari rakyat biasa. Entah mengapa laki-laki itu membuatnya jatuh hati sampai berhari-hari. Almeer, laki-laki dari rakyat biasa yang mencuri hatinya. Sudah seminggu ia merindukannya. Namun, sampai saat ini Almeer belum juga muncul.
“Kemana gerangan dirimu, Almeer?” Gumam sang putri dalam hati.
Dari balik pintu, sang kakanda menegurnya. Ada apa gerangan sampai putri melamun.
“Apa yang adinda pikirkan?” Tanya kakak lelakinya yang bernama Jazid.
Putri hanya mengumbar senyum tipis, lalu berujar dengan perasaan gunda.
“Hati adinda telah raib, Kanda.”
“Apa yang membuat hati adinda raib?”
“Entahlah… Adinda merasa sangat merindu, tapi tak tahu rindu pada siapa?”
“Kanda tak ingin melihat adinda resa. Bagimana kalau kita melihat perkebunan tembakau?” Ajak kakandanya.
Putri mengangguk pelan. Kemudian Jazid merubah tubuhnya menjadi seekor naga dan putri naik di atas kepalanya. Naga pun terbang ke angkasa menuju perkebunan tembakau. Putri sangat bahagia melihat keindahan alam dari angkasa. Namun, lagi-lagi hatinya terasa gelisah.
Setelah berkeliling perkebunan, diam-diam sang putri keluar dari istana menuju taman pemandian yang terletak sedikit jauh dari istana. Biasanya Almeer berada di sana secara sembunyi-sembunyi. Namun, sampai menjelang siang, Almeer tidak muncul. Hal itu membuat hati sang putri semakin tidak menentu.
Beberapa waktu kemudian Almeer pun muncul di selah-selah beton tinggi. Ia menghampiri sang putri dengan hati bahagia. Sang putri pun sangat bahagia.
“Aku sangat merindukanmu, Almeer…” Kata sang putri ketika rebah di dada Almeer.
“Bagaimana kalau cinta kita diketahui ayahnda putri?” Tanya Almeer.
“Kita harus tetap merahasiakan hubungan ini, Almeer. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak bisa hidup tanpamu.” Kata Sang Putri.
Layaknya sepasang kekasih, Almeer memberikan kasih sayangnya ke sang putri. Kemudian ia mengambil sesuatu dari saku celananya. Beberapa kuntum bunga Edelweis. Bunga keabadian agar cinta mereka tetap abadi. Mereka akan membawa cinta itu sampai ajal memisahkan mereka.
“Simpanlah bunga ini, Putri.” Kata Almeer.
Putri menerima bunga pemberian Almeer.
“Darimana kamu mendapatkan bunga ini? Bukankah bunga ini bunga abadi yang hidup di puncak pegunungan?”
“Aku memetiknya sendiri, khusus untukmu. Seperti bunga itu, cintaku akan selalu abadi bersamamu.” Ucap Almeer mesra.
Sang putri tersenyum lalu menyimpan bunga itu dan diselipkan ke bajunya. Ia sangat bahagia bersama Almeer, dan berharap mereka bisa menjalin cinta secara terang-terangan.
Malam merambat perlahan meninggalkan beku yang tak seberapa. Hewan nocturnal bersahutan menandakan malam semakin larut. Hanya bulan dan bintang yang tahu kisah cinta mereka.
Keesokan hari, sang putri terlihat gunda gulana. Ia ingin dinikahkan dengan seorang raja dari Timur. Sang putri tidak mampu menolak perintah sang ayahnda dan ia menikah dengan linangan airmata. Ia menikah dengan tidak rasa cinta.
Kabar pernikahan putri pun terdengar oleh Almeer. Almeer kecewa dan patah hati. Ia tidak mampu mendengar kabar itu dan Almeer mengutuk dirinya sendiri menjadi batu. Sang putri menangis berlinang airmata. Ia tidak akan pernah bertemu dengan Almeer lagi. Berhari-hari ia memendam rasa rindu dan bersalah hingga tidak dapat memejamkan mata. Di hatinya masih tersimpan nama Almeer.
Di taman yang terletak cukup jauh dari istana, sang putri melamun. Wajahnya terlihat sedih dan tubuhnya mengeluarkan cahaya. Cahaya itu terlihat dari kerajaan Selatan sampai sang raja Selatan terheran-heran. Cahaya apa gerangan yang sangat terang nun jauh disana. Raja Selatan bertanya kepada pengawal, dari mana asal cahaya itu. Ternyata cahaya itu dari kerajaan sang putri.
Raja Selatan akhirnya penasaran dan ia pergi menuju cahaya itu. Dengan beberapa pengawal, raja Selatan menuju kerajaan Utara. Ternyata cahaya itu berasal dari tubuh sang putri.
Kabar kecantikan sang putri sampai ke kerajaan nun jauh disana. Semua membicarakan kecantikan sang putri dan keistimewaannya.
Suatu hari raja dari kerajaan Selatan berkunjung ke kerajaan Utara. Ia ingin bertemu dengan sang putri yang dikabarkan berwajah jelita. Sang Raja tidak datang sendiri, namun dengan beberapa pengawal dan serdadu berkuda. Sang Putri bertemu dengan sang Raja dari Selatan. Sang Raja langsung tertarik dan ingin mempersunting sang Putri. Sang Putri pun menolak tak ingin dipersuting sang raja. Sedangkan raja dari Timur juga tidak ingin istrinya direbut raja Selatan.
Raja Selatan pun murkah dan menyerang kerajaan Utara. Ia mempersiapkan bala tentaranya untuk menyerang kerajaan Utara dan merebut sang putri. Peperangan pun terjadi sangat sengit antara kerajaan Utara dan kerajaan Selatan. Raja dari kerajaan Selatan terus menyerang kerajaan Utara, hingga suasana menjadi mencekam. Banyak bala tentara yang menjadi korban.
Malam terasa dingin sejak beberapa waktu lalu. Suara burung gagak berkoak perih entah dari mana. Suara binatang malam semakin menyayat hati. Lolongan anjing membuat suasana menjadi tegang dan menakutkan. Tiba-tiba saja malam itu menjadi panas ketika para serdadu berkuda menyerang kerajaan Utara. Bulan tampak mengintip dari balik awan-awan kelabu. Awan-awan itu bergerak gelisah.
Obor-obor api terlihat di beberapa sisi istana. Teriakan serta suara-suara beradu kaki kuda membuat malam semakin mencekam. Peperangan di kerajaan Utara masih berlanjut. Raja dari kerajaan Selatan mencari sang Putri, namun sang Putri melarikan diri bersama seorang pengawal.
Wajah-wajah bengis dan beringas tampak menakutkan dengan mata memerah. Mereka tersulut api amarah sang raja. Darah berserakan di halaman Istana hingga rerumputan. Prajurit banyak yang tewas.
“Cari dia sampai dapat!” Teriak seseorang berkuda yang mereka panggil Raja. Laki-laki dari kerajaan Selatan.
Sang putri dengan rambut panjang tergerai tampak ketakutan. Pandangannya semakin nanar dan berair. Ia memasuki hutan untuk menyelamatkan diri dari para serdadu dan pangeran perang yang mencarinya. Ia berlari dengan nafas tersengal. Keringat mengucur deras dari keningnya. Semak belukar sudah tidak dirasakan lagi.
“Cepat, Putri. Kita harus sembunyi.” Ujar sang Pengawal yang menyelamatkan sang Putri.
“Aku sudah tidak kuat. Kakiku sakit sekali.” Sang Putri menghentikan langkahnya dan mengatur pernafasannya. Ia merintih kesakitan ketika kakinya menginjak benda tajam.
“Tuan Putri harus selamat. Kita harus keluar dari hutan ini.” Ucap Pengawal yang bernama Ziad. Ia menatap sang Putri yang sangat kelelahan. Ia merasa iba. Nafas sang Putri tidak teratur sedang keringat tak berhenti mengucur.
“Zaid…” Gumamnya dengan suara berat. “Sebaiknya kau selamatkan dirimu. Biar saja mereka menangkapku. Aku akan bunuh diri jika Raja itu menikahiku. Aku akan memanggil kedua kakak lelakiku.”
“Tidak, Putri. Saya tidak akan pernah meninggalkan tuan Putri.” Ucap Zaid. “Masa depan Istana ada di tangan tuan Putri.”
“Masih ada dua kakak lelakiku.”
“Kita tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak, Putri.”
“Mereka sangat sakti. Kakakku bisa berubah wujud.”
Zaid pasrah dan menunggu sang Putri hingga nafasnya teratur. Kemudian mereka berjalan pelan menembus semak belukar.
Para serdadu perang terus mencari keberadaan sang Putri. Mereka terus menyusuri hutan, namun tidak menemukan sang Putri. Sang Raja dari kerajaan Selatan pun akhirnya murkah. Ia bersumpah kalau sang Putri tidak akan menemukan jodohnya sampai seribu tahun lamanya.
Istana Utara terlihat mencekam. Serangan dari kerajaan Selatan masih menyerbu kerajaan Utara. Sementara kedua kakak lelaki sang putri merubah wujudnya menjadi sebuah meriam dan seekor naga.
Suara petir menggelegar di langit hitam. Sang Putri terkejut dan semakin ketakutan. Suara-suara senapan kembali berbunyi dahsyat. Jejak sang putri pun akhirnya diikuti para serdadu raja Selatan. Akhinya sang putri tertangkap bersama Ziad. Sang raja dari Selatan ingin membawa sang putri ke istana raja Selatan. Namun sebelum ia membawa sang putri, kakanda putri yang bernama Jazid meminta persyaratan kepada raja Selatan. Kalau sang raja ingin membawa adiknya sang putri, mereka harus meletakkan sang putri ke dalam peti kaca. Lalu menabur beras dan telur ke sungai. Sambil membakar kemenyan sebut nama kakandanya tiga kali. Mambang Jazid.
Akhirnya sang raja Selatan sepakat dan membawa sang putri melalui sungai. Sang putri berada di peti kaca. Sang raja Selatan membawa putri naik perahu dan berlayar di sungai Deli. Saat tiba di tempat yang di maksud Jazid, mereka menaburkan beras dan telur. Membakar kemenyan dan menyebut nama Mambang Jazid sebanyak tiga kali. Sang putri keluar dari peti kaca dan berdiri di atas perahu. Ia melantunkan kalimat yang sudah diberitahu kakaknya.
“Mambang Jazid… Mambang Jazid… Mambang Jazid… Datanglah kakandaku…” Ucap sang Putri.
Ketika sang putri melantunkan kata-kata itu, awan pun berarak gelisah. Tiba-tiba langit menjadi gelap dan air sungai bergelombang sangat dahsyat. Para serdadu dan sang Raja Selatan pun panik. Mereka ketakutan. Dari sungai, seekor naga raksasa muncul membuat ombak yang maha dahsyat. Ombak menghantam perahu mereka hingga pecah. Sementara sang putri kembali ke peti kaca dan terombang ambing. Seekor naga kemudian membawa peti itu melalui mulutnya. Naga itu terbang membawa sang putri.
Sang Putri selamat dari sang Raja Selatan. Seekor naga membawanya ke suatu tempat. Sang Raja dari kerajaan Selatan akhirnya kembali dengan kecewa. Mereka terus melakukan penyerangan di kerajaan sang Putri. Raja Selatan semakin murkah.
Raja dan Ratu dari kerajaan Utara berusaha menyelamatkan diri. Mereka memasuki ruang bawah tanah bersama para Dhayang dan beberapa pengawal. Berharap perang sudah berakhir. Namun sampai menjelang fazar, kerajaan Selatan terus saja menyerang. Kerajaan Utara mengalami kekalahan dan kehancuran.
Sang kakanda putri bernama Mambang Khayali yang merubah dirinya menjadi meriam terus saja memuntahkan serangannya ke kerajaan Selatan.
Sang Raja Selatan akhirnya memakai taktik liciknya. Ia menyerang istana dengan koin emas, hingga para serdadu berebut koin itu. Saat berebut koin, pasukan raja Selatan dengan mudah menyerang pasukan raja Utara. Kerajaan Utara pun mengalami kekalahaan. Sedangkan meriam yang terus menghujam semakin panas dan pecah menjadi dua. Pecahan itu terlempar jauh sampai ke suatu tempat.
Sang putri bersembunyi di sebuah gua yang tidak diketahui manusia. Ia tampak termenung sambil duduk di bebatuan. Ia sedih memikirkan keselamatan Istana. Ia duduk di sebuah batu bersama kakanda Jazid.
“Kanda... Dinda ingin bertanya kepada kakanda. Salahkah Adinda mencintai seorang pengawal?” Tanya sang putri di selah-selah keheningan.
Sang kakanda terkejut. Ia tidak percaya kalau adiknya mencintai seorang pengawal. Padahal sang Putri sudah menikah dengan seorang raja. Tapi hatinya hanya untuk Almeer.
“Kanda tidak bisa berkata apa-apa, Adinda. Perang tengah berlangsung di istana dan kanda segera menuju istana untuk membantu ayahnda.” Kata Jazid seraya merubah tubuhnya menjadi naga.
“Kanda… Jangan tinggalkan Adinda disini.”
“Tetaplah disini sampai perang mereda.”
Sang Kakanda pun terbang ke angkasa menuju istana. Sang putri hanya bisa menangis.
Hari-demi hari ia menunggu kabar dari sang kakanda, namun tidak ada juga kabar berita. Rasa rindunya dengan Almeer pun menjadi berat. Ia tidak kuat menanggungnya sendiri.
Pada bukit yang menjulang tinggi ia mendaki dan berdiri di atas perbukitan. Ia ingin bersumpah pada sang Dewa agar diberi keabadian untuk mencari cinta sejatinya.
“Para Dewa… Aku bersumpah, aku tidak akan meninggalkan dunia ini sebelum aku bertemu dengan pujaan hatiku!” Teriaknya dengan suara lantang.
Seiring kata-kata itu, suara guntur dari langit pun bersahutan. Suara itu menggelegar seperti ingin membelah langit sampai langit ketujuh.
Sang Putri berdiam diri di sebuah gua sampai ratusan tahun. Ia masih memendam cintanya ke Almeer.
Perjalanan sang Putri masih berlanjut. Ia yakin kalau Almeer akan reinkarnasi menjadi sosok laki-laki yang lain. Sang Putri mencari dari beberapa penjuru. Dari selat Malaka sampai ke China. Dari zaman para Dewa hingga zaman para Wali. Sang Putri menjadi sosok abadi. Ia mencari beberapa pusaka untuk mengetahui sosok Almeer yang baru. Namun ia tidak menemukan Almeer.
Sang Putri bertapa pada lorong yang gelap. Ia hanya berharap Almeer akan mengalami reinkarnasi dan menjadi sosok manusia.
Sang Putri menunggu hingga ratusan tahun, namun ia tidak menemukan sosok Almeer. Sang Putri tidak tahu dimana keberadaan Almeer. Ia kembali bertapa pada sebuah tempat yang gelap.
Waktu pun terus berlalu. Zaman terus berubah seiring waktu yang berjalan. Istana kerajaan perlahan mengalami perubahan. Setelah peperangan beratus tahun lalu, mereka seperti lenyap di telan bumi. Tidak tahu keberadaan Jazid dan tidak tahu keberadaan sang putri.
Tidak ada yang tau sampai saat ini dimana sosok sang Putri. Konon ia menjadi sosok gaib yang bermukim di lorong gelap. Lorong bawah tanah dari Istana Maimun menuju bangunan tua Belanda. Sang Putri bersama seekor Naga.
###
“Begitulah cerita Putri Hijau. Kini, sudah berabad-abad lamanya. Tidak ada yang tahu bentuk rupa sang Putri. Cerita yang sebenarnya juga tidak ada yang tahu.” Ucap laki-laki tua bernama Burhanuddin mengakhiri ceritanya. Laki-laki berusia 90 tahun itu melumatkan puntung rokoknya ke asbak. Ia beranjak dengan tertatih.
“Sudah waktu ashar. Saya mau sholat dulu.” Ucapnya.
Zidan yang dari tadi mendengarkan cerita itu masih terpaku di tempat duduknya. Masih tergambar ketegangan di istana Maimun dengan perang yang sangat dahsyat.
Tak berapa lama ia beranjak dari tempat duduknya dan memperhatikan halaman istana. Disana berdiri sebuah bangunan kecil tempat meriam bekas perang dahulu. Meriam puntung yang berkorban demi menyelamatkan istana.
Zidan berjalan pelan di koridor istana sambil memperhatikan sudut-sudut istana. Ia membayangkan kejadian beratus tahun lalu. Kini istana Maimun menjadi tempat bersejarah. Banyak peninggalan yang masih tersisa disana. Foto-foto para raja dan pangeran, serta peninggalan perhiasan lainnya. Singgasana sang raja juga masih berada disana. Baju-baju kerajaan khusus Melayu yang kini juga disewakan untuk pengunjung masih tersimpan apik.
Namun, ia sangat penasaran karena tidak menemukan foto sang Putri Hijau di sana. Di mana gerangan foto itu?
###